MUTIARA BERSERAK PELAJARAN KITAB TSALATSATUL USHUL [3]

Bunga Rampai

Pelajaran Kitab Tsalatsatul Ushul


Muqoddimah kedua bagian pertama

Penulis rohimahulloh berkata :

اعلم  رحمك الله أنه يجب على كل مسلم ومسلمة تعلم هذه الثلاث مسائل والعمل بهن

الأولى  أن الله خلقنا ورزقنا ، ولم يتركنا هملاً ، بل أرسل إلينا رسولاً فمن أطاعه دخل الجنة ومن عصاه دخل النار ، والدليل قوله تعالى : إنا أرسلنا إليكم رسولاً شاهداً عليكم كما أرسلنا إلى فرعون رسولاً * فعصى فرعون الرسول فأخذناه أخذاً وبيلاً

الثانية  أن الله لا يرضى أن يشرك معه في عبادته أحد لا ملك مقرب ولا نبي مرسل ، والدليل قوله تعالى وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحداً

“Ketahuilah ! – semoga Alloh senantiasa mengampuni dan memberikan taufiq kepadamu -, wajib bagi setiap muslim dan muslimat mempelajari tiga masalah dan beramal dengannya.

Pertama : Bahwa Alloh lah yang menciptakan kita, memberikan rizki dan tidak meninggalkan kita dengan sia-sia, bahkan Dia mengutus kepada kita utusan, barangsiapa menta’atinya maka masuk surga, dan barangsiapa yang memaksiatinya maka masuk neraka. Dalilnya firman Nya Ta’ala : “Sesungguhnya Kami mengutus kepada kalian utusan, sebagi saksi bagi atas kalian. Sebagimana Kami telah mengutus utusan kepada Fir’aun. Fir’aun memaksiati Rosul maka Kami menyiksanya dengan siksa yang pedih”.

Kedua : Alloh tidak meridlhoi seorangpun untuk disekutukan bersamanya di dalam ibadah kepadaNya, tidak Malaikat yang didekatkan, dan tidak pula Nabi yang diutus. Dalilnya firman Nya Ta’ala : “Bahwa masjid-masjid hanya kepunyaan Alloh, maka janganlah kalian menyeru seorangpun bersama Alloh”.

Ketiga : Barangsiapa menta’ati Rosul dan mengesakan Alloh maka dia tidak boleh mencintai orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul-Nya, walaupun kerabat terdekat. Dalilnya firman Alloh Ta’ala : “Engkau tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS. Al Mujadilah : 22).

Uraian Global :

Ini merupakan muqoddimah/muqoddamah yang kedua, muqodimmah ini lebih khusus daripada muqoddimah yang pertama, oleh karena itu penulis rohimahulloh berkata ‘bagi muslimin dan muslimatin’.

Dalam muqoddimah yang kedua ini penulis rohimahulloh menjelaskan tiga masalah besar :

  1. Tauhid rububiyah.
  2. Tauhid uluhiyah/ibadah.
  3. Wala dan baro’.

Penjelasan Kosa Kata dan Rincian :

  1. (اعلم  رحمك الله), telah lalu penjelasannya.
  2. (أنه يجب على كل مسلم ومسلمة) ‘Wajib bagi mulimin dan muslimat’. Perkataannya (يجب) ‘Wajib’; yakni wajib/fardu ‘ain’. Telah lalu penerangannya.
  3. Perkataannya (على كل مسلم ومسلمة) ‘bagi muslimin dan muslimat’, lafadz (كل) merupakan bagian lafadz yang menunjukan pada umum, maka kewajiban ini umum meliputi seluruh mukallaf; muslimin dan muslimat; baik merdeka atau pun hamba sahaya. Wajib bagi mereka untuk mengtahui tiga masalah ini dan mengamalkan konsekwensinya. Penulis menafsirkan lafadz (كل) dengan (مسلم ومسلمة)‘muslimin dan muslimat’. Anadikan penulis membatasi dengan (مسلم) ‘muslimin’ saja pun telah mencukupi, berdasarkan sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam:

النساء شقائق الرجال

“Wanita merupakan saudara kembar laki-laki”. (HR. Abu Daud).

Alasan dikatakan wajibnya mempelajari dan beramal dengan tiga masalah di atas :

a) Khobar, penulis rohimahulloh menyebutkan sebagian dalil-dalil yang menunjukan pada tiga masalah tersebut, semuanya sesuai dengan kemestiannya.

b) Ijma’, para ulama sepakat tentang wajibnya mempelajari ketiga masalah yang akan disebutkan. Banyak ulama yang mengutifnya, diantaranya Ibnu Bathoh al ‘Ukbary dalam al Ibanah dan Syaikhul Islam dalam Majmu Fatawa.

Perkataan penulis rohimahulloh (تعلم هذه الثلاث مسائل والعمل بهن) ‘Memelajari tiga masalah ini dan beramal dengannya’.

Perkataannya (هذه) ‘ini’, ia sebagai isim isyarat. Musyar ilaih nya adalah masalah-masalah yang akan datang setelahnya. Tujuan penulis mengemukakan isim isyaroh ini adalah untuk sempurnanya pembatasan hukum, bahwa ketiga hal yang akan disebutkan wajib ‘ain bagi setiap muslimin dan muslimat.

Pembatasan masalah kepada tiga berdasarkan istiqro ‘penelitian’. Makna istiqro adalah : Seseorang membaca seluruh bagian-bagian dari suatu masalah, sehingga bacaan tersebut memberinya suatu hukum yang semua satuan tersebut bersekutu di dalamnya.

Ketiga masalah di atas merupakan masalah yang agama Islam berporos kepadanya, ia merupakan pokok dari landasan-landasannya.

Penulis rohimahulloh menegaskan bahwa dalam ketiga masalah tersebut harus terkumpul dua hal : Ilmu dan amal.

Ilmu ditunjukan dengan perkataannya (تعلم) ‘mempelajari’. Sedangkan amal ditunjukan dalam ungkapannya (العمل بهن) ‘beramal dengannya’.

Perkataan penulis :

الأولى  أن الله خلقنا ورزقنا ، ولم يتركنا هملاً ، بل أرسل إلينا رسولاً فمن أطاعه دخل الجنة ومن عصاه دخل النار ، والدليل قوله تعالى : أرسلنا إليكم رسولاً شاهداً عليكم كما أرسلنا إلى فرعون رسولاً * فعصى فرعون الرسول فأخذناه أخذاً وبيلاً

Pertama : Bahwa Alloh lah yang menciptakan kita, memberikan rizki dan tidak meninggalkan kita dengan sia-sia, bahkan Dia mengutus kepada kita utusan, barangsiapa menta’atinya maka masuk surga, dan barangsiapa yang memaksiatinya maka masuk neraka. Dalilnya firman Nya Ta’ala : “Sesungguhnya Kami mengutus kepada kalian utusan, sebagi saksi bagi atas kalian. Sebagimana Kami telah mengutus utusan kepada Fir’aun. Fir’aun memaksiati Rosul maka Kami menyiksanya dengan siksa yang pedih”.

Ini merupakan masalah pertama dari muqoddimah yang kedua, ia tentang tauhid Rububiyah[1].

Pengertian tauhid rububiyah :

A. Secara Bahasa : Rububiyah merupakan masdar dari fi’il (kata kerja) ro-ba-ba (memimpin); Masdarnya adalah Ar-Robbu. Ar-Rububiyah merupakan sifat Alloh Y yang terkandung dari nama A-Robbu. Ar-Robbu di dalam perkataan bahasa Arab memiliki banyak makna : Diantaranya Al-Malik, As-Sayid al-mutho’i, Al-Mushlih dan lain-lain.

B. Secara Istilah : Tauhid Ar-Rububiyah adalah mengesakan Alloh Y di dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Istilah lain bagi tauhid Rububiyah

  1. Tauhidul ‘ilmi.
  2. Tauhidul khobary.
  3. Tauhidul ma’riat wal itsbat.
  4. Tauhidul i’tiqody.

Kelompok Yang Menyimpang Di Dalam Tauhid Rububiyah

Di antara kelompok-kelompok yang menyimpang di dalam tauhid rububiyah adalah :

  1. Majusi; Mereka berpendapat tentang adanya dua pokok, tuhan cahaya dan kegelapan. Mereka berkata : cahaya azali sedangkan kegelapan muhdatsah (baru).
  2. Atsanawiyah; Mereka memiliki keyakinan yang sama dengan Majusi, akan tetapi mereka menganggap bahwa cahya dan kegelapan kedua-duanya azali.
  3. Al-Qodariyah; Pada hakikatnya mereka orang-orang yang musyrik di dalam rububiyah, ini merupakan konsekwensi madzhab mereka; Karena mereka beranggapan bahwa manusia merupakan pencipta bagi perbuatannya, mereka menetapkan bahwa setiap orang itu sebagai pencipta perbuatannya.
  4. Ad-Durruz; Mereka menganggap bahwa Al-Hakim Bi Amrilah Al-‘Ubaid merupakan ilah, mereka berlebih-lebihan tentangnya sehingga mensifatinya dengan sifat yang tidak layak kecuali bagi Alloh. Seperti perkataan mereka bahwa dia (al-‘Ubaid) mengetahui sesuatu yang tersembunyi di dalam dada.
  5. Para penyembah berhala dari kalangan musyrik arab dan yang selain mereka. Mereka berkeyakinan bahwa berhala-berhala dan patung-patung memberikan manfa’at dan madlhorot. Maka mereka bernadzar kepada mereka, mendekatkan diri kepadanya, dan selainnya dari bentuk-bentuk ibadah.
  6. Sufi exstrim, mereka berlebih-lebihan di dalam menyanjung para wali, mereka menyangka para wali itu memberikan manfa’at dan madzorot, ikut serta di dalam mengatur alam, mengetahui yang ghoib dan seterusnya.
  7. Rofidlhoh; Mereka adalah orang-orang syi’ah, mereka berkeyakinan bahwa dunia dan akhirat merupakan miliknya imam, imam mengaturnya semau dia, bahwa tanah Husain merupakan obat bagi seluruh penyakit dan pemberi rasa aman dari segala takut. Mereka berkeyakinan bahwa para imam mengetahui perkara ghoib, mengetahui kapan mati dan tidaklah mereka mati kecuali dengan idzinnya.
  8. An-Nashiriyah; Mereka menganggap Ali bin Abi Tholib memiliki sifat ketuhanan, bahwa Ali ridiyallohu ‘anhu sebagai pengatur alam semesta.
  9. Paranormal dan yang semisal dengannya; Mereka adalah orang-orang yang menganggap bahwa bintang-bintang, hari lahir, tanda tangan dan nama memberikan pengaruh kepada banyak dan sedikitnya rizki dan yang semisalnya.
  10. Al-Qonuniyun; Mereka adalah yang membuat dan menghukumi manusia dengan hukum yang diambil dari hasil perenungan, pemikiran dan musyawarah ala mereka sendiri. Baik berupa hukum adat atau pun hukum positif.

Penulis menyebutkan diantara satuan tauhid rububiyah dengan perkataannya : ‘Alloh yang menciptakan kita’, kata ganti (dlhomir) (نا) ‘kita’ bisa kembali kepada :

  1. Jenis manusia
  2. Mukallaf; dari kalangan Jin dan Manusia. Kedua kemungkinan ini dimungkinkan, namun kemungkinan yang kedua lebih tepat, berdasarkan dalil-dalil yang ada; Al Qur’an dan As Sunnah.

Dalil yang menunjukan bahwa Dia Ta’ala satu-satunya pencipta :

a) Sam’iy, diantaranya firman Alloh Ta’ala : “Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu”. (QS. Az Zumar : 62).

b) ‘Aqli, Setiap yang baru mesti ada yang menciptakannya. Tidak mungkin sesuatu menjadi ada  dengan menciptakan dirinya sendiri atau pun dengan tiba-tiba.  Alloh telah mengisyaratkannya dalam surat At Thur : 35.

Satuan kedua yang beliau menyebutkan (ورزقنا) ‘yang memberikan rizki kepada kita’. Dlhomir (نا) sebagimana yang telah lalu penjelasannya.

Diantara dalil yang menunjukan hanya Alloh Ta’ala yang mengkaruniakan rizki kepada kita adalah :

a)  Firman Alloh Ta’ala : “Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”. (QS. Adz Dzariyat : 58). Dan lain-lainnya.

b)  Sunnah Rosulillah r :Diantaranya hadits tentang janin yang ada pada perut seorang Ibu, diutus kepadanya Malaikat untuk menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya dan tentang kebahagiaan serta celakanya. (Bukhori dan Mulism dalam Kitab al Qodar).

c)  ‘Aqli. Setiap akal yang sehat mengatahui, bahwa kita memerlukan makan dan minum, sedangkan makanan dan minuman diciptakan oleh Allh Ta’ala. Sebagimana Alloh sebutkan dalam surat al Waqi’ah : 63-70).

Satuan ketiga yang disebutkan penulis adalah at-tadbir ‘kepengurusan’. Yakni Alloh lah yang mengatur segala urusan. Tercermin dari perkataannya rohimahulloh (ولم يتركنا هملاً) ‘Dan Dia Ta’ala tidak meninggalkan kita dalam keadaan sia-sia’, kemudian penulis menyebutkan bagian dari tadbir Alloh Ta’ala pada makhluknya; Yakni diutusnya para Rosul, penulis berkata (بل أرسل إلينا رسولاً)’bahkan Dia mengutus Rosul kepada kita’.

Makna (هملاً) adalah (السدى) ‘sia-sia’; Tidak diperintah dan tidak dilarang.

Makna (إلينا) ‘kepada kita’, dlhomir (نا) sama dengan yang sebelumnya; Mukallafaini, yakni jin dan manusia.

Makna (رسولا) ‘Rosul’, dia adalah Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Akan datang pembahasannya tentang ma’rifatun Nabi.

Perkataan penulis (فمن أطاعه دخل الجنة ومن عصاه دخل النار)’barangsiapa menta’atinya maka masuk surga, dan barangsiapa memaksiatinya masuk neraka’. Dengan perkataan ini penulis hendak menjelaskan tujuan diutusnya para Rosul dan kewajiban umat kepada mereka dan akibatnya.

Kewajiban umat menta’ati perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan beritanya dan tidak beribadah kepada Alloh kecuali dengan cara dan jalan yang telah disyariatkannya. Barangsiapa menunaikan kewajiban; menta’ati mereka maka masuk Surga. Sebaliknya, barangsiapa durhaka kepada mereka; dengan tidak menta’ati perintahnya, maka masuk neraka.

Faidah : Masuk surga dan neraka; masing-masing terbagi dua :

  • Tentang masuk Surga :
  • Masuk Surga sejak pertama, yaitu masuk surga secara langsung tidak masuk neraka terlebih dahulu, ia bermacam-macam :
  • Bukan karena syafa’at. Seperti 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab.
  • Dikarenakan syafa’at. Seperti orang-orang yang kebaikan dan kejelekannya sama, maka ia diputuskan untuk masuk neraka. Tatkala demikian – andaikan ia memenuhi syarat-syarat mendapat syafa’at – ia mendapat syafa’at Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak jadi masuk neraka.
  • Masuk Surga ba’da amad; yakni masuk Surga setelah disucikan terlebih dahulu di dalam api Neraka – Na’udzubillahi min dzalik -.
  • Tentang masuk Neraka :
  1. Abadi; yakni selama-lamanya. Mereka itu orang-orang kafir dan munafiq i’tiqodi; Orang-orang yang tidak memiliki keimanan.
  2. Amad; yaitu para pelaku maksiat dari ahli tauhid, atau orang-orang yang ada keimanan di dalam hatinya; walaupun hanya seberat dzarroh. Mereka akan memasukinya –jika Alloh tidak mengampuninya sejak pertama-, namun pada akhirnya pasti dikeluarkan dari Neraka.

Perkataan penulis dibawa pada kemungkinan-kemungkinan di atas.

Perkataan penulis rohimahulloh :’dan dalilnya firman Alloh Ta’ala :

إنا أرسلنا إليكم رسولاً شاهداً عليكم كما أرسلنا إلى فرعون رسولاً * فعصى فرعون الرسول فأخذناه أخذاً وبيلاً

Sesungguhnya Kami mengutus kepada kalian utusan, sebagi saksi bagi kalian. Sebagimana Kami telah mengutus utusan kepada Fir’aun. Fir’aun memaksiati Rosul maka Kami menyiksanya dengan siksa yang pedih”.

Dengan ayat ini penulis rohimuahulloh bertujuan menyebutkan dalil bagian tadbir Alloh Ta’ala kepada manusia; yaitu diutusnya para Rosul secara muthobaqoh dan pada penciptaan serta memberikan rizki secara lawazim. Karena melalui lisan mereka ‘alaihimussholatu was sallam manusia diperintah dan dilarang; sehingga tidak sia-sia penciptaannya, demikian pula diutusnya para Rosul merupakan rizki yang besar bagi umat manusia; melalui mereka manusia dan jin mengetahui Alloh dan mengetahui jalan yang menyampaikan kepadaNya.

Rosul yang pertama dalam auat di atas adalah Muhammad r. Kata Rosul yang kedua dan ketiga adalah Musa ‘alaihissalam.

(شاهداً عليكم) ‘Sebagai saksi bagi kalian’. Penafsiran yang paling masyhur adalah : Dia sebagai saksi bagi amal-amal kalian pada hari kiamat, dia bersaksi atas orang-orang kafir tentang kekafiran mereka, atas orang-orang munafik tentang kemunafikan mereka dari ahli syirik dan atas orang-orang beriman tentang keimanan mereka.

(وبيلاً), Ibnu Abbas menafsirkannya dengan (ثقيلا و شديدا)  ‘berat dan keras’. Sebagimana disebutkan Imam Bukhori secara mu’alaq dan dimaushulkan oleh Ath Thobari dalam tafsirnya. Maka makna ayat ini adalah : Wahai kalian orang-orang yang musyrik lagi mendustakan, sebagimana kalian telah mengetahui akibat yang menimpa Fir’aun dan pengikutnya; disebabkan mendustakan Musa, dari ditenggelamkan, disiksa kubur dan neraka di akhirat, maka akibat tersebut pun akan kalian rasakan jika mendustakan Muhamammad sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Faidah : Kenapa diperumpamakan dengan Fir’aun :

  1. Karena kisah Fir’aun terkenal dikalangan orang-orang kafir quraisy. Oleh karena itu Alloh mempermisalkan dengan pengikut Fir’aun, sebagi ancaman dan teror dengan turunnya siksa dan bencana.
  2. Karena kedurhakaan Fir’aun yang sangat melampaui batas. Sehingga menjerumuskan dia ke dalam neraka yang paling bawah.

Perkataan penulis rohimahulloh :

الثانية أن الله لا يرضى أن يشرك معه أحد في عبادته لا ملك مقرب ولا نبي مرسل ، والدليل قوله تعالى : وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحداً

Kedua : Alloh tidak meridlhoi seorangpun untuk disekutukan bersamanya di dalam ibadah kepadaNya, tidak Malaikat yang didekatkan, dan tidak pula Nabi yang diutus. Dalilnya firman Nya Ta’ala : “Bahwa masjid-masjid hanya kepunyaan Alloh, maka janganlah kalian menyeru seorangpun bersama Alloh”.

Ia merupakan masalah kedua dalam muqoddimah yang kedua, ia merupakan pembahasan tauhid uluhiyah. Wajib bagi kita untuk mengetahui dan mengamalkannya; mengetahui bahwa Alloh semata yang benar untuk diibadahi dan tidak meridlhoi kesyirikan, apalagi mengerjakannya.

Pengertian tauhid uluhiyah

A. Secara bahasa

Secara bahasa kata ‘al-uluhiyah’ mustaq dari kata (ilah) bermakna al-ma’bud (yang diibadahi), al-mutho’ (yang dita’ati); Yakni Al-Ma-luh (yang disembah). Lafadz ini mencakup seluruh yang disembah; baik yang diibadahi dengan benar; yakni Alloh Ta’ala, ataupun yang disembah dengan bathil; yakni selain Alloh.

Akan tetapi ilah yang benar adalah yang Maha Pencipta, Yang Maha Mampu, Pemberi Rizk dan Mengatur, maka sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat seperti di atas bukanlah ilah, jika disembah maka disembah dengan kedzoliman walaupun dinamakan ilah oleh para penyembahnya[2].

B. Secara syara’i

Adapun secara syar’i para ulama memberikan definisi tentang tauhid uluhiyah  dengan definisi yang saling berdekatan, diantaranya adalah :

  1. Mengesakan Alloh di dalam perbuatan-perbuatan hamba.
  2. Mengesakan Alloh dengan Ibadah.
  3. Mengesakan Alloh dengan segala jenis ibadah; Baik yang dzohir dan bathin, baik perkataan maupun perbuatan. Dan meniadakan ibadah dari segala sesuatu selain Alloh Ta’ala, siapapaun dan bagimanapun ia.

Nama-nama lain bagi tauhid uluhiyah

  1. Tauhid uluhiyah, sebagimana disebutkan di atas. Penamaan ini ditinjau dari yang diesakan. Karena ia dibangun di atas kebersihan ibadah.
  2. Tauhidul Ibadah; Penamaan ini ditinjau dari yang mengesakan, yakni hamba.
  3. Tauhidul irodah; Karena terkandung ikhlas dan mengesakan keinginan, yakni mengesakan keinginan tatkala beramal supaya bisa melihat wajah Alloh Ta’ala.
  4. Tauhidul qosdi; Karena ia dibangun di atas bersihnya tujuan. Bersihnya tujuan ini memberikan konsekwensi ikhlas ibadah hanya kepada Alloh semata.
  5. Tauhidul tholabiy; Karena ia mengendung permintaan. Sedangkan do’a bagian dari ibadah.
  6. Tauhidul fi’liy; Karena ia mengandung perbuatan hati dan anggota badan.
  7. Tauhidul ‘amal; Karena ia dibangun di atas bersihnya amal hanya untuk Alloh semata.

Rukun tauhid uluhiyah

Untuk mewujudkan ‘tauhid uluhiyah’ di dalam diri seseorang maka harus memenuhi rukun-rukunnya, ia ada tiga :

  1. Tauhidul ikhlas; ia dinamakan tauhidul murod, seorang hamba tidak memiliki keinginan selain keinginan yang satu, yaitu Alloh Ta’ala.
  2. Tauhidul shidqi; ia dinamakan tauhidul irodah. Hal demikian degan mencurahkan kemampuan dan ketaa’atan di dalam beribadah kepada Alloh Ta’ala.
  3. Tauhidu ath thoriq; Ia adalah mengikuti Rosul sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Ibnul Qoyyim mengumpulkan ketiga rukun ini di dalam bait sya’irnya :

فلواحدٍ كن واحداً في واحدٍ

أعني سبيل الحق والإيمان

Maka bagi yang Esa jadikanlah satu di dalam Satu
Yakni jalan kebenaran dan keimanan.

Perkataannya : (فلواحدٍ) yakni karena Alloh, ini adalah tauhidul murod. Perkataannya (كن واحداً) : di dalam kemauan dan keinginanmu, ini tauhidul irodah. Perkataannya (في واحد) adalah mengikuti  Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, yang ia merupakan jalan kebenaran dan iman, ini merupakan tauhidut thoriq.

Dalil yang menunjukan tiga rukun ini sangatlah banyak, dalil yang menunjukan ikhlas adalah firman Alloh Ta’ala : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. (QS. Al-Bayinah : 5).

Dalil as-ashidqu :

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah : 119).

Dalil mutaba’ah; tauhidut thoriq :

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imron : 31).

Barangsiapa terkumpul pada diri seseorang ketiga rukun ini, maka akan mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Tidaklah berkurang kesempurnaan seorang hamba, kecuali dikarenakan berkurangnya salah satu dari ketiga hal tersebut.

Kelompok Yang Menyimpang Di dalam Tauhid Uluhiyah

Kelompok yang menyimpang di dalam tauhid uluhiyah sangatlah banyak, diantaranya :

  1. Yahudi; Mereka yang menyembah anak sapi. Mereka akan senantiasa menyembah dirham dan dinar, harta merupakan sesembahan mereka.
  2. Nashroni; Mereka menyatakan bahwa Isa ‘alaihi salam memiliki uluhiyah.
  3. Rofidloh; Mereka berdo’a kepada Ali, Abbas dan selain mereka dari ahlil bait.
  4. Ad-Duruuz; Mereka meyakini uluhiyah bagi Al-Hakim Bi Amrillah.
  5. Sufi exstrim dan para penyembah kubur; Mererka berlebih-lebihan dengan para wali, sehingga mereka beristighosah kepada mereka dan selainnya dari bentuk ibadah.

Perkataan penulis ( أن يشرك معه أحد في عبادته لا ملك مقرب ولا نبي مرسل) ‘[Alloh tidak ridlho] untuk disekutukan denganNya seorang pun dalam ibadah kepadaNya, tidak dengan Malaikat yang didekatkan dan tidak pula dengan Rosul yang di utus’.

(أن يشرك). (أن) ‘an’ Ia masuk pada fi’il mudlhori’ (يشرك) ‘yusyriku’, maka ta’wil masdarnya (شرك) ‘kesyirikan’. Maka meliputi syirik akbar atau pun asghor, syirik khofiy atau pun syirik dzohir jali[3].

(أحد) ‘seorangpun’, ia nakiroh ‘kata umum’ dalam susunan kalimat negative, maka secara makna berfaidah umum mencakup segala sesuatu, baik benda mati atau pun hewan.

(لا ملك مقرب ولا نبي مرسل) ‘tidak dengan malaikat yang didekatkan dan tidak pula dengan Rosul yang diutus’, ia diantara tafsir atau contoh bagi kata (أحد). Jika saja Alloh tidak meridlhoi adanya sekutu bersamaNya baik dari kalangan Malaikat atau pun Rosul, maka lebih tidak ridlho lagi dengan makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada Malaikat dan Rosul.

Kesimpulan perkataan penulis adalah : Alloh tidak meridlhoi segala bentuk kesyirikan, selama-lamanya. Sama saja, baik syirik akbar atau pun syirik asghor, baik syirik khofiy atau pun syirik dzohir, demikian pula baik sekutu tersebut dari kalangan Malaikat atau pun Rosul; apalagi dengan makhluk yang lebih rendah derajatnya. Allohu ‘alam. Tentang penjelasan dan pengertian syirik akan datang pada muqoddimah yang ketiga, insya Alloh.

Faidah :

a.Dalam perkataan penulis ada dua keumuman :

  1. Tentang kesyirikannya. Meliputi segala bentuk kesyirikan.
  2. Tentang sekutunya; yakni yang dijadikan sekutu. mencakup benda mati atau pun hidup, berakal atau pun tidak berakal.

b. Perkataan penulis (نبي مرسل) ‘Nabi yang di utus’. Baginya beberapa masalah :

  • Apakah semua nabi merupakan Rosul ?. Jawab : Tidak, para ulama berkata : Setiap Rosul adalah nabi tapi tidak setiap nabi adalah Rosul.
  • Apakah nabi diutus; yakni diperintahkan untuk menyampaikan ?. Jawab : Pendapat yang tepat di dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa nabi pun di utus dan diperintahkan untuk menyampaiakn. Ia merupakan pendapat yang dzohir bagi penulis; yakni dalam perkataannya ini.
  • Andaikan demikian, maka apa perbedaan Nabi dan Rosul ?. Jawab : Nabi di utus dan diperintahkan menyampaikan kepada kaum yang telah beriman, sedangkan Rosul di utus dan diperintahkan menyampaikan kepada kaum yang menyelisihinya dalam keimanan; yakni kaum yang kafir.

Perkataan penulis :

والدليل قوله تعالى : وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحداً

“Dan dalil[nya] firmanNya Ta’ala: “Bahwa masjid-masjid hanya kepunyaan Alloh, maka janganlah kalian menyeru seorangpun bersama Alloh”.

(المساجد) ‘masjid-masjid’, ia memiliki dua penafsiran, sebagimana diungkapkan para imam ahli tafsir :

a.  Ia merupakan bangunan yang khusus –sebagaimana kita ketahui bersama- tempat sujud, berdikir, membaca al-Qur’an, sholat berjama’ah, sholat jum’at dan lain-lainnya dari bentuk ibadah. Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh jumhur ulama.

Dengan tafsir di atas maka makna ayat tersebut adalah : buyutulloh (rumah-rumah Alloh) hanya milikNya, maka tidak sah untuk diserikatkan seorang pun bersama Alloh di masjid-masjid, demikian pula di selainnya.

b.  Dimaksudkan dengannya suatu tempat yang di jadikan ibadah; jika demikian maka masuklah pada penafsiran ini greja, sinagong dan selian keduanya. Ia merupakan pendapat Mujahid dan selainnya dari sekelompok ulama.

Arahan dari tafsir kedua; Maka dikatakan: Keadaan manusia pada sa’at diutusnya nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam, jika masuk ke greja dan sinagong, mereka menyekutukan selainnya dengan Alloh Ta’ala, maka Alloh memerintahkan mereka untuk mengesakanNya dan tidak menyekutukanNya.

(وأن المساجد لله)’Dan bahwasanya masjid-masjid itu hanya kepunyaan Alloh’. Idlhofah ‘penyendaran’ kata masjid kepada Alloh memiliki dua tinjauan, idlhofah tasyrif ‘pemuliaan’ atau pun idlhofah yang menunjukan kapada al-ikhtihshos ‘pengkhususan’.

Bila ditinjau sebagai idlhofah tasyrif maka ia sangatlah jelas bagi penafsiran yang pertama dari kata ‘masajid’; karena masjid merupakan sebaik-baik tempat yang ada di muka bumi. Adapun ditinjau dari penafsiran yang kedua maka tidaklah demikian, karena tidak ada kemuliaan bagi greja, sinagong dan selainnya.

Bila dilihat sebagi al ikhtishos maka maknanya : Seluruh tempat yang dijadikan ibadah khusus hanya milik Alloh, maka janganlah kamu meminta dan beribadah kepada selain Alloh; dimanapun kamu berada.

Sisi pendalilan ayat : Jika telah dipastikan bahwa tempat yang dipakai ibadah itu hanya milik Alloh, maka beribadahlah kepada Alloh semata, dan janganlah menyekutukannya dengan sesuatu papaun juga. Karena Alloh melarang beribadah kepada selainn

(فلا تدعوا) ‘maka janganlah bedo’a’. meliputi dua macam do’a[1] :

  1. Do’a maslah. Yakni : Permintaan tertentu yang khusus, yang ia merupakan bagian dari jenis ibadah. Seperti meminta rizki, keturunan, kesehatan, kekayaan dan lain  sebagainya. Maka maknanya : Masjid-masjid itu hanya kepunyaan Alloh maka meminta dan berdo’alah hanya kepadaNya, dan janganlah menyekutukan sesuatu pun denmgan Alloh dalam do’a.
  2. Do’a ibadah. Yakni seluruh bentuk ibadah yang telah disyari’atkan oleh asy syari’; seperti mengucapkan kalimat laailahaillalloh, sholat, zakat, haji, jihad, membuang duri di jalan dan lain sebagainya. Kenapa dinamakan do’a ? Karena dalam semua jenis perbuatan tersebut mengandung makna tholab ‘permintaan’; yakni meminta diterimanya amal dan balasan yang baik dari Alloh Ta’ala. Ia merupakan pendapat Jumhur ulama. Maka makna ayat adalah : Masjid-masjid dan seluruh tempat yang dipakai ibadah hanya kepunyaan Alloh, maka beribadahlah kepada Alloh dan jangan menyekutukanNya dengan sesuau apapun di dalam ibadah kepadaNya.

Pendapat jumhur ulama lebih dikuatkan, karena bersesuaian dengan hadits yang dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam kitab Jami-nya dan menghasankannya, demikian pula Abu Daud dalam kitab Sunan-nya, yakni hadits dari An Nu’man bin Basyir –semoga Alloh senantiasa meridlhoinya-, Nabi sholallohu ‘alahi wa sallam bersabda : “Do’a merupakan ibadah”. Dalam hadits ini beliau r menjadikan do’a bermakna ibadah. Allohu ‘alam.

(أحداً) ‘seseorang’. Ia merupakan kata umum (nakiroh) dalam konteks kalimat nahyi (larangan), maka berfaidah umum. Maka maknanya : Janganlah kamu beribadah kepada selain Alloh Ta’ala, siapapun dan bagimanapun ia; baik para Malaikat yang di dekatkan atau pun nabi yang di utus. Baik benda mati atau pun hewan.

****


[1] Ayat lainya yang menjadi dalil tentang pembagian do’a menjadi dua; do’a masalah dan do’a ibadah adalah firmna Alloh Ta’ala dalam surat Ghofir ayat 60.  Renungkan, cermati dan fahamilah !. Hanya kepadaNya lah kita memohon taufiq.


[1] Sebagaimana telah diketahui bahwa tauhid terbagi tiga :

  1. Tauhid rububiyah
  2. Tauhid uluhiyah
  3. Tauhid asma dan sifat.

[2] Lihat lisanul ‘arob I\399.

[3] Tentang pengertian dan pembagian syirik akan datang penjelasannya. Isnya Alloh.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: