Silsilah Kaidah; Aqidah dan Manhaj 4

Kaidah Keempat :

Madzhab Salaf Pertengahan Diantara Beragam Corak Madzhab.

مذهب السلف وسَطٌ بين المذاهب

Penjelasan Kaidah :

Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat bermanfa’at bagi para tholibul ‘ilmu (pencari ilmu) di dalam babnya. Kaidah ini dihitung sebagai salah satu kekhususan diantara kekhususan ahli sunnah wal jama’ah. Penjelasannya sebagai berikut :[1]

Sesungguhnya Alloh   telah membedakan umat ini (umat Islam) dengan pertengahan diantara umat-umat, Alloh Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.  البقرة : 143

Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS. Al Baqoroh : 143) Makna al-wasathiyah disini adalah : Adil dan  pilihan. Segala jenis keutamaan ada pada umat ini; maka umat Islama dalah umat yang paling utama.

Kemudian Alloh membedakan ahlu sunnah wal jama’ah dengan al-wasathiyah (pertengahan) diantara berbagai kelompok sempalan yang ada di dalam ‘tubuh’ kaum muslimin. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ . . .  الحديث

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang (tegar) di atas al-haq (kebenaran) dalam keadaan nampak  …” Al-Hadits.

Ahlu sunnah wal jama’ah ahli pertengahan dan i’tidal di dalam seluruh perkara agama : Aqidah, ilmu, akhlaq dan sikap. Pertengahan antara berlebihan dan mencibirkan, antara berlebihan dan meremehkan di dalam seluruh perkara.

Pemahaman Al-Washathiyah :

Pemahaman secara bahasa : Telah dikatakan di dalam al-mu’jam al-washith as sahih : [وسط الشيء] washatho as-syaia ‘memotong jadi dua’ – [( يسطه  وسطاyashituhu wsahaton ‘menjadikannya ditengah-tengah’, ([وسِطة] washithohtun : Berada di tengah-tengahnya. Jika dikatakan : washatu al-qaum ‘tengah-tengah kaum’, washatu al-makan ‘tengah-tengah tempat’, maka ia adalah : Yang menjadi penengah. Dan al-qaum; fihim wishathoh : menjadi penengah diantara mereka dengan al-haq (kebenaran) dan al-’adl (keadilan).

Al-wasathiyah di dalam syar’i dan teminologis : Kata al-wasathiyah yang terdapat di dalam Al-kitab dan As-Sunnah kebanyakannya menunjukkan atas makna-makna berikut :

  1. Bermakna al-‘adlu (adil), al-khoiriyah (kebaikan) dan at-tawasuth (pertengahan) antara berlebihan dan menyepelekan. Diantara ayat yang menunjukkan makna ini adalah firmanNya   : “Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat wasathon …” Yakni : Adil. (QS. Al-Baqoroh : 143). Dengan makna inilah Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam menafsirkannya, di dalam hadits Abi Sa’id Al-Khudri rodiyallohu ‘anhu, beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : (­a-wasath : al-‘adl [adil]). (Sahih Al-Bukhori  [4487]).
  2. Ibnu Jarir At-Thobary menafsirkannya (3/242) dengan makna : at-tawasuth baina al-ifroth wa tafrith (pertengahan antara berlebihan dan menyepelekan).
  3. Demikian pula Ibnu Katsir (1/275) menafsirkannya dengan : al-Khiyar al-ajwad (pilihan dan terbaik).
  4. Datang pula kata al-wasathiyah di dalam sunnah dengan makna : Al-Ausath dan al-a’la (paling tengah dan paling tinggi). Sebagimana Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam telah mensifati surga Firdaus dengan sabdanya : “Surga yang paling tengah dan paling tinggi). (Al-Bukhori, Kitab Jihad [2790]).
  5. Al-Wasathiyah juga bermakna tinjauan terhadap sesuatu tersebut; ada diantara baik dan jelek. Ibnu Abbas berkata dalam salah satu riwayat darinya : “Keadaan seseorang memberikan makan keluarganya dengan makanan yang berkualitas rendah, dan sebagaiannya lagi memberikan makan keluarganya dengan sesuatu yang berlebihan\boros, Alloh   berfirman : ‘Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi Pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).’ (Qs. Al Maidah : 89)[2]. Roti dan zaith”.
  6. Sebagian Ulama menafsirkan (Ausath) di dalam ayat di atas dengan : Al-a’dal dan al-amtsal (yang paling pertengahan dan yang paling mirip [dari yang sering kamu makan –pen]). Maka ayat ini dengan penafsiran seperti ini berada dibawah makna yang pertama, yaitu : (Al-‘adalah, Al-khiyar dan al-ajwad).
  7. Al-Wasathiyah juga datang dengan makna : Sesuatu yang ada diantara dua ujung dan dan dua arah. Diantaranya firman Alloh Ta’ala : “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa”. (QS. Al-Baqoroh : 238). Shalat wushto adalah shalat ashar, dinamakan wustho karena sebelumnya ada dua shalat. Tetapi ini pun berada di bawah perbedaan di dalam pembatasan, yakni : sholat apakah ia ?. Diantaranya pula adalah sesuatu yang datang di dalam hadits Abdulloh bin Mas’ud rodiyallohu ‘anhu, dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Bahwasanya beliau membuat garis secara persegi empat (bujur sangkar atau yang semisalnya –pen), kemudian beliau membuat satu garis ditengah persegi empat tersebut, kemudian membuat garis-garis di samping garis yang terdapat di tengah-tengah persegi empat tersebut, kemudian membuat satu garis diluar persegi empat (tersebut). Kemudian beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Taukah kalian apa ini ? maka kami menjawab : Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui. Beliau bertutur kembali : Garis yang tengah ini adalah (layaknya) manusia, dan garis-garis ini yang berada di sampingnya adalah keinginan-keinginan yang menggerogotinya”). Diantaranya pula sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam : “Jadikanlah imam (sholat) berada di tengah-tengah dan tutuplah celah-celah
  8. Datang juga al-wasathiyah dengan makna at-tawasuth ad-dzorfai. Dari dalil yang menunjukkannya adalah sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa salla : “Alloh melaknat prang yang duduk di tengah-tengah lingkaran“. Al-Albani mendlho’ifkannya : Dlhoif Sunan Abi Daud (393).
  9. Al-wasathiyah juga datang sebagai lawan dari :
  • Al-Ghulu (berlebih-lebihan) : Ia adalah melampaui batas. Alloh Ta’ala berfirman : “Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu” (Qs. An-Nisa : 171), (Qs. Al-Maidah : 77). Nabi sholalollohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berhati-hatilah kalian dari berlebih-lebihan di dalam agama”.
  • Al-Ifroth : Ia bermakna al-ghulu; Ia adalah melampaui batas di dalam urusan-urusan (tertentu).
  • AtTafrith : Ia memiliki makna kurang. Maka metode ahlu sunnah pertengahan dalam semua urusan antara ghulunya Khowarij dan tafrithnya Murji’ah.
  • Ad-Dzulmu : Ia adalah melampaui kebenaran. Oleh karena itu Alloh menamakan syirik dengan kedzoliman; Alloh berfirman :

{ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ } [ لقمان : 13 ]

“Sesungguhnya kesyirikan merupakan kedzoliman yang paling besar”. (QS. Lukman : 13).

Kesimpulan : Al-Wasathiyah bermakna : adil, istiqomah, pilihan, tegak lurus, keutamaan dan terbaik.

Maka Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang adil lagi pilihan; baik  di dalam aqidah, ibadah, akhlak dan sikap.

Ahlu sunnah wal jama’ah pertengahan dalam lima pokok :

  • Dalam Asma dan Sifat Alloh Ta’ala. Maka Ahlu Sunnah pertengahan diantara dua kelompok yang sesat; Yaitu antara Ahlu tathil dan Ahlu tamtsil.
  • Dalam Qodho dan Qodar. Mereka pertengahan antara jabariyyah dan Qodariyyah.
  • Dalam al Wa’iid. Pertengahan antara khowarij dan murji’ah.
  • Dalam penamaan iman (asmaa al iman). Mereka pertengahan antara Khowarij, Mu’tazilah dan Murji’ah.
  • Pertengahan tentang para sahabat Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam. Antara syi’ah rofidlhoh dan khowarij. Dan antara rofidlhoh dan nawashib.

***


[1] Lihat : “Atsarul Qur’an Al-Karim fi Tahqiqi Al-Wasathiyah wa Daf’i Al-Ghulu”. DR. Nashir bin Abul Karim Al-‘Aql.

[2] Aku nukilkan –pen : Ibnu Katsir menyebutkan penafsiran Ibnu Abbas, Sa’id Bin Zubair dan Ikrimah : Yakni : Dari makanan yang paling pertengahan yang dimakan oleh keluarga kalian.

Pemilik Kitab Aisar At-Tafasir berkata : (Ausath) yaitu : Yang paling sering (dimakan oleh keluargamu –pen), bukan dari yang berkualitas paling tinggi dan tidak juga dari kualitas yang paling rendah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: