MUTIARA BERSERAK PELAJARAN KITAB TSALATSATUL USHUL [4]

Puja dan puji hanya bagi Alloh Ta’ala,  Dia lah yang menciptakan, mengatur dan memberikan rizki kepada kita semua. Dengan rahmat dan kasih sayangnya pula kita masih diberikan kecintaan untuk Belajar Islam dan Sunnah Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada penghulu Bani Adam; Nabi Muhammad yang mulia.

Berikut ini pelajaran ke empat dari kitab tsalatsatul ushul, selamat menyimak

1. Perkataan penulis rohimahulloh :

الثالثة : أن من أطاع الرسول ووحد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله
ولو كان أقرب قريب ، والدليل قوله تعالى :
لا تجد قوماً يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون
من حاد الله ورسوله ولو كانوا آبائهم أو إخوانهم أو عشيرتهم أولئك كتب في قلوبهم الإيمان وأيدهم بروح ويدخلهم جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها رضي الله عنهم
ورضوا عنه أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون

Ketiga : Barangsiapa menta’ati Rosul dan mengesakan Alloh maka dia tidak boleh mencintai orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul-Nya, walaupun kerabat terdekat. Dalilnya firman Alloh Ta’ala : “Engkau tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS. Al Mujadilah : 22).

*****************

Ia merupakan masalah yang terakhir; yakni masalah yang ketiga pada muqoddimah yang kedua ini.

Dalam masalah yang ketiga beliau menjelaskan dua pokok dan satu cabang[1].

Dua masalah pokok tersebut adalah :

  1. Kewjiban ta’at kepada Rosul sholallohu ‘alaihi wa sallam. Dalam perkataannya : ‘Barangsiapa menta’ati Rosul’. Permasalahan ini secara khusus akan datang penjelasanya, yakni pada ushul yang ketiga pada kitab ini.
  2. Kewjiban bertauhid. Dalam perkataannya ‘Dan mengesakan Alloh’. Akan datang pada penjelasan usul pertama, insya Alloh.

Adapun masalah yang dikatagorikan cabang; jika ditinjau dari kedua masalah tersebut adalah masalah yang sedang kita bicarakan, yakni masalah al wala dan al baro.

Tujuan penulis rohimahulloh menyebutkan masalah al wala dan al baro ingin mengungkapkan bahwa :

  1. Kesempurnaan iman kepada Alloh dan RosulNya akan dicapai dengan merealisasikan  al wala wal baro karena Alloh Ta’ala. Maka, adanya kecintaan dan loyalitas kepada orang-orang kafir; yang memusuhi Alloh dan Rosul Nya menandakan lemahnya keimanan, bahkan terkadang sebagai tanda batalnya keislaman.
  2. Al wala dan al baro merupakan bagian terpenting dalam agama; yakni bagian makna atau konsekwensi kalimat tauhid. Loyalitas dengan orang-orang yang beriman dan pada keimanan, serta membenci kesyirikan dan pelakunya.

Syaikh Aman Al Jami berkata : “Yaitu, barangsiapa mengaku sebagai ahli tauhid, atau sebagai orang yang manta’ati Rosul, maka jika benar pengakuannya,  maka akan mencegahnya dari mencintai orang yang memusuhi Alloh, yang durhaka kepada Alloh, yang menyelisihi perintah Alloh dan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, walaupun kerabat terdekat, atau kedua orang tuanya, atau pun anaknya; Maka jika jujur dalam pengakuan iman kepada Alloh dan RosulNya, dan dia melihat kerabat terdekatnya memusuhi Alloh, mendurhakai Alloh dan Rosul Nya, dan atau memerangi Rosululloh  dan agama Alloh karerna kekafiran dan penentangan maka wajib untuk berlepas diri darinya, sebagimana telah dilakukan oleh jama’ah dari para sahabat”. (Syarah Tsalatsatul Ushul, Maktabah Darun Nashihah, h. 37).

Istilah lain bagi al Wala dan al Baro.

  1. al hubbu wal bughdu ‘kecintaan dan kebencian’.
  2. al muwalah dan al mu’adah ‘keberpihakan dan permusuhan’.

Pengertian al Wala dan Al Baro.

Al wala secara bahasa sama dengan al muwalah; yang ia memiliki makna al mahabbah ‘cinta’. Sebagimana dikatakan Ibnu Mandzur. Adapun al Baro adalah al bughdu ‘benci’.
Oleh karenanya dinyatakan bahwa asal al wala  al mahabbah, sedangkan asal al barro  al bughdu.

Adapun makna al wala secara istilah adalah : Mendekat dan menampakan kecintaan dengan perkataan, perbuatan atau niat, baik kepada ahli iman atau pun kepada kufri; dan ia haram. Sedangkan al baro adalah jauh, berlepas diri dan permusuhan.

Kedudukan al Wala dan al Baro dalam Islam.

Al wala dan al baro merupakan asas aqidah tauhid dan permatanya. Sebagimana sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam :

” أفضل الأعمال الحب في الله والبغض في الله “

“Amal yang paling utama mencintai dan membenci karena Alloh”. (HR. Abu Daud, Bab Mujanabatu Ahlil Ahwa Wa Bughduhum).
Syaikh Sulaiman bin Abdulloh bin Muhammad At Tamimi rohimahulloh berkata :”Tidak akan sempurna agama atau tegak iklim jihad, atau al amru bil ma’ruf wan nahyi ‘anil munkar kecuali dengan cinta dan benci karena Alloh serta dengan permusuhan dan loyalitas karena Alloh. Andaikan manusia berada di atas satu jalan tanpa ada permusuhan dan kebencian, niscaya tidak akan ada pembeda antara hak dan bathil, antara mu’min dan kafir, tidak pula antara wali Ar Rohman dan wali syaithon”. (Autsaqu Urol iman, dalam Majmu’atut Tauhid).

Syaikh Hamd bin ‘Athiq rohimahulloh berkata : “Adapun membenci orang-orang kafir dan musyrikin, maka ketahuilah !, Alloh Ta’ala telah mewajibkan dan menekankan kewajiban tersebut. Dan Dia Ta’ala telah mengharamkan berloyalitas dengan mereka dan menutup semua celah yang bisa menjerumuskan kedalamnya. Sehingga tidak ada suatu hukum yang sangat jelas dalam kitabulloh Ta’ala daripada hukum ini, setelah wajibnya tauhid dan haramnya syirik. (An Najatu wal Fakaku, dalam Majumu’tut tauhid).

Syaikh Muhammad bin Sa’id al Qohthoniy berkata : “Sekali-kali tidak akan terealisasi kalimat tauhid di muka bumi kecuali dengan membumikan al wala wal baro; al wala kepada orang-orang yang berhak dicintai dan dan al baro kepada orang-orang yang berhak dibenci. (Al Wala wal Baro fil Islam, Muqoddimah cetakan pertama).

Manusia ditinjau dari keberhakan mendapat al wala dan al baro.

Ia terbagi tiga :

  1. Yang berhak mendapat loyalitas (al wala) secara total tanpa ada kebencian (al baro) di dalamnya. Mereka adalah para nabi, sidiqin, syuhada dan sholihin, termulianya nabi Muhammad sholalloho ‘alaihi wa sallam.
  2. Yang berhak mendapat permusuhan kebencian (al baro) secara total, tiada loyalitas (al baro) di dalamnya. Mereka adalah orang-orang kafir, musyrik, munafiq dan orang-orang yang murtad.
  3. Yang berhak mendapat kecintaan dari satu sisi dan kebencian dari sisi yang lainnya. Merekalah para pelaku maksiat dari orang-orang yang beriman. Mereka dicintai dikarenakan keimanannya dan dibenci karena kemaksiatannya; selain dosa syirik.

Hukum berloyalitas dengan orang-orang kafir.

Ditinjau dari sisi mengkafirkan atau mengeluarkan dan tidaknya dari agama Islam terbagi dua :

  1. Barangsiapa melakukannya maka menjadi kafir. Sebagian ulama menybutkannya dengan istilah muwalatu tawali. Ia adalah loyalitas dikarenakan membenarkan atau mencintai agama mereka, atau loyalitas dengan mereka dalam rangka menghancurkan kaum muslimin.
  2. Pelakunya tidak menjadi kafir, namun haram dosa besar. Ia adalah mencintai orang kafir dikarenakan tujuan dunia atau kepentingan dunia. Sebagian ulama menyebutnya dengan muwalatul muwalah. Seperti orang-orang yang bekerja untuk orang kafir dengan dasar cinta pada dunia yang ada di sisi mereka. Sebagian ulama mensyaratkan dengan syarat bukan pada pekerjaan untuk menghancurkan orang mulim, jika tidak ? maka masuk pada muwalatut tawali. Allohu ‘alam[2].

Perkataan penulis :

(أن من أطاع الرسول) ‘Barangsiapa menta’ati Rosul’.

Huruf (أن) ‘Mu’akiddah’, (من) ‘barangsiapa’; ia bermakna umum, karena (من) diantara bagian lafadz umum menurut ahli bahasa dan ahli ushul. Bermakna siapa pun dan bagimana pun kedudukan dia.

(الرسول) ‘Al Rosul’, huruf (ال), ia lil ‘ahdi dzihni; karena (ال) memiliki banyak makna, diantara maknanya lil ‘ahdi dzihni, yakni Rosul yang secara otomatis dapat dirasakan maksudnya oleh hati yang di ajak bicara, beliau adalah Nabi Muhammad r. Maka maknanya : Bahwa seluruh manusia yang telah manta’ati Nabi Muhammad sholalloho ‘alaihi wa sallam.

(ووحد الله) ‘Dan yang mentauhidkan Alloh’. Yakni yang menjadikan Alloh Esa di dalam rububiyahNya, uluhiyahNya serta asma dan sifatNya. Maka tauhidulloh dalam perkataan penulis (ووحد الله) mencakup tiga macam tauhid :

  1. Tauhid uluhiyah; sebagimana telah lalu.
  2. Tauhid rububiyah; telah lalu pula penjelasannya.
  3. Tauhid asma dan sifat. Berikut uraian singkat tentang tauhid asma dan sifat :

Pengertian tauhid asma dan sifat.

Menetapkan nama dan sifat yang telah Alloh tetapkan untuk diriNya sendiri, atau telah ditetapkan oleh Rosululloh sholallohu ‘alihi wa sallam bagi Alloh Ta’ala dalam hadits yang shahih.
Meniadakan apa yang ditiadakan oleh Alloh Ta’ala dari diriNya, atau meniadakan yang telah ditiadakan Rosululloh sholallohu ‘laihi wa sallam dari Alloh Ta’ala; disertai dengan menetapkan sifat kesempurnaan bagi Nya Ta’ala.

Cara mewujudkan tauhid asma dan sifat.

Yang dimaksud dengan pembahasan ini adalah sesuatu yang dengannya dikatakan benar dan selamatnya seseorang di dalam masalah tauhid asma dan sifat.
Tauhid asma dan sifat kokoh di atas tiga asas, barangsiapa tidak memenuhi seluruhnya maka tidak dinamakan muwahid (ahli tauhid).  Syaikh Muhammad Amin Asyanqitiy berkata : “Ketahuilah !, pembahasan asma dan sifat yang telah ditunjukan oleh al-Qur’an al-‘Adzim dibangun di atas tiga asas, barangsiapa yang telah memenuhi seluruhnya maka telah sesuai dengan kebenaran dan keyakinan yang telah diyakini oleh nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan as-salaf as-shalih. Dan barangsiapa luput salah satu dari ketiga asas tersebut dari dirinya maka dia telah sesat”.

Ketiga asas tersebut adalah :

  1. Mensucikan Alloh dari keserupaan dengan makhluk dan dari segala aib.
  2. Beriman dengan nama-nama dan sifat-sifat yang tetap di dalam kitab dan sunnah. Dengan tidak melampauinya; dengan pengurangan, atau penambahan, atau tahrif (merubah), atau menta’thilnya.
  3. Memutuskan rasa dari keinginan mengetahui kaifiya­h sifat-sifat tersebut[3].

Kesimpulan : Perkataan penulis (ووحد) meliputi ketiga macam tauhid di atas, sebagaimana telah lalu penyebutannya.

(لا يجوز له) tidak boleh baginya’, maksudnya adalah haram. Maka makna perkataan di atas : Haram baginya. Keharaman disini bisa berakibat kafir atau haram dosa besar; Keduanya kembali pada jenis muwalah yang telah lalu penjelasannya.

(موالاة) ‘loyalitas’, talah lalu penjelasannya; bahwa ia bermakna al hubb ‘cinta’. Penting : Wajib bagi para pencari ilmu untuk membedakan antara mu’amalah dan muwalah. Al Mu’walah adalah kecintaan yang ada dalam dada, maka kamu tidak boleh mencintai dan menyayangi orang-orang kafir, siapa pun dan bagaimana pun dia. Baik kafir harbi atau pun dzimmiy;  semakna dengan hukum kafir dzimmiy al mustam’an dan al mu’ahad.

Ketahuilah !, bermu’amalah dengan kafir dzimmiy diperbolehkan, sedangkan kafir harbiy tidak. Demikian lah semestinya.

Masalah : Adakah kafir dzimmiy pada sa’at ini ?. Jawab : Berkata Syiakh Aman Jami : ‘Adapun pada sa’at ini tidak ada kafir dzimmiy’.

(من حاد الله ورسوله) ‘orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul Nya’. (حاد) ia diambil dari (الحد) ‘batas’. Yakni seseorang berada pada suatu tempat yang terpisah degan yang lainnya. Berdasar kata ini maka dikatakan ‘Orang-orang mukmin di satu sisi dan orang-orang kafir di sisi yang lainnya’. Maknanya : Orang mu’min ada pada tempat yang telah tertentu batasan-batasannya terpisah dengan dari orang-orang kafir. Maka dengan makna pertama ini adalah : Seluruh manusia yang telah menta’ati Alloh dan Rosulnya haram mencintai orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul Nya, karena hakikat orang mu’min dan kafir berada pada tempat yang berbeda, terpisah dengan batasan yang tidak akan bisa disatukan.

Makna kedua : (حاد) Ia di ambil dari (الحديد) ‘besi’, maka maknanya : Mereka orang-orang kafir yang dibenci, yang tiada antara kita dengan mereka kecuali besi. Besi merupakan kiasaan bagi alat perang. Berdasar makna yang kedua ini maka : Seluruh manusia yang telah menta’ati Alloh dan Rosul Nya haram mencintai orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul Nya; yakni yang tidak ada antara kita dengan mereka kecuali perang.

(ولو كان أقرب قريب) ‘Walaupun kerabat terdekat’. Ushul atau pokok dari kerabat/aqorib ada empat :

  1. Usul manusia. Usul manusia adalah dari bapak ke atas, walaupun jauh. Maka tidak boleh mencintai mereka kecuali cinta tobi’i.
  2. Al Furu’. Mereka adalah anak-anak; anak kandung, cucu, cicit dan seterusnya, derajat tertingginya anak kandung sendiri. Maka tidak boleh seorang bapak mencintai anaknnya yang memusuhi Alloh dan Rosul Nya –shilalohu ‘alaihi wa sallam-.
  3. Al a’wan. Mereka adalah saudara, tertingginya saudara kandung.
  4. ‘Asyirotul insan. Mereka adalah seperti qobilah, fuak,dan yang semisalnya.

Perkataan penulis rohimahulloh : Dan dalilnya firman Alloh Ta’ala :

لا تجد قوماً يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله ولو كانوا آبائهم
أو أبناءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم أولئك كتب في قلوبهم الإيمان وأيدهم بروح
منه
ويدخلهم جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها رضي الله عنهم ورضوا عنه
أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون

“Engkau tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

Dalam ayat ini terdapat petunjuk tentang benarnya penjelasan kita yang terdahulu; yakni tatkala menjelaskan perkataan penulis rohimahulloh.

Firman Alloh Ta’ala (لا تجد قوماً) ‘“Engkau tak akan mendapati kaum’, lafadz (قوماً) ‘kaum’ nakiroh ‘kata umum’ dalam konteks kalimat panafian; karena kata (تجد) marfu maka ia linafyi bukan linahyi. Annafyu ‘penafian’ lebih mengena daripada an nahyu pada konteks yang sedang kita bicarakan, sebagimana dikatakan ahli bahasa dan ahli tafsir. (قوماً) nakiroh dalam konteks nafyi, maka ia berfaidah umum; Maka maknanya : Engkau Muhammad tidak akan mendapatkan suatu kaum pun; baik semasa hidup mu atau pun setelah wafat mu, baik jauh atau pun dekat, baik yang kamu kenal atau pun tidak.

Makna firman Alloh (يؤمنون بالله واليوم الآخر)’ yang beriman pada Allah dan hari akhirat’. Sangatlah jelas.

Kemudian Alloh menjelaskan bahwa mereka –jika jujur dan benar dalam keimanannya tidak akan – :

يوادون من حاد الله ورسوله ولو كانوا آبائهم أو إخوانهم أو عشيرتهم أولئك كتب في قلوبهم الإيمان وأيدهم بروح منه ويدخلهم جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها رضي الله عنهم ورضوا عنه أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون

“Saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”.

Dalam firmanNya Ta’ala :

  1. (آبائهم); ‘bapak-bapak mereka’, ia merupakan gambaran bagi ushul seseorang.
  2. (أبناءهم); ‘anak-anak mereka’, ia merupakan gambaran furu ‘cabang’ seseorang.
  3. (إخوانهم); ‘saudara-saudara mereka’, ia merupakan gambaran dari istilah al ‘awan yang telah disebutkan terdahulu.
  4. (عشيرتهم); ‘keluarga mereka’, ia merupakan gambaran dari ‘asyirotul insan.

Demikian pula dalam ayat ini Alloh menyebutkan keutamaan mereka di dunia dan balasan mereka di akhirat; yakni bagi orang-orang yang merealisasikan al wala wal baro :

Di dunia :

  • (أولئك كتب في قلوبهم الإيمان) Yakni Alloh mengumpulkan keimanan dalam hati mereka, mendalam dan kokoh. Karenanya lah mereka memusuhi orang-orang kafir, walaupun kaum kerabat mereka sendiri.
  • (وأيدهم بروح منه) ‘menguatkan mereka dengan ruh dari-Nya)’ yakni dengan cahaya dan petunjuk.

Di akhirat :

  • (ويدخلهم جنات تجري من تحتها الأنهار)‘dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’. (جنات) ‘surga-surga’, bukan satu surga.
  • (خالدين فيها) ‘Kekal di dalamnya’. Mereka tidak keluar dari surga, ia merupakan ungkapan bagi kekal. Karena seorang manusia jika mendapatkan nikmat maka dia senantiasa menginginkan kekalnya kenikmatan tersebut pada dirinya.
  • ( رضي الله عنهم ورضوا عنه) ‘Alloh ridlho kepada mereka, dan mereka pun ridlho dengan limpahan rahmat tersebut’.
  • (المفلحون) ‘yang beruntung’. Menurut bahasa arab, tidak ada satu ungkapan pun yang lebih baik dari kata (الفلاح) ‘falah’ dalam menggambarkan kemenangan atau kebahagiaan. Allohu ‘alam.

Demikian pula Alloh mensifati mereka dengan sifat (حزب الله) ‘golongan Alloh’.

***


[1] Adapun di sisi penulis ketiga-tiganya merupakan masalah pokok.

[2] Lihat penjelasan Syiakh Sholih bin Abdu Aziz Alu Syaikh pada kitab ini.

[3] Lihat ‘manhaj wa dirosat li ayatil asma’ wa shifat’, As-Syanqity. Rincian ketiga asas di atas dibahas di dalam kitab ‘Mu’taqod Ahli Sunnah Wal Jama’ah fil asma wa shifat, karya Syaikh Kholifah At Tamimi’.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: