Khulashotul Ushul Karya Syaikh Abdulloh Al Fauzan [Ushul Fiqih Untuk Pemula] bag. 3

Pada bagian keempat masih membahas dalil-dalil yang diperselisihkan, kita kutifkan dua pembahasan;  Al Masholih Al Mursalah dan Al ‘Urf , semata menyimak.

Syaikh Abdulloh hafifzohulloh berkata :

4. Al Masholih Al Mursalah

Ia jamak dari maslahat : Yaitu : Mendatangkan manfa’at atau menolak bahaya.

Al-Mursalah : Suatu kemutlakan yang syari’at tidak membatasinya, dengan anggapan terjadi\sah atau pun dengan batal.

Al-masholih ada tiga macam :

  1. Sesuatu maslahat yang syara mempersaksikan dengan terjadi\terlaksananya, dengan dalil tertentu dari nas, ijma’ atau pun qias. Maka ini dianggap dengan kesepakatan.
  2. Sesuatu maslahat yang syara’ mempersaksiakan dengan batalnya\tidak terlaksana, maka ia batal dengan kesepakatan
  3. Sesuatu maslahat yang syara’ tidak menetapkannya dengan terjadi atau pun batal dengan dalil tertentu, akan tetapi di dalamnya ada sifat yang berkesesuaian dengan pensyari’atan hukum tertentu, yakni dari keadaan sisi terealisasinya manfa’at atau tertolaknya bahaya.

Poin ketiga inilah yang dimaksudkan dengan maslahah mursalah. Pendapat yang menyatakan : Bahwa maslahah mursalah merupakan hujjah dan sebagai sumber dari sumber-sumber tasri’ di dalam mu’amalah dan politik pengaturan manusia merupakan pendapat yang cemerlang. Telah menjadi kesepakatan para ahli fiqih untuk mengambil al-maslahah al-mursalah, karena mereka sepakat : tercapainya maslahat dan menyempurnakannya, serta tertolaknya kerusakan dan meminimalkannya merupakan pondasi syari’at. Akan tetapi dengan tiga syarat :

  1. Bersesuaian dengan tujuan syari’at. Maslahat tersebut harus merupakan bagian dari jenis al-masholih yang pembuat syari’at memaksudkan untuk mencapainya; tidak bertentangan dengan pokok  dan tidak menafikan dalil yang ditetapkan pembuat syari’at.
  2. Manfa’at tersebut dimengerti oleh akal di dalam dzatnya. Akal yang selamat bisa menerimanya, karena ia sesuai dengan sifat-sifat yang sesuai lagi dapat dicerna akal. Oleh karenanya ia tidak diberlakukan dalam ibadah, karena ibadah dibangun pada landasan tauqifi.
  3. Tujuan diambilnya maslahat tersebut merupakan bentuk penjagaan pada doruriyat, seperti menjaga agama, jiwa dan harta. Atau untuk menolak keberatan yang lazim di dalam agama; bisa memperingan atau mempermudah.

Seluruh ketetapan syari’at agama ditujukan untuk tiga masholih :

  1. Menolak kerusakan. Untuk mewujudkannya maka disyari’atkan penjagaan ‘adoruriyat’ (primer) yang lima : (1) Agama, (2) jiwa, (3) akal, (4) harta dan (5) kehormatan.
  2. Mendatangkan maslahat. Untuk mewujudkannya disyari’atkan segala sesuatu yang bisa menghilangkan keberatan dari umat, baik di dalam ibadah dan yang lainnya. Ia diungkapkan dengan istilah ‘al-hajiyat’.
  3. Untuk tercapainya makarimul akhlaq dan kebiasaan yang baik. Maka disyariatkan hukum-hukum tahsiniyat.

5. Al-‘Urf

Ia adalah sesuatu yang digarisakan manusia dan mereka menjadikannya sutau kebiasaan, berupa perkataan dan perbuatan.

Al-‘urf semakna dengan adat (kebiasaan), kecuali secara bahasa adat memiliki makna lebih umum daripada ‘urf. Karena penggunaan adat  meliputi kebiasaan perorangan dan masyarakat, adapun ‘urf dikhususkan untuk suatu kelompok masyarakat.

Ia ada dua macam :

  1. ‘Urf Sahih : Ia adalah ‘urf yang tidak menyelisihi nas, tidak luput darinya kemaslahatan yang mu’tabar (dianggap) atau tidak mendatangkan kerusakan yang rojihah.
  2. ‘Urf fasidah : Ia adalah ‘urf yang menyelisih nas, atau hilangnya maslahat yang mu’tabar atau mendatangkan kerusakan yang rojihah.

‘Urf merupakan sesuatu yang mu’tabar (dianggap) di dalam syara, akan tetapi bukanlah dalil yang menyendiri dari dalil-dalil fiqih. Hanya saja ia merupakan pokok dari pokok-pokok istinbath yang kembali kepada dalil-dalil syari’ah yang mu’tabar.

Jika syara’ telah menetapkan suatu hukum dan mengaitkan dengan hukum tersebut sesuatu, (dan) tidak terkutif adanya batasan syara’ dan tidak pula lughoh maka ia dikembalikan kepada kebiasaan yang berlaku.

Hukum-hukum yang dibangun di atas ‘urf dan adat adalah bisa berubah, demikian itu jika adat tersebut berubah dengan berubahnya waktu. Ini merupakan makna ungkapan sebagian ulama :

« الأحكام تتغير بتغير الزمان والمكان »

“Sutu hukum bisa berubah-rubah dengan berubahnya waktu dan tempat”.

****


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: