Silsilah Kaidah; Aqidah dan Manhaj 13

Kaidah Ketigabelas : Sifat Alloh Ta’ala Ada Yang Khobariyah Semata; Dan Ada Pula Yang Khobariyan Dan Bagi Akal Ada Ruang Gerak.

صفات الله تعالـى إما خبريةٌ محضة ، وإما خبرية وللعقل فيها مجالٌ

Penjelasan Kaidah :

Kita telah menyinggung kaidah ini pada kaidah yang terdahulu, akan tetapi mengingat pentingnya kaidah ini, maka kami menyendirkan pembahasannya.

Ketahuilah rohimakalloh !, bahwa sifat Alloh Ta’ala, jika ditinjau dari sisi penetapannya maka memiliki dua metode; (1) Kita menetapkannya berdasarkan naql semata, baginya tidak ada cara lain kecuali ini, maka ini dinamakan sifat al-Khobariyah al-Mahdoh, yakni : tidak ada jalan untuk menetapkannya kecuali naql, yang dia merupakan kabar dari al-Kitab atau as-Sunnah. (2) Asal penetapannya dari naql (al-Qur’an dan as-Sunnah), akan tetapi bagi akal ada ruang gerak; Dari tinjauan : Andaikan saja tidak ada kabar tentang penetapannya, maka kita mampu untuk menetapkannya bagi Alloh Ta’ala, sesuai dengan kemestian bagiNya jalla wa ‘ala. Maksudnya bukan seluruh akal, yang kita maksudkan adalah akal ahlu sunnah wal jama’ah, karena mereka merupakan manusia yang paling selamat akalnya. Kemudian, di dalam masalah ini ada kesamaran –bagi sebagian manusia– yang kadang menimbulkan pertanyaan; yakni : Terdahulu disebutkan bahwa ahlu sunnah tidak menjerumuskan akal mereka di dalam pembahasan asma dan sifat, karena ia merupakan bagian dari masalah ghoibiyah; kemudian kita sebutkan pula : selama perkara tersebut merupakan masalah ghoibiyah maka tidak ada ‘ruang gerak’ bagi akal. Pertanyaannya : Kenapa kita mengatakan: Bahwa kita mampu untuk menetapkan sebagian sifat Alloh Ta’ala dengan akal semata ?. Jawabannya adalah : Yang ahlu sunnah wal jama’ah ingkari adalah menjadikan akal sebagai dalil secara menyendiri, dengannya ditetapkan asma dan sifat, yakni menetapkan sifat dengnnya walaupun tidak ditunjukan oleh dalil syar’i, (dan) menafikan sifat dari Alloh dengannya walaupun dalil syar’i telah menunjukannya, seperti kelakuan Asya’iroh –mereka menafikan sifat yang telah ditunjukan oleh dalil syar’i jika tidak  ditetapkan oleh akal-akal mereka–. Adapun akal yang selamat dari penyakit yang dikuatkan oleh syar’i, maka ia mengetahui bahwa seluruh kesempurnaan yang tetap bagi makhluk –yang tidak ada kekurangan di dalamnya– , maka bagi Alloh lebih utama untuk ditetapkan; karena Dia-lah pemberi kesempurnaan, dan pemberi kesempurnaan itu lebih berhak dengan kesempurnaan. Kemudian akal yang selamat pun mengetahui, bahwa sifat al-khobariyah al-mahd baginya (akal) tidak ada tempat atau ruang gerak.

Atau kita jawab dengan ungkapan : Yang kita larang adalah masuknya akal di dalam pembahasan sifat al-khobariyah al-mahd, adapun di dalam sifat al-khobariyah al-aqliyah kita tidak mengingkari masuknya akal ke dalam pembahasan tersebut, selama akal tersebut bersesuaian dengan naql\nas. Oleh karena itu, kita tidak mengingkari Asya’iroh dikarenakan menetapkan sifat yang tujuh dengan akal, karena sifat-sifat tersebut merupakan bagian dari sifat khobariyah aqliyah, akan tetapi yang kita ingkari adalah perbuatan mereka yang menafikan sifat-sifat yang lainnya dikarenakan akal-akal mereka tidak menunjukannya, padahal dalil syar’i telah menunjukannya; jadi mereka itu (Asya’iroh) telah menafikan sifat-sifat dengan akal mereka, sedangkan dalil naqli yang sahih telah menetapkannya. Allohu ‘Alam.

***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: