Kitab Shiyam/Puasa (al Fiqhu Al Muyassar), bagian 3

Masalah Ketujuh : Waktu Niat Tatkala Akan Melaksanakan Puasa dan Hukumnya :

Bagi yang berpuasa wajib berniat puasa, sebagimana telah lalu bahwa niat merupakan salah satu rukun dari rukun-rukunnya; berdasarkan sabda sholallohu ‘alaihi wa sallam :

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

“Suatu amal tergantung pada niat-niatnya, dan bagi setiap orang sesuai dengan yang dia niatkan”.

Niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari; seperti puasa Ramadlhon, puasa kafaroh, qodlho dan nadzar, walaupun dilakukan satu menit sebelum fajar. Berdasarkan sabdanya sholallohu ‘alaihi wa sallam :

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barangsiapa tidak niat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”. (HR. At Tirmidzi, No. 733, An Nasai, No. 4/196, Ibnu Majah, No. 1700. Lafadz ini milik Nasai. Syaikh Al Albani mensahihkannya dalam Sahih At Tirmidzi, No. 583).

Barangsiapa berniat puasa pada siang hari; dan belum makan sesuatu, maka tidak mencukupinya, kecuali dalam puasa sunnah. Ia (niat puasa sunnah) boleh dilakukan pada siang hari;  jika belum makan atau minum sesuatu.  Berdasarkan hadits ‘Aisyah rodiyallohu ‘anha, dia berkata : “Pada suatu hari Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bertanya :

هل عندكم من شيء ؟

“Adakah sesuatu yang bisa di makan ?”. Maka saya menjawab : Tidak ada, maka beliau bersabda :

فإني إذنْ صائم

“Jika demikan aku berpuasa”. (HR. Muslim, No. [1154]-170).

Adapun untuk puasa wajib maka niat pada siang hari tidak mencukupi, niat mesti dilakukan pada malam hari.

Satu niat pada awal Ramadhan untuk puasa selama satu bulan penuh telah mencukupi, dan disunnahkan untuk memperbaharuinya pada setiap hari.

Bab Kedua : Ragam Alasan Diperbolehkannya Berbuka dan Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

Masalah Pertama : Ragam Alasan Yang Membolehkan Berbuka Pada Puasa Ramadlhon :

Berbuka puasa diperbolehkan karena salah satu alasan berikut :

1. Sakit dan tua renta. Bagi orang sakit yang diharapkan kesembuhannya diperbolehkan untuk berbuka, jika telah sembuh maka wajib mengqodlho/mengganti hari-hari yang dia telah berbuka padanya; berdasarkan fiermanNya Ta’ala :

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al Baqoroh : 184). Dan berdasarkan firmanNya Ta’ala :

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ
مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al Baqoroh : 185).

Jenis sakit yang diberi keringan untuk berbuka adalah sakit yang karena sakit tersebut menjadi berat apabila berpuasa.

Adapun sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, atau lemah yang terus meneru, seperti sebab telah tua renta : Maka ia berbuka, tidak wajib qodlho, dia hanya wajib fidyah; memberi makan seorang miskin untuk tiap harinya. Karena Alloh ‘Azza wa Jalla menjadikan ith’am (memberi makan) sebagai pengganti bagi puasa, tatkala Dia Ta’ala memberikan pilihan antara keduanya pada awal-awal diwajibkanya puasa. Maka secara pasti bahwa memberi makan merupakan pengganti  dari puasa tatkala ada ‘udzur.

Imam Bukhori rohimahulloh berkata  :  “Adapun orang yang tua renta, jika tidak kuat berpuasa, maka Anas pada masa tuanya telah memberi makan; setahun atau dua tahun, pada setiap harinya seorang miskin. Ibnu Abbas rodiyallohu ‘anhuma berpendapat; tentang laki-laki dan perempuan yang tua renta lagi tidak kuat berpuasa : ‘Hendaklah keduanya memberi makan, satu harinya sebanding dangan seorang miskin’“.[1]

Maka orang yang  lemah dari berpuasa; lemah/ketidak mampuan yang terus menerus, dikarenakan sakit atau tua, maka untuk tiap harinya satu orang miskin;  yakni memberi mereka setengah sho bur, atau kurma, beras atau yang semisalnya dari makanan pokok suatu  Negara.  Satu sho sekitar 2,25 kg.  Maka memberi makan pada setiap harinya sekitar 1125 gram (1,125 kg).

Demikianlah, jika yang sakit berpusa maka puasanya sah dan mencukupi.

2. Safar; Seseorang yang sedang bepergian dibolehkan untuk berbuka/tidak berpuasa pada Ramadlhon, dan wajib untuk mengqodlhonya; berdasarkan firmanNya Ta’ala :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al Baqoroh : 184).

Dan firmanNya Ta’ala :

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al Baqoroh : 185).

Dan berdasarkan sabda sholallohu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang bertanya tentang puasa tatkala safar/berpergian :

إن شئت فصم، وان شئت فأفطر

“Jika kamu ingin maka puasalah !, dan jika kamu ingin pula ma berbukalah”. (HR. Bukhori, No. 1943).

Tatkala beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam menuju Makkah dalam keadaan puasa pada bulan Ramablhon, waktu sampai di daerah Kaidid beliau berbuka, maka manusia pun berbuka[2].

Diperbolehkannya berbuka ketika safar yang panjang, jarak yang diperbolehkan mengqoshor sholat[3]. Ia sekitar 48 mil, yakni sejarak 80 km.

Safar yang diperbolehkan berbuka pada bulan Ramadlhon adalah safar yang mubah, jika safarnya safar maksiat, atau safar karena ingin berbuka, maka tidak diperbolehkan berbuka di karenakan safarnya tersebut.

Jika yang sedang melakukan safar/berpergian maka puasanya sah dan mencukupinya. Berdasarkan hadits Anas rodiyallohu ‘anhu :

كنا نسافر مع النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فلم يعب الصائم
على المفطر، ولا المفطر على الصائم

“Dahulu kami melakukan safar bersama Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa  sallam, maka yang berpuasa tidak mencemooh yang berbuka, dan yang berbuka tidak membicarakan yang berpuasa”. (HR. Bukhori, No. 1947). Akan tetapi dengan syarat puasanya tersebut tidak memberatkan perjalanannya.

Jika merasa berat atau mendatangkan madlhorot, maka berbuka untuk haknya lebih utama; mengambil rukhshoh; karena Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, tatkala safar beliau melihat seseorang yang sedang berpuasa dinaungi dari teriknya panas (matahari), manusia berkumpul disekelilingnya, maka Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ليس من البرِّ الصيام في السفر

“Tidak termasuk kebaikan bepuasa tatkala safar”.  (HR. Bukhori, No. 1946).

3. Haid dan nifas, seorang perempuan yang sedang haid dan nifas maka wajib berbuka dari Ramadlhon, dan haram berpuasa. Andaikan dia berpuasa maka tidak sah puasanya; berdasarkan hadits Abi Sa’id Al Khudry rodiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أليس إذا حاضت لم تصلِّ ولم تصم ؟ فذلك من نقصان دينها

“Bukankah tatkala haid tidak sholat dan puasa ? Itulah diantara sebab kekurangan agamanya”. (HR. Bukhori, No. 394). Dan keduanya wajib mengqodlho. Berdasarkan perkataan ‘Aisyah rodiyallohu ‘anha :

كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة

“Yang demikian pun menimpa kami, maka kami diperintah untuk mengqodlho puasa, dan tidak diperintah mengqodlho sholat. (HR. Muslim, No. 335).

4. Hamil dan menyusui. Seorang perempuan jika sedang hamil atau menyusui, dan merasa takut dengan dirinya atau anaknya disebabkan puasa, maka boleh berbuka. Berdasar hadits yang diriwayatkan Anas rodiyallohu ‘anhu, dia berkata : Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة والصوم، وعن الحبلى
والمرضع الصوم

“Alloh meringankan dari musafir setengah sholat dan shiyam, serta puasa dari yang hamil dan menyusui”. (HR. At Tirmidzi, No. 715 dan menghasankannya, An Nasai 2/103, Ibnu Majah, No. 1667. Al Albani menghasankannya dalam Sahih Sunan An Nasai, No. 2145).

Orang yang hamil dan menyusui mengqodlho hari-hari yang dia berbuka pada hari-hari tersebut, demikian itu jika keduanya merasa takut/khawatir pada dirinya masing-masing. Jika yang hamil merasa khawatir pada dirinya dan janinnya, atau yang menyusui khawatir pada dirinya dan bayinya, maka selain mengqodlho dia pun harus memberikan makan bagi setiap harinya seorang miskin (membayar fidyah). Berdasarkan perkataan Ibnu Abbas rodiyallohu ‘anhuma : “Yang menyusui dan yang hamil, jika keduanya merasa takut/khawatir pada anak-anaknya, maka keduanya berbuka dan memberi makan (fidyah). (HR. Abu Daud, No. 2317, 2318. Al Albani mensahihkannya dalam al Irwa 4/18, 25). Riwayat seperti ini pun diriwayartkan dari Ibnu Umar rodiyallohu ‘anhuma.

Ringkasnya, sebab yang menjadikan bolehnya berbuka ada empat : Safar, sakit, haid, nifas dan merasa takut dari kebinasaan; sebagimana yang hamil dan menyusui.


[1] Sahih Bukhori, No. 4505. Kitab As Shiyam.

[2] HR. Bukhori, No. 1944.

[3] Lihat al Mughniy 3/34.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: