Penjelasan Silsilah Aqidah Al Wasithiyah 2/-

قال المصنف : بسم الله الرحمن الرحيم

Penulis berkata : Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang“.

Pertama : Mengapa Diawali Dengan Bismilah ?

Penulis rohimahulloh memualai risalah yang berkah ini dengan bismillah sebagaimana tulisan-tulisan ahli ilmu. Demikian itu disebabkan beberapa alasan :

  1. Mengikuti kitabulloh; Karena ayat  pertama yang kita dapatkan dalam al Qur’an adalah ayat (بسم الله الرحمن الرحيم)
  2. Mengikuti petunjuk nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam di dalam tulisan dan suratnya. Seperti surat beliau kepada Hiroql pembesar negri Romawi, sebagimana datang penyebutannya di dalam hadits Abi Sufyan rodiyallohu’anhu di awal kitab Sahih Bukhori (No. 7).
  3. Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Merupakan kebiasaa para Imam yang menulis kitab memulai kitab-kitab ilmu dengan bismillah, demikian pula untuk sebagian besar kitab-kitab rosai“l.
  4. Bertabarruk dengannya.

Peringatan :

Adapun haditas “Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan ببسمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ maka terputus”. Dikeluarkan oleh Al-Khotib Al-Baghdadi  di dalam (Al-Jami’ li Adabi Ar-Rowi wa As-Sima’ 2\128), Ibnu Sam’ani di dalam (Adabul Imla 1\283), Abdul Qodir Ar-Ruhawi di dalam (Al-Arba’in), As-Subky di dalam (Thobaqot As-Syafi’iyyah 1\6).

Ia merupakan hadits yang dlho’if wahin. Oleh karenanya lebih dari seorang ulama yang telah memastikan tentang kelemahannya, diantaranya : Al-Hafidz Ibnu Hajar, As-Syakhowi, dan yang lainnya [1].

Kedua : Kesepakatan Ulama

  1. Para ulama sepakat bahwa bismillah merupakan bagian dari surat  An- Naml ayat : 30.
  2. Mereka sepakat pula untuk tidak mencantumkannya pada awal surat baro-ah, karena surat baro-ah dengan surat Al anfal dianggap\seakan-akan dijadikan satu surat.

Ketiga : Ikhtilaf Ulama Tentang Bismillah

Ulama berbeda pendapat Tentang bismillah; apakah ia merupakan ayat dari setiap surat yang surat-surat tersebut dibuka dengannya ? atau ayat tersendiri yang diturunkan untuk memisahkan antara surat-surat dan tabarruk memulai dengannya ?. Dari pendapat-pendapat tersebut yang terpilih adalah pendapat yang kedua[2].

Keempat : Apakah Bismillah Merupakan Bagian Dari Surat Fatihah?

Dalam masalah ini telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama; Pendapat pertama : Ia merupakan ayat pertama dari surat Fatihah dan dibaca dengan keras tatkala dalam sholat jahriyyah. Selain itu merekapun berpendapat tidak sah-nya (sholat –pen) kecuali dengan membaca bismillah. Pendapat kedua : Mereka yang berpendapat bahwa ia bukanlah termasuk ayat dari surat Al Fatihah, akan tetapi merupakan ayat yang terpisah dari kitab Alloh.

Kelima : Apakah Bismillah Merupakan Kalimat Yang Sempurna ? Bismillah merupakan kalimat yang sempurna : Bisa jumlah fi’liyyah menurut pendapat yang paling kuat atau-pun jumlah ismiyyah.

Ahli nahwu dan ahli bahasa telah berbeda pendapat dalam menentukan sesuatu yang berkaitan dengan bismillah. Huruf ‘ba’ dalam bismillah li-isti’anah dan ia berkaitan dengan sesuatu yang mahdzuf, sebagian mereka menentukan bahwa taqdir-nya adalah fi’il (kata kerja) dan sebagian yang lain menentukan taqdir-nya adalah isim (kata benda); Dua pendapat ini berdekatan karena semua itu ada dalam Al Qur’an; Alloh U  berfirman : ( اقرباسم ربك ) “Dengan menyebut nama Robb-mu” (Surat Al‘alaq) dan Alloh U -pun berfirman : (بسم الله مجريها) “Dengan menyebut nama Alloh ketika berlayar” (Surat Hud : 41).

Pendapat yang paling benar dalam masalah ini adalah : bahwasanya huruf  ‘ba’ dalam bismilah berkaitan dengan fi’il (kata kerja) yang dibuang dan diakhirkan sesuai dengan keperluan; (Sebagai contoh-pen), apabila engkau hendak makan maka taqdir-nya : بسم الله آكل “Dengan menyebut nama Alloh aku makan”; apabila engkau akan membaca maka taqdir-nya : بسم الله أقرأ  “Dengan nama Alloh aku membaca”.

Sedangkan alasan kita mentaqdirkannya diakhirkan untuk dua faidah :

  1. Al Hasr, karena mendahulukan ma’mul berfaidah Al Hasr (yakni membatasi), maka jadilah بسم الله أقرأ itu menempati kedudukan : لا أقرأ إلا باسم الله  maknanya : “Tidaklah aku membaca kecuali dengan nama Alloh”.
  2. Memulai dengan nama Alloh itu merupakan bentuk tayamunan (tabarruk).

Alasan kita mentaqdirkannya khusus; Karena kata kerja yang khusus itu lebih menunjukkan pada maksud daripada kata kerja umum; walaupun dari suatu yang memungkinkan bagi  kita untuk mentaqdirkannya بسم الله أبتدئDengan nama Alloh aku memulai”, tetapi بسم الله أبتدئ tidaklah menunjukkan pada tertentunya maksud/tujuan; sedangkan  بسم الله أقرأ itu khusus; yakni lebih menunjukkan pada makna daripada kata kerja yang masih umum.

Faidah : Adapun Syaikhul Islam berpendapat bahwa yang dibuang itu adalah isim yang diakhirkan. Demikian diungkapkan oleh Syaikh Kholid Al-Mushlih dalam syarah al-Washithiyah (rekaman).

Keenam : Arti Isim

Isim secara bahasa adalah : Sesuatu yang menunjukkan pada yang dinamai, adapun menurut para ahli nahwu (tata bahasa) adalah : Suatu kata yang menunjukkan pada maknanya dengan sendirinyan dan tidak berkaitan dengan zaman (masa). Dikatakan pula bahwa isim adalah suatu kata yang memberitahukan tentang yang dinamai, fi’il suatu kata yang memberitahukan tentang gerak dari sesuatu yang dinamai dan huruf adalah sesuatu yang memberitahukan makna yang bukan isim ataupun fi’il.

Ketujuh : Isim jalalah (Yakni nama الله)[3]

Ada yang berpendapat bahwa (lafadz الله) merupakan isim jamid, yakni bukanlah mustaq, yang benar bahwasanya (lafadz الله ) adalah mustaq.

Ibnul Qoyyim membicarakannya di dalam “Nuniyah” tentang lafdzul jalalah (Alloh), apakah ia jamid ataukah musytaq ? Beliau berkata : Yang benar ia mustaq, ini merupakan madzhab ahlu sunnah wal jama’ah mengenai lafdzul jalalah dan yang lainnya dari nama-nama Alloh.

Demikian sebagaimana firman Alloh U : ((  وهو الله في السمواة و في الأرض يعلم سركم وجهركم)) [surat Al An ‘am : 3]; Maka sesungguhnya ((قي السمواة )) berkaitan dengan lafadz jalalah, maknanya : “Dia-lah (Alloh)  yang disembah dilangit dan dibumi”.

Adapun ahli bid’ah mereka berpendapat bahwa Ismul jalalah (Alloh) jamid dan sababul qaul, sehingga mereka tidak memustaqkan sifat darinya.

Ulama berbeda pendapat permulaan mustaq­nya;

  1. Dikatakan : أله – يأله – ألوهة وإلاهة و ألوهية  yang maknanya : عبد – عبادة .
  2. Dikatakan pula : أله – بكسر الام – يأله – بفتحها – ألها  ini jika bingung, kacau pikirannya.

Yang benar dari dua pendapat di atas adalah yang pertama yaitu إله  yang bermakna : مألوه  yaitu معبود  (yang disembah); Oleh karenanya berkata Ibnu Abbas rodiyallohu ‘anhuma : “Alloh adalah pemilik ketuhanan dan peribadahan atas seluruh hamba-hambanya”.

Faidah[4] : Lafadz “Alloh” tidaklah dimutlakan kecuali pada pencipta langit dan bumi, berbeda dengan lafadz “illah”, karena lafadz “ilah” dimutlakan penyebutanya kepada yang diibadahi dengan benar dan juga kepada kepada sesuatu yang diibadahi dengan bathil. Oleh karenanya perkataan “Lailahailalloh” adalah laa ma’buda bi haqqin illalloh (tidak ada yang diiabadahi dengan benar kecuali Alloh). Jadi lafadz “illah” dimutlakan atas seluruh yang disembah, baik hak atau pun bathil.

Kedelapan : الرحمن الرحيم

الرحمن الرحيم Ia adalah dua nama diantara nama-nama Alloh yang maha mulia yang berada pada puncak keindahan; Kedua-duanya menunjukkan atas sifat-Nya yaitu arrohmah, ia adalah sifat yang hakiki bagi Alloh Ta’ala, sesuai dengan kemaha mulian-Nya. Dan sebagai peringatan, bahwa tidak boleh mengatakan bahwa yang dimaksud dengan rohmah itu adalah lawazimnya (keharusannya) seperti kehendak untuk ihsan (berbuat baik) ataupun yang semisal dengannya; sebagaimana dikatakan oleh mu’athilah; Akan datang penjelasannya, insya Alloh.

الرحمن maknanya : Pemilik rahmat yang luas, karena ia mengikuti wajan (timbangan) فعلان , sedangkan timbangan tersebut dalam bahasa arab menunjukkan pada luas dan penuh; Sebagaimana dikatakan : رجل غضبان            jika keadaan marahnya itu berada pada puncaknya.

الرحيمadalah nama yang menunjukan kepada perbuatan, karena ia fa’iil bernakna faa’il ia adalah yang menunjukan kepada perbuatan.

Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berpendapat bahwa [الرحمن] menunjukkan atas sifat yang ada pada Dzat Ta’ala. Adapun [الرحيم] adalah menunjukkan pada keterkaitannya dengan yang dirahmati; Oleh karenanya tidaklah terdapat di dalam Al-Qur’an nama Ar-rohman dalam kedaan muta’adi; Alloh Ta’ala berfirman : (( وكان الله بالمؤمنين رحيما )) [Al Ahzab : 43]. Dan tidaklah dikatakan “ رحمانا ”. Inilah sebaik-baik pendapat yang dikatakan dalam masalah perbedaan antara keduanya.

 


 

[1] Lihat pula Irwaul Gholil 1\  , Al-Muhadits Al-Albani Rohimahulloh.

[2] Syarhu Al-Washithiyah, Syaikh Holil Harros. Syaikh Abdurrozaq ‘Afifiy rohimahulloh berkata : “Ia merupakan syarah yang paling baik, paling mudah dan yang paling ringkas ungkapannya”.

[3] Dikatakan bahwa lafadz الله merupakan a’rofu lma’arif ‘alal ithlaq (Suatu nama yang paling diketahui disemua tempat dan waktu; sehingga ketika disebutkan nama الله maka pikiran-pun mengerti tentang siapakah Dia; Dia-lah Alloh Rabb semesta Alam; Pencipta, Pengatur Alam Semesta, Pemberi Rizki; Serta Dia-lah yang berhaq di sembah –pen)

Dikatakan pula lafadz الله  merupakan ismun ‘a-dzom. (Lihat Sarah Qowa’idul Arba’ karya Arrodadi,  Sarah Kasyfu Syubhat karya Abu Ubaidah Al Misroti dan yang lainnya).

[4] Syarhu At-Tadmuriyah, Syaikh Aman Al-Jami’. (www. sahab.org).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: