Ringkasan Qowa’id Fiqhiyah, Abu Humaid Abdulloh bin Humaid 1/6

بسم الله ا لرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, sholawat dan salam atas Rosululloh,  kemudian :
Materi ini merupakan rangkuman kitab mandzumah al-qowa’id al-fiqhiyah yang ditulis dan dijelaskan oleh Fadilatu Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin rohimahulloh. Cetakan Darul Atsar (Shon’a)/Darul Bashiroh (Iskandariyah).

القاعدة الأولى: الدين جاء لسعادة البشر

Kaidah pertama : Agama Datang Untuk Kebahagiaan Manusia.
Seluruh aturan agama untuk kemaslahatan dan menolak kerusakan. Kaidah ini merupakan kaidah yang umum di dalam agama Alloh ‘Azza wa Jalla.

القاعدة الثانية: لا ضرر ولا ضرار

Kaidah kedua : Tidak Boleh Memberi madlhorot dan Tidak Boleh Saling Memberi Madlhorot.

Islam telah mensyari’atkan segala sesuatu yang memberikan mafa’at. Dan melarang setiap perkara yang mendatangkan kerusakan.
Oleh karena itu, setiap yang memadorotkan maka dilarang. Dan setiap yang memberikan manfa’at disyari’atkan.
Dalilnya adalah firman Alloh Ta’ala : “Janganlah kalian bunuh diri, sesungguhnya Alloh menyayangi kalian”. (QS. An-Nisa : 29).
Sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak boleh memberikan madlhorot dan tidak boleh saling memberikan madlhorot”.

القاعدة الثالثة: درء المفاسد أولى من جلب المصالح

Kaidah ketiga : Mencegah Kerusakan Lebih Utama Daripada Mendatangkan Maslahat.

Jika di dalam sesuatu terkumpul manfa’at dan madlhorot serta sama kekuatan keduanya, maka dengan tujuan menolak kerusakan, sesuatu tersebut terlarang untuk dilaksanakan\ditinggalkan.
Adapun jika manfa’at lebih banyak maka sesuatu tersebut dilaksanakan\ditinggalkan disebabkan manfa’at tersbut.
Dan jika kerusakan yang akan ditimbulkan lebih mendominasi maka ia ditingalkan.

القاعدة الرابعة: أن التكاليف الدينية ميسرة

Kaidah keempat : Beban Taklif Diniyah Mudah

Beban taklif diniyah dari asalnya merupakan sesuatu yang mudah. Jika didapatkan suatu yang menghalanginya maka sesuatu yang telah ringan tersebut diringankan kembali untuk kedua dan ktiga kalinya.
Dalilnya firman Alloh Ta’ala tentang shaum (puasa) : “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqoroh : 184).
Sabda Nabi r kepada Imron bin Husain : “Sholatlah sambil berdiri !, jika engkau tidak kuasa maka laksanakan sambil duduk, jika tak kuat pula maka laksanakanlah sambil berbaring”.

القاعدة الخامسة: كلما وجدت المشقة وجد التيسير

Kaidah kelima : Kapan Saja Didapatkan Keberatan Maka Didapatkan Kemudahan.

Kaidah ini merupakan kaidah syar’iyah yang kokoh di dalam al-Kitab dan as-Sunnah. Dalilnya firman Alloh Ta’ala : “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. (QS. Al-Haj : 78). Dan firman-Nya : “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. Al-Baqoroh : 185).
Adapun dalil dari sunnah sabda nabi solallohu ‘alaihi  wa sallam : “Aku diutus dengan agama yang toleran”.

القاعدة السادسة: فاتقوا الله ما استطعتم

Kaidah keenam : Bertaqwalah Semampu Kalian

Ia diambil dari firman Alloh Ta’ala : “Bertaqwalah kepada Alloh semampu kalian”. (QS.At-Taghobun : 16). Dan sabda nabi r : “Segala sesuatu yang Aku melarangnya maka tinggalkanlah, dan segala seuatu yang Aku perintahkan kepada kalian maka laksanakanlah semampu kalian”.

Maka bagi seseorang harus mengerjakan setiap yang diperintahkan dengan seukuran\batas kemampuanya. Dan meninggalkan seluruh yang dilarang; Karena sesuatu yang dilarang ditinggalkan, dan seseorang tidak akan lemah darinya.

Sedangkan yang diperintahkan perbuatan, maka ia memerlukan kepada usaha dan kemampuan. Oleh karena itu ia dibatasi dengan istito’ah (kemampuan), dan tidak diberikan pembatasan dengan istito’ah di dalam meninggalkan larangan.

القاعدة السابعة: الشرع لا يلزم قبل العلم

Kaidah ketujuh : Syari’at  tidak memberikan konsekwensi sebelum adanya ilmu.

Diantara syarat diwajibkannya syari’at adalah : Hendaknya seorang manusia mengetahui syari’at tersebut. Jika tidak mengetahuinya maka tidak memberikan konsekwensi kepadanya.
Dalil atas kaidah ini firman-Nya Ta’ala : “Dan kami tidak akan meng’azab sebelum kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al-Isro : 15). Firman-Nya Ta’ala : “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu”. (QS. An-Nisa : 165).
Sabda nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang jelek sholatnya, demikian itu tatkala beliau r melihat sholat orang tesebut yang tidak tumaninah. Beliau bersabda : “Kembalilah dan sholatlah !, karena kamu belum sholat”. Akan tetapi beliau  tidak memerintahkan orang tersebut untuk mengulangi sholat-sholatnya yang terdahulu, karena dia bodoh\tidak mengetahui.

القاعدة الثامنة: الجاهل محل نظر

Kaidah kedelapan : Tentang Kebodohan Perlu Penelitian

Seluruh orang yang menyepelekan belajar, tidak mencari ilmu; dalam hal-hal yang hatinya pun mengtahui bahwa hal tersebut adalah wajib, dan mangatakan : Ini sesuatu yang sepele/rendahan, maka selama dia mengtahui dan mengampang-gampangkan, maka ini perlu pembahasan lebih lanjut. Perbuatan seperti ini terkadang bisa dikatakan : Dia orang yang menyepelekan dan menggampang-gampangkan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: