Silsilah Kaidah; Aqidah dan Manhaj 9

Kaidah Kesembilan : Ahlu Sunnah Wal Jama’ah Mufawidzoh Di Dalam Kaifiyah Sifat; Tidak dalam Maknanya.

أهل السنة والجماعة مفوضة في كيفية الصفة لا معناها

Penjelasan Kaidah :

Pendapat ini merupakan pendapat yang haq, tidak boleh menetapkan yang selainnya kepada ahlu sunnah wal jama’ah. Sebagaimana perkataan sebagian orang yang berintisab kepada sunnah : Sesungguhnya ahlu sunnah tafwidz di dalam makna; seperti As-Syafarini rohimahulloh. Akan tetapi yang benar adalah : Ahlu sunnah wal jama’ah tafwidz di dalam kaifiyah, tidak di dalam makna.

Makna “tafwidz” di sisni adalah : “Mengembalikan pengetahuan hakikat kaifiyah (bagaimananya) sifat tersebut kepada Alloh”. Oleh karena itu ahlu sunnah berkata : Yang wajib ditempuh di dalam sifat adalah membiarkannya sebagimana datangnya; dengan tanpa kaif“. Ungkapan ini tidaklah dimaksudkan bahwa sifat Alloh tidak memilki kaifiyah, bahkan bagi sifat tersebut kaifiyah, akan tetapi yang kita nafikan\tiadakan adalah pengetahuan kita terhadap kaifiyah ini. Tidak ada yang tahu seorang pun tentang kaifiyah sifat tersebut kecuali Alloh; Tidak Malaikiat yang didekatkan dan tidak pula Nabi yang di utus. Dan begitu pula dengan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam menurut pendapat yang kuat lagi terpilih.

Jadi ahlu sunnah mufawidzoh di dalam kaifiyah.

Ahlu sunnah bukanlah mufawidzoh di dalam makna dengan beberapa alasan :

  1. Alloh telah memerintahkan kita di dalam kitab-Nya untuk mentadaburi al-Qur’an. Alloh Ta’ala berfirman : “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Qs. Ashaad : 29). dan firmanNya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An-Nisa : 82). Dan ayat-ayat yang lainnya. Andaikan kita tidak bisa mengetahui makna-maknanya, maka bagimanakah Dia Ta’ala memerintahkan kita untuk mentadabburi sesuatu yang tidak diketahui maknanya. Karena kalau demikan merupakan suatu perintah yang tidak mungkin dilaksanakan, sedangkan syari’at seperti ini dinafikan di dalam syari’at Islam. Perintah untuk mentadabburi al-Qur’an di sisni merupakan perintah yang umum; ayat dan tentang apapun ia; baik tentang perintah dan larangan atau pun berita-berita.
  2. BAl-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab yang jelas. Yang berbicara denganya (Alloh) tidak  menginginkan kecuali penjelasan dan hidayah. Alloh Ta’ala berfirman : “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS. Asyu’aro : 192-195). Dan frimanNya : “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al- Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”. (QS. Yusuf : 2). dan pula : “Itulah ayat-ayat kitab yang jelas. Petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman”.                                                                      Merupakan suatu yang mustahil, jika Dzat yang memberikan perintah kepada kita dengan bahasa arab yang jelas dan tidaklah menginginkan kecuali untuk memberikan petunjuk dan hidayah; shirotol mustaqim, kemudian menjadikan kita untuk tidak memahami makna-makna ayat yang terdapat di sisi kita; di dalam bahasa arab.

Contoh bagi kaidah di atas, diantaranya :

  1. Sifat As-Sam’u; kita memahami makna sam’i di dalam bahasa, yaitu mengetahui suara-suara dan mendengarnya, akan tetapi hakikat sam’ulloh (pendengaran Alloh Ta’ala) kita tidak memahaminya. Kita mufawidz urusan  ilmu hakikat kaifiyah-nya kepada Alloh Ta’ala.
  2. Sifat al-‘Ilmu; al-ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan pasti sesuai dengan kemestiannya. Adapun al-ilmu yang disandarkan kepada Alloh maka kita tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh.

Faidah : Alasan terputusnya pengetahuan tentang kaifiyah sifat Alloh Ta’ala adalah :

  • Tidak adanya kabar wahyu tentang bagaimananya sifat tersebut. Yang dikabarkan kepada kita hanyalah tentang ketinggian dan keagungan sifat tersebut.
  • Tidk adanya penglihatan kepada bagimananya sifat tersebut.
  • Tidak adanya pembanding bagi sifat tersebut.
  • Tidak adanya yang sejenis dengan-Nya Ta’ala.

***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: