Silsilah Kaidah; Aqidah dan Manhaj 7

Kaidah Ketujuh : Sama Di Dalam Nama Tidak Memberikan Konsekwensi Sama Di Dalam Sifat.

الإتفاق في الأسماء لا يستلزم الإتفاق في الصفات

Penjelasan Kaidah :

Kaidah ini merupakan bagian dari kaidah terpenting di sisi ahli sunnah wal jama’ah, karena merupakan bantahan yang sangat kuat atas kaidah ulama ahli kalam yang dicela, ahli kalam memiliki kaidah : Sama di dalam nama memberikan konsekwensi Sama di dalam sifat; Mereka membangun madzhab mereka di atas kaidah ini untuk membatalkan nama-nama dan sifat Alloh subhanahu wa ta’ala. Mereka berkata : “Menetapkan sifat memberikan konsekwensi keserupaan Alloh dengan makhluknya, ini merupakan suatu kekurangan bagi pencipta, oleh karena itu –yakni  mereka mengatakan demikain– andaikan kita menetapkan sifat tangan bagi Alloh maka memberikan konsekwensi bahwa tangan-Nya itu seperti tangan makhluk, karena lafadz tangan merupakan lafadz yang satu bagi keduanya (Kholik dan makhluk), maka kesamaan di dalam nama memberikan konsekwensi kesamaan di dalam sifat”. Demikaian perkataan mereka, setiap sifat Alloh Ta’ala yang ditetapkan oleh al-Kitab dan as-Sunnah maka mereka menafikannya, dikarenakan usul yang rusak ini.[1]

Oleh karena itu, suatu kemestian untuk membantah dan membatalkan kaidah mereka yang rusak, jika engkau mengetahui ini maka ketahuilah !, bahwa kaidah mereka ini bathil secara akal, naql dan hissi; sebagimana kaidah kita yang kita sedang jelaskan merupakan kaidah yang benar secar akal, naql dan hissi. Karena setiap dalil naqli, akli atau pun  hissi membatalkan kaidah mereka dan membenarkan kaidah kita.

Dalil yang menunjukkan benarnya kaidah kita dari sisi naql : Kita mendapatkan bahwa Alloh Ta’ala di dalam kitabnya yang mulia telah menamakn diri-Nya dengan nama-nama, dan telah menamai hambanya dengan nama-nama itu pula, dan tidaklah sama antara yang menamai dengan yang dinamai. Diantaranya firman Alloh Ta’ala :

إن الله كان سميعًا بصيرًا

“Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat“. Alloh berfirman tentang makhluk-Nya :

إنا خلقنا الإنسان من نطفة أمشاجٍ نبتليه فجعلناه سميعًا بصيرًا

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat“. (QS. Al-Insan : 2).  Dari kedua ayat ini tentulah orang yang berakal akan mengatakan : Tidaklah sama antara yang Maha Mendengar dengan yang mendengar, tidaklah sama antara yang Maha Melihat dengan yang melihat.

Demikian pula di dalam sifat, kita dapatkan Alloh mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat yang dengan sifat itu pula Dia mensifat hamba-Nya, bersama dengan berbedanya antara kedua sifat tersebut dan yang disifati dengan sifat itu. Alloh Ta’ala mensifati diri-Nya dengan Ar-Rohmah, Dia berfirman :

وربك الغفور ذو الرحمة

“Dan Robb mu Yang Maha Pengampun, pemilik sifat Rohmah.

Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(( الراحمون يرحمهم الرحمن ))

“Orang yang penyayang disayangi Yang Maha Penyayang”.

Tidaklah sama antara sifat rohmah yang disandarkan kepada Alloh dengan sifat rohmah yang disandarkan kepada makhluk, bahkan bagi masing-masing sifat tersebut sesuai dengan yang disifati dengan sifat tersebut. Tidaklah dikarenakan sama di dalam sifat rohmah menjadi dalil samanya sifat hamba yang memiliki sifat rohmah (penyayang) dengan Yang Maha Rohmah.

Adapun dalil akal yang menunjukan benarnya kaidah kita dan bathilnya kaidah mereka adalah : Merupakan sesuatu yang diketahui, bahwa makna-makna dan sifat akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya sesuai dengan yang menyandarinya, setiap sifat sesuai dengan kemestiannya, sebagimana dzat berbeda-beda sesuai dengan sesuatu yang disandarkan kepadanya, demikian pula sifat berbeda-beda sesuai dengan kemestian yang pantas dengannya.

Anadikan kita mensifat besi dengan lembut dan kita pun mensipati manusia dengan lembut, maka besi dan manusia sama-sama disifati dengan layin\lembut, akan tetapi kita mengetahui sacara akal dan hissi bahwa lembut yang disandarkan kepada besi tidaklah sama dengan sifat lembut yang disandarkan kepada manusia, bahkan lembutnya manusia hanya khusus bagi dirinya dan begitu pun besi.

Dalil dari hissi tentang batilnya kaidah mereka dan benarnya kaidah kita adalah : Kita melihat kenyataan sesuatu yang sama di dalam namanya tetapi berbeda di dalam sifatnya. Sebagi contoh kita melihat bahwa gajah memiliki tubuh demikian juga nyamuk memilikinya, keduanya sama-sama disifati dengan sifat jism\tubuh, akan tetapi tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa tubuh nyamuk seperti tubuh gajah, barangsiapa mengatakannya maka dia merupakan manusia yang paling stres. Demikian pula kita melihat lampu disifati dengan sifat bercahaya, demikian pula matahari disifati dengan sifat bercahaya, tetapi kita tidak pernah mendengar ada yang menyatakan bahwa cahaya lampu seperti cahaya matahari. Dan alangkah indahnya permisalan yang diungkapkan oleh syaikhul Islam Taqiyuddin di dalam kitab tadmuriyah, beliau mencontohkan tentang surga dan ruh[2].

***


[1] Yakni : Kesamaan di dalam nama memberikan konsekwensi kesamaan di dalam sifat. –pen.

[2] Sulahkan merujuk kepada kitab tersebut.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: