Kitab Shiyam/Puasa (al Fiqhu Al Muyassar), bagian 2

Setelah kita menyimak bagian pertama dari kitab puasa, maka pada kesempatan ini kita akan kembali sajikan bagian kedunya, dengan harapan kita bisa belajar Islam dan Sunnah yang sahih :
Penulis hzfidzohulloh berakata :

Masalah Kelima : Syarat Wajib Puasa Ramadlhon

Puasa Ramadlhon wajib bagi orang-orang yang telah memenuhi syarat-syarat berikut :

  1. Islam : Maka puasa orang kafir tidak wajib dan tidak sah; karena shiyam/puasa merupakan ibadah, sedangkan ibadah orang kafir tidak sah, jika dia masuk Islam maka tidak wajib mengqdlho yang telah lalu.
  2. Baligh : Puasa tidak wajib bagi orang-orang yang belum mencapai batasan taklif; berdasarkan sabda sholallohu ‘alaihi wa sallam :

رفع القلم عن ثلاثة

Pena diangkat dari tiga jenis manusia[1], diantara mereka disebutkan anak kecil sehingga baligh. Akan tetapi puasa seseorang yang belum baligh sah, jika dia berpuasa. Jika telah mumayyiz maka seorang wali dianjurkan untuk memerintahkannya untuk berpuasa; untuk membiasakan dan mengajarinya.

3. Berakal : Maka puasa tidak wajib bagi orang gila dan idiot[2]; berdasarkan sabda sholallohu ‘alaihi wa sallam :

رفع القلم عن ثلاثة

“Pena diangkat dari tiga orang”. Diantaranya disebutkan gila sampai sadar.

4. Sehat : Orang sakit yang tidak mampu untuk berpuasa maka tidak wajib berpuasa, jika dia berpuasa maka puasanya sah; berdasarkan firman Alloh Ta’ala:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

“dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al Baqoroh : 185).

5. Iqomah : Seseorang yang sedang safar/berpergian tidak wajib berpuasa; berdasarkan firman Alloh Ta’ala :

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

“dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al Baqoroh : 185). Andaikan puasa tatkala safar maka sah puasanya. Dan wajib mengqodlho hari-hari yang dia berbuka tatkala safar.

6. Tidak sedang haid dan nifas : Yang sedang haid dan nifas keduanya tidak wajib puasa, bahkan diharmkan; berdasarkan sabda sholallohu ‘alaihi wa sallam :

أليس إذا حاضت لم تصلِّ، ولم تصم؟، فذلك من نقصان دينها

“Bukankan jika sedang haid tidak shalat dan shaum/puasa ?,  itulah diantara kekurangan dalam agamanya (perempuan).  (HR. Bukhori, No. 304).

Dan keduanya wajib mengqodlho; berdasarkan perkataan ‘Aisyah rodiyallohu ‘anha :

كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة

“Kami pun mengalaminya, maka kami diperintahkan untuk mengqodlho puasa, dan tidak diperintah untuk mengqodlho sholat”. (HR. Muslim, No.  335).

Masalah Keenam : Penetapan Masuk dan Keluar Ramadlhon

Penetapan masuk bulan Ramadlhon dengan melihat hilal, dirinya sendiri atau persaksian dari yang lainnya, kalau dia telah melihatnya. Atau adanya kabar tentang hal tersebut.

Jika seorang muslim lagi adil melihat hilal Ramadlhon, maka dengan persaksian orang tersebuat  ditetapkan masuknya bulan Ramadlhon. Berdasarkan firmanNya Ta’ala:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (QS. Al Baqoroh : 185). Dan berdasarkan sabdanya sholalloohu ‘alaihi wa sallam :

إذا رأيتموه فصوموا

“Jika kalian melihatnya, maka berpuasalah”. (HR. Bukhori, No. 1900, Muslim. No. 1080 – 8).

Dan hadits Ibnu Umar rodiyallohu ‘anhuma :

أخبرت النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – برؤية رمضان فصامه، وأمر الناس بصيامه

“Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam dikabari tentang ru’yah Ramadlhon, maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia dengan puasanya”. (HR. Abu Daud, No. 2342, Hakim dalam al Mustadrok (1/423) dan mansahihkannya.

Jika hilal tidak terlihat, atau tidak ada saksi muslim lagi adil yang melihatnya, maka wajib menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, tidaklah ditetapkan masuknya bulan Ramadlhon kecuali dengan dua cara ini; melihat hilal atau menyempurnakan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, berdasarkan sabdanya sholallohu ‘alihi wa sallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غُبِّي[3] عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah dikarenakan melihatnya, dan berbukalah dengan melihatnya, jika tidak tampak oleh kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari”. (HR. Bukhori, No. 1909, Muslim, No. 1081).


[1] HR. Ahmad (6/100), Abu Daud (5/558), Disahihkan Al Albani dalam Irwaul Gholil No. 297.

[2] Idiot : kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal usia 2 tahun, wajahnya terlihat seperti wajah dungu,  Embisil : kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan anak normal usia  3 – 7 tahun. Debil : kemampuan mental dan tingkah lakunya setingkat dengan  anak normal usia 8–12 tahun. (www.dinsos.pemda-diy.go.id) –Penj.

[3] Dalam sebagian riwayat dengan (غُمِّي), riwayat yang lainnya dengan (غُمَّ), maknanya tertutupi, tersembunyi dan tidak nampak.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: