Silsilah Kaidah; Aqidah dan Manhaj 12

Kaidah Keduabelas : Perkataan Di Dalam Sifat Seperti Perkataan Di Dalam Dzat Dan (Perkataan Di Dalam Sifat Seperti Perkataan) Di Dalam Sebagiannya.

الكلام في الصفات كالكلام في الذات وفي بعضها

Penjelasan Kaidah :

Kaidah ini tersusun dari dua kaidah; keduanya merupakan bagian terpenting dari kaidah-kaidah ahli sunnah wal jama’ah. Kedua kaidah ini merupakan landasan yang Syaikhul Islam bertolak darinya; yakni di dalam kitab ‘at-tadmuriyah’.

Kaidah yang menjawab dan membatalkan kaidah kelompok sesat lagi menyimpang dari manhaj Alloh Ta’ala.

Berikut paparannya :

Bagian pertama : Perkataan Di Dalam Sifat Seperti Perkataan Di Dalam Dzat“, ketahuilah saudaraku rohimakumulloh !, tidak ada sesuatu pun dari dzat yang maujud (ada) kecuali memiliki sifat, dengan sifat tersebut ia berbeda dengan dzat yang lainnya. Perkara ini merupakan urusan yang jelas lagi diketahui secara idthirori.

Sifat tersebut akan berbeda antara dzat yang satu dengan yang lainnya, sebab perbedaan tersebut kembali kepada perbedaan dzat antara keduanya. Maka berbedanya dzat merupakan sebab berbedanya sifat. Contoh : Sifat Zaid tidaklah seperti sifatnya ‘Amr, apa sebabnya ? Jawabannya : Karena dzat keduanya berbeda, dengan sebab itulah sifat keduanya berbeda.

Sesuatu yang telah diketahui bersama, bahwa gajah memiliki sifat, begitu pula nyamuk; akan tetapi sifat gajah berbeda dengan sifat nyamuk, apa penyebabnya ? Jawabannya : Karena dzat keduanya berbeda, dzat gajah tidak seperti dzat nyamuk.

Jika engkau telah memahami ungkapan di atas maka kethuilah : Merupakan sesuatu yang telah diketahui di sisi manusia seluruhnya, kelompok apa pun dia, baik muslim atau pun kafir –sepanjang pengetahuanku, kecuali orang yang nyeleneh– “Bahwa Bagi Alloh Dzat yang sesuai dengan kemaha Besaran dan kemaha Agungan-Nya”, tidaklah sama dengan dzat-dzat yang lainnya.

Jika kita telah mengatakan : “bahwa bagi Alloh itu dzat“, maka yang wajib bagi kita sekarang dua perkara :

  1. Menetapkan bahwa Alloh memiliki sifat; sebagaimana telah kita katakan : “Tidaklah ada suatu dzat yang ada kecuali memiliki sifat”. Dengan ungkapan ini, maka kita telah membantah kelompok sempalan yang meniadakan sifat Alloh, seperti mu’tazilah, jahmiyah dan al-falashifah an-nufat –kelompok terexstrim dari mereka–. Hakikat perkataan mereka : Alloh tidak disifati kecuali dengan al-maujud al-muthlaq[1] “. Perkatan mereka ini tidaklah bisa dicerna oleh akal yang selamat dari syubhat dan syahwat, karena al-wujud al-mutlaq dari sifat pada hakikatnya tidaklah ada secara kenyataan; sifat al-wujud al-mutlaq hanya ada pada khayalan yang tidak ada hakikatnya. Kesimpulan : Kaidah ini merupakan bantahan kepada ahli bid’ah pengingkar sifat; kita katakan : “Andaikan saja kalian telah menetapkan adanya Alloh maka wajib bagi kalian untuk menetapkan adanya sifat bagi-Nya”. Karena Dzat memiliki sifat yang sesuai dengan kemaha besaran-Nya. Jika engkau tidak mengatakan seperti yang kami katakan, maka kalian telah terjerumus kepada pertentangan yang tidak ada jalan keluar darinya kecuali dengan menetapkan sifat.
  2. Wajib bagi setiap manusia yang telah meyakini “Bahwa Dzat Alloh tidak seperti dzat makhluk untuk menetapkan” bahwa  : “Sifat Alloh pun tidaklah seperti sifat-sifat makhluk“. Karena dengan berbedanya dzat merupakan sebab berbedanya hakikat sifat tersebut. Dari sisi ini maka kaidah ini merupakan bantahan kepada ahli tamtsil dan ta’thi. Bantahan kepada ahli tamtsil, karena mereka menjadikan sifat-sifat Alloh Ta’ala seperti makhluk, padahal mereka telah menetapkan bahwa Dzat Alloh tidak seperti dzat mereka. Kalau mereka tidak mau mengatakan “bahwa sifat Alloh tidak sama dengan sifat makhluknya” maka mereka – sisi lawazim – harus mengatakan bahwa Dzat-Nya Ta’ala seperti dzat mereka, dengan demikian mereka disamakan dengan sudara mereka yang kafir. Adapun jika mereka mengatakan “bahwa sifat Alloh tidak sama dengan sifat makhluknya”, maka ia menjadi ahli sunnah wal jama’ah. Adapun perkataan mereka (ahli tamtsil) : “Dzat Alloh tidak sama dengan dzat makhluknya”, kemudian menyatakan : “bahwa sifat Alloh sama dengan sifat makhluknya”, maka demi Alloh, ini merupakan pendapat yang saling bertolak belakang dan tidak mungkin dikatakan oleh orang-orang yang berakal. Dan semestinya, setelah mereka mengetahui tanaqudnya, mereka mengetahui bahwa kebenaran bersama madzhab yang lain; yakni madzhab ahlu sunnah wal jama’ah. Oleh karena itu, jika seseorang yang bermadzhab jahmiyah berkata kepadamu :

الرحمن على العرش استوى

“Ar-Rohman bersemayam di atas ‘Arsy”. Bagaimanakah sifat istiwa-Nya (bersemayam-Nya)? Maka sebelum kamu menjawabnya, tanyakan dulu kepada mereka : “Katakan kepadaku !, bagaimanakah Dzat Alloh Ta’ala ?” . Jika dia berkata : “Aku tidak mengetahui tentang kaifiyah\bagaimananya Dzat Alloh, karena aku tidak pernah melihat-Nya, tidak mengetahui yang semisal-Nya dan tidak ada kabar yang jujur yang mengabarkannya”, maka katakan kepada mereka : “Demikian pula aku, aku tidak mengetahui kaifiyah sifat istiwa\bersemayamnya Alloh Ta’ala, sebagimana aku tidak mengetahui tentang Dzat-Nya”. Kemudian katakan lagi kepada dia : “Perkataan di dalam sifat merupakan ‘cabang’ dari dzat”, karena kaifiyah sifat sesuatu tidak akan diketahui kecuali jika diketahui kaifiyah dzatnya. Jika kamu dan aku sama-sama tidak mengetahui tentang kaifiyah Dzat Alloh, maka memberikan konsekwensi kepada aku dan kamu untuk tidak mengatakan hakikat kaifiyah sifat Alloh Ta’ala. Jika saja kaifiyah suatu dzat tidak diketahui, maka lebih utama lagi untuk tidak diketahui sifatnya; karena perkataan di dalam sifat seperti perkataan di dalam dzat.

Seorang penyair berkata :

والقول في بعض الصفات كقولنا في بعضها والذات دون تواني

Perkataan di dalam sebagian sifat sebagimana perkataan kita ## pada sebagiannya dan dzat, tanpa berlambat-lambat.

Demikianlah bagian pertama dari kaidah, yakni : Perkataan Di Dalam Sifat Seperti Perkataan Di Dalam Dzat“.

Bagian kedua  – dari kaidah -: “(Perkataan Di Dalam Sifat Seperti Perkataan) Di Dalam Sebagiannya, kaidah ini tidak kalah pentingnya dari kaidah sebelumnya. Penjelasannya sebagi berikut :

Yang wajib di tempuh dan diyakini oleh kita –ahlu sunnah wal jama’ah–,  di dalam menetapkan sifat-sifat Alloh shubhanahu wa Ta’ala adalah : Menetapkannya sesuai dengan yang semsetinya bagi Alloh Ta’ala, dengan tanpa tamtsil dan ta’thil, juga dengan tanpa takyif dan tahrif.

Kemudian ketahuilah, –rohimani wa rohimakumulloh–, barangsiapa menetapkan satu sifat saja bagi Alloh Ta’ala, maka memberikan konsekwensi untuk menetapkan seluruh sifat yang Alloh telah tetapkan untuk diri-Nya; karena tidak ada perbedaan antara yang ditetapkan dengan yang ditiadakan.

Jika menafikan\meniadakan salah satu sifat tertentu, karena alasan membahayakan ‘kekeruhan’ berpikir, kemudian menetapkan sebagiannya, maka metode seperti ini merupakan metode yang membingungkan, tidak bisa dipahami oleh akal yang selamat –kalau ada yang menyatakan sebaliknya maka aku katakan : Di hatinya ada ‘sesuatu’; syubhat dan syahwat –.

Semsetinya, jika telah menetapkan sebagian dari sifat-sifat tersebut, maka wajib menetapkan seluruhnya, jika menafikan –sesuatu yang telah di tetapkan oleh-Nya– maka wajib menafikan seluruhnya. Adapun menetapkan sebagiannya, kemudian menolak sebagiannya yang lain, maka ini hanyalah merupakan sesuatu yang bertolak belakang\tanaqudh.

Kaidah ini merupakan bantahan yang sangat kuat kepada asya’iroh, mereka hanya menetapkan tujuh sifat saja;

لـه الـحيـاة والكـلام والبصـر         سمعٌ إرادةٌ وعـلـمٌ واقتـدر

Bagi-Nya sifat al-hayat (hidup), al-kalam (berbicara), al-bashor (melihat) ### Sam’un (mendengar), irodah (berkehendak), ilmu (mengetahui) dan qodroh (Mampu).

Selain ketujuh sifat di atas mereka menafikannya (tidak menetapkannya).

Ketahuilah !, sesuatu yang pertama harus ditanyakan kepada asya’iroh adalah : Apa perbedaan antara sifat yang kalian nafikan dengan sifat yang kalian tetapkan ?. Jawaban mereka tidak akan keluar dari dua jawaban :

Kemungkinan jawaban pertama : Mereka akan mengatakan : ‘Sesungguhnya sifat-sifat yang kami tetapkan tidaklah menuntut konsekwensi tamtsil dan tasybih. Adapun sifat-sifat yang kami nafikan, maka ia menuntut konsekwensi tamtsil dan tasybih.

Jika mereka mengatakan ini maka katakanlah : Jika sifat-sifat yang kalian nafikan menuntut konsekwensi seperti itu (yakni : menuntut konsekwensi tamtsil dan tasybih) maka semua yang kalian tetapkan pun menuntut konsekwensi seperti itu. Jika sifat-sifat yang kalian tetapkan tidak menuntut konsekwensi tamtsil dan tasybih, maka demikan pula sifat-sifat yang kalian nafikan, yakni tidak menuntut konsekwensi tamtsil dan tasybih. Karena perkataan di seluruh sifat adalah satu, tidak berubah-rubah.

Katakan pula kepada mereka : Kalian berkata : ‘Jika kita mensifati Alloh Ta’ala dengan al-yad (tangan), rohmah, wajah, Ar-rijl (kaki), saq (betis), ad-dlhohik (tertawa), al-farhu (gembira) dan Al-‘ajab (takjub), maka kita telah mentasybih\(menyerupakan)-Nya dengan makhluk-makhluk-Nya, karena makhluk baginya tangan, rijl, wajhu, saq dan dlhohik. Kesesuaian di dalam nama memberikan konsekwensi sama di dalam kaifiyah‘. Maka katakan kepada mereka : Jadi kalian telah memploklamirkan diri sebagai musyabbihah, karena kalian telah mensifati Alloh dengan al-kalam, as-sam’u, al-bashor, al-qudroh, al-hayat, al-irodah dan al-‘ilmu, sedang kita pun disifati dengan al-kalam, bashor, sam’u dan seterusnya.

Kemudian katakanlah kepada mereka : Tidak-kah kalian menafikan apa yang kalian tetapkan dari sifat-sifat ?, karena telah terbukti adanya bahaya yang dikarenakan dengannya kalian menafikan sifat-sifat yang lainnya ?. Atau tidak-kah kalian menetapkan apa yang kalian nafikan dari sifat-sifat ?, karena pembahasan di dalam masalah ini adalah sama. Jika kalain menafikan sifat yang telah kalian tetapkan maka kalian telah sama dengan saudara kalian, yakni al-jahmiyah. Jika kalian menetapkan sifat-sifat yang telah kalian nafikan, maka kalian berjalan di atas manhaj ahlu sunnah wal jama’ah. Adapun menetapkan sebagian sifat dan menafikan sebagian yang lainnya, maka ini hanyalah perkataan tanaqudh dan kedunguan belaka.

Katakan pula pada mereka : Sesungguhnya saudara tua kalian, yakni al-mu’tajilah dan jahmiyah mengingkari kalian, yakani mengingkari sifat-sifat yang telah kalian tetapkan dari sifat yang tujuh. Kemudian kalian membantahnya sebagai bentuk pembelaan kepada madzhab kalian.

Maka ketahuilah oleh kalian !, jawaban kalian kepada mu’tajilah dan jahmiyah, hakikatnya merupakan jawaban kami kepada kalian. Jika kalian berkata kepada mu’tajilah dan jahmiyah : ‘Kami (Asya’iroh) menetapkan sifat-sifat yang sesuai dengan kemaha besaran Alloh, kami menetapkan sam’un, al-Bashoru, al-kalam, al-qudroh, al-ilmu, dan al-hayat  sesuai dengan kemaha agungan-Nya’. Maka kami (ahlu sunnah) berkata : Demikian pula perkataan kami di sebagian sifat yang lainnya, kami menetapkan sifat al-wajhu, al-yad, ar-rijl dan yang lainnya dari sifat-sifat sam’iyah seperti yang telah kalian katakan kepada jahmiyah dan mu’tazilah, yakni sesuai dengan kemaha agungan dan kemaha besaran-Nya Ta’ala; karena perkataan di dalam masalah ini adalah sama. Barangsiapa memisahkan kedua perkara ini, maka dia telah memisahkan perkara-perkara yang serupa.

Kemungkinan Jawaban Kedua : Tatkala mereka (yakni : Al-‘Asya’iroh) ditanya seperti itu[2] maka mereka akan menjawab : Sesungguhnya sifat-sifat yang kami tetapkan telah ditunjukan oleh akal, adapun sifat-sifat yang kami nafikan tidak ditunjukan oleh akal. Al-f’ilu al-hadits (perbuatan\kejadian yang baru\terjadi) menunjukan pada sifat al-qudroh (Mampu); at-takshsis (menghususkan) menunjukan pada sifat al-irodah (keinginan); al-ihkam (keteraturan) menunjukan kepada sifat al-ilmu (ilmu); sifat-sifat tersebut tidak akan tegak kecuali pada yang memiliki sifat al-hayu (hidup), yang hidup kemungkinan bisa mendengar, melihat dan berbicara (as-sam’u wal bashor wal mutakalim) atau pun tidak, jika tidak[3] ? maka merupakan sifat kurang yang ditiadakan dari Alloh Ta’ala, dari sini jelaslah, bahwa Alloh Ta’ala Maha Mendengar, Melihat dan Berbicara; Demikianlah perkataan mereka.

Maka kita katakan kepada mereka : Dari kami bagi kalian banyak jawaban, kita akan sebutkan empat jawaban supaya tidak terlalu panjang pembahasannya :

  1. Menjerumuskan akal di dalam pembahasan asma dan sifat bertentangan dengan metode salaf, karena pembahasan sifat merupakan bagian pembahasan ghoibiyah (perkara yang ghaib). Jika ia merupakan bagian dari perkara ghaib maka pijakannya adalah dalil syar’i. Bukanlah kebiasaan salaf, yakni menjerumuskan akal-akal mereka di dalam perkara ghoib.
  2. Menjerumuskan akal di dalam pembahasan asma dan sifat, yakni sebagai penentu\pokok landasan merupakan perbuatan yang menyelisihi dzat akal itu sendiri, karena Alloh Ta’ala, tatkala mencipta akal, maka Dia menciptakannya dengan batasan dan kemampuan yang akal tersebut tidak mampu melampauinya. Oleh karena itu, akal akan melahirkan pemikiran yang selamat jika tidak melampaui batas kemampuannya. Akan tetapi, jika akal tersebut dijerumuskan kepada sesuatu yang bukan wilayahnya, maka akan tersesat dan melahirkan kesesatan. Pembahasan asma dan sifat merupakan bagian yang keluar dari batas kemampuan akal, oleh karena itu, tidaklah sesat orang yang tersesat di dalam pembahasan asma dan sifat kecuali dikarenakan penghukuman akal-akal mereka di dalam perkara yang tidak ada ruang bagi akal.
  3. Anggaplah akal tidak menunjukkan penetapan bagi sifat-sifat yang lainnya, tetapi apakah tidak adanya ilmu dengannya merupakan dalil tentang ketiadaannya ? tentu jawabannya : tidak, karena andaikan saja akal tidak menunjukannya maka dalil syar’i telah menunjukannya, ia merupakan dalil yang menyendiri tanpa harus menunggu ‘persetujun’ akal. Bahkan ia di sisi kami lebih kuat daripada dalil akli.
  4. Kami tidaklah menerima dakwaan kalian : ‘Bahwa akal tidak menunjukan kepada sifat-sifat yang kami nafikan’, bahkan akal yang selamat telah menunjukan atasnya secara global dan terperinci. Adapun secara global maka akal memberikan tuntutan bahwa al-Kholiq (Pencipta) disifati dengan sifat yang sempurna lagi Mulia, yang dibedakan dengan sifat-sifat tersebut dari yang lainnya. Jika saja sifat memberi merupakan sifat sempurna bagi makhluk maka Alloh lebih utama untuk disifati dengannya. Seluruh sifat sempurna bagi makhluk[4] –yang tidak ada kekurangan di dalamnya– maka Alloh lebih utama disifati dengannya.

Adapun secara terperinci, maka sifat Alloh terbagi dua; yakni jika ditinjau dari cara penetapannya : (1) sifat akliyah khobariyah dan (2) sifat khobariyah mahd (semata). Adapun sifat yang khobariyah semata maka bagi  akal tidak ada jalan untuk menetapkannya, seperti sifat tangan, istiwa (bersemayam), nuzul (turun) ke langit dunia. Adapun sifat khobariyah aqliyah maka kita mampu untuk menetapkannya, berikut sebagian contohnya :

  • Sifat mahabbah (cinta). Balasan, pemuliaan dan memasukan orang-orang yang ta’at ke surga merupakan dalil terbesar bahwa Alloh Ta’ala mencintai mereka.
  • Sifat al-ghodzob (benci). Siksa, penghinaan dan memasukan orang-orang yang bermaksiat ke neraka merupakan dalil terbesar bahwa Alloh membenci mereka.

Maka dari sini jelaslah, bahwa pembahasan sifat merupakan pembahasan yang satu. Allohu ‘Alam.

Faidah :

Berdekatan dengan kaidah ini adalah kaidah yang sangat penting : Pembicaraan di dalam nama-nama seperti pembicaraan di dalam sifat (أن الكلام في الأسماء كالكلام في الصفات)

Kaidah ini merupakan bantahan yang sangat kuat atas madzhab mu’tazilah, karena mu’tazilah menetapkan nama tetepi menafikan sifat. Mereka menjadikan pembahasan nama hanyalah merupakan alamat semata, mereka menyatakan : Alloh Maha Mengetahui namun tidak memilki ilmu (‘alimun bi laa ‘ilmin), Maha Mampu namun tidak memiliki kemampuan (‘qodirun bi laa qudroh) dan seterusnya. Maksudnya : Bahwa mu’tazilah tatkala berhujjah meniadakan sifat berkata : ‘Suatu kenyataan yang dipersaksikan, kita tidak mendapatkan sesuatu yang disifati dengan suatu sifat kecuali ia berjasad, sedangkan jasad saling sama\serupa. Andaikan kita menetapkan sifat bagi Alloh Ta’ala, niscaya kita mensifati-Nya dengan jismiyah (tubuh\jasad), dan kita akan menyerupakan-Nya dengan makhluk-makhlukNya. Demikianlah perkataan mereka, sungguh jeleklah perkataan mereka.

Perkataan mereka ini kita jawab dengan jawaban yang banyak, diantaranya :

  • Kita tidak menerima perkataan mereka, bahwa segala sesuatu yang disifati dengan suatu sifat merupakan jism.  Bahkan disana ada berbagai hal yang disifati dengan sifat namun tidaklah berjasad. Seperti perkataanmu : Malam yang panjang dan siang yang pendek; kedua hal ini bukanlah jasad. Maka pengantar pertama mereka bathil lagi tertolak.
  • Dikatakan pula kepada mereka, bahwa perkataan kalian jasad-jasad itu saling sama\serupa, maka perkataan ini menyelisihi kenyataan yang ‘dicerna’ oleh akal, karena kita melihat jasad-jasad yang sama di dalam jismiyah (yakni disifati dengan jasad) namun berbeda di dalam sifat. Gajah memilki jasad, nyamuk memiliki jasad; Apakah kita akan berkata bahwa jasad-jasad itu saling serupa\sama ? Barangsiapa yang mengatakan demikian, maka dia merupakan manusia yang paling besar kedunguannya.
  • Dikatakan pula, sesungguhnya perkataan di dalam nama seperti perkataan di dala sifat. Jika kalian tidaklah mendapatkan sesuatu yang disifati dengan sifat kecuali jism,  maka demikian pula kami katakan : Kami tidaklah mendapatkan sesuatu yang dinamai dengan suatu nama kecuali baginya jism. Jika kalian berkata : Bahkan kami dapatkan perkara-perkara yang dinamai dengan suatu nama namun tidaklah berjism, maka kami pun katakan : Bahwa kami mendapatlam perkara-perkara yang disifati dengan sifat namun tidak berjism.
  • Katakan pula kepada mereka : Sesungguhnya nama-nama Alloh Ta’ala merupakan nama-nama yang husna, dari husnanya tersebut adalah disifati dengan sifat-sifat yang sempurna dari seluruh sisi. Jika kalian menghilangkan dari nama-nama itu sifat-sifatnya, maka kalian telah menghilangkan husnanya dan telah menjadikannya seperti nama-nama makhluk. Nama-nama semata tidak mengandung sifat yang sempurna.
  • Katakan pula kepada mereka : Jika kalian ‘berlari’ dari penetapan sifat dikarenakan merasa takut dari mensifati Alloh Ta’ala dengan jismiyah, maka apa yang kalian maksud dengan jism disini, sehingga kalian berlari darinya dan di karenakan dengannya pula kalian memalingkan makna sifat?. Jika yang kalian maksud dengan jism di sisni adalah bagian atau anggota tubuh seperti kita; satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, maka jism dengan makna seperti ini kami pun ‘lari’ darinya; yakni dari menetapkan yang seperti ini kepada Alloh Ta’ala. Jika yang kalian maksudkan dengan jism disini adalah Dzat yang sempurna lagi disifati dengan sifat-sifat yang sempurna sesuai dengan kesempurnaan-Nya, maka kami tidak ‘lari’ darinya. Tentang lafadz jism kami tidak menetapkannya,  adapun maknanya, maka kami merincinya. Hanya kepada-Nya lah kita meminta kekokohan di dalam al-haq.

***


[1] Maksud mereka : Adanya Alloh itu mutlaq; yakni tidak memiliki\kosong dari sifat.

[2] Yakni pertanyaan : “Apa perbedaan antara sifat yang kalian nafikan dengan sifat yang kalian tetapkan ?”.

[3] Yakni tidak bisa mendengar, melihat dan berbicara.

[4] Maksud Syaikh adalah kesempurnaan yang mutlak (al-kamal al-mutlaq). Karena di sana ada al-kamal an-nisbi; seperti memiliki anak. Memiliki anak bagi makhluk merupakan sifat yang sempurna, adapun bagi Alloh tidak. –pen.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: