Silsilah Kaidah; Aqidah dan Manhaj 5

Kaidah Kelima : Khobar Ahad Yang Sahih Merupakan Hujjah Di Dalam Masalah Aqidah.

خبر الواحد الصحيح حجة في باب المعتقد

Penjelasan Kaidah :

Ketahuialah, semoga Alloh senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada anda.

Hadits jika ditinjau dari sampainya kepada kita memiliki dua jalan; Mutawatir dan Ahad :

1. Mutawatir[1]

Para Muhaditsin berbeda pendapat dalam mendefinisikannya atas dua pendapat :

Pertama : Pendapat pertama mendefinisikan (hadits mutawatir) dengan menentukkan jumlah ruwat tertentu. Seakan-akan definisi tersebut sebagi pembeda antara hadits mutawatir dengan yang lainnya; Maka diantara mereka ada yang menentukan jumlah lima, tujuh, sepuluh, dua belas, dua puluh, empat puluh, tujuh puluh, tiga ratus tiga beias sampai tiga ratus sembilan belas, empat ratus sepuluh, lima ratus sepuluh, tujuh ratus sepuluh; Ada pula yang menyatakan yang tidak bisa ditampung oleh satu negri, ada pula yang berpendapat seluruh ummat seperti ijma’. Serta pendapat-pendapat yang lainnya yang beraneka ragam dan rusak

Kedua : Pendapat kedua mendefinisaikan hadits mutawatir dengan melihat pada tercapainya ilmu dan yaqin; Maka setiap hadits yang memberikan faidah yaqin disebut hadits mutawatir di sisi mereka. Sama saja, apakah dicapainya ilmu disebabkan dengan banyaknya jumlah (ruwat) atau dicapai dengan sebab sifat dhobt, itqon dan adalah; Tatkala sifat disisi mereka menempati kedudukan jumlah dari ruwat.

2. Ahad

Khobar Wahid\Ahad : Ia adalah kebalikan dari mutawatir; Maka pengertian hadits ahad disisi pendapat yang pertama adalah : Hadits yang jumlahnya lebih sedikit dari jumlah mutawatir yang telah disebutkan.

Pembagiannya ada tiga :

  • Al Masyhur : Ia adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, tatkala tidak sampai pada salah satu bilangan mutawatir yang (telah) disebutkan.
  • Al ‘Aziz : Ia adalah hadits yang jumlah ruatnya tidaklah (lebih) sedikt dari dua, walaupun bertambah darinya pada sebagian thobaqot.
  • Al Ghorib : Ia adalah hadits yang menyendiri dengannya seorang rowi pada setiap thobaqot sanad atau sebagiannya.

Menurut pendapat kedua bahwa hadits ahad itu adalah yang memberikan faidah dzhon.

Aku (Syaikh Tsana’ulloh Azahidi) berkata : Pondasi yang ditempuh lagi sahih di dalam masalah penerimaan khobar dan yang dengannya turun syari’at lagi tetap diatasnya urusan orang-orang yang memiliki akal yang sahih, suci dan selamat adalah tenang, tumaninah dan pasti untuk menerima khobar  tsiqot yang dikenal disisi muhaditsin dengan kejujuran, amanat dan istiqomah, tanpa memberatkan diri untuk mengobarkan prasangka dan was-was di sekitar hadits ahad, dengan alasan akal untuk terjadinya berbagai kemungkinan. Kecuali dalam  masalah adaya kerancuan tertentu dan kondisi tertentu, itu pun didasarkan pada adanya khobar yang menunjukkan pada keadaan yang sebaliknya. Jika keadaanya demikian maka seyogyanya bersandar pada At-Tatsabut (mencari kejelasan) dengan cara-cara yang lain.

Adapun pembagian khobar/hadits pada mutawatir dan ahad kemudian memberikan komentar bahwa faidah qot’i dan yakin seluruhnya bersama (hadits) mutawatir dan bahwasanya (faidah) dzhon seluruhnya bersama (hadits) ahad, maka  (perkataan seperti ini) tidak memiliki pondasi dari pondasi-pondasi orang muslim.

Hanya saja, ia merupakan keragaman dan pembagian, pendahuluan dan kesimpulan yang dibicarakan pertama kali oleh ahli manthiq Yunani, kemudian meresap mempengaruhi kalangan ahli kalam, fuqoha dan ahli ushul dari kalangan kaum mislimin yang mempelajari kitab manthiq dan filsafat Yunani, maka mereka membicarakannya dengan lisannya, dan menerima kesimpulannya, serta membeo dalam globalnya maupun rinciannya; seperti seorang yang taqlid buta.

Kemudian, para hakim Yunani ketika mereka membagi berita menjadi mutawatir dan ahad serta menetapkan hukum qoth’i untuk yang mutawatir, dan hukum zhon untuk yang ahad, mereka berada pada satu sisi ilmiyah tatkala masyarakat mereka berada diatas kerusakan aqidah, dan kebobrokan akhlak serta serta kehancuran nilai kemanusiaan dan beragam perkara lainnya yang menuntut tastabut, kejujuran dan amanah dalam berita serta yang lainnya.

Bersama itu mereka menghukumi berita-berita dari individu mereka dengan zhon, padahal yang tepat berita dari orang seperti mereka dihukumi dengan Syak bukan dengan zhon.

Adapun kaum filsafat islam dan para ahli ushul ketika mereka menghukumi berita dari para perawi hadits nabawi yang mulia yang mereka itu adalah inti masyarakat islam, berada dipuncak keadilan dan takwa serta diatas puncak hapalan, kemantapan kejelian dan kecerdasan, amanah, kejujuran dan kebersihan, (menghukumi berita mereka) dengan hukum yang sama dengan berita dari masyarakat yang fasid yaitu zhon, tentu mereka tidak bersikap adil bersama ilmu, ma’rifah kebenaran dan tahqiq.

Bahkan dalam pendapat mereka menyamakan antara dua berita –yang saya maksud antara berita dari masyarakat yang fasik dengan berita dari para perawi hadits dari kalangan ahli taqwa dan pemilik keadilan– terdapat penghancuran terhadap seluruh bangunan Islam yang mulia dan indah secara merata, dan ini demi Allah merupakan pelanggaran serta kezhaliman yang besar, wahai saudaraku kaum muslimin. Selesai.

Syaikh  Al-Albani rohimahulloh (Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi  fil I’tiqod wal Ahkam) berkata : “Usul Kholaf[2] yang dengan sebab tersebut sunnah ditinggalkan. Usul dan kaidah-kaidah apakah yang kholaf memancangkannya, sehingga memalingkan mereka dari as-Sunnah; dari mempelajari dan mengikutinya ? Jawaban dari pertanyaan ini, aku katakan : Mungkin ringaksannya di dalam poin-poin berikut :

  • Pertama : Perkataan sebagian ahli kalam : Sesungguhnya aqidah tidak ditetapkan dengan hadits ahad. Sebagian juru da’wah islam pada hari ini menyatakan dengan terang-terangan bahwa : Tidak boleh mengambil aqidah darinya (hadits ahad), bahkan diharamkan.
  • Kedua : Kaidah-kaidah yang ‘dilahirkan’ sebagian madzhab-madzhab yang diikuti di dalam ushul-ushulnya. Yang aku ingat sekarang, diantaranya sebagi berikut :
    1. Mendahulukan qias atas khobar ahad (Al-I’lam [1\326 dan 300], Syarhul Manar [623]).
    2. Khobar ahad ditolak jika menyelisihi ushul. (Al-I’lam 1\329], Syarhul Manar [464]).
    3. Menolak hadits yang mengandung hukum tambahan atas al-Qur’an. Dengan dakwaan : Itu merupakan naskh (penghapusan) terhadap al-Qur’an. (Syarhul Manar [1\648], Al-Ahkam [2\66]).
    4. Mendahulukan ‘am (suatu yang umum) atas khos (sesuatu yang khusus) tatkala terjadinya ta’arudh, atau tidak bolehnya mengkhususkan al-Qur’an dengan khobar wahid. (Syarhul Manar, h. 289-294, Irsyadul Fuhul, h. 138 -139, dan 143-144).
    5. Mendahulukan ahli madinah atas hadits sahih
  • Taqlid dan menjadikannya sebagai madzhab dan agama. Selesai.

Adapun Ahlu Sunnah wal Jama’ah, mereka mengambil perkara-perkara ‘ilmiyah (aqidah) dari khobar\hadits ahad; Mereka berpendapat bahwa khobar ahad memilki dua tinjauan. (1) Dari sisi kesesuaian khobar dengan kenyataan dan (2) dari sisi beramal dengannya.

Ditinjau dari sisi  kesesuaiannya dengan kenyataan maka ia berfaidah dzon rojih, kecuali jika berkaitan dengan adanya tanda-tanda tertentu yang mengangkatnya kepada tingkatan yakin, seperti diriwayatkan oleh syaikhon (Bukhori dan Muslim) atau umat telah sepakat untuk beramal dengannya.

Adapun dari tinjauan beramal denganannya : Jika telah sahih maka ia qot’i, wajib beramal dengannya. Jika ia berkaitan dengan aqidah maka wajib meyakininya, jika berkaitan dengan ibadah, maka wajib beramal dengan tuntuntutan yang ditunjukkan olehnya. Inilah madzhab ahli sunnah wal jama’ah.

Syaikh Albani rohimahulloh (Al-Hadits Hujjahtun …) berkata :

لم أحفظ عن فقهاء المسلمين أنهم اختلفوا في تثبيت خبر الواحد

Aku tidaklah mengetahui dari ahli fiqih kaum muslimin : bahwa mereka telah berselisih di dalam menetapkan khobar ahad.

Dalil Kaidah[3] :

Alloh Ta’ala berfirman :”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu“. (QS. Al-Hujurot : 6).

Di dalam sebagian qiro-ah (فتثبتوا) ‘mencari kebenaran berita’, ini menunjukan bahwa : Jika datang seorang adil dengan suatu kabar maka hujjah tegak dengannya. Dan tidak wajib tatsabut , bahkan wajib diambil waktu itu juga; oleh karena ini Ibnul Qoyyim rohimahulloh (Al-I’lam 2\294) berkata : “Ini menunjukan secara pasti tentang diterimanya khobar ahad. Ia tidak membutuhkan kepada tatsabut, andaikan saja khobarnya tidak berfaidah ilmu niscaya Dia (Ta’ala) memerintahkan tatsabut sehingga dicapainya ilmu… .

Di dalam hadits Malik bin Al-Huwairits Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

( ارجعوا إلى أهليكم فأقيموا فيهم وعلموهم ومروهم وصلوا كما رأيتموني أصلي )

“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggallah ditengah-tengah mereka dan  ajarilah. Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat”.

Di dalam hadits ini Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan setiap individu dari mereka untuk mengajari keluarganya. Mengajari (Ta’lim) disini mencakup perkara aqidah, bahkan ia merupakan sesuatu yang pertama kali masuk kepada lafadz umum ini[4].

***


[1] Lihat al fushul, klik katagori ushul hadits.

[2] Yang dimaksud kholaf disini bukan hanya bermakna orang-orang yang datang kemudian, akan tetapi meliputi makna : Orang-orang yang menyelisihi manhaj as-salaf ahlu sunnah wal jama’ah –pen.

[3] Saya hanya akan menyebutkan satu ayat dan satu hadits yang dibawakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam kitabnya (Al-Hadits Hujjah …). Silahkan merujuk kepadanya bagi orang-orang yang menginginkan sebagian mutiara berlimpah peninggalan beliau rohimahulloh.

[4] Syaikh Al-Albani memiliki kitab (Asalnya merupakan ceramah beliau) dengan judul : Tauhid Awalan Ya Du’atal Islam. Silahkan membacanya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: