Nasihat Bagi Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

موقع علماء ومشايخ الدعوة السلفية في اليمن>المقالات>مقالات متنوعة

نصيحة لأهل السنة والجماعة

Nasihat Bagi Ahlu Sunnah wal Jama’ah

الشيخ محمد بن عبد الوهاب الوصابي حفظه الله

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab al Wushobiy hafidzohulloh

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan Nama Alloh Yang Maha Penasih Lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam atas Rosululloh, keluarganya, shabatnya dan seluruh yang loyal kepadanya sholallohu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du :

Alloh Ta’ala menguji para hambanya dengan berbagai ujian yang Dia kehendaki, sebagai ujian dan seleksi bagi mereka. Sebagaimana firman Ta’ala : “.. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”. (QS. Al Anbiya : 35). Dan sebagimana firmanyNya subhanahu : “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al Ankabut : 1-3). Dalam ayat di atas Alloh menjelaskan ketentuanNya kepada makhlukNya, yakni akan menguji mereka; dengan kemaslahatan dan bencana, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan kesulitan dan kemudahan, dengan kemuliaan dan kehinaan, dan dengan kehidupan dan kematian. Hingga terbukti tatkala adanya ujian, siapa yang terfithan dan siapa yang selamat. Alloh telah menjelaskan dalam kitabNya yang mulia, bahwa ujian itu pada hakikatnya merupakan kebaikan bagi orang-orang yang beriman, karena dalam ujian tersebut akan namapak kekokohan dan kelemahan Iman seorang mu’min. Seorang mu’min (adalah) yang berinteraksi dengan ujian/fitnah dengan interaksi yang syar’i.

(Adapun tentang) orang-orang yang mengedapankan pendapat dan hawa nafsunya, Alloh Ta’ala berfirman :”Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka jahannam. mereka Itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al Anfal : 37). Alloh berfirman: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)”. (QS. Al Imron : 179). Dan sebagimana firman Ta’ala : “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu”. (QS. An Nur : 11). Alloh Ta’ala menejelaskan tata cara berinteraksi dengan ujian/bencana/fitnah dalam kitabNya yang mulia, sehingga tidak tersalah dan terjatuh.

Tatkala terjadi fitnah/bencana/ujian Alloh memberikan tuntunan supaya kembali kepada ahli ilmu, khususnya para ulama yang sangat mendalam ilmunya. Alloh Ta’ala berfirman : “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (QS. An Nisa : 83).

Tatkala menafsirkan ayat ini As Syaikh al ‘Alamah Abdurrohman bin Nashir As Sa’di rohimahulloh berkata : “Ulil Amri adalah pemilik pendapat, ilmu, nasihat, akal dan keteguhan, orang-orang yang mengetahui masalah dan mengetahui kebaikan dan kejelekan”.

Kemudian beliau rohimahulloh berkata : “Ayat ini sebagai dalil bagi kaidah adabiyah, yaitu : Jika terjadi suatu kejadian yang memerlukan pembahasan, maka harus diserahkan pada ahlinya. Janganlah mendahului pendapat mereka, karena seorang yang ahli akan lebih dekat kepada kebenaran dan keselamatan. Di dalamnya ada larangan tergesa-gesa dan terburu-bura dalam menyebarkan permasalahan tatkala baru mendengarnya. Permasalahan itu memerlukan penelitian dan pemikiran sebelum di katakana, apakah maslahat sehingga harus disampaikan kepada manusia ?, atau kah  tidak sehingga tidak menyampaikannya ?”. Selesai.

Demikan pula Nabi r, beliau memberikan petujuk kepada umat; tentang tata cara berinteraksi dengan fitnah/bencana/ujian, beliau bersabda : “Sa’id benar-benar orang yang dijauhkan dari fitnah, Sa’id benar-benar orang yang dijauhkan dari fitnah, Sa’id benar-benar orang yang dijauhkan dari fitnah, dan bila di uji maka bersabar dan menakjubkan”.  (HR. Abu Daud dari Miqdad bin Al Aswad rodiyallohu ‘anhu. Muhadits Zaman ini, As Syaikh, Al ‘Alamah Al Albani rohimahulloh mensahihkannya dalam Sahih Sunan Abi Daud [4263], al Misykah [5405] dan dalam as Sahihah [973].

Rosululloah r menunjuki mereka pada suatu akses terbaik tatkala terjadi fitnah :

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Ibadah pada masa genting/sulit /fitnah seperti hijrah kepadaku”. (HR. Muslim, dari sahabat Ma’qil bin Yassar rodiyallohu ‘anhu).

Inilah petunjuk as Salaf, madzhab yang di kutif mereka, menjauhi fitnah dan tidak terjerumus kedalamnya.

Al ‘Alamah Ibnul Qoyyim rohimahulloh memaparkan dalam kitabnya yang sangat bermanfa’at “Hadiy al Arwah”, pada akhir bab ke tujuh puluh, dari sebagian as Salaf, dia berkata : Menahan diri tatkala ada fitnah merupakan sunnah yang terdahulu lagi wajib dilakukan, jika engkau di uji, maka dahulukanlah jiwa mu daripada agama mu, janganlah menolong fitnah tersebut; baik dengan tangan atau pun dengan lisan. Akan tetapi, tahanlah lisan, tangan dan hawa nafsu mu. Dialah Alloh yang akan menolong”. (Hadiy al Arwah, h. 434, cetakan Darul Fajr wa at Turots).

Beliau rohimahulloh berkata dalam “Jalalul Afham”, h. 475, cetakan Dar Ibnu hazm, Tahqiq Masyhur Hasan Salman : ‘Kebiasaan ulama tidak meneliti masalah-masalah yang buruk, maka contohlah mereka, tatkala menyebut dan menghitungnya’.

Oleh karena itu, aku wasiatkan pada saudara kami ahlus sunnah wa jama’ah di Yaman dan di luar Yaman, untuk tidak terjerumus pada fitnah, baik yang di masa sekarang atau pun di masa yang akan datang.

Fitnah-fitnah yang telah lalu telah cukup begi mereka, dengan tidak tergesa-gesa dan terjerumus kedalamnya. Maka begi mereka wajib memberikan maslah ini kepada ahlinya – sebagimana perintah Alloh –, yakni kepada para ulama, mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui kenyataan, paling mengetahui maslahat dan mafsadat, palinh mengetahui yang memberikan manfa’at dan madlhorot, mereka menuntun umat pada jalan keamanan.

Bila saja orang umum dan pencari ilmu menjerumuskan diri pada ‘debu fitnah’, tidak memperdulikan ahli ilmu/para ulama, maka akan menambah kejelakan, mempertajam, memperbesar dan memperluas fitnah.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui kedudukan dirinya. Orang awam kewajibannya dengan dirinya sendiri[1] dan memikirkan amal dan ibadahnya seupaya di terima Robb nya. Jika mendapatkan perkara yang sulit maka wajib bertanya kepada ahli ilmu/ulama. Sebagimana firman Ta’ala :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalan kepada ahli ilmu !, jika kalian tidak mengetahui”. (QS. An Nahl : 43, Al Anbiya : 7).

Kewajiban tholibul ilmi harus sadar dengan kedudukannya, belajarnya, hapalannya dan menjaga lisannya kecuali dalam kebaikan. Jika ada orang awam bertanya kepadanya maka tunjukanlah dia kepada ahli ilmu/ulama. Ketahuilah wahai tholibul ilmi !, andaikan kamu memakai baju ulama (padahal dia belum jadi ulama –penj) kemudian menceburkan diri pada masalah-masalah fitnah; dengan menta’dil atau menjarh orang-orang yang dia kehendaki, dan mengumbar hukum di sini dan di sana, berfatwa dengan sesuatu yang sesuai dengan hawa nafsunya; Maka janganlah kamu merasa aman dengan makar Alloh, jangan merasa aman dari disingkapkannya (jati dirimu), sesungguhnya nabi r bersabda :

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

Yang berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya,  seperti memakai baju kebohongan”. (Mutafaq ‘alaih, dari Asma binti Abi Bakr rodiyallohu ‘anhuma).

Wahai para pencari ilmu, jarh dan ta’dil merupakan bagian agama kita, akan tetapi bukan pekerjaan setiap orang dan seenak perut.

Jarh wa ta’dil memiliki ahlinya, merekalah para ulama yang bertaqwa, yang ikhlas, yang jujur, yang kasih saying, yang bijaksana, yang terpilih, yang meletakan sesuatu pada kemestiannya, bukan dikarenakan ingin cari muka di hadapan seseorang, tidak terpengaruh dengan perasaan hati; Mereka hanya meletakannya pada tempatnya yang pantas dan mesti, tidak dzolim, tidak dikarenakan permusuhan, tidak dilandasi dendam dan tidak pula dikarenakan riya dan sum’ah.

Adapun membicarakan ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu merupakan perkara yang baku di antara ahli sunnah wal jama’ah, orang awam memberikan peringatan, demikian pula para pencari ilmu, mereka mengutif perkataan ahli ilmu tentang ahli ahwa/pengekor hawa nafsu dengan tanpa menambah dan tidak serampangan.

Adapun tentang fitnah, jika terjadinya antara dua orang alim dari kalangan ulama ahlu sunnah, maka tidak boleh ikut campur tentangnya kecuali ulama ahlu sunnah. Merekalah orang-orang yang paling mengetahui maslahat dan mafsadat, dan paling mengetahui, siapa yang mesti di ta’dil dan siapa pula yang berhak di jarh. Adapun orang awam dan pencari ilmu tidak boleh menjerumuskan diri ke dalam fitnah ini, apalagi dengan menjarh atau pun manta’dil.

Para ulama lah yang berhak menghukumi dua orang alim yang berselisih, dengan sesuatu yang bersesuaian dengan al Kitab dan as Sunnah. Sebagimana firman Ta’ala :

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al Hujuroot : 9-10).

Wahai para pencari ilmu, wajib bagi kalian untuk berlaku hati-hati dan tidak tergesa-gesa, karena nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

التأني من الله والعجلة من الشيطان

Sikap hati-hati dari Alloh, sedangkan tergesa-gesa dari syithon”. (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Abu Ya’la dari Anas. Syaikh Al Albani menghasankannya dalam Sahih al Jami, lihat as Sahihah No. 1795).

Aku mendengar guruku, Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy –rohimahulloh– berkata :

يا أهل السنة إياكم والسرعة، فإن السرعة تؤدي إلى الإنقلاب”.اهـ

“Wahai ahlu sunnah, hati-hatilah dari sikap cepat (tergesa-gesa), karena tergesa-gesa menghantarkan pada pemberontakan/kudeta”. Selesai.

Alangkah banyaknya pemilik pendapat merasa tenang berada di tengah-tengah kalian, dia mendapatkan teman dan penolong, dan tatkala kalian sodorkan pemikiran dan perkataannya pada ahli ilmu maka kalian mengetahui hakikat pemikiran dan pendapatnya.

Tidak setiap orang yang Alloh anugrahkan keahlian berkhutbah, atau menulis, atau sastra, atau hafalan, kemudian dia menjarh, atau menta’dil, atau menghukumi ada dalam ketetapan yang benar.

Perkataan yang pantas dikatakan kepadanya adalah : Urusan ini bukan bagian dan keahlian kamu; Ia merupakan kekhususan ahli ilmu. Kamu mestinya dihukumi, bukan menghukumi. Kami akan mengadukan keadaanmu pada ahli ilmu, inilah yang semestinya kamu katakan, wahai pencari ilmu. Adapun mengekor di setiap pemikiran; walaupun pemikiran yang rendahan, atau membiarkan kelancangan pada ahli ilmu; kamu terdiam seribu bahasa, bahkan menolongnya, maka tidak akan melahirkan kebaikan, selama-lamanya.

Wahai para pencari ilmu, kewajiban kita menempatkan manusia pada kedudukannya.

Ulama memiliki kedudukan dan kekhususan.

Pencari ilmu memiliki kedudukan dan kekhususan.

Orang awam pun memiliki kedudukan dan kekhususan.

Semuanya bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan, serta dalam menyebarkan dakwah salafiyah di tengah-tengah manusia. Dengan demikan akan tercapai persatuan, rasa cinta dan kasih sayang di antara kita. Sebagimana sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam :

ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا ! و يعرف لعالمنا حقه

“Bukan golongan kami orang yang tidak memuliakan yang tua di antara kami, dan tidak menyayangi yang muda di antara kami, dan yang tidak mengtahui hak ahli ilmu”. (HR. Ahmad dan Haikim dari Ubadah bin Shomit. as Syaikh al ‘Alamah al Albani  rohimahulloh menghasankannya dalam Sahih Al Jami’, No. 5443.

Kami memohohon kepada Alloh agar memahamkan kita pada agama.

Dan menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang shalih.

Serta mengumpulkan kalimat kaum muslimin, di atas kenenaran yang terang.

Segala puji bagi Robb semesta alam.

أبو إبراهيم محمد بن عبد الوهاب الوصابي العبدلي
الحديدة
في 15 / 9 / 1429هـ

Abu Ibrahim Muhammad bin Abdul Wahhab al Wushbiy Al ‘Abdaliy

Al Hudaidah pada tanggal 15/9/1429.

http://www.olamayemen.com/show_art31.html


[1] Tidak menceburkan diri pada urusan fitnah -penj.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: