TIDAK MENGHERANKAN !

Sumber : Sahab.net
19062009
22:44:31
Editor : Abdulloh bin Zaid Al Kholidiy.

 

Tidak Mengherankan !

(Al ‘Alamah Doktor Shalih bin Fauzan al Fauzan)

الحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ؛ وبعد : قرأت كلامًا لبعض المشائخ في (جريدة الوطن) يتعجب فيه من افتراق المسلمين فيما بينهم مع أن كلا منهم يقول : ربي الله ، ونبيي محمد ، وديني الإسلام !
وأقول : لا عجب في ذلك لأنه لا يكفي مجرد القول بدون الالتزام بمدلوله ، فلا يكفي أن يقول الإنسان : ربي الله حتى يستقيم على هذه الكلمة بتحقيق مدلولها ؛ وهو عبادة الله وحده لا شريك له ، قال تعالى : ﴿ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ ، وقال النبي – صلى الله عليه وسلم – لما طلب منه سفيان بن عبد الله – رضي الله عنه – أن يقول له قولاً في الإسلام لا يسأل عنه غيره ؛ قال له النبي – صلى الله عليه وسلم – : ( قل آمنت بالله ثم استقم )؛

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam bagi Rosululloh, dan kemudian : “Saya membaca ungkapan sebagian Syaikh pada suatu surat kabar ‘yang menggambarkan keheranannya dari perpecahan kaum muslimin, padahal mereka semuanya menyatakan : Robb ku Alloh, Nabi ku Muhammad dan Islam sebagai agamaku !.

Aku katakan : Sebenarnya keadaan seperti itu tidaklah mengherankan, karena tidaklah cukup hanya mengatakannya saja tanpa berpegang teguh dengan konsekwensinya. Tidaklah cukup seseorang mengatakan :  Robb ku Alloh, sehingga dia istiqomah di atas kalimat ini; yakni dengan merealisasikan tuntutannya, ia adalah beribadah kepada Alloh semata serta tidak menyekutukanNya. Alloh Ta’ala berfirman : “Sesunguhnya (bagi) orang-orang yang mengatakan Robb kami Alloh, kemudian istiqomah, maka bagi mereka tidak ada rasa takut dan tidak pula bersedih hati”. (QS. Al Ahqoof : 13).  Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda – tatkala Sufyan bin Abdillah rodiyallohu ‘anhu meminta untuk mengatakan suatu perkataan yang dia tidak akan bertanya kepada selainnya r — : “Katakanlah  : ‘Aku beriman kepada Alloh !, kemudian istiqomahlah”.

لأن مجرد قول : ربي الله معناه الإقرار بتوحيد الربوبية ؛ وهو لا يكفي إلا بالإتيان بلازمه ، وهو توحيد الألوهية بأن لا يعبد إلا الله وحده لا شريك له لأن المشركين يقرون بتوحيد الربوبية لكنهم يشركون في الألوهية كما ذكر الله ذلك عنهم في القرآن الكريم ،

Karena kalau hanya mengatakan : Robb ku Alloh semata, maka maknanya hanya mengakui tauhid Rububiyah saja; ia tidaklah mencukupi kecuali dengan melaksanakan kemestiannya, yaitu tauhid Uluhiyah –dengan tidak beribadah kecuali kepada Alloh semata serta tidak menyekutukanya – , karena orang-orang musyrik menetapkan tauhid Rububiyah, akan tetapi mereka musyrik dalam Uluhiyah; sebagimana Alloh Ta’ala menyebutkan tentang mereka di dalam al Qur’an.

ولا يكفي – أيضًا – أن يقول الإنسان محمد نبيي دون أن يتبع الرسول ويطيعه فيما أمر ، ويصدقه فيما أخبر ، ولا يعبد الله إلا بما شرع فهذا تحقيق قول : محمد نبيي .أما من يقول ذلك وهو لا يطيعه فيما أمر ولا يجتنب ما نهى عنه ، ولا يصدقه فيما أخبر به ، ولا يتجنب البدع المحدثة في الدين بل يعبد الله بغير ما شرعه الرسول – صلى الله عليه وسلم – فهذا لا ينفعه مجرد النطق بقوله : محمد نبيي ،

Dan tidak cukup pula, seseorang mengatakan : Muhammad Nabi ku tanpa mengikuti Rosululloh dan menta’atinya, dan tidak membenarkan sesuatu yang dikabarkannya, dan tidak beribadah kepada Alloh kecuali dengan sesuatu yang telah disyari’atkannya; Ini merupakan realisasi perkataan : Muhammad Nabi ku. Adapun orang yang mengatakannya dan dia tidak menta’ati yang diperintahkannya, tidak manjauhi yang di larangnya, tidak membenarkan yang dikabarkannya, serta tidak menjauhi bid’ah yang muhdats dalam agama; bahkan beribadah kepada Alloh dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan Rosul sholallohu ‘alaihi wa sallam, maka hanya mengatakannya semata : ‘Muhammad nabi ku’ tidak memberikan manfa’at baginya.

وكذلك إذا قال : الإسلام ديني فلابد أن يلتزم بدين الإسلام بجميع أحكامه عقيدةً وشريعةً ، ومعاملةً وأخلاقًا وسلوكًا ؛ فلا يقول : الإسلام ديني ويتبع ما شاء من النحل والمبادئ المخالفة لدين الإسلام ، وإنما يكون على منهج السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان .
قال تعالى : ﴿ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾ ، هذا ما أردت التنبيه عليه : ﴿ إِنْ أُرِيدُ إِلا الإِصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللهِ

Demikian pula jika mengatakan : Islam agama ku, maka harus berpegangteguh dengan agama Islam, berpegangteguh dengan seluruh hukum-hukumnya; baik sisi aqidahnya, syari’ah, mu’amalah dan suluk. Maka janganlah mengatakan : Islam agamaku sambil mengikuti sesuatu seenak perutnya, dari sekte dan aturan-aturan yang menyelisihi agama Islam. Namun yang semestinya di tempuh adalah mengikiuti metodenya orang-orang yang terdahulu lagi pertama, dari kalangan Muhajirin dan Anshor, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Alloh Ta’ala berfirman : “Inilah jalanKu yang lurus, ikutilah ia !, dan janganlah mengikuti jalan-jalan yang lain karena akan menyebabkan terpecah-belahnya kalian dari jalanNya, Itu yang diwasiatkan kepada kamu supaya kamu mejadi orang yang bertaqwa”. (QS. Al An’am : 153). Inilah yang ingin kuperingatkan : “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah”. (QS. Hud : 88).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: