Mutiara Hukum Kitab Umdatul Ahkam 1/-

Mutiara Hukum
Kitab Umdatul Ahkam

Disusun :
Abul Barjas At Tâsîkiy

Fâtihatul Kitâb :
Pujian dan sanjungan hanya milik dan hak Alloh Ta’ala, kami memuji, memohon pertolongan, meminta ampunan dan tambahan hidayah serta memohon perlindiungan hanya kepadaNya .
Sholawat dan salam bagi pemilik as sunnah as sahihah; Kholilulloh Muhammad bin Abdillah, juga atas keluarga, para sahabat dan orang-orang yang ta’at setia kepadanya. Amin.
Al Hafidz Abdul Ghoni al Maqdisiy – rohimahulloh – merupakan ulama terkemuka di zamannya, beliau lahir pada tahun 531 H dan wafat pada tahun 600 H.
Kitab yang akan kita paparkan merupakan salah satu karya monumental beliau rohimahulloh. Kitab ‘Umdatul ‘Ahkam merupakan kumpulan hadits-hadits hukum yang beliau ambil dari kitab ‘Sahihain’; Bukhori dan Muslim.
Alloh Ta’ala telah menjadikan kitab ini sebagai salah satu kitab ‘karya tulis’ yang diterima oleh ahli ilmu dan penuntutnya dari seluruh madzhab.
Para ulama sepeninggal beliau sangat memperhatikan kitab ini dengan menjelaskan dan mengajarkannya, diantara syarah yang kami ketahui [sekaligus yang kami banyak ambil faidah darinya] adalah :
1. Ihkamul Ahkam, karya Ibnu Daqiqil ‘Ied As Syafi’i al Malikiy.
2. Al ‘Uddah Hasyiyah al ‘Alamah As Sayyid Muhammad bin Sulaiman Al Amir As Shon’ani ‘ala Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.
3. Al ‘Uddah fi Syarhi Al ‘Umdah fi Ahaditsil Ahkam, karya ‘Alaauddin bin Daud As Syafi’iy.
4. Al I’laam bi Fawaidi Umdatil Ahkam, karya Ibnu Mulaqqin.
5. Al Ilmam bi Syarhi ‘Umdatil Ahkam, karya Isma’il Al Anshori.
6. Khulasotul Kalam ‘ala ‘Umdatil Ahkam, Karya Nashir bin Abdul Aziz Al Mubaarok.
7. Taisir ‘Alam Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Syaikh Abdulloh Al Bassâm.
8. Tanbihul Afham Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
9. Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Sa’ad bin Nashir bin Abdul Aziz.
10. Zubdatul Afham bi Fawaaidi ‘Umdatil Ahkam, karya Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilalli.
Semoga Alloh Ta’ala merahmati para ulama yang telah meninggal dunia dan memberkahi yang masih hidup. Amin.
Rosululloh  bersabda : “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”.
***

Muqoddimah penulis; Al Imam Al Hafidz Abdul Ghoni Al Maqdisiy rohimahulloh :
Seluruh pujian bagi Alloh, al Malikul Jabbar, al Wahidul Qohhaar. Aku besaksi bahwa tidak ada yang diibadahi dengan benar selain Alloh semata, tiada sekutu bagiNya. Pemilik langit dan bumi serta yang ada diantara keduanya; Dial ah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad merupakan hamba dan utusanNya yang dipilih. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepadanya, para pengikutnya dan para sahabatnya yang suci lagi pilihan.
Amma ba’du :
Sebagian saudara-saudaraku memintaku untuk merangkumkan hadits-hadits hukum yang telah disepakati keabsahannya oleh dua Imam : Abu Abdillah bin Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim al Bukhori, dan Muslim bin Hajaaj ibnu Muslim Al Qusyairy An Naisaburiy . Maka aku sangat berkeinginan untuk mewujudkan permintaannya, dengan harapan bisa bermanfa’at.
Aku memohon kepada Alloh supaya Dia Ta’ala memberikan kemanfa’atnya kepada kami, dan orang yang menulisnya, atau yang mendengarnya, yang membacanya, yang menghapalkannya atau yang menela’ahnya. Dan semoga Dia Ta’ala menjadikannya semata-mata ikhlas karena wajahNya yang Maha Mulia. Sehingga bisa menjadi sebab didapatkannya keberuntungan dari sisiNya, di surgaNya yang penuh kenikmatan. Dia Ta’ala sebaik-baik yang mencukupi kita dan sebaik-baik yang dijadikan sandaran pengharapan.
***

KITAB THOHAROH

Kata kitab dan thoharoh merupakan masdar, ia (kitab thoharoh) merupakan kata majemuk yang dijadikan istilah serta nama bagi salah satu masalah dari ragam masalah fiqih .
Ibnu Mulaqqin rohimahulloh Berkata: ”Yang dimaksud dengan kitab (adalah) sesuatu yang mengumpulkan beberapa bab yang semuanya kembali pada satu pokok (pembahasan)” .

Thoharoh secara bahasa\etimologi adalah:
“Berbersih dan bersuci dari kotoran-kotoran hissi (sesuatu yang bisa di indra) dan maknawi”.
Dari pengertian secara bahasa di atas kita katakan : Thoharoh\bersuci di dalam pengertian syar’i terbagi dua; Pokok (ushul) dan cabang (furu’).
1. Pokok. Ia adalah membersihkan batin dari najis kesirikan, kekufuran dan maksiat; Hal demikian dengan tauhid dan amal yang shalih. Inilah thoharoh maknawiyah.
Thoharoh ini lebih utama daripada thoharoh badan. Bahkan tidaklah mungkin terwujud kesucian badan bila ada najis kesyirikan.
Alloh Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”. (QS. At-Tubah : 28).
Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman tidaklah najis”
Maka wajib atas setiap yang telah terbebani taklif untuk:
– Mensucikan hatinya dari najis kesyirikan dan keraguan, demikian itu dengan ikhlas, tauhid dan yakin.
– Mensucikan hatinya dari bid’ah, demikian itu dengan mengikuti Rosululloh .
– Mensucikan hatinya dari kekotoran maksiat, hasad, dengki, sombong, ujub, riya dan sum’ah. Hal demikian dengan taubat yang jujur dari dosa dan maksiat.
Thoharoh dari perkara di atas merupakan setengah dari iman. Sedangkan setengah yang keduanya adalah thoharoh yang merupakan furu, ia adalah thoharoh hisiyyah.
Jenis yang pertama ini dibahas di dalam pembahasan aqidah. Sedangkan jenis yang berikutnya (furu’) dibicarakan oleh fuqoha.
2. Furu’. Ia adalah :
Mengerjakan suatu perbuatan yang dengannya menjadi diperbolehkannya melaksanakan sholat. Ibnu Mulaqqin rohimahulloh berkata : Ia merupakan sebaik-baik dan seringkas-ringkas pengertian .
Demikian itu dengan mewujudkan dua hal :
– Thoharoh haqiqiyah; Ia adalah bersuci dari najis yang ada di badan, baju dan tempat. Mensucikan najasah bias dengan air ataupun yang lainnya, kaidahnya : Dzat tersebut bias menghilangkan najis tersebut.
– Thoharoh hukmiyah; Ia adalah bersuci dari hadats. Ia dikhususkan pada badan saja. Bersuci dari hadats hanya bias dicapai dengan menggunakan air, baik mandi ataupun wudlhu, jika air itu ada.
Thoharoh hukmiyah ada tiga macam :
a. Thoharoh hukmiyah kubro (besar); Ia dicapai dengan mandi.
b. Thoharoh hukmiyah sughro (kecil); Ia dicapai dengan berwudlhu.
c. Thoharoh hukmiyah sebagai pengganti dari keduanya (a dan b); Ia dicapai dengan bertayamum. Yakni jika tidak ada air atau dihukumi dengan tidak adanya air.
***

Hadits Pertama (1)

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول : إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Dari ‘Umar bin Khottob rodiyallohu ‘anhu, di berkata : Aku mendengar Rosululloh  bersabda : “Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niat, dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang dia inginkan, atau kepada wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya dia berhijrah .”

Biografi Rawi :
Beliau adalah Umar bin Khottob bin Nufail bin Abdil ‘Uzza. Masuk Islam tahun ke 6 dari bi’tsah (diutusnya nabi Muhammad ), beliau menggantikan kepemimpinan Abu Bakar As Siddiq , kekhilafahannya selama 10 tahun 6 bulan 3 hari. Beliau terbunuh sebagai syahid pada bukan Dzul Hijjah tahin 23 H pada usia 63 tahun.
Al Imam ‘Alauddin Ali bin Daud bin Al ‘Atthor As Syafi’i rohimahulloh berkata “Hadits ini tidak diriwayatkan dari Nabi  kecuali oleh Umar bin Khottob , Dikatakan : Meriwayatkan pula dari Nabi  selain Umar , namun tidaklah sahih. Allohu ‘alam” .

Tema Hadits :
Hadits ini menjelaskan kedudukan niat bagi suatu amal.
Penjelasan Kosa Kata :
Perkataannya (سمعت) : ‘Aku mendengar’, ia merupakan ungkapan tertinggi dalam menyampaikan riwayat, kemudian ungkapan hadatsanaa (memberitahukan kepada kami) dan akhbaronaa (mengkabarkan kepada kami). Demikian yang diungkapkan oleh al Khotib al Baghdadiy .
Abu ‘Amr bin as Sholah berkata : “Dari satu sisi lafadz hadatsanaa dan akhbaronaa lebih tinggi kedudukannya dari ungkapan sami’tu; karena dalam ungkapan sami’tu tidak ada konklusi dalil bahwa Syaikh meriwayatkan kepadanya, berbeda dengan ungkapan hadatsanaa dan akhbaronaa .
Sabdanya  : (إنما الأعمال بالنيات) ‘Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niat’. (إنما) ‘innamaa’, ia merupakan salah satu kata yang memberi konsekwensi ‘al hashr’ pembatasan; demikianlah menurut mayoritas ulama bahasa dan ushul , bahkan merupakan pendapat para muahqiqin. Kata (إنما) ‘innamaa’ menurut pendapat yang benar tidaklah tersusun dari (إن) dan (ما الناهية) ‘maa naahiyah’ [maa yang menunjukan pada makna larangan], bahkan ia merupakan satu kata.
Makna al hashr adalah menetapkan hukum yang disebutkan dan meniadakan dari yang selainnya. Atau dengan ungkapan lain ( إنما ) ‘innamaa’ berpungsi untuk membatasi; Yakni menetapkan yang disebutkan dan meniadakan dari yang selainnya.
Ia (إنما) kadang-kadang mengandung makna pembatasan yang mutlak, dan kadang-kadang mengandung makna pembatasan secara khusus, hal demikian dipahami dari qorinah tertentu dan siaknya ‘kontek kalimatnya’.
Sabdanya (الأعمال بالنيات) ‘amal-amal itu dengan niat”. Ia memiliki beberapa sisi pembahasan :
Pertama : Dari sisi riwayat ia ada beberapa bentuk :
 (إنما الأعمال بالنيات); yakni dengan diawali (إنما), (الأعمال) dalam bentuk plural/jamak dan lafadz (بالنيات) dengan bentuk plural pula. Seperti dalam hadits bab, yakni riwayat Imam Bukhori bab Kaifa Kaana Badul Wahyi ila Rosulillah  (1), Abu Daud bab Fiimaa ‘Uniya biho Ath Tholaq wan Niyyaat (2201) dan Ibnu Majah bab an Niyat (4227).
 (إنما الأعمال بالنية); yakni dengan diawali (إنما), (الأعمال) dalam bentuk plural/jamak, dan lafadz (بالنية) dengan bentuk kata tunggal/mufrod . Seperti dalam lafadz Imam Bukhori bab An Niyat Minal Iman (6689), Muslim Kitabul Imaroh (1907).
 (إنما العمل بالنية); yakni dengan diawali (إنما), (العمل) dalam bentuk mufrod dan (بالنية) dengan bentuk mufrod pula. Seperti dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya 1/43, Syu’aib al Arna’ut menyatakan Isnadnya Sahih ‘ala Syart asy-Syaikhoini.
 (العمل بالنية); yakni tanpa diawali (إنما), (العمل) dalam bentuk tunggal/mufrod, (بالنية) dalam bentuk mufrod pula. Seperti dalam riwayat al Bukhori bab Man Hâjaro au ‘Amila Khoiron Litazwijimroatin falahu Maa Nawa (5070).
 (الأعمال بالنية); yakni tanpa diawali lapadz (إنما), (الأعمال) dengan bentuk plural/jamak, dan lafadz (بالنية) dalam bentuk mufrod/tunggal. Sperti dalam as Sunan al Kubro lil Baihaqi.
 (الأعمال بالنيات); dengan tidak ada lafadz (إنما), (الأعمال) dengan bentuk plural, dan lafadz (بالنيات) dengan bentuk plural pula. Seperti dalam riwayat Ibnu Hibban (388), Syu’aib al Arnauth menyebutkan bahwa Isnadnya ‘ala syarti Muslim.
Disebutkan : “Kebanyakan riwayat hadits diawali oleh lafadz (إنما); kecuali riwayat yang ada di dalam ‘Sahih Ibnu Hibban’ dan ‘Musnad asy Syubhât’ dengan lafadz (الأعمال بالنيات) tanpa didahului (إنما) dan dipluralkannya lafadz (الأعمال) dan (بالنيات). Abu Musâ al Mâdînîy mengingkari riwayat ini; Sebagaimana di kutif oleh Nawawi dan dia pun menyetujuinya. Akan tetapi kritikan atau pengingkaran ini terbantahkan dengan riwayat-riwayat yang lainnya, seperti dalam riwayat Bukhori dalam Kitab al ‘Itqu (2529) dan Kitab an Nikah (5070), kedua-duanya tanpa didahului oleh (إنما) .
Ketiga : Maksud lafadz (النيات dan الأعمال) dengan plural/jamak dan maksud lafadz (النية dan العمل) dengan mufrod/bentuk tunggal :
 Ketika jamak (النيات). Para ulama menjelaskan : Jika ditinjau dari yang diinginkan atau dimaksud maka niat manusia berbeda-beda, sebagaimana dalam hadits ini. Ada yang hijrahnya ikhlas karena mengharapkan wajah Alloh Ta’ala, dan ada pula yang hijrahnya karena selainNya.
 Ketika mufrod (النية). Adapun tatkala dimufrodkan maka ditinjau dari tempat niat itu sendiri; yaitu hati . Atau dari tinjauan yang lainnya : Bahwa yang dimaksud (النية) disini adalah al jinsu (jenis) .
Demikian pula tentang amal, tatkala jamak (الأعمال) karena amal itu beraneka ragam; Ada amal hati, perkataan dan perbuatan. Adapun tatkala mufrod (العمل) maka yang dimaksudkan adalah jenis amal (al Jinsu). Allohu ‘alam.
Sabdanya  : (إنما الأعمال بالنيات) ‘Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niat’. Dalam kalimat ini memastikan adanya idmâr (yang tersembunyi/mahdzuf). Tatkala kita tidak boleh menetapkan yang idmar tersebut dengan (وجودها) ‘adanya’; Taqdirnya : ‘Hanya saja adanya amal itu bila dibrengi dengan niat’, karena adanya amal yang tidak dibarengi dengan niat, maka kita bisa memastikan bahwa taqdirnya itu adalah sesutu yang lain, apa ? Jawabannya sesuai dengan madzhab dan tinjauan mereka:
 Bagi para fuqoha (ahli fiqih) yang mensyaratkan/mengharuskan adanya niat dalam seluruh amal maka mentaqdirkannya dengan : Shihah, jadi maknanya adalah : “Hanya saja sahnya ‘amal dengan niat”. Ini merupakan pendapat kebanyakan para ulama. Diantara konsekwensi pendapat ini adalah : Niat merupakan syarat sahnya wudlhu, karena ia merupakan ibadah.
 Adapun bagi para ulama yang tidak mensyaratkan niat (dari ahli fiqih) maka mentaqdirkannya dengan kamal (sempurna), jadi maknanya adalah : “hanya saja sempurnanya ‘amal dengan niat”. Dari pijakannya ini maka Abu Hanifah menyatakan bahwa niat bukan syarat sah wudlhu, dikarenakan ia merupakan ibadah perantara/wasilah untuk diperbolehkannya sholat.
Ibnu Daqiqili ‘Ied berkata : “Membawanya pada pendapat yang pertama lebih utama ”.
 Sebagian ahli hadits mentaqdirkannya dengan : (القبول); yang diterima. Maknanya : “Hanya saja diterimanya amal itu dengan niat. Dan ia merupakan pendapat yang paling mencakup menurut pemilik al ‘Uddah fi Syrh al Umdah ”.
Sabdanya  (الأعمال) ‘amal-amal’. Maksud amal di sini mecakup seluruh amal ibadah yang dilakukan oleh anggota badan termasuk perkataan dan tidak termasuk amal hati, karena ia merupakan niat.
Ibnu Mulaqqin rohimahulloh berkata : “Beliau  mengungkapkan dengan kata (الأعمال) bukan dengan kata (الأفعال); Demikian itu supaya tidak mencakup amal-amal hati; yang diantaranya niat dan ma’rifatulloh …” .
Sabdanya  (النية) ‘niat’. Niat secara bahasa adalah bagian dari maksud dan keinginan. Adapun niat menurut pembahasan para ulama memiliki dua maksud :
1. Membedakan ibadah yang satu dengan yang lainnya, seperti membedakan sholat Dzuhur dengan sholat ashar, dan puasa Ramadlhon dengan yang lainnya. Atau membedakan ibadah dengan kebiasaan, seperti membedakan mandi janabah (junub) dengan mandi dikarenakan ingin segar atau berbersih dari kotoran atau keringat.
Pembicaraan atau pembahasan niat dalam konteks di atas di bahas oleh para fuqoha; demikian termaktub dalam kitab-kitab fiqih.
2. Membedakan maksud atau keinginan dengan amal tersebut, apakah yang dimaksudkan dengan amal tersebut ikhlas karena Alloh semata atau karena yang lainnya ?
Niat dalam pembicaraan di atas merupakan niat yang banyak disebutkan oleh orang-orang shalih yang terdahulu. Porosnya ada dalam keikhlasan dan yang disertakan dengannya.
Niat yang seperti ini pula lah yang banyak diungkap dalam banyak sabda Rosululloh  dan dalam firman Alloh Ta’ala dengan lafadz (الإرادة) ‘keinginan’. Seperti firman Alloh Ta’ala :

“Diantara kalian ada yang menginginkan dunia dan adapula yang menginginkan akhirat”. (QS. Ali Imraan : 152).
Sabdanya  (وإنما لكل امرئ ما نوى) ‘dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya’. Tentang dua kalimat ini ada perselisihan pendapat dikalangan para ulama, sebaian dari mereka berkata : Kedua kalimat tersebut bermakna satu, karena kalimat kedua sebagai taukid (penedas/penguat) bagi kalimat pertama. Akan tetapi pendapat tersebut tidak benar, hal ini didasarkan pada kaidah bahwa asal suatu kalimat memiliki asas atau makna tersendiri bukan mengikuti/ penguat bagi kalimat yang lainnya. Kemudian, tatkala diadakan penela’ahan nampaklah perbedaan antara keduanya dengan perbedaan yang besar, kalimat pertama sebagai sebab dan kalimat kedua sebagai natijah (hasil). Kalimat pertama merupakan sebab yang Nabi  menjelaskan bahwa setiap amal memerlukan pada niat, sedangkan kalimat kedua merupakan natijah.
Sabda Rosululloh  : وإنما لكل امرىء ما نوى memiliki makna sebagai berikut : Jika engkau berniat karena Alloh  dan kampung akhirat (surga) dalam setiap amal yang disyariatkan, maka engkau akan mendapatkannya. Sedangkan jika engkau berniat/ menginginkan dunia dalam amal yang disyariatkan maka engkau akan mendapatkannya atau tidak mendapatkannya, sedangkan di akhirat pasti mendapat kehinaan.
Alloh  berfirman dalam surat al Israa ayat 18 yang artinya : ”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Al Israa’ : 18 ).
Adapun seseorang yang berniat karena Alloh dan kampung akhirat, kemudian mendapatkan bagian di dunia, maka hal itu tidak berbahaya bagi pelakunya.
Sabdanya  (فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله) ‘Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya’. Hijrah secara bahasa adalah : ( الترك ‘meninggalkan’). Asal hijrah adalah berpindah dari negri syirik menuju negara Islam . Sedangkan menurut istilah yang lebih umumnya adalah : Meninggalkan sesuatu yang dilarang Alloh Ta’ala.
Pembagian hijrah :
 Hijrotul ‘amal : yaitu meninggalkan sesuatu yang yang dilarang Alloh Ta’ala, seperti meninggalkan keyirikan, masiat dan kepfasikan.
Hal ini semisal dengan perkataan baginda Rosululloh  :

“Seorang muslim (yang sempurna) adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang yang hijrah adalah seseorang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Alloh Ta’ala”.
 Hijrotul ‘âmil : Yaitu meninggalkan/menghajr pelaku masiat dan kefasikan. Maka meninggalkan pelaku maksiat dan kefasikan dalam hal ini kadang–kadang hukumnya wajib, hal tersebut jika terdapat faidah dan maslahat rojihah atau bahkan kholishoh.
 Hijrotul Makan (tempat) : Yaitu berpindahnya seseorang dari suatu tempat ke tempat yang lainnya untuk kemaslahatan agama. Seperti berpindahnya seseorang dari negeri kafir ke negeri Islam, dari negeri yang dicekam ketakutan ke negeri yang aman, dan dari tempat/lingkungan yang penuh kesyirikan ke tempat yang terpancar sinar tauhid.
Sabdanya  (إلى الله) ‘kepada Alloh’. Maksudnya adalah kepada agamaNya; dengan mengikuti, menolong, beramal, dan dakwah kepadaNya, dan supaya sampai kepada keridlhoan dan surgaNya.
Demikian pula makna hijrah ‘kepada RosulNya’, yaitu berhijrah kepadanya . Jika dimasa hidupnya maka supaya bisa bersamanya, memuliakannya, belajar darinya, berjihad bersamanya dan mengikuti sunahnya. Adapun setelah beliau meninggal dunia maka berhjirah kepadanya  dengan berpindah menuju kelompok yang selamat dan para pembelanya ; ahlu sunnah wal jama’ah, dan berpindah ke tempat yang terpancar sunnah di dalamnya.
Sabdanya  (فهجرته إلى الله ورسوله) ‘maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya’ : Yakni pasti sampai pada yang dimaksud; kepada Alloh dan RosulNya.
Sabdanya  ‘Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia, maka ia akan mendapatkannya. Atau kepada wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya ia hijrah’.
(الدنيا) ‘dunia’. Dunia dinamai dunia karena lebih rendah kedudukannya dibandingkan akhirat. Para ulama berbeda pendapat tentang hakikatnya, diantara mereka ada yang berkata :
 Dunia adalah segala sesuatu yang ada di atas bumi serta udara.
 Dunia adalah seluruh makhluk; dari perhiasaan dan benda-benda yang ada sebelum akhirat .
Syaikh Sa’ad bin Nashir bin Abdillah Asy Syatsriy hafidzohulloh berkata : “Yang dimaksudkan dengan dunia adalah segala sesuatu yang menjadi kebalikan bagi akhirat, sebagian mereka berkata : ‘Yang dimaksud dengan dunia adalah harta; karena kata harta digunakan kemutlakannya pada dunia’. Kedua pendapat ini dimungkinkan pada hadits ini; karena lafadz (الدنيا) ‘dunia’ merupakan lafadz yang memiliki banyak makna, bisa bermakna segala sesuatu yang merupakan kebalikan dari akhirat dan bisa pula bermakna harta. Tidak ada penghalang untuk menggunakan makna dunia dengan seluruh makna-maknanya, jika pada makna-makna tersebut tidak saling mengenyampingkan” .
Sabdanya  (امرأة) ‘wanita’. Kenapa Rosululloh  mengulang kata ‘wanita’ padahal ia merupakan bagian dari dunia ?, tentang ini ada beberapa alasan sesuai dengan tinjauannya :
 Penyebutan ‘wanita’ setelah ‘dunia’ merupakan penyebutan yang khusus setelah umum; Karena wanita itu sendiri merupakan bagian dari dunia. Hal tersebut dikarenakan sangat besarnya fitnah wanita, atau dikarenakan wanita yang shalihah merupakan sebaik-baik perhiasan dunia. Allohu ‘alam.
 Lafadz ‘dunia’ di dalam hadits merupakan kata umum (nakiroh), ia tidak berfaidah umum dalam konteks kalimat penetapan, maka tidak memberikan konsekwensi masuknya wanita pada lafadz ‘dunia’.
Pendapat ini perlu dikritisi, kalau dilihat dari alasan anda benar, namun ia pun (dunia) merupakan kata nakiroh dalam konteks kalimat syarat, maka berfaidah umum. Allohu ‘alam.
Sabdanya  (فهجرته إلى ما هاجر إليه) ‘maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya dia berhijrah’. Rosululloh  hanya menyebutkannya dengan dlhomir (kata ganti), tidak menyebutkan keduanya sebagaimana disebutkannya hijrah pada Alloh dan RosulNya. Demikian itu sebagai bentuk merendahkan pada keduanya; dunia dan wanita, karena yang semestinya hijrah dilaksanakan hanya karena Alloh serta kepada Alloh dan RosulNya .
Pembahasan Secara Global :
Di dalam hadits yang agung ini Rosululloh  menjelaskan kedudukan niat bagi sebuah amal, bahwa suatu amal yang berbentuk ikhtiariy (pilihan hamba) tidak akan terlepas dari suatu niat; Maka kedudukan amal tersebut ditinjau dari sihah, rusak, pahala dan siksa terpusat pada niat.
Rosululloh  memberikan motivasi bagi seorang hamba supaya memiliki cita-cita dan keinginan yang tinggi, maka semestinya dalam setiap amal hanya mengharapkan wajah Alloh dan negeri akhirat, tidak selainnya. Karena jika mengharapkan dari suatu amal selain wajah Alloh hanya akan mendapat penyesalan, kerugian dan kehinaan di hari akhir kelak.
Kemudian Rosululloh  memberikan perumpamaan dengan hijrah, hal ini pun untuk di analogikan dengan amal-amal yang lainnya. Pada saat bersamaan mereka berhijrah, namun pahala mereka berbeda-beda; demikian itu disebabkan keragaman niat yang ada pada hati-hati mereka.

Kesesuaian Hadits Dengan Kitab Thoharoh :
Thoharoh merupakan bagian dari amal, maka tidak akan terjadi kecuali dengan adanya niat, bagi setiap yang bersuci sebagimana yang dia niatkan dengan bersucinya. Jika niatnya ikhlas maka baginya pahala. Jika niatnya riya maka berhak mendapat kebinasaan, jika niatnya untuk kesegaran maka baginya tiada dosa dan tiada pula pahala. Allohu ‘alam.

Fiqih Hadits :
1. Niat merupakan syarat untuk baik dan rusaknya, atau sempurna dan cacatnya suatu amal.
2. Perintah untuk mentahuidkan Alloh Ta’ala.
3. Waktu niat adalah pada permulaan ibadah dan tempatnya di hati, sedangkan melafadkannya bid’ah.
4. Ikhlasnya niat karena Alloh Ta’ala merupakan sesuatu yang dituntut dalam seluruh amal ibadah, karena niat kembali pada keikhlasan, sedangkan yang di maksud dengan ikhlas adalah mengesakan yang esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
5. Seorang Mu’min diberikan balasan sesuai dengan niatnya.
6. Seseorang dibalas sesuai dengan perbuatanya.
7. Setiap amal yang bermanfa’at atau mubah secara dzatnya akan dihitung suatu amal sholeh (diberikan pahala) disebabkan niatnya untuk mencari keridlohan Alloh.
Contoh : Seseorang makan dengan niat agar dia kuat untuk beribadah pada Alloh Ta’ala, maka asal hukum makan yang mubah tersebut menajadi bernilai ibadah tatkala dia meniatkannya (makannya) sebagai wasilah untuk kuatnya ibadah .
8. Pembeda antara ibadah dan adat (kebiasaan ) adalah niat.
9. Pembeda antara ibadah yang satu dengan yang lainnya adalah niat.
10. Penjelasan bahwa dunia itu adalah hina.
11. Hendaknya seorang pengajar memberikan suatu perumpamaan tatkala menyebutkan suatu permasalahan, karena dengan demikian akan lebih memudahkan para pelajar dalam menguasai permasalahan tersebut.
12. Harus berhati-hati dari riya, sum’ah dan dar ber’amal dengan amalan akhirat dengan tujuan dunia.
13. Harus mencurahkan perhatian dan kesungguhan terhadap permasalahan hati, demikian itu supaya selamat dari segala bentuk penyakit hati; diantaranya beramal tidak karena Alloh Ta’ala.
14. Wajibnya hijrah dari wilayah syirik atau Negara Kafir ke wilayah yang yang tegak syi’ar Islam atau ke negara Islam.
15. Haidts ini menunjukan bahwa niat bagian dari iman, karena iman merupakan amal qolbi. Sedangkan Iman menurut Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah : Pembenaran dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

Tasikmalaya, Menjelang Maghrib, Jum’at 17 Dzulhijjah 1431.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: