Penjelasan Silsilah Aqidah Al Wasithiyah 3/-

Penulis rohimahulloh berkata :

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيد

(Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rosul-Nya dengan huda dan dien al-haq untuk memenangkannya atas semua agama seluruhnya, serta cukuplah Alloh sebagai saksi).

Pertama : Al Hamdu (الحمد )

Syaikhul Islam berkata : الحمد : adalah mengabarkan kebaikan-kebaikan yang dipuji dengan didasari kecintaan kepadanya[1].

( ال ) Alif dan lam” dalam kata الحمد adalah lil-istighroq; (yakni) mencakup semua satuan-satuan pujian yang al muhaqoqoh dan al muqodaroh[2]. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa ال tersebut liljinsi, maknanya : Bahwa seluruh (jenis) pujian yang sempurna adalah bagi Alloh; Jika demikian, maka mengandung konsekwensi tetapnya segala yang dipuji dari sifat-sifat yang sempurna nan Maha Indah bagi Alloh U.

Dimanakah Alloh dipuji ?. Imam As Syanqhity rohimahulloh ketika menafsirkan surat Al Fatihah[3] berkata : “Dalam hamd (pujian) di sini tidak disebutkan dzorof  zaman atau pun dzorof makan. Telah disebutkan dalam surat Ar Rum bahwa dzhorof makan-nya adalah langit dan bumi : “Baginyalah  pujian di langit dan di bumi”; Disebutkan pula dalam surat Al Qhosos bahwa dzhorof-nya adalah dzhorof zaman, yakni di dunia dan di akhirat, Dia U berfirman : “Dan Dia-lah Alloh yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia, bagi-Nya lah pujian di dunia dan di akhirat.

Alloh Ta’ala dipuji karena kesempurnaan-Nya dan ni’mat-ni’mat-Nya U; Oleh karena itu kita memuji Alloh U, karena Dia Ta’ala sempurna sifat-sifat-Nya, ni’mat-ni’mat dan kebaikan-kebaikan-Nya. Alloh berfirman :وما بكم من نعمة فمن الله ثم إذا مسكم الضر فإليه تجأرون)) ))  Artinya : “Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Alloh-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa kemadlhorotan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”. (An Nahl : 53). Diantara ni’mat yang paling besar yang Alloh karuniakan kepada makhuk-Nya adalah ni’mat diutusnya para rosul, yang mengemban tugas memberikan hidayah (penjelasan) kepada makhluk(Nya). Oleh karenanya penulis rohimahulloh berkata :  الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق (Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rosul-Nya dengan huda dan dien al-haq).

Dan perkataannya di sisni (لله ) “lillah”, maka untuk istihqoq (menyatakan keberhakan). Oleh karenanya, jika sesuatu yang sebelum huruf “lam” itu merupakan makna bukan dzat, maka memberikan faidah lilistihqoq. Dan kadang-kadang bersama dengan istihqoq itu  lil milki (menyatakan kepemilikan). Maka seluruh pujian hanyalah milik Alloh Ta’ala yang Dia berhak dengannya, dan Dia pula jalla wa ‘alla yang memuliki pujian tersebut. Bagi-Nya lah seluruh pujian secara  keberhakan dan kepemilikan.

Macam-macam pujian itu terkumpul dalam lima hal :

  1. Alloh jalla wa ‘ala terpuji dalam kemandirian dalam rububiyahNya yang tiada sekutu baginya; dan terpuji pula dalam jejak-jejak rububiyahNya pada seluruh makhluknya.
  2. Alloh jalla wa ‘ala terpuji dalam uluhiyyahNya (hak-hak ketuhanan) dari seluruh makhlukNya; Dan Alloh-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tanpa sekutu di dalamya.
  3. Alloh jalla wa ‘ala terpuji dikarenakan nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang tinggi.
  4. Alloh jalla wa ‘ala dipuji karena syari’at, perintah dan larangan-Nya.
  5. Alloh jalla wa ‘ala terpuji dalam ketentuan-ketentuan dan taqdir-Nya serta semua hal yang bejalan dalam sunnah kauniyahnya (hukum alam –pen).

Kedua : Perbedaan Antara Hamdu dengan Madhu

Al Hamdu adalah mengabarkan kebaikan yang dipuji dengan disertai kecintaan dan pengagungan terhadapnya. Berbeda dengan Al Madhu, maka ia hanya mengabarkan saja, tanpa dibarengi dengan kecintaan dan pengagungan.

Ketiga : Perbedaan Antara Al Hamdu dengan As Syukru

Alhamdu adalah pujian dengan lisan atas suatu kebaikan yang ikhtiyari, baik itu suatu ni’mat ataupun selainnya; Dikatakan : حمدت الرجل على إنعامه  “Aku memuji seseorang atas kebaikan-kebaikannya”; حمدته على شجاعته  “Aku memuji keberaniannya”.

Adapun As Syukru diungkapkan atas suatu ni’mat saja; pengungkapan rasa syukur dapat diwujudkan dengan hati, lisan dan amal perbuatan; Diungkapkan oleh seorang penyair :

Menunjukkan kepada kalian kesyukuran ni’mat-ni’mat dari-ku dengan tiga piranti;

Tanganku, lisanku dan perasaan yang tersembunyi ( di dalam hati).

Kesimpulannya, Al hamdu lebih umum bila ditinjau dari keterkaitannya[4] dan lebih khusus apabila ditinjau dari segi cara (alat) mengungkapkannya[5]; sedangkan As Syukru sebaliknya.

Keempat : Perbedaan Antara hamad (pujian) dan tsana (sanjungan).

Sebagian para ulama tidak membedakan antara hamd dengan tsana. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rohimahulloh berkata : “Al-hamdu adalah mensifati yang dipuji dengan kesempurnaan dibarengi dengan kecintaan dan pengagungan, jika sifat kesempurnaan itu diulang maka menjadi tsana (sanjungan)[6].

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili berkata : “Al-Hamdu adalah pujian kepada Alloh dengan sifat-sifat yang sempurna, sekali ungkapan. Adapun tsana pengulanagn hamd …”[7].

Perkataannya : “Yang telah mengutus rosul-Nya dengan huda dan dien al-haq untuk memenangkannya atas semua agama seluruhnya, serta cukuplah Alloh sebagai saksi”. Ini merupakan iqtibas dari ayat yang terdapat pada akhir surat al-Fath, yakni firman Alloh Ta’ala :

{ هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا }

“Dia-lah Yang telah mengutus rosul-Nya dengan huda dan dien al-haq untuk memenangkannya atas semua agama seluruhnya, serta cukuplah Alloh sebagai saksi”. (QS. Af-Fath : 28).

Kelima : Ar Rosul

Ar-Rosul secara bahasa adalah : Orang yang diutus dengan risalah. Sedangkan Al Irsal secara bahasa adalah At Taujih (pengarahan). Oleh karena itu, Ar Rosul dinamakan dengan demikian karena mereka adalah para pengarah (baca : pemberi petunjuk dan penjelasan) yang datang dari sisi Alloh U, Alloh U berfirman : ((ثم أرسلنا رسلنا تترا )) “Kemudian Kami utus (kepada tiap-tiap umat) rosul-rosul Kami berturut-turut”. (Al Muminun : 44).

Adapun secara syara’ maka yang dimaksud dengan rosul adalah : Manusia, laki-laki, merdeka; diwahyukan kepadanya dengan suatu syari’at dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Apabila diwahyukan namun tidak diperintahkan[8] untuk menyampaikannya maka ia adalah nabi.[9]

Perkataannya : “Yang telah mengutus Rosul-Nya”. Perkataannya “Rosulnya”, ia mufrod yang mudhlof; Rosul mudlhof, huruf ‘ha’ mudlhofun ilaih. Kaidah di dalam bahasa arab menyatakan bahwa mufrod mudhof merupakan bagian dari lafadz umum; maka yang dimaksud dari perkataan beliau ini adalah jinsu ar-Rosul (jenis Rosul). (Dan) ada kemungkinan lain, bahwa penulis memaksudkan al-khusus, yakni nabi kita Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Kemungkinan kedua yang lebih mendekati.

Maka sesungguhnya, seluruh Rosul diutus dengan al huda dan dinul haq. Akan tetapi, agama yang Alloh menyempurnakan dengannya risalah adalah Muhammad r. Maka sesungguhnya, Alloh telah menutup dengannya r kenabian dan telah sempurna pula dengannya bangunan; hal ini sebagaimana nabi r telah mensifati dirinya bila ditinjau dari rosu-rosul yang lainnya, yakni seperti seseorang yang membangun suatu istana dan menyempurnakannya kecuali satu tempat batu bata saja (yang belum sempurna -pen); Adapun manusia berdatangan untuk melihat  istana tersebut dan merekapun dibuat takjub dengannya kecuali  satu labaiah (satu tempat batu bata saja); Rosululloh r bersabda : “Maka akulah labaiah, dan akulah penutup para nabi”. Hadits riwayat Al Bukhori (3534) dan Muslim (2287) dari Muslim bin Hayyan dari Sa’id bin Maina dari Jabir bin Abdulloh secara marfu’.

Keenam : An Nabi

Nabi secara bahasa : Dikatakan, ia adalah mustaq dari النباء (An Naba) ia adalah الخبر (Alkhobar). Maka dengan ini, nabi adalah yang mengabarkan (berita) dari Alloh U. Dikatakan pula : Ia mustaq dari النبوة (An Nabwatu), ia adalah sesuatu yang meninggi dari bumi, maka nabi adalah makhluq yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya.

Adapun secara syara maka yang dimaksud dengan nabi adalah: Manusia, merdeka, laki-laki; Alloh memilih dan mengkhususkannya dengan menyampaikan wahyu kepadanya.

Ketujuh : Perbedaan Antara Nabi dan Rosul

Adapun perbedaan antara nabi dan rosul adalah : Bahwasanya rosul lebih khusus daripada nabi; Maka setiap rosul adalah nabi dan tidak setiap nabi adalah rosul.

Rosul adalah orang yang diwahyukan kepadanya dan diutus kepada umat yang baru, atau kepada umat yang kafir. Mereka menyeru kepada tauhid dan untuk meta’ati Alloh ‘azza wa jalla. Dia datang kepada mereka dengan syari’at yang baru. Ia lebih khusus daripada nabi.

Adapun Nabi adalah : Orang yang diwahyukan kepadanya dan diperintahkan untuk menyampaikan, akan tetapi dia berada di atas syari’at nabi yang sebelumnya, inilah yang kuat di dalam pengertian Nabi. Yang menunjukkan bahwa nabi itu di utus adalah : firman-Nya Ta’ala :

{ فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين }

“Maka Alloh menutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan”.

Dan firman-Nya : “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Disana ada pendapat yang terkenal namun tidak sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, yakni perkataan mereka : Bahwa nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya dan tidak diperintahkan untuk menyampaikan. Kesalahannya terletak pada perkataan mereka : “Tidak diperintah untuk menyampaikan”. Pendapat ini telah terbantah dengan dalil-dalil sebelum ini.

bersambung pada masalah ke delapan : Al Huda …. insya Alloh Ta’ala.


[1] Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Usmary hafidzohulloh (Mafatihul Wushul syarhu Tsalatstul Ushul) berkata : “Dan pengertian terbaik tentangnya (al-hamdu) adalah yang diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh“.

[2] Berkata salah seorang guru kami [dengn maknanya]– mudah-mudahan Alloh senantiasa menjaganya – : “Yang dimaksud almuhaqoqtu dalam kalimat ini adalah pujian yang langsung ditujukan kepada Alloh U, sedangkan almuqhodaroh adalah pujian atau sanjungan yang ditujukan kepada makhluq Alloh, maka ini pada hakikatnya merupakan sanjungan dan pujian pula kepada Alloh U. Allohu’alam.

[3] Adwaul Bayan 1/39

[4] Maksudnya : lebih umum karena berkaitan dengan ni’mat dan bukan ni’mat – pen.

[5] Karena al hamdu itu hanya diungkapkan dengan lisan saja – pen.

[6] Al-Qowa’id Al-Fiqhiyah, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

[7] Syarhu Al-Qowa’id Al-Fiqhiyah, Rekaman dauroh yang diselenggarakan oleh Ma’had ‘Ali Al-Irsyad Surabaya di Lawang”. Jajakumulloh khoiron.

[8] Syaikh Shalih di dalam Syarhu Tsalatsatul Ushul berkata : “… telah diketahui, jika kita mengungkapkan ‘tidak diprintahkan untuk menyampaikannya’ maksudnya adalah ‘ala sabilil wujub. Akan tetapi kadang menyampaikannya, tetapi menyampaikannya itu tidak wajib atasnya …”

[9] Akan datang penjelasan tentang perbedaan nabi dan rosul.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: