Al Fushul fi Mustholahi Haditsi Ar Rosul, Syaikh Tsanaulloh Az Zahidiy 1/2

الفصول

في

مصطلح حديث الرسول

تأليف

أ- الشيح حافظ ثناء الله الزاهدي

رئيس الجامعة الإسلامية

بمدينة صادق آباد – باكستان

092-702-76678

حقوق الطبع محفوظة للمؤلف


بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ للهِ وَحْدَه ، وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلى مَنْ لاَّ نَبِـيَّ بَعْدَه ، مُحَمَّـدِ بنِ عَبْدِ الله ، وَعَلى آلِهِ   وَصَحْبِه ، وَعَـلى مَنْ تَمَسَّكَ بِدِيْنهِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِه ، وَأَشْـهَدُ أَنْ لاَّ إلهَ إِلاَّ الله وَحْدَه لا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

أمّا بَعْدُ : فَهذِهِ فُصُولٌ فِي عِلْمِ مُصْطَـلَحِ الْحَدِيْثِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيْفِ وِفقَ الْمَنْهَجِ الْمُقَرَّرِ لِطَلَبَةِ السَّنةِ الدِّراسِيَّةِ الثَّانِيَةِ فِي الْجَامِعَةِ الإسْلاَمِيَةِ بِمَدِيْنَةِ صَادِقْ آبَاد بَاكِسْتَان

جَمَعْتُهَا مِنْ كُتُبِ أَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ اكْتِفَاءً بِمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الطَّالِبُ فِي الْمَرْحَلَةِ الابْتِدَائِيَّةِ الْمَذْكُورَةِ مِنْ مُهِمَّاتِ مُصْطَلَحَاتِ هذَا الْعَلْمِ الشَّريفِ ، بِأُسْلُوبٍ سَهْلٍ وَاضِحٍ ، وَعِبَارَاتٍ مُخْتَصَـَرةٍ كَـافِيَـةٍ ، فِي رِسَـالَةٍ سَمَّيْـتُها    الْفُصُولُ فِي مُصْطَلَحِ حَدِيْثِ الرَّسُولِ

وَاللّـهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَسْألُ أَنْ يَّنْفَعَ بِهَا طَلَبَةَ الْعِلْمِ ، وَيَتَقَبـَّلَ مِنِّي وَهُوَ وَلِـيُّ التَّوْفِيْقِ وَالسَّدَادِ ، وَعَلى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ ، وَبِالإجَابَةِ جَدِيْرٌ ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

وكتب

العبد الفقير إلى الله العلي

حافظ ثناء الله الزاهدي

24/5/1423ها صادق آباد

Ham_zahidi@yahoo.com

Ham_zahidi@hotmail.com

*****************************************

Pasal

Tentang Adab – Adab Pencari Ilmu

  1. Pasal pertama yang wajib bagi para pencari ilmu hadits Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah untuk mengikhlaskan niat dalam mempelajarinya, hendaklah tujuannya  hanya wajah Alloh subhanahu; Tidak menjadikan ilmu ini sebagai batu loncatan terhadap suatu tujuan tertentu dari tujuan-tujuan duniawiyah.                     Abu Hurairoh telah meriwayatkan secara marfu’ : “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu dari sesuatu yang semestinya dicari karena wajah Alloh tetapi dia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dari bagian dunia maka dia tidak akan mendapatkan wanginya surga pada hari kiamat”. Sahih. Dikeluarkan oleh Abu Daud dengan No. (3664) dan Ibnu Majah dengan No. (252). Diriwayatkan dari Jabir ibni Abdillah secara marfu’ : “Janganlah kalian mempelajari suatu ilmu untuk tujuan menyaingi para ulama; dan jangan pula untuk tujuan menipu orang-orang bodoh, dan jangan pula memilih-milih majlis, barangsiapa melakukannya, maka neraka-neraka”. (Sahih, HR. Ibnu Majah (254) dan Ibnu Hibban dalam Sahih (674).
  2. Wajib  bersungguh-sungguh untuk berhias diri dengan akhlaq  yang cerdas dan bertatakrama dengan tatakrama yang diridlhoi selama belajar dan sesudahnya.                       Abu Darda telah meriwayatkan secara marfu’ : “Tidak ada sesuatu yang diletakkan dalam timbangan yang lebih berat daripada baiknya akhlaq”. Sahih. Imam Tirmidzi mecantumkan hadits ini dengan No. (2003). Dari Abdillah bin ‘Amr secara marfu’ : “Orang pilihan di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya”. Sahih. At Tirmidzi mneluarkannya dengan No. (1975).  Abu ‘Asim An Nabil رَحِمَهُ اللهberkata :”Barangsiapa mencari hadits maka sungguh dia telah mencari perkara yang paling tinggi; Maka wajib untuk menjadi manusia pilihan”.
  3. Wajib baginya untuk mengamalkan hadits-hadits yang dia telah mendengarnya, hal tersebut didasari oleh suatu riwayat yang dibawakan oleh Abu Barzah al Aslamy secara marfu’ : “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya untuk apa dia pergunakan, tentang ilmunya pada hal apa dia kejakan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan dalam hal apa dia belanjakan, serta tentang badanya dalam hal apa dia habiskan”.  Sahih. At Tirmidzi mengeluarkannya dengan No. (2417).
  4. Wajib menghormati guru dengan sebenar-benar penghormatan dan memuliakannya dengan sebenar-benar pemuliaan, hal tersebut  didasari oleh hadits Anas bin Malik secara marfu’ : “Bukan dari golonganku[1] orang yang tidak  menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua”. Sahih. At Tirmidzi meriwayatkannya dengan No. (1919) dan Ahmad dalam Musnadnya dengan No. (2325).
  5. Wajib untuk tidak kikir dengan sesuatu yang dia telah dengar atau sesuatu yang dia telah pahami kepada saudaranya dari pencari ilmu yang mereka lebih rendah pemahaman dan kepintarannya, karena sesungguhnya perbuatan tersebut merupakan sifat tercela yang menjangkiti kebanyakan dari pencari ilmu.                           Imam Malik رَحِمَهُ اللهberkata : “Di antara keberkahan hadits adalah saling memberikan faidah di antara mereka”.                                                   Seorang penuntut ilmu telah tertinggal  dalam menulis sesuatu dari hadits, maka berkatalah gurunya kepadanya (guru tersebut adalah Ishaq bin Rohuwaih) : “Lengkapilah sesuatu yang kamu tertinggal dari para pencari ilmu (yang lainnya –pen) ! Pencari ilmu itu menjawab : “Mereka tidak mau meminjamkannya padaku” Maka Syaikh mengomentari : “Jadi kalau begitu, mereka tidak akan beruntung”.
  6. Hendaknya bagi seorang penuntut ilmu itu tidak menghalanginya rasa malu atau rasa sudah lebih tua, tidak pula merasa hina untuk menulis dari seseorang yang lebih muda darinya dari sesuatu yang dia bisa mengambil manfa’at daripadanya.

|||||||||||

Pasal

Tentang Istilah-istilah di dalam Matan

  1. Al Hadits : Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi  wa sallam  dari qaul (perkataan), fi’li (pebuatan),  taqrir (persetujuan) atau sifat. Yang dimaksud dengan taqrir adalah : Sesuatu yang dilakukan dengan perbuatan atau dikatakan pula[2] dengan perkataan dengan kehadiran Rosululloh Sholallohu ‘alaihi  wa sallam   atau beliau dikabari tentang hal tersebut dan beliau tidak mengingkarinya. Yang dimaksud dengan sifat adalah : Sesuatu yang hal tersebut merupakan di antara sifat dari sifat-sifat Nabi Sholallohu ‘alaihi  wa sallam ; Al Kholqiyyah (Penciptaannya), sebagimana tercantum dalam hadits Al Barro : “Rosululloh merupakan pemilik wajah yang paling rupawan serta pemilik akhlak yang paling baik. Langkah (kaki) beliau tidaklah terlalu lebar dan tidak pula pendek-pendek.” Muslim mengeluarkannya dengan No. (2337). Dan Al Khuluqiyyah (akhlaq), sebagaimana hadits Anas : “Rosululloh merupakan manusia yang paling baik akhlaqnya”. Muslim mengeluarkannya dengan No. (2310).
  2. Al Khobar : Dimutlakkan dan dimaksudkan dengannya adalah hadits, dengan arti yang telah terdahulu penjelasannya. Selain arti di atas (yakni bermakna hadits –pent) dimaksudkan pula dengan al khobar itu adalah sesuatu yang lebih umum dari hadits daripada khobar-khobar (berita-berita).
  3. Al Atsar : Selain dimutlakan dan dimaksudkan pada hadits Rosululloh Sholallohu ‘alaihi  wa sallam, ia juga memiliki pengertian sesuatu yang disandarkan kepada shohabat dan tabi’in, dari perkataan dan perbuatan.
  4. As Sunnah : Pengertian Sunnah menurut muhaditsin dan ahli ushul adalah setiap perkara yang bersumber dari Nabi Sholallohu ‘alaihi  wa sallam , dari perkataan, ucapan atau pun taqrir. As Sunnah menurut para fuqoha adalah setiap perkara yang telah tetap dari Rosululloh Sholallohu ‘alaihi  wa sallam  dari suatu hukum,  hukum sesutu tersebut tidaklah fardlhu atau pun wajib. Adapun di sisi para ulama w’adi dan irsyaad memiliki arti : Kebalikan dari al bid’ah.
  5. Al Marfu’ : Ia terbagi pada dua : (1) Sharih : Ia adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi  wa sallam, baik perkataan, perbuatan atau pun taqrir secara jelas. (2) Tidak sharih : Ia adalah perkataan shohabat atau perbuatannya yang tidaklah mungkin perkataan atau pererbuatan tersebut bersumber dari sisi akal dan ijtihad. Seperti berita-berita tentang kejadian yang telah berlalu atau dari kejadian-kejadian yang akan datang; Demikian pula sesuatu yang dapat dicapai dikarenakan sebab perbuatan tertentu dari pahala yang khusus atau siksa yang khusus. Selain dinamakan marfu’ ghoiru sharih (tidak jelas) juga dinamakan marfu secara hukum.
  6. Al Mauquf : Ia adalah sesuatu yang disandarkan kepada shahabat, baik perkataan ataupun perbuatan; Dan sama saja apakah sanadnya ithishol (bersambung) kepadanya ataupun inqitho (terputus).
  7. Al Mauquf : Ia adalah sesuatu yang disandarkan kepada tabi’in dan orang-orang yang setelahnya, baik perkataan ataupun perbuatan; Dan sama saja apakah sanadnya ithishol (bersambung) kepadanya ataupun inqitho (terputus).
  8. Mutafaq ‘alaih : Ia adalah hadits yang bersepakat dalam pengeluarannya Al Bukhori dan Muslim – رَحِمَهُمَا اللهُ -di dalam kedua kitab shahihnya .
  9. Al Musnad : Ia adalah hadits  yang marfu’, yang besambung sanadnya.
  10. Hadts Qudsi : Ia adalah hadits yang Nabi J  meriwayatkannya dari Robb-nya Yang Maha Tinggi – lafadnya atau maknanya selain Al Qur’an.

|||||||||||

Pasal

Tentang Pengertian-Pengertian Ar Ruwat

  1. As Shohaby : Ia adalah setiap muslim yang bertemu Nabi Sholallohu ‘alaihi  wa sallam  dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal di atas keimanan pula. Para shahabat seluruhnya terpercaya nan adil, jahalahnya mereka tidaklah bermadlorot tanpa keraguan.
  2. At Tabi’iy : Ia adalah orang-orang yang bertemu para shahabat dalam keadaan beriman dan meninggal di atasnya. Disyaratkan untuk menerima riwayatnya adalah keadaannya; yakni tsiqoh.
  3. Tabi’u At Tabi’in : Ia adalah orang-orang yang bertemu tabi’in dari kalangan orang-orang yang beriman. Disyaratkan untuk menerima riwayatnya adalah keadaanya, yakni tsiqoh.
  4. Ats Tsiqoh : Ia adalah orang-orang yang telah mengumpulkan sifat adil, dlhobith dan itqon. Sifat adil adalah suatu ungkapan tentang terus menerusnya rowi di atas kejujuran, amanah dan taqwa; Serta selamatnya rowi dari kesyirikan, bid’ah, kefasiqan, kefajiran dan terjaga dari sesuatu yang mencacati muru’ahnya. Yang dimaksud dengan dlhobtu Ar rowi dan itqon adalah pengetahuannya terhadap riwayat sebagaimana kemestiannya; Pemahamannya terhadap riwayat dengan pemahaman yang mendalam; Hapalnya terhadap riwayat tersebut benar-benar suatu hapalan yang sempurna, tanpa keragu-raguan di dalamnya; Dan tetapnya itu semua (pemahaman dan hapalan –pent) dari pertama mendengar sampai waktu menyampaikan.
  5. Al Adlu : Ia adalah seorang muslim, baligh dan berakal yang menunaikan kewajiban-kewajiban, meninggalkan dosa besar, tidak terus menerus dalam dosa kecil serta beradab dengan akhlaq yang terpuji dan memiliki kebiasaan yang baik.
  6. Adh Dhobith : Ia adalah seseorang yang mutqin dengan sesuatu yang dia hapa; di dalam dadanya dari hadits-hadits, dengan asumsi dia bisa mengingatnya dengan benar setiap saat  berkeinginan untuk meriwayatkannya.  Atau seorang yang menulis apa yang di dengar dari riwayat-riwayat dan menjaga tulisannya; Dari pengahapusan, perubahan, kerusakan dan yang semisalnya. Pada umumnya seseorang bisa dinilai dhobith (dan tidaknya)  dari kesesuaian riwayatnya dengan at tsiqoot (orang-orang yang terpercaya) yang mereka paham dan hapal terhadap lafadz atau  makna (adlobithin).
  7. Al Mutqin : Ia adalah adhobith itu sendiri bersama adanya nilai tambah dari kekuatan dhobith (nya) itu.
  8. Ats Tsabtu : Ia adalah seorang yang adil lagi dhobith; Ia berada pada puncak derajat al quwah.
  9. Al Hafidz : Menurut salah satu pendapat, ia adalah seseorang yang telah menghafal seratus ribu hadits, matan dan sanad di luar kepala.
  10. Al Hujjah : Menurut salah satu pendapat bahwa ia adalah seseorang yang ilmunya meliputi tiga ratus ribu hadits. Riwayat mereka (dari point 1-10) semuanya sahih lagi diterima jika sanad-sanadnya selamat dari keterputusan, syudud dan ‘illah.
  11. Adlo’if : Ia adalah seorang perowi yang lemah hafalannya atau hilang keadilannya. Riwayatnya lemah lagi ditolak jika dia menyendiri dalam periwayatannya; Jika diikuti (ada Tabi’) maka kedloifannya menjadi ringan, jika dia didloifkan disebabkan (lemahnya) hafalan bukan keadilannya; Jika didloifkan gara-gara keadilannya maka haditsnya tidak menjadi ringan kedloifannya disebabkan ada mutaba’ah.
  12. Majhul ‘Ain : Dinamakan pula Majhul Al ‘Adalah dhohir dan bathin. Ia adalah seseorang yang tidak mashur sebagai seorang pencari ilmu, para ulama tidak mengenalnya dan tidaklah diketahui haditsnya kecuali dari seorang rowi saja. Periwayatannya tidak diterima disisi muhaditsin (ahli hadits).
  13. Majhul Hal :  Ia adalah seseorang yang diketahui jati dirinya dengan dua periwayatan darinya atau lebih dari orang-orang yang terkenal keilmuannya, (tapi) tidak ada seorang pun yang menyatakan tsiqoh kepadanya.
  14. Al Mastur : Ia adalah sama dengan majhul hal. Dinamakan pula majhul ‘adalah bathin tidak dlhoir. Hukum riwayat bagi keduanya (poin13&14) adalah ditolak pula.
  15. Muttaham bil Kadbi : Ia adalah seseorang yang telah terkenal tukang dusta di tengah manusia dan keadaanya terkenal karena dustaannya itu. Riwayatnya ditolak secara mutlaq.
  16. Al Kadzab : Ia adalah seseorang yang telah diketahui kedustaanya atas nama Nabi Sholallohu ‘alaihi  wa sallam, sama saja dia berdustanya itu didasari dengan niat yang jelek, seperti berdustanya orang-orang-orang zindiq (munafiq) dan ahli bid’ah pada hadits-hadits untuk dirubah dan dimanipulasi; Atau berdustanya itu didasari niat baik, seperti yang dinukil dari sebagian Shufiyyah dan para da’i yang meletakkan hadits-hadits (dusta) dalam keutamaan amal. Riwayatnya ditolak secara mutlaq.
  17. Al Matruk : Ia adalah orang yang hilang keadilannya disebabkan tetapnya julukan pendusta di tengah-tengah manusia. Riwayatnya ditolak. Kedloifannya tidaklah menjadi ringan disebabkan adanya mutaba’ah dan syawahid.
  18. Al  Mubtadi’ah : Ia adalah julukan bagi pelaku bid’ah dalam keyakinan atau di dalam perbuatan. Bid’ah adalah : Beribadah kepada Alloh dengan sesuatu yang tidak disyariatkanNya. Atau bisa juga didefinisikan : bid’ah adalah keyakinan tentang suatu perbuatan tertentu bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang syar’i dari segi bentuk dan shuroh; Dan (keyakinan bahwa perbuatan tersebut merupakan) sebab untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan yang menjembatani untuk mendapatkan pahala dan ganjaran. Bersamaan dengan itu syari’at tidaklah mensyariatkan dan tidak pula menetapkan perbuatan tersebut sebagai bentuk mendekatkan diri (taqorrub) lagi mendapat pahala. Bid’ah terbagi dua : (1). Mukaffiroh : Ia adalah (bid’ah) yang berkonsekwensi kufur. Riwayat dari orang model begini ditolak secara mutlaq. (2). Mufassiqoh : Ia adalah (bid’ah) yang berkonsekwensi fasik. Riwayat dari orang model begini diterima dengan dua syarat : (1) Tidaak menyeru kepada bid’ahnya. (2). Riwayat tersebut  tidak yang menguatkan bid’ahnya.
  19. Al Mukhtalith : Ia adalah sesorang  yang telah rusak susunan akalnya disebabkan sakit, bencana, telah tua atau yang sejenisnya; Atau (mukhtalith) disebabkan hilang kitabnya, maka dia tidak mampu untuk menyampaikan riwayat yang dia inginkan sebagimana mestinya. Maka suatu riwayat yang disampaikan sebelum ikhtilath maka diterima; Jika dia termasuk perawi yang terpercaya. Adapun suatu riwayat yang disampaikan setelah ikhtilath demikian pula bila riwayat yang tidak bisa dibedakan apakah sebelumnya atau sesudahnya  maka  tidak diterima periwayatannya.
  20. Al Wadho’ : Ia adalah seseorang yang mereka-reka hadits atas nama Rosululloh J  secara dusta nan bohong. Riwayatnya ditolak secara mutlaq.

|||||||||||

Pasal

Tentang Macam-Macam Hadits Maqbul

1.   Shahih : Ia terbagi dua :

  • Shahih lidzatihi : Ia adalah hadits yang musnad; Yang bersambung sanadnya; dari awal sampai akhirnya dengan kutifan yang sempurna keadilan dan dhobthnya dari (orang) yang semisalnya pula; Dan hendaknya riwayat tersebut tidak syad (ganjil) dan tidak cacat.
  • Shahih lighoirihi : Ia adalah hadits yang bersambung sanadnya dari awal sampai akhirnya dengan nukilan dari yang adil, tetapi dhobtnya lebih rendah dari yang pertama, akan tetapi diikuti dengan jalan yang lain yang sama atau rojih; Dan hendaknya pula tidak syad dan cacat. Ia di bawah shahih lidzatihi di dalam kekuatannya.

2.    Al Hasan : Ia terbagi dua :

  • Hasan lidzatihi : Ia adalah hadits yang bersambung sanadnya dengan nukilan dari yang adil tetapi dhobtnya lebih rendah dari shahih; Dan hendaknya pula tidak syad dan cacat. Derajatnya lebih rendah dibandingkan shahih lighoirihi.
  • Hasan lighoirihi : Ia adalah hadits yang perowinya telah didloifkan, bukan karena fasiq, dusta ataupun keterputusan sanadnya. Akan tetapi kedloifannya menjadi ringan dengan sebab adanya mutaba’ah atau syahid.Derajatnya di bawah hasan lidzatihi.

3.  Al Mahfudz : Ia adalah hadits yang yang diriwayatkan oleh orang yang sangat terpercaya; Tetapi (hadits tersebut) menyelisihi periwayatan orang terpercaya; Baik dengan adanya penambahan ataupun pengurangan, di dalam matan ataupun sanad.

4. Al Ma’ruf : Ia adalah hadits yang yang diriwayatkan oleh orang yang terpercaya, (periwayatannya) menyelisihi riwayat orang yang dloif.

|||||||||||

Pasal

Tentang Macam-Macam Hadits Yang Mardud

  1. Al Dlo’if : Ia adalah hadits yang tidak memenuhi sebagian dari sifat-sifat (hadits) shahih atau seluruhnya.
  2. Al Munqoti’ : Ia adalah hadits yang tidak bersambung sanadnya; Dengan jenis apapun terputusnya.
  3. Al Mu’dhol : Ia adalah hadits yang jatuh (baca : terputus)  sanadnya pada dua (thobaqot) ke atas di tempat manapun ia, dengan syarat terputusnya itu secara berurutan dan saling mengikuti.
  4. Mursal At Tabi’i : Ia adalah hadits yang Tabi’in menyandarkannya kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi  wa sallam . Tabi’i itu berkata : Rosululloh Sholallohu ‘alaihi  wa sallam  bersabda. Maka ia termasuk hadits dloif di sisi para muhaditsin; Alasannya adalah adanya kemungkinan-kemungkinan; Kemungkinan yang sakot bersama Shahabat adalah seorang Tabi’in, atau dua atau lebih banyak Tabi’in lagi.
  5. Al Mu’alaq : Ia adalah hadits yang dibuang dari awal isnad; Sebagian (isnadnya) ataupun semuanya. Jika keadaan yang dibuang itu ma’ruf lagi tsiqoh maka dijadikan hujjah, apabila tidak (ma’ruf dan tsiqoh) maka dlo’if.
  6. Al Mu’an’an : Ia adalah hadits yang sebagian atau seluruh ruwat sanadnya meriwayatkan dari orang yang di atasnya dengan menggunakan shigoh ‘an (عَنْ), seperti عَنْ فُلاَنٍ عَنْ فُلاَنٍ (dari fulan dari fulan). Hadits yang diriwayatkan seperti ini maushul dan diterima dengan syarat selamatnya mu’an’in dari tadlis dan tetapnya liqo di antara mereka; Jika tidak (terpenuhi kedua syarat tersebut maka dlo’if dan ditolak.
  7. Al Syad : Ia adalah riwayat yang diriwayatkan orang tsiqoh tapi keadaan riwayat tersebut tidak sesuai dengan periwayatan orang yang lebih tsiqoh daripadanya, serta tidak mungkin untuk menjama(nya).
  8. Al Munkar : Ia adalah suatu riwayat yang diriwayatkan oleh seorang yang dlo’if; Selian itu riwayat tersebut menyelisihi periwayatan orang yang lebih mulia daripadanya, dari perawi tsiqot.
  9. Al Mu’allal : Ia adalah hadits yang apabila diteliti maka di dalam hadits tersebut terdapat ‘ilah yang mencacati keshahihannya; Bersamaan dengan itu, dhohirnya terlihat selamat dari cacat tersebut.
  10. Al Mudthorib : Ia adalah hadits yang suatu waktu kadang diriwayatkan seperti ini dan dalam waktu yang lain kadang diriwayatkan seperti itu, berbeda dengan yang pertama; Dengan keadaan sama dan tidak mungkin untuk menjama’ keduanya.
  11. Al Matruk : Ia adalah hadits yang tidak dikenal kecuali dari seorang rowi yang mutahim bil kadbi, fasiq atau dari seseorang yang sangat jelek/rusak kesalahannya.
  12. Al Mudallas : Ia adalah hadits yang di dalamnya terdapat manipulasi dari seorang rowi dengan salah satu dari macam-macam tadlis; Ia terbagi dua : Tadlis Sanad : Ia adalah : Seorang rowi meriwayatkan (hadits) dari seseorang yang dia bertemu dengannya namun tidak mendengar hadits darinya, dengan harapan (orang lain menduga) bahwa dia mendengar periwayatan orang tersebut. Tadlis Suyukh : Ia adalah : Seorang rowi meriwayatkan suatu hadits yang dia mendengar hadits tersebut dari gurunya, kemudian dia menamai gurunya dengan nama yang tidak dikenal; Tujuan dari perbuataanya adalah supaya tidak diketahui kedlo’ifan gurunya atau disebabkan usianya yang masih muda.
  13. Al Mursal Al Khofi : Ia adalah : Seorang rowi meriwayatkan (hadits) dari orang yang sezaman dengannya namun dia tidak mendengar darinya, (meriwayatkan) dengan menggunakan lafadz yang membawa pada sangkaan bahwa dia telah mendengar (hadits tersebut darinya).
  14. Al Mudroj : Ia adalah hadits yang seorang rowi memasukan lafadz-lafadz (tertentu) kedalam matannya yang bukan bagian dari hadits tersebut dengan tanpa penjelasan. Tidak boleh berpaling pada idroj, lafadz yang diidrojkan tidaklah dihitung suatu lafadz yang  memilki hukum marfu’.
  15. Al Maudu’ : Ia adalah khobar dusta yang disandarkan kepada Rosululloh Sholallohu ‘alaihi  wa sallam; Sebagai bentuk kedustaan kepadanya Sholallohu ‘alaihi  wa sallam . Maka tidak boleh menyandarkannya kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi  wa sallam  dengan tanpa penjelasan.

|||||||||||

Bersambung …

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: