PETIKAN SYARAH MANDZUMAH BAIQUNIYAH, SYAIKH ABUL HASAN, bagian 3

Hadits Sahih

أَوَّلُها الصَّحِيْحُ وَهُوَ ما اتَّصَلْ

إِسْنَادُهُ وَلَمْ يُشَذَّ أَوْ يُعَلْ

يَرْوِيْهِ عَدْلٌ ضَابِطٌ عَنْ مِثْلِهِ

مُعْتَمَدٌ فِيْ ضَبْطِهِ وَنَقْلِهِ

Nadzim rohimahulloh berkata

3. Yang pertamanya hadits sahih; Ia adalah yang bersambung isnadnya, tidak syad atau tidak ada ‘illah.

4. Perawinya seorang yang adil lagi dlhobith dari yang semisalnya, mu’tamad dalam dhobt dan nukilannya.

Dalam bait ini nadzim mulai menjelaskan tantang macam-macam ilmu hadits. Beliau memulainya dengan hadits yang sahih dan menjelaskan syarat-syaratnya.

Kenapa dimulai dengan hadits yang sahih ? Karena ia memiliki kedudukan yang paling tinggi daripada yang lainnya.

Masalah Pertama : Perkataan nadzim (أولها الصحيح). Ia memiliki tiga sub pembahasan :

Pertama : Dlhomir (ها) pada (أولها).

Ia merupakan dlhomir yang kembali pada pembagian ilmu hadits, bukan macam-macam hadits ditinjau dari sisi diterima dan ditolaknya.

Kedua : Macam-macam hadits sahih.

Hadits sahih terbagi dua :

  1. Sahih lidzatihi. Jenis yang inilah yang dikehendaki oleh nadzim, ditinjau dari definisi yang diungkapkannya.
  2. Sahih lighoirihi. Akan datang penjelasannya pada pembahasan hadits hasan, insya Alloh Ta’ala.

Masalah Kedua : Pengertian Hadits Sahih Lidzatihi.

Nadzim mendefinisikan hadits sahih dengan ungkapan :

“الذي يتصل سنده، برواية عَدْلٍ ضابطٍ، عن مثله ولم يُشَذَّ ، ولم يُعَل”

“Yang sanadnya bersambung, dengan periwayatan seorang yang adil lagi dhlobith, dari yang semisalnya, tidak syad dan tidak memiliki ‘illah”.

Para ulama mendefinisikan hadits sahih dengan aneka ragam definisi, yang paling menyeluruh dan ringkasnya adalah :

” هو الذي يتصل إسناده، بنقل العدل الضابط، ولا يكون شاذًّا ولا مُعَلَّلاً “

“Hadits yang sanadnya bersambung, dengan kutifan seorang yang adil lagi dlhobith, tidak syad juga tidak mu’alal”.

Makna perkataan mereka (يتصل) ‘bersambung’. Akan datang penjelasannya. Insya Alloh Ta’ala.

Makna perkataan mereka (إسناده). Isnad adalah :

سلسلة الرجال الموصلة إلى المتن

“Rangkaian rijal yang menyampaikan kepada matan”.

Makna perkataan mereka (الذي يتصل إسناده). Menunjukan ketersambungan pada seluruh thobaqot sanad. Pengertian seperti ini telah cukup, tidak memerlukan tambahan (عن مثله) dari perkataan (بنقل العدل الضابط عن مثله) atau (عن العدل الضابط), Karena tanpa kalimat tambahan tersebut pun telah jelas lagi terang.

Selian itu tidak perlu pula pada kalimat (إلى منتهاه), karena tatkala silisilah rijal terhenti –disertai terpenuhinya seluruh syarat-syarat yang lainnya – maka ia telah sahih kepada orang yang disandarinya, baik marfu’ samapai ke rosululloh r atau pun kepada yang selainnya. Allohu ‘alam.

Makna perkataan mereka (العدل), akan datang penjelasannya, Insya Alloh.

Makna perkataan mereka (الضابط), yakni : (تام الضبط). Inilah yang dimaksudkan dengan kata dlhobit jika disebutkan secara mutlak. Seorang rawi tidak disyaratkan harus seorang hufadz yang kibar, akan tetapi, jika memang dia seorang hufadz kibar maka akan lebih mewujudkan syarat-syarat shahih.

Makna perkataan (العدل الضابط), lebih mengena dibandingkan ungkapan (الثقة). Walaupun penggunaan kata tsiqoh pada asalnya bagi orang yang adil lagi dlhobith; dan ringkas dalam ta’rif lebih baik, namun disana ada sebagian ulama yang menggunakan lafadz (ثقة) bukan bermakna dlhobith. Kadang bermakna : ‘Dia tsiqoh dalam agamanya walaupun tidak dlhobith dalam hapalannya[1]’. Sebagiannya lagi menggunakan lafadz tsiqoh bagi orang-orang yang tidak di jarh. Kesimpulannya : Tatkala lafadz tsiqoh digunakan pada selian makna adil dan dlhobith, maka tanshis pensyaratan dengan al-‘adalah dan ad-dlhobith lebih jauh dari kemungkinan-kemungkinan dan kesamaran. Allohu ‘alam.

Makna perkataan mereka (ولا يكون شاذًّا), lebih mengena daripada perkataan (من غير شذوذ), karena sebagian ulama –kadang-kadang– menggunakan lafadz syudud hanya dikarenakan adanya penyelisihan semata, walaupun tidak qodihah. Karena itu, sebagian ulama kadang berkata pada suatu hadits (صحيح شاذ), yaitu : Dalam hadits tersebut ada mukholafah rowi pada selainnya, akan tetapi yang demikian itu tidak bermadlhorot bagi ulama yang memutlakan lafadz tersebut.

Adapun makna (ولا يكون شاذًّا), yaitu : Di dalamnya tidak ada syudud qodihah, maka karenanya ia menjadi (معلاًّ) yang turun dari derajat maqbul.

Makna perkataan mereka (ولا معلَّلاً), yaitu : Di dalam hadits tersebut tidak ada ‘illah yang menjadikannya tercela/cacat. Sehingga ungkapan (ولا معلَّلاً) tidak membutuhkan tambahan ungkapan (ولا علة قادحة), karena ‘ilah yang tidak qodihah tidak bermadlhorot sama sekali.

Dengan mengtahui ungkapan nadzim tentang hadits sahih maka kita bisa menyimpulkan bahwa di dalam pengertiannya mencakup syarat-syarat.

Berikut tambahan penjelasan berkenaan dengan syarat-syarat tersebut :

1. Syarat pertama (الاتصال). Nadzim menyebutkan dengan perkataannya (وهو ما اتصل إسناده).

  • Pengertian al-ithishol :

أن يتحمل الراوي الحديث من شيخه بلا واسطة

“Hendaknya rowi hadits ‘mengambil’ hadits tersebut dari syaikhnya dengan tanpa perantara”.

Tanbih : Dengan ungkapan (التحمل); Maka mencakup seluruh cara mendapatkan hadits, baik dengan cara as-sama’, ijazah dan yang lainnya,

  • Cara mengetahui al-Ithishol :

1. Dengan (التصريح).

Tetapnya al-ithishol dengan cara at-tashrih diketahui dengan salah satu dari dua cara, yaitu :

  • (التنصيص), Yakni ada nas dari ulama yang mengatahui permasalahan tersebut. Seperti seorang Imam (fil hadits) berkata : (إن فلانًا سمع من فلان), si fulan telah mendengar dari si fulan. Atau (رواية فلان عن فلان متصلة) riwayat si fulan dari si fulan mutashil, atau yang semisalnya.
  • (التصريح). Yakni secara jelas perawi tersebut menyebutkan bahwa ia mendengar dari gurunya. Seperti berkata (حدثني فلان) atau (سمعت فلانًا) atau (سألت فلانًا) dan sebaginya. Pengakuan al-ithisol seperti ini bisa diterima jika memenuhi syarat-syarat berikut :
  1. Tsubutnya isnad kepada orang yang telah menyatakan mendengar.
  2. Rawi tersebut tidaklah wahim dengan pernyataannya tersebut, atau rawi tersebut bukan pendusta. Wahm dan tidaknya rawi tersebut dinyatakan oleh nas Imam atau dengan digabungkannya jalan-jalan hadits tersebut.
  3. Pengakuan tersebut tidak bertentangan dengan perkataan Imam tentang tidak mendengarnya rowi tersebut dari gurunya. Jika para imam hadits menafikan mendengarnya rowi dari syiakhnya, maka perkataan mereka lebih di dahulukan daripada pengakuan yang disebutkan dalam sanad. Karena masih adanya kemungkinan bahwa rowi yang ada setelahnya wahim; Dia menyangka syaikhnya menyatakan (سمعت فلانًا) padahal tidak seperti itu. Atau terjadi kesalahan dalam nuskhoh atau cetakan dan yang lainnya.

2. Dengan (الترجيح).

Demikian itu jika para imam berbeda pendapat tentang mendegarnya rowi dari syaikhnya; Antara yang menetapkan dan yang menafikan. Maka disini digunakan kaidah (المثْبِت مُقَدَّم على النافي) “Yang menetapkan lebih di dahulukan daripada yang menafikan”. Orang yang mengetahui sebagai hujjah atas orang yang tidak tahu (من عَلِمَ حجة على من لم يَعْلَم).

Tanbih : Kaidah (المثْبِت مُقَدَّم على النافي) tidaklah digunakan secara mutlak pada setiap ada penetapan, karena di sana ada kaidah-kaidah lain yang harus diperhatikan. Allohu ‘alam.

3. Dan Dengan (الاستنباط).

Ketetapan al-Ithishol dengan cara al-istinbath memiliki dua bentuk :

a. Pengetahuan bahwa rawi sangat memungkinkan bertemu dengan syaikhnya. Seperti : Perawi dengan syaikhnya berada pada satu negeri, (dan) usia perawi sewaktu syaikhnya hidup memungkinkan untuk ‘mengemban’ hadits. Maka dengan kemungkinan seperti ini ada dugaan yang kuat bahwa rawi benar-benar telah sama’ dari syiakhnya.  Berbeda jika syaikhnya ada di Maghrib sedangkan perawi tinggal Masyriq, dan usia perawi masih sangat belia tatkala syikhnya meninggal dunia, maka dugaan tidak sama’ nya si rawi lebih kuat dari pada ketetapan sama’nya. Allohu ‘alam. Penetapan sama’ dengan cara sperti ini disebut dengan metode al-istinbath.

Tanbih : Dalam hal ini pun disyaratkan tidak adanya ‘celaan’ dari imam hadits bahwa ia bertemu dengan syaikhnya namun pada waktu syaikhnya tidak bisa menyampaikan hadits dan yang semisalnya.

Jika dikatakan : Muslim rohimahulloh berpendapat bahwa al-ithishol menjadi sebuah ketetapan jika memungkinkan terjadinya al-liqo dan terlepas dari tuduhan tadlis.

Jawaban : Perkataan tersebut sahih dan maqbul dari Muslim dan yang lainnya, tapi dengan syarat tidak adanya ‘sentuhan’ salah seorang imam yang mempermasalahkan tentang sama’nya rawi dari syaikhnya tersebut. Jika salah seorang aimah ‘menyentuh’nya maka pengakuan itishol tersebut tidaklah diterima. Demikianlah yang ditetapkan oleh para ahli tahqiq. Silahkan lihat Syarhu ‘Ilal At-Tirmidzi karya Ibnu Rojab dan an-Nukat ‘ala Ibnis Sholah karya Al-Hafidz Ibnu Hajar.

Akan dating pembicaraan tambahannya pada sa’at membahas mu’an ‘an. Insya Alloh Ta’ala.

Yang menjadikan kita menguatkan adanya taqyid bagi perkataan Muslim dengan syarat terdahulu adalah : Muslim rohimahulloh, menjadikan ‘an’anah orang yang mungkin adanya liqo serta terlepas dari tuduhan tadlis pada al-ithishol, beliau tidak secara tegas menyatakan ithishol, hanya saja membawanya pada kemungkinan al-ithisol. Jika ada seorang imam yang menyatakan tidak adanya ithishol maka ini shorih, sedangkan yang di sisi Muslim mahmul; Sedangkan yang sharih didahulukan atas mahmul. Allohu ‘alam.

Masalah : Apakah perkataan seperti (لا أعلمه سمع من فلان) atau (ما أُراه سمع منه) atau (ما أدري أسمع أم لا) dan yang sejenisnya dimasukan pada makna at-thonu as-sharih ?.

Jawab : Secara jujur jiwa ini akan memasukannya pada at-thonu as-sharih, karena suatu masalah jika ada ihtimal pada nafyu sama’ dan penetapannya maka asal dari masalah adalah tidak adanya sama’. Demikian itu sebagi bentuk penjagaan kepada sunnah, supaya tidak masuk sesuatu yang bukan bagian darinya. Allohu ‘alam.

b. Bentuk ithishol dengan cara alisthinbath yang keduanya adalah dengan adanya penghukuman salah seorang imam tentang ketetapan riwayat rowi dari syaikhnya. Dengan alasan bahwa rawi tersebut telah mendengar dari si Fulan yang lebih tua atau lebih dahulul meninggalnya, barangsiapa yang telah mendengar dari orang yang lebih tua atau meninggalnya lebih dahulu maka rawi tersebut lebih utama lagi untuk mendengar dari orang yang lebih muda dan lebih akhir meninggalnya. Demikian merupakan cabang dari isthinbathnya para imam. Maka pengakuan rowi maqbul selama tidak ada tashrih tentang tidak adanya sama dia dari syaikhnya tersebut. Allohu ‘alam.

  • Sesuatu yang keluar dari syarat (الاتصال) :

Dengan syarat ithisol dalam pengertian hadits sahih mengeluarkan segala jenis al-inqhitho.

–         Inqhitho dzohiroh seperti mu’alaq, mursal, mu’dhol dan munqhoti’.

–         Inqhitho khofiyah seprti tadlis dan irsal khofi.

Tanbih : Para ulama mengungkapkan al-ithisol dengan beragam ungkapan; diantara mereka ada yang mengungkapkan :

  • Sharih, seperti (سمع فلان من فلان) atau (فلان عن فلان مسند) atau (فلان عن فلان متصل) atau (فلان عن فلان سماع) atau (صحيح) dan yang semisalnya.
  • Tidak sharih akan tetapi dzohir dalam al-ithishol; diamalkan dengannya dalam bab ini, kecuali dengan jelas menyatakan tentang tidak  ithisholnya. Seperti perkataan mereka : (فلان أدرك فلانًا) atau (رآه) atau (دخل عليه) atau (لقيه). Perkataan seperti ini mengandung kemungkinan ‘adamus sama dikarenakan sebab-sebab tertentu, akan tetapi asal kemutlakannya di sisi para ulama adalah sama atau ithishol.

Tanbih 2 : Terkadang para imam menggunakan lafadz inqhitho pada suatu riwayat; antara rowi dengan syaikhnya. Umpamanya mereka berkata : (” فلان عن فلان غير متصل ، أو منقطع), maka makna ungkapan tersebut adalah dia (rowi) tidak mendengar dari syaikhnya. Walaupun dia telah mengambil hadits tersebut dengan cara lain yang maqbulah dengan syarat-syaratnya. Maka cermati dan pahamilah sebelum menjatuhkan hokum dlho’if pada riwayat tersebut. Allohu ‘alam.


[1] Ungkapan seperti ini mashur dari perkataan para imam jarh wa ta’dil, diantaranya perkataan Ya’qub bin Syaibah tentang Robi’ bin Shobih : (رجل صالح ، صدوق ، ثقة ، ضعيف جدًّا) ‘seorang yang shalih, shoduq, tsiqoh, dlhoif sekali’. (lihat Tahdzibut Tahdzib 3/222).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: