MUTIARA BERSERAK PELAJARAN KITAB TSALATSATUL USHUL [5]

Dengan pertolongan Alloh Ta’ala, kita bisa menyajikan kembali bagian kelima dari pelajaran kitab tsalatsatul ushul, demikian dalam rangka sama-sama belajar islam dan sunnah yang sahih.

Bagian ke 5

Penulis rohimahulloh berkata :

اعلم  أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصاً له الدين ، وبذلك أمر الله
جميع الناس وخلقهم لها كما قال تعالى :
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
ومعنى  يعبدون : يوحدون

وأعظم ما أمر الله به التوحيد
وهو إفراد الله بالعبادة . وأعظم ما نهى عنه الشرك
وهو دعوة غيره معه والدليل قوله تعالى :
واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئاً

“Ketahuilah ! semoga Alloh senantiasa menetapkan dan meneguhkanmu untuk senantiasa menta’atiNya, bahwasanya al hanifiyah yakni agama Ibrohim adalah engkau beribadah kepada Alloh semata, dengan memurnikan seluruh agama hanya kepadaNya. Dan dengan yang itulah Alloh memerintahkan seluruh manusia dan pula menciptakan mereka untuk ibadah [kepadanNya]. Sebagimana firmanNya Ta’ala : “Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Msnusia kecuali supaya mereka beribadah (kepadaKu). Makna ‘supaya ibadah kepadaKu’ adalah ‘supaya mereka mentauhidkanKu’.

Perintah terbesar yang Alloh memerintah denganya adalah at Tauhid, ia adalah mengesakan Alloh dalam ibadah. Dan larangan terbesar yang Alloh melarang darinya adalah As Syirku, ia adalah meminta/beribadah kepada yang lain di samping beribadah kepada Alloh. Dalilnya firman Nya Ta’ala : “Dan beribadahlah kepada Alloh !, dan janganlah mensekutukanNya dengan sesuatu apapun !”.

Uraian Global :

Ia merupakan muqoddimah ketiga; yakni muqoddimah yang terakhir bagi kitab yang bermanfa’at ini. Ia sebagai inti rincian bagi masalah pertama dalam muqoddimah yang kedua, yakni tentang tauhid uluhiyah.

Syaikh Abdulloh bin Shalih Al Fauzan hafidzihulloh dalam kitabnya “Hushulul ma’mul bi syarhi tsalatsatul ushul” berkata : “Ini merupakan perkataan penulis rohimahulloh dalam pembahasan penetapan tauhid uluhiyah”.

Dalam muqoddimah yang ketiga ini penulis rohimahulloh akan menjelaskan hakikat millah Ibrohim. Millah yang nabi Muhammad r diperintahkan untuk mengikutinya, Alloh Ta’ala berfirman : “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS.An Nahl : 123).

Adapun hakikat millah Ibrohim adalah sebagaimana di katakan olah penulis rohimahulloh. Yakni : “Beribadah kepada Alloh semata, dengan memurnikan seluruh agama hanya kepadaNya … ”. Ia merupakan makna tauhid uluhiyah, sebagimana telah disebutkan di atas.

Penjelasan Kosa Kata dan Rincian.

1. Perkataan penulis rohimahulloh : (أرشدك الله لطاعته) “Semoga Alloh senantiasa menetapkan dan meneguhkanmu untuk senantiasa menta’atiNya”.

(أرشدك الله) ‘Semoga Alloh senantiasa menetapkan dan meneguhkanmu’, yakni : Semoga Alloh menjadikanmu istiqomah di atas jalan kebenaran.

(الطاعة) ‘ta’at’; ia adalah sesuai dengan tuntunan syari’at; dengan melaksanakan perintah; baik yang wajib atau pun sunnah dan meninggalkan larangan; baik yang makruh apalagi yang haram.  

2. Perkataan penulis rohimahulloh : (أن الحنيفية ملة إبراهيم) “bahwasa al hanifiyah yakni agama Ibrohim”.

(الحنيفية) ‘al hanifiyah’; Ia diambil dari kata (الحنف), ia memiliki dua makna :

  1. (الميل) ‘condong’, ia merupakan makna asal dalam bahasa Arab; sebagimana ditetapkan ahli bahasa. Dengan makna ini maka maksud penulis adalah : Bahwa al hanafiyah yang ia merupakan agama Ibrohim adalah condong dari kesyirikan kepada kebenaran; tauhid.
  2. (الاستقامة) ‘istiqomah’, sebagaimana ditetapkan oleh banyak ahli tahqiq lughoh, seperti Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rohimahulloh. Dengan makna ini maka maksud perkataan penulis : “Bahwa al hanifiyah yakni agama ibrohim” adalah : Bahwa agama bapak kita Ibrohim yang dinamai dengan al hanifiyah merupakan jalan yang lurus; yang tidak ada kebengkokan di dalamnya.

(ملة إبراهيم) ‘agama Ibrohim’, ia sebagai badal bagi kalimat al hanifiyyah, maka dikatakan dengan taqdir (أن ملة إبراهيم أن تعبد الله) ‘bahwa agama Ibrohim adalah kamu beribadah kepada Alloh … ’. Karena hukum badal seperti mubdal nya. Maka al hanafiyyah ditafsirkan dengan millah Ibrohim dan demikian pula sebaliknya. Adapun disandarkannya millah kepada Ibrohim karena Nabiyulloh wa Kholilulloh Ibrohim merupakan bapaknya para Nabi. Sebagimana telah datang pula penyandarannya dalam Al Qur’an.

Syaikh Fauzan pada kitab yang telah lalu penyebutannya berkata : “Adapun millah : Maka ia bermakna (الدين) ‘agama’, ia adalah nama bagi segala aturan yang Alloh Ta’ala mensyari’atkannya bagi para hambaNya, melalui lisan para nabiNya”.

3. Perkataan penulis rohimahulloh : (أن تعبد الله وحده مخلصاً له الدين) ‘adalah engkau beribadah kepada Alloh semata, dengan memurnikan seluruh agama hanya kepadaNya’. Kalimat ini merupakan khobar (أنَّ) dalam perkataan penulis (أنَّ الحنيفية ملة إبراهيم), karena (أنَّ) harus memiliki isim dan khobar, pada aslinya ia merupakan mubtada dan khobar. Isimnya adalah (الحنيفية) sedangkan khobar nya adalah kalimat (أن تعبد الله وحده).

Maka (أن تعبد الله وحده) dan yang masuk atasnya dalam ta’wil mashdar merupakan khobar (أنَّ). Takdirnya (اعلم أن الحنيفيةَ ملةَ إبراهيم عبادةُ الله تعالى وحده بإخلاص) ‘Ketahuilah !, bahwa al hanifiyyah yakni millah Ibrohim adalah ibadah kepada Alloh semata dengan ikhlas.

Ikhlas adalah seorang hamba memaksudkan dengan amalnya tersebut keridlhoan dan balasan Alloh U, bukan tujuan lainnya; dari kedudukan, kekuasaan atau yang lain-lainya dari perkara dunia. Jika seorang hamba menegakan ibadah, maka dia menghendaki dengan ibadahnya tersebut keridlhoan Alloh U, yang Dia lah yang berhak untuk diibadahi. Jika maksud dia beribadah sampainya atau dicapainya pahala maka telah meralisasikan ikhlas. Memaksudkan pahala dari Alloh Ta’ala dan dicapainya keridlhoan dan surgaNya tidaklah menngurangi atau mencacati keikhlasan, bahkan dicela orang yang beribadah kepada Alloh U dengan tanpa mengharapkan pahala kebaikan, itu merupakan jalanya kelompok dari kelompok Shufiyah, demikain itu menyelisishi ketentuan yang ditunjukan oleh nas-nas syar’i, yang memotivasi manusia untuk memaksudkan dengan ibadah tersebut untuk bisa melihat wajah Alloh dan tercapainya keridlhoanNya serta memohon balasanNya dan surgaNya.

Faidah :

Hasil dan agungnya keikhlasan –diantaranya-:

a. Dicapainya kesempurnaan dalam keta’atan, dan mengeluarkan penghambaan kepada selaiNya dari hati.
b.
Barangsiapa memurnikan ibadah hanya kepada Alloh maka akan dijauhkan dari maksiat dan dosa. Alloh Ta’ala berfirman : “Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih”. (QS. Yusuf : 24). Maka alasan dipalingkannya Yusuf ‘alaihissalam dari kejelekan dan kekejian adalah : Karena beliau termasuk hamba-hamba yang memurnikan ibadah mereka, yang Alloh memilih mereka untuk diriNya.
c.
Barangsiapa memurnikan ibadah kepada Robb nya maka dijaga dari godaan Syaithon. Alloh Ta’ala U berfirman : “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka”. (QS. Al Hijr :42). Dan Syaithon berkata –sebagimana dikabarkan dalam firmanNya- : “Sampai kepada hari yang Telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”. (QS. Shaad : 82-83).
d.
Dalam hadits ‘Itban disebutkan bahwa beliau r bersabda :

إن الله حرم على النار من قال : لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله

“Alloh U benar-benar mengharamkan Neraka bagi orang-orang yang mengatakan laailahaillalloh dengan motivasi wajah Alloh”. (HR. Bukhori : 425, Muslim 54/33).

4. Perkataan penulis rohimahulloh : (وبذلك أمر الله جميع الناس وخلقهم لها) “Dan dengan yang demikianlah Alloh memerintahkan seluruh manusia dan pula menciptakan mereka untuk ibadah [kepadanNya]”.

(وبذلك) ‘dan dengan itu’. Kata tunjuk ‘itu’ sebagai isyarat pada musyar ilaih; musyar ilaihnya adalah ikhlas dalam ibadah, maka kalimat (أن تعبد الله وحده مخلصاً له الدين) merupakan musyar ilaih; ringkasannya : ikhlas dalam ibadah. Penulis berkata (وبذلك) yakni : Dan dengan mengikhlaskan ibadah Alloh memerintahkan seluruh manusia.

(أمر الله) “Alloh memerintahkan”. Yakni perintah wajib dan pasti, Dia Ta’ala telah menjadikannya sebagai kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Perintah di atas bukanlah perintah yang sunnah atau mustahab.

(جميع الناس) ‘seluruh manusia’. (جميع) merupakan bagian kata yang menunjukan kepada umum.

(الناس) ‘manusia’. Maksudnya bani Adam. Namun ketahui pula !, Jin termasuk pula pada maksud penulis. Karena dikatakan : lafadz “الناس” diambil dari An-Naus atau an-Nawas, yakni banyak bergerak. Diantaranya perkataan orang-orang : Makanun yanusu, yakni tempat   yang sering bergerak ‘labil’. Maka yang dimaksudkan di sini seluruh yang banyak bergerak dari mukalaf; merekalah Jin dan Manusia.

(وخلقهم لها) ‘dan menciptakan manusia untuk ibadah. (( لها) yakni (للعبادة) ‘untuk ibadah’.

Pengertian Ibadah secara bahasa adalah [الذل والخضوع] ‘Tunduk dan patuh’,.

Pengertian ibadah secara istilah, ia berbeda-beda tergantung sudut pandang :

Ditinjau dari sisi at ta’abud : Maka ia adalah tunduk dan patuh kepada Alloh dengan keta’atan.

Ditinjau dari sisi at ta’abud bihi : [اسم جامع لكل ما يحبه اللَّه ويرضاه، من الأقوال والأفعال الظاهرة والباطنة] ‘Suatu nama yang menyeluruh bagi segala sesuatu yang Alloh mencintai dan meridlhoinya, dari ucapan dan perbuatan, baik yang dhzohir atau pun yang batin’.

Seperti sholat, zakat, shaum, haji, jujur di dalam perkataan, menunaikan amanah, berbuat baik kepada kedua orang tua, silaturohmi, menunaikan janji, memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar, jihad memerangi orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil dan kepada yang dikuasai baik dari kalangan manusia ataupun hewan, du’a, dzikir, membaca Al-Qur’an dan yang lainnya dari berbagai macam ibadah. Demikian pula mencintai Alloh dan rosul-Nya, takut kepada Alloh, bertobat kepadanya, memurnikan amal kepada-Nya (ikhlas), sabar dengan ketentuan-Nya, bersyukur dengan ni’mat-Nya, ridlho dengan ketentuan-Nya, tawakal kepada-Nya, berharap rahmat-Nya, takut dari adzab-Nya dan yang semisalnya dengannya maka ia merupakan ibadah”[1].

Syarat diterimanya ibadah :

a.  Ikhlas semata-mata karena Alloh. Ia merupakan konsekwensi ucapan persaksian laailahailalloh.

b.  Mutaba’ah [mengikuti] tata cara yang telah diajarkan oleh Rosululloh r. Ia merupakan konsekwensi persaksian Muhammad rosululloh.

Rukun Ibadah :

a.  Al Mahabbah; Cinta.

b.  Al Roja’; Harapan.

c.  Al khauf; Rasa takut.

Ketiga rukun ini Alloh kumpulkan dalam surat al-Fatihah. Mengetahuinya orang yang memahaminya, dan tidak mengetahuinya orang-orang yang tidak mentadaburinya. Hanya kepadaNya lah kita memohon tambahan hidayah ilmu dan amal.


[1] Risalah Al-‘Ubudiyah beserta syarh Syaikh Abdul Aziz Ar-Rojihi (rekaman dan tulisan).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: