Silsilah Kaidah; Aqidah dan Manhaj 6

Kaidah Keenam :

Suatu Lafadz Yang Tidak Ada Dalil Yang Menghususkannya Maka Kita Tidak Menetapkan Lafadznya dan Tidak Pula Menolaknya, Kita Meminta Perincian Tentang Maknanya. Jika Yang Dimaksud Dengannya Merupakan Kebenaran Maka Kita Menerimanya, Jika Yang Dimaksud Dengannya Merupakan Makna Yang Batil Maka Kita Menolaknya

ما لم يرد فيه دليل بخصوصه فلا نثبت لفظه ولا ننفيه ونستفصل في معناه ، فإن أُريد به حقٌّ قبلناه وإن أًريد به باطلٌ رددناه

Penjelasan Kaidah :

Ketahuilah, madzhab ahli sunnah wal jama’ah di dalam nama dan sifat Alloh Ta’ala dikumpulkan di dalam tiga titik penting :

Pertama  di dalam penetapan, maka kita menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh diri-Nya di dalam kitabulloh dan yang telah ditetapkan oleh Rosul-Nya di dalam sunnahnya sholallohu ‘alaihi wa sallam. Tanpa membagimanakan (takyif) dan menyepertiakan (tamtsil), serta tanpa merubah (tahrif) dan tanpa menghilangkan\meniadakan (ta’til). Bahkan “Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha melihat”.

Kedua di dalam penafian, ahlu sunnah wal jam’ah menafikan\meniadakan  seluruh yang dinafikan oleh diri-Nya di dalam kitab-Nya, dan menafikan seluruh yang dinafikan oleh Rosul-Nya di dalam sunnahnya sholallohu ‘alaihi wa sallam; bersamaan dengan fenafian itu adalah menetapkan kesempurnaan kebalikannya.

Adapun poin yang ketiga adalah yang kita sebutkan di dalam kaidah, yaitu madzhab ahli sunnah di dalam lafadz yang tidak ada dalil yang menyebutkannya secara khususPahamilah !, jika datang kepadamu suatu lafadz yang tidak ada dalil khusus yang menyebutkannya maka tempuhlah dua penelitian: (1) Tinjauan dari sisi lafadznya dan (2) dari tinjauan dari sisi maknanya.

Adapun dari tinjauan lafadznya maka kita tidak menetapkannya, karena tidak adanya dalil yang khusus tentangnya serta as-salaf tidak pernah menyebutkannya.

Adapun dari tinjauan maknanya maka wajib berhenti sejenak, kemudian meminta penjelasannya; karena lafadz-lafadz itu di dalamnya ada makna hak dan bathil, ia merupakan lafadz yang mujmal\global. Suatu lafadz yang mujmal tentunya memerlukan penjelasan dan perincian; Jika lafadz tersebut dimaknai benar maka kita menerimanya, dan  jika dimaknai bathil\salah maka kita menolaknya.

Untuk memudahkan kita sebutkan beberapa contoh :

Pertama : lafadz ‘jihah’\arah. Jika ada yang berkata : Apakah Alloh Ta’ala di jihah\arah ?. Maka kita katakan : Sesungguhnya lafadz jihah kami tidak menetapkannya, karena lafadz tersebut tidak ada di dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan tidak juga di dalam perkataan as-salaf. Adapun dari sisi maknanya kami tawaquf; karena lafadz jihah mengandung makna benar dan salah. Kemudian kita bertanya kepada yang bertanya ini : Apa yang kamu inginkan dengan lafadz Jihah ? Apakah yang kamu maksud jihah\arah bawah ataukah jihah\arah atas yang Alloh diliputi dengannya ?.

Jika yang kamu inginkan adalah jihah\arah bawah maka bathil, karena jihah\arah bawah merupakan sifat kurang bagi Alloh Ta’ala, sedangkan Alloh disucikan dari sifat kurang.

Begitu pula, jika engkau memilih makna bahwa Alloh di jihah atas yang diliputi dengannya, ia pun makna yang bathil, karena Alloh Ta’ala tidak diliputi oleh sesuatu apapun dari makhluk-Nya.

Jika kamu memilih makna yang ketiga yaitu Alloh berada di atas dengan al’ulu (ketinggian) yang mutlak sesuai dengan Kemaha Sucian dan Kemaha Besaran-Nya maka ia makna yang benar, akan tetapi kita tidak menamakannya dengan jihah, hanya saja kita menamakannya dengan al-‘Ulu; Karena Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam tatkala berisyarat ketika kutbah beliau mengangkatnya ke langit, demikian pula tatkala bertanya kepada jariyah : ‘Dimana Alloh ?’, ia menjawab : Di langit. (HR. Muslim).

Kesimpulannya : lafadz jihah\arah mengandung kemungkinan benar dan salah, jika kita menolaknya secara mutlak maka akan menghantarkan pada penolakan makna kebenaran yang terkandung didalamnya dan jika kita menerimanya secara mutlak maka akan menghantarkan kita pada penetapan makna bathil yang terkandung didalamnya. Akan tetapi, tatkala kita meminta kejelasan dan meminta perincian maksud paerkataannya, tersibaklah kebenaran dari kebathilan, maka kita menerima al-haq dan menolak kebatilan. Karena yang wajib bagi kita adalah menerima yang hak dan menolak yang bathil.

Kedua : ‘AlMakan’\Tempat. Jika dikatakan kepadamu : Apakah Alloh di makan\tempat ?. Maka katakanlah !, adapun lafadz makan kami tidak menetapkannya; karena tidak ada dalil yang menetapkannya, begitu pula as-salaf tidak pernah mengatakannya. Adapun tentang maknanya kami tawaquf. Katakan pula kepadanya : Apa yang kamu inginkan dengan perkataanmu ini ? apakah yang kamu maksudkan makan\tempat yang rendah ?, jika ini yang kamu inginkan maka bathil; karena Alloh Ta’ala disucikan dari kekurangan, rendah merupakan sifat kurang. Ataukah yang kamu maksudkan dengan makan\tempat ‘ulu (tinggi) yang meliputi Alloh Ta’ala ?, jika makna ini yang kamu pilih maka ini pun merupakan makna yang bathil; karena tidak ada sesuatu pun dari makhul-Nya yang meliputi Alloh. Adapun jika yang engkau maksudkan adalah makan\tempat ‘ulu (tinggi) yang Alloh tidak diliputi dengannya (Al-Ulu al-Mutlaq) maka benar, akan tetapi janganlah kamu menggunakan lafadz makan\tempat, cukuplah bagimu mengatakan :

إن الله فوق العرش

“Sesungguhnya Alloh ada di atas ‘arsy-Nya”.

Ketiga : ‘Al-jism’\’Badan\Tubuh\Jasad. Jika ada yang berkata kepadamu : Apakah Alloh itu jism ?. Katakanlah olehmu !, adapun lafadz  ‘jism’ merupakan bagian dari lafadz-lafadz bid’iyah yang tidak ada petikannya dari as-salaf, maka kami tidak menetapkannya. Adapun tentang maknanya kami tawaquf. Kemudian katakan kepadanya : Apa yang kamu inginkan dari perkataan mu ini; al-jism ? apakah yang engkau maksudkan adalah : Bahwa Dia (Maha suci Alloh) terdiri dari anggota badan seperti kita, yang satu dengan lainnya saling membutuhkan ?, kalau ini yang kamu maksudkan maka bathil, tidak boleh bagi Alloh Ta’ala, adapun jika yang engkau maksudkan adalah ad-dzat yang tegak dengan sendirinya yang disifati dengan sifat sempurna maka ini benar secara makna. Akan tetapi janganlah kamu mengatakan dengan lafadz jism !, cukupkanlah dirimu dengan lafadz Dzat dan Sifat.

***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: