Al Fhushul fi Mustholahi Hadits Ar Rosul, Syaikh Tsanaulloh Az Zahidi 2/2 (Selesai)

2/2

Pasal

Macam-Macam Hadits Yang Gholath

  1. Al Maqlub : Ia adalah hadits yang di matan atau sanadnya terdapat perubahan dengan tergantinya suatu lafadz dengan lafadz lain atau dengan mendahulukan dan mengakhirkan; dan yang semisal dengan itu. Seperti hadits yang mashur dari Salim bin Abdillah maka dijadikan dari Nafi’.  Contoh terbalik dalam matan adalah hadits Abi Hurairoh : “… sehingga tangan kirinya tidak mengetahui sesuatu yang diinfaqkan oleh tangan kanannya”. Maka rowi membalikannya menjadi : “…sehingga tangan kanannya tidak mengetahui sesuatu yang diinfaqkan oleh tangan kirinya”.
  2. Al Mushohaf : Ia adalah hadits yang terjadi kesalahan di dalam memberikan/menaruh titik pada huruf-huruf matannya. Seperti tashif Abi Bakr As Shuliyi pada kata ( سِتًّا ) menjadi     ( شَيْئاً ) di dalam hadits : “Barangsiapa berpuasa pada bulan Romadlhon dan mengikutinya enam hari dari bulan Syawal”. Dan seperti tashif Ibnu Lahi’ah pada kata : ( احْتَجَرَ )menjadi kata ( احْتَجَمَ )dalam hadits : “Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam membuat kamar di dalam masjid”. Atau kadang juga tashif bisa terjadi pada sanad, seperti tashif Yahya bin Ma’in Al ‘Awam bin Murojim menjdi Mujahhim.
  3. Al Muharrof : Ia adalah hadits yang didalamnya terdapat perubahan didalam syakl (pemberian harkat) dan di dalam i’rob (kedudukan kata), seperti kata كُلاَبٍ menjadi كِلاَبٍ, kata جُنَاحٍ menjadi جَنَاحٍ.

|||||||||||

Pasal

Tentang Macam-macam Hadits Ditinjau dari Jumlah Ruwat

Dari tinjauan ini para ulama membaginya pada dua pokok :

  1. Al Mutawatir : Para Muhaditsin berbeda pendapat dalam mendefinisikannya atas dua pendapat : Pertama : Pendapat pertama mendefinisikan (hadits mutawatir) dengan menentukkan jumlah ruwat tertentu. Seakan-akan definisi tersebut sebagi pembeda antara hadits mutawatir dengan yang lainnya; Maka di antara mereka ada yang menentukan jumlah lima, tujuh, sepuluh, dua belas, dua puluh, empat puluh, tujuh puluh, tiga ratus tiga beias sampai tiga ratus sembilan belas, empat ratus sepuluh, lima ratus sepuluh, tujuh ratus sepuluh; Ada pula yang menyatakan yang tidak bisa ditampung oleh satu negri, ada pula yang berpendapat seluruh ummat seperti ijma’. Serta pendapat-pendapat yang lainnya yang beraneka ragam dan rusak Kedua : Pendapat kedua mendefinisaikan hadits mutawatir dengan melihat pada tercapainya ilmu dan yaqin; Maka setiap hadits yang memberikan faidah yaqin disebut hadits mutawatir di sisi mereka. Sama saja, apakah dicapainya ilmu disebabkan dengan banyaknya jumlah (ruwat) atau dicapai dengan sebab sifat dhobt, itqon dan adalah; Tatkala sifat disisi mereka menempati kedudukan jumlah dari ruwat.
  2. Khobar Wahid : Ia adalah kebalikan dari mutawatir; Maka pengertian hadits ahad di sisi pendapat yang pertama adalah : hadits yang jumlahnya lebih sedikit dari jumlah mutawatir yang telah disebutkan.

Pembagiannya ada tiga :

    • Al Masyhur : Ia adalah hadits yang meriwayatkannya tiga orang atau lebih, tatkala tidak sampai pada salah satu bilangan mutawatir yang (telah) disebutkan.
    • Al ‘Aziz : Ia adalah hadits yang jumlah ruwatyna tidaklah (lebih) sedikt dari dua, walaupun bertambah darinya pada sebagian thobaqot.
    • Al Ghorib : Ia adalah hadits yang menyendiri dengannya seorang rowi pada setiap thobaqot sanad atau sebagiannya.

Menurut pendapat kedua  hadits ahad adalah yang memberikan faidah dzhon.

Aku berkata : Pondasi yang tetap lagi shahih di dalam masalah penerimaan khobar dan yang dengannya turun syari’at lagi tetap di atasnya urusan orang-orang yang memiliki akal yang sahih, suci dan selamat adalah tenang, Tumaninah dan pasti (untuk menerima) khobar  tsiqot yang dikenal di sisi mereka (muhaditsin) dengan kejujuran, amanat dan istiqomah, tanpa memberatkan diri untuk mengobarkan prasangka dan was-was di sekitarnya (sekitar hadits ahad –pent) dengan alasan akal untuk terjadinya berbagai kemungkinan. Kecuali dalam  masalah adaya kerancuan tertentu dan kondisi tertentu, itu pun dengan (telah) adanya khobar yang menunjukkan pada keadaan yang sebaliknya. Jika keadaanya demikian maka seyogyanya bersandar pada At Tatsabut (mencari kejelasan) dengan cara-cara yang lain.

Adapun pembagian khobar/hadits pada mutawatir dan ahad kemudian memberikan komentar bahwa faidah qot’i dan yakin seluruhnya bersama (hadits) mutawatir dan bahwasanya (faidah) dzhon seluruhnya bersama (hadits) ahad, maka  (perkataan seperti ini) tidak memiliki pondasi dari pondasi-pondasi orang muslim.

Hanya saja, ia adalah keragaman dan pembagian, pendahuluan dan kesimpulan yang dibicarakan pertama kali oleh ahli manthiq Yunani, kemudian meresap mempengaruhi kalangan ahli kalam, fuqoha dan ahli ushul dari kalangan kaum muslimin yang mempelajari kitab manthiq dan filsafat Yunani maka mereka membicarakannya dengan lisannya, dan menerima kesimpulannya, serta berpegang baik dengan perkara globalnya maupun rinciannya seperti berpegangnya seorang yang taqlid buta.

Kemudian para hakim Yunani ketika mereka membagi berita menjadi mutawatir dan ahad serta menetapkan hukum qoth’i untuk yang mutawatir, dan hukum zhon untuk yang ahad, mereka berada pada satu sisi ilmiyah tatkala masyarakat mereka berada diatas kerusakan aqidah, dan kebobrokan akhlak serta serta kehancuran nilai kemanusiaan dan beragam perkara lainnya yang menuntut untuk tatsabut, kejujuran dan amanah dalam berita dan yang lainnya.

Bersama itu mereka menghukumi berita-berita dari individu mereka dengan zhon, padahal yang tepat berita dari orang seperti mereka dihukumi dengan syak bukan dengan zhon.

Adapun kaum filsafat Islam dan para ahli ushul ketika mereka menghukumi berita dari para perawi hadits nabawi yang mulia yang mereka itu adalah inti masyarakat Islam, berada di puncak keadilan dan takwa serta di atas puncak hapalan, kemantapan kejelian dan kecerdasan, amanah, kejujuran dan kebersihan, (menghukumi berita mereka) dengan hukum yang sama dengan berita dari masyarakat yang fasid yaitu zhon, merupakan sikap yang tidak adil bersama ilmu, ma’rifah kebenaran dan tahqiq.

Bahkan dalam pendapat mereka menyamakan antara dua berita, -yang saya maksud antara berita dari masyarakat yang fasik dan fasid dengan berita dari para perawi hadits kalangan ahli taqwa dan pemilik keadilan- terdapat penghancuran terhadap seluruh bangunan Islam yang mulia dan indah secara menyeluruh, dan ini demi Allah merupakan pelanggaran serta kezhaliman yang besar wahai saudaraku kaum muslimin.

|||||||||||

Pasal

Tentang Macam-macam Mendapatkan (Hadits) dan shigoh Menyampaikan(nya)

  1. As Sima’ (Mendengar) dari lafadz syaikh : Ia adalah dengan cara : Syaikh membacakan/melafadzkan riwayatnya kepada para muridnya, bisa dari hafalannya atau pun dari kitabnya, supaya mereka (para muridnya) menghapalnya atau menulisnya sebagai bentuk persiapan untuk meriwayatkannya dari syaikh dengan sanadnya. Jumhur ulama berpendapat bahwa merupakan jalan/cara yang paling tinggi dalam menerima hadits dari para masyaikh. Seorang tholib boleh  berkata : « حَدَّثَنَا وحَدَّثَنِي ، أَو أَخْبَرَنَا وأَخْبَرَنِي ، أَو أَنْبَأَنَا وأَنْبَأَنِي ». Tatkala meriwayatkan hadits yang ia dengar dari syaikhnya yang telah disebut. Kecuali yang paling hati-hati adalah dia meriwayatkan dengan berkata : « سَمِعْتُ »
  2. Al Qiroah (membacakan) kepada Syaikh : Seorang tholib membacakan hadits-hadits kepada syaikhnya yang ia (hadits tersebut) berasal dari periwayatannya, dan dia (syaikhnya) mendengarkan. Yang paling hati-hati dalam keadaan seperti ini hendaknya tholib tersebut tatkala meriwayatkan hadits yang dia dapatkan dari syaikhnya itu (berkata) : قَرَأتُ عَلى فُلاَنٍ (Aku membacakan [hadits ini] kepada fulan); Jika dia membacakannya kepada syaikhnya. Atau dia berkata : قُرِئَ عَلَيْه وَأنَا أَسْمَعُ (Dibacakan kepada syaikh dan aku mendengarnya); Jika orang lain yang membacakannya kepada syaikh. Kebanyakan muhaditsin menta’birkannya dengan kata : أخْبَرَنَا أو أخْبَرَنِي (Mengkhabarkan kepada kami atau mengkhabarkan kepadaku).
  3. Al Ijazah : Ia adalah izin untuk menyampaikan riwayat; Seperti seorang syaikh berkata kepada muridnya : Sebagai contoh : aku memberikan izin (ijazah) kepada kalian untuk meriwayatkan dariku shahih Al Bukhori, atau seluruh yang didengar dariku. Pendapat yang benar adalah yang dipegang oleh jumhur ulama : Bolehnya riwayat dan beramal dengannya. Yang lebih utama hendaknya seorang yang telah diberikan ijazah kepadanya tatkala meriwayatkannya kembali mengatakan : أَجَازَ لِي فُلاَنٌ(Si Fulan telah mngkhabarkan kepadaku). Boleh pula dengan menyatakan : حَدَّثَنِي أو أخْبَرَنِي فُلاَنٌ إجَازَةً(Si Fulan mengkhabariku atau menceritakan padaku dengan ijazah).
  4. Al Munawalah : Ia adalah : Seorang syaikh memberikan kitabnya kepada muridnya; Dia (Syaikh tersebut) berkata : Ini riwayatku dari si fulan maka riwayatkanlah dariku. Itu adalah salah satu cara yang benar dalam menerima (hadits). Yang paling utama tatkala meriwayatkannya dengan berkata : نَاوَلَنِي وَأجَازَ لِي. Boleh pula untuk berkata : حَدَّثَنِي مُنَاوَلَةً atau أخْبَرَنِي مُنَاوَلَةً atau أخْبَرَنِي مُنَاوَلَةً وإجَازَةً.
  5. Al Kitabah : Ia adalah : Seorang syaikh menuliskan apa yang dia dengar untuk seseorang dengan tulisannya sendiri atau dengan perintahnya; Dan memberikan izin kepadanya (tholib) untuk meriwayatkan hadits yang telah dia menuliskannya.

|||||||||||

Pasal

Tentang Sebab-sebab Tautsiq bagi Perowi

At Tautsiq adalah : Pensifatan rowi dengan sesuatu yang menunjukkan pada kebenaran dhobtnya dan keistiqomahan ‘adalah nya.

Tetapnya keadilan seorang rowi (ditetapkan) dengan aspek-aspek berikut ini :

  1. Al Islam : Seorang rowi haruslah orang yang beriman, bukanlah orang munafiq, musyrik,  kafir atau orang yang dikafirkan disebabkan jeleleknya keyakinan dan amal(nya).
  2. Al ‘Aqlu : Hendaknya bukan seorang yang gila.
  3. Al Bulugh : Hendaknya bukan seorang anak yang belum tamyiz.
  4. Al Shidqu : Hendaknya dia seorang yang benar aksennya lagi terpercaya, bukan pendusta; Tidak dalam hadits Rosulillah dan tidak pula dalam pembicaraan manusia.
  5. At Taqwa : Dia seorang yang senantiasa waro’ ,  senantiasa beradab dengan baiknya akhlaq dan indahnya (baca : baiknya) kebiasaan.  Bukanlah seorang yang fasiq lagi mujahir – pelaku maksiat dengan terang-terangan – dengan dosa-dosa besar atau seorang yang terus menerus melaksanakan dosa kecil. Bukan pula seseorang yang menyepelekan perkara-perkara yang wajib dan fardlu.
  6. Al Syuhroh : Dia seorang yang dikenal sebagai pencari ilmu dan riwayat. Dia memilki guru-guru yang tsiqoh, selain itu guru-gurunya itu pun metautsiqnya, dia pun diketahui memilki murd-murid yang meriwayatkan darinya. Hendaknya dia bukan seorang yang majhul, baik ‘ain atau pun hal.
  • Berikut ini faktor-faktor yang menunjukkan shihatu dhobt :
  1. Dia meriwayatkan riwayatnya dengan benar, tidak ada kesalahan di dalam periwayatannya, yakni kesalahan yang banyak.
  2. Hafalannya kuat, maka ia pun mutqin dengan hafalannya sehingga dia meriwayatkannya dengan benar.
  3. Hendaknya dia sadar lagi perhatian tatkala menerima hadits di majlis syaikhnya, tidak lalai pikirannya dan tidak disibukkan dengan perkara yang lain.
  4. Meriwayatkan hadits dari kitab yang telah di koreksi kebenarannya, tidak meriwayatkan dari tulisan yang belum di koreksi.
  5. Periwayatannya  tidak menyelisih periwayatan orang-orang yang terpercaya; kecuali bila sedikit.
  6. Tidak bodoh terhadap penunjukkan lafadz dan maksud-maksudnya yang  syar’i.

|||||||||||

Pasal

Tentang Sebab-sebab Al Jarhu.

Al Jarhu adalah : Suatu (tho’nu) celaan terhadap keadilan rowi atau hafalannya; Atau pada keduanya. Dengan suatu celaan yang berkonsekwensi tidak diterima periwayatannya.

  • At Tho’nu di dalam keadilan seorang rowi bisa terjadi dengan sebab-sebab berikut :
  1. Al Kufru dan Al Syirku : Dikarenakan kekufuran dan kesyirikan merupakan perkara yang paling besar yang mewajibkan permusuhan kepada agama dan pemeluknya. Maka tidak diterima riwayat pelaku keduanya, bagaimanapun jujurnya dia.
  2. Dusta : Sama saja apakah di dalam hadits Rosululloh  atau di dalam pembicaraan manusia, apapun niatnya. Ini adalah jenis jarhu yang paling jelek di dalam keadilan.
  3. Fasiq : Ia adalah perbuatan maksiat (dosa) dan meninggalkan perintah-perintah Alloh. Pelaku fasiq yang kefasiqannya itu merupakan jarh di dalam keadilannya adalah seseorang yang terang-terangan di dalam melaksanakan dosa besar, seseorang yang terus menerus melaksanakan dosa kecil dan yang menggampang-gampangkan urusan kewajiban dan fardlhu.
  4. Al Bid’ah : Ia adalah perkara baru di dalam agama yang bukan bagian darinya; atau diartikan pula bahwa bid’ah itu adalah keyakinan-keyakinan terhadap sesuatu, bahwa sesuatu tersebut merupakan agama yang wajib beramal dengannya, bertaqorrub dan bertaubat kepada Alloh dengannya; bersamaan dengan itu syari’at tidak menetapkannya.
  5. Al Jahalah : Ia memilki dua martabat : Pertama : Keadaan perowi tidak dikenal sebagai seseorang yang mencurahkan perhatian di dalam  mencari hadits dan riwayat. Kemudian tidaklah meriwayatkan darinya kecuali seorang rowi saja. Kedua : Meriwayatkan darinya dua orang rowi, maka menjadilah salah seorang yang terkenal dengan ilmu. Akan tetapi tidaklah tetap dari seorangpun tentang tautsiq dan ta’dilnya.
  • Celaan di dalam dhobt disebabkan oleh sebab-sebab berikut :
  1. Suul Hifdzi adalah lupa atau tidak mampu untuk menyampaikan hadits yang dia hafal tatkala memerlukannya.
  2. Katsrotul Gholath : Banyak meriwayatkan hadits dengan redaksi kalimat yang tidak sesuai dengan yang semestinya, seperti perubahan, ziyadah (tambahan), terbalik dan yang semisalnya di dalam riwayatnya.
  3. Katsrotul Ghoflah : Ghoflah adalah menganggap remeh tatkala mendengarkan hadits, atau mendengarkannya sambil tiduran, atau menyibukan pikirannya dengan sesuatu yang dia baca di majlis sima’, atau dia meriwayatkan hadits dari asal yang tidak diterima atau tidak shahih (benar).
  4. Katsrotul Mukholafah : Banyak meriwayatkan dari riwayat hadits-hadits yang dengan periwayatannya itu menyelisihi periwayatan orang-orang tsiqot, maka jadilah haditsnya itu bertujuan untuk menyelisihi, baik syadz ataupun munkar.
  5. Al Ikhtilath : Rusaknya akal dan tidak adanya keteraturan perkataan dan perbuatan di dalam periwayatan, hal tersebut disebabkan sakit, kecelakaan, lanjut usia, hilangnya atau hilangnya kitab; maka dia lemah/tidak mampu menyampaikan riwayatnya dengan benar.
  6. At Talqin : Maknanya : Dikatakan kepada seorang rowi : “Ini hadits-hadits dari periwayatanmu dari Fulan”, Maka dia membenarkannya disebabkan ghoflah atau tasahulnya. Dan jika dia sengaja menerima talqin dan tidak ambil pusing walupun itu hadits yang dia tidak mendengar dari syaikhnya, maka menjadilah jarh itu pun di dalam adalahnya.

|||||||||||

Pasal

Kaidah-kaidah Jarh wa Ta’dil

  • Seluruh shahabat adil
  • Jarh tidak diterima bagi seseorang yang mereka (ahli hadits) telah sepakat atas keadilan dan ketsiqohannya, seperti Al Bukhori, Muslim, Ahmad, Syafi’i, Malik dan yang selain mereka –semoga Alloh senantiasa merahmati mereka –.
  • Jarh dan ta’dil tidak diterima kecuali dari tsiqot yang mutqin yang mengetahui sebab-sebab keduanya, dengan penetahuan yang baik.
  • Tidaklah disyaratkan bilangan seperti di dalam syahadah di dalam muzakkin.
  • Hanya semata menyebutkan tsiqo tentang seorang rawi tidaklah dianggap ta’dil bagi dia
  • Jarh diterima walaupun tidak disebutkan sebab-sebabnya jika orang yang menjarhnya adalah seorang yang tsiqot yang ridlho dan yang mengetahui sebab-sebabnya.
  • Hanya sekedar amal ahli ilmu atau fatwanya yang sesuai dengan suatu hadits tidaklah dianggap penshahihan darinya (terhadap hadits tersebut); dan tidak pula  dianggap sebagai pentsiqohan kepada rowi.
  • Jika saling bertentangan antara jarh mufasar dengan ta’dil pada diri seorang rowi maka tidak dikuatkan salah satunya dari yang lainnya secara muthlaq, bahkan sikap pertama yang harus diambil adalah melihat keadaan penta’dil dan penjarh dan kedudukan keduanya di dalam ilmu dan mumarrosah, kemudian melihat zaman, keadaan, lafadz dan sebab yang berasal dari keduanya (hingga muncul) hukum tersebut pada diri seorang rowi. Andaikan tidak, maka dirojihkan jarh sebagai bentuk kehati-hatian.
  • Seseorang yang tidak tetap jarh dan ta’dilnya, akan tetapi syaikhoni (Bukhori dan Musliam) berhujjah dengannya maka dia (rawi tersebuat) adalah tsiqoh.
  • Terhenti penerimaan jarh (ditolak) jika sebab yang mendorongnya adalah perbedaan I’tiqod atau persaingan antara teman sejawat.

|||||||||||

Pasal Tentang Jenis kitab Hadits

  1. As Shahih : Jamaknya adalah ‘As Shihah’; Maksud As Sahih adalah kitab yang penulisnya beriltizam untuk tidak memasukkan ke dalam kitabnya kecuali hadits-hadits yang sahih; Ia sangatlah banyak. Dua kitab yang paling pentingnya adalah : Sahih Al Bukhori, ia adalah kitab yang paling sahih setelah Kitabul ‘Aziz. Setelahnya adalah kitab Sahih Imam Muslim, Sahih Imam Ibnu Majah, Sahih Imam Muhammad bin Hibban Al Busthy, Sahih Imam Abi ‘Ali Sa’id bin Utsman bin As Sakan yang diwafatkan pada tahun 353 H.
  2. Al Jami’ : Jamaknya ‘Al Jawami’; Ia adalah kitab yang penulis menuliskannya (berdasarkan – pen) fiqih di dalam seluruh pembahasan agama, seperti aqidah, ibadah, mu’amalah, tarikh, adab, tafsir, ar riqoq, fitan, asroti as sa’ah, manaqib dan yang lainnya. Dan yang paling terkenalnya adalah Al jami’ As Sahih karya Imam Al Bukhori, Al Jami’ As Sahih karya Imam Muslim dan Al Jami’ karya Imam At Tirmidzi.
  3. Al Musnad : Jamaknya adalah ‘Al Masanid’; Ia adalah kitab yang penulis mengumpulkan riwayat seluruh shahabat pada satu tempat, seperti mengumpulkan hadits-hadits Abu Bakar di bawah namanya, seluruh hadits-hadits Abu Hurairoh di bawah judul namanya dan demikianlah (seterusnya); Dengan tanpa pemisahan antara shahih dan dlo’if. Orang yang pertama menulis kitab dengan menggunakan metode seperti ini adalah Imam Abu Daud At Thoyalisi. Kitab yang paling pentingnya adalah Musnad Imam Ahmad bin Hanbal –semoga Alloh senantiasa merahmati mereka semuanya –.
  4. Al Mu’jam : Jamaknya ‘Al Ma’ajim’ ia adalah kitab yang dikumpulkan di dalamnya hadits-hadits dengan susunan para shahabat, syaikh, negara atau kabilah. Pada umumnya tartib menggunakan huruf Hijaiyah. Dan yang ma’ajim yang paling terkenal adalah tiga ma’ajim yang ditulis oleh Abil Qosim At Thobroni; Ia adalah Mu’jam Al-Kubro, di dalamnya menggunakan susunan nama para shahabat; Al Ausath dan As-Sughro : Keduanya disusun dengan nama-nama syaikhnya.
  5. As Sunan : Ia adalah kitab yang penulis menuliskannya dengan menggunakan tabwib fiqih saja, tanpa menyebutkan masalah ‘aqo’id, manaqib, tarikh dan yang semisalnya.
  6. Kitab sunan yang paling terkenal adalah : Sunan Abi Daud, Sunan An Nasai, Sunan Ibnu Majah, Sunan Ad Darimi dan Sunan Ad Daruquthni.
  7. Al Juz-u : Jamaknya Al Aj-za; Ia adalah kitab hadits yang penulis menyendirikan satu masalah tertentu, seperti juz-i rof’il yadaian karya Imam Al Bukhori, juz-il qiro-ah khof Imam karya Al Baihaqi dan yang lain-lainnya dari (kitab) Aj-z­a.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

|||||||||||

Pasal

Jalan-jalan sabr ar riwayat, sanad dan matan

1. Al Mutaba’ah : Ia ada dua macam :

  • Tammah : yaitu yang terjadi bagi rawi itu sendiri, di mana meriwayatkan dari gurunya murid yang lain selain dirinya dengan riwayat seperti yang diriwayatkan olehnya dari syaikh tersebut.
  • Qoshiroh: yaitu yang terjadi bagi syaiknya si rawi atau yang diatasnya

Contoh: Imam Syafi’i meriwayatkan sebuah hadits dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar , beliau menyendiri dengan satu kata atau satu kalimat dalam matan hadits tersebut dari para shahabat Malik.

Jika kita mendapati salah seorang dari murid-murid Malik yang meriwayatkan dari Malik dengan kalimat yang sama seperti yang diriwayatkan oleh Syafi’i, maka ini disebut mutaba’ah tammah bagi Syafi’i.

Jika tidak didapati dari murid-murid Malik yang meriwayatkan hal itu darinya, tetapi kita dapati selain Malik yang meriwayatkan dari Abdullah bin Dinar atau selain Abdullah bin Dinar meriwayatkan dari Ibnu Umar atau selain Abdullah bin Umar meriwayatkan secara marfu’ dengan kalimat tersebut maka setiap bentuk yang disebutkan di atas disebut mutaba’ah qoshiroh.

2.  Asy Syahid : diungkapkan untuk dua makna:

  • Sebuah hadits dikuatkan oleh matan hadits yang lain yang serupa dalam lafazh dan maknanya atau dalam maknanya saja yang diterima dari shahabat yang lain. Penyertaan secara muthlak dan penguatan lafazh atau makna bagi sebuah hadits, sama saja baik diterima dari shahabat yang sama maupun dari shahabat yang lain. Dan seringkali setiap makna tersebut dimaksudkan untuk makna yang lainnya.

|||||||||||

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: