Silsilah Kaidah; Aqidah dan Manhaj 2

Kaidah Kedua :

Tidak Ada Pertentangan Antara Nas Yang Sahih Dengan Akal Yang ‘Murni’.

لا يتعارض نصٌ صحيح وعقلٌ صريح

Penjelasan Kaidah  :

Kaidah ini merupakan diantara lima silsilah kaidah emas yang senantiasa diyakini dan diajarkan oleh para ulama, adapun kelima kaidah tersebut adalah :

  • Antara Nas Al-Qur’an Tidaklah ada Tanaqud (bertentangan/berlawanan).
  • Antara Sunnah yang Shahih Tidaklah Saling Berlawanan/Bertentangan.
  • Antara Al-Qur’an dan As-Sunnah Tidak Saling Bertentangan.
  • Al-Adillah As-Sam’iyah (al-Qur,an dan as-Sunnah) Tidaklah Bertentangan dengan Al-Adillah al-Hissiyah.
  • Al-Adillah As-Syar’iyyah Tidak Bertentangan dengan Al-Adillah Al-’Aqliyah As-Shorihah (Dalil-Dalil Akal yang Murni).

Ahlu sunnah wal jama’ah berkeyakinan tentang tidak adanya kemungkinan pertentangan antara nas yang shahih dengan akal yang murni; selama-lamanya. Karena Dia-lah Al-Haq yang telah menurunkan al-Kitab dan as-Sunnah, dan Dia pulalah yang telah menciptakan akal. Maka jika didapatkan adanya suatu yang ‘dirasakan’  bertentangan antara nas dan akal maka tidaklah akan keluar dari dua kemungkinan :

Kemungkinan pertama : Nas tersebut tidaklah shahih. Maka jika ini kemungkinannya maka wajib mengadakan penelitian tentang keshahihan nas[1] tersebut. Jika setelah mengadakan penelitian dan ternyata nasnya shahih, maka kita berpindah pada kemungkinan yang kedua.

Kemungkinan Kedua : Kemurnian akal. Tentang kemurnian akal ini kembali pada al-bahits; Yakni disyaratkan si peneliti ini memiliki akal yang selamat di dalam berpikir serta meyakini manhaj ahlu sunnah wal jama’ah, terlebih-lebih jika nas yang dibahas tersebut merupakan nas-nas asma dan sifat.

Maka jika telah terpenuhi keshahihan nas dan keselamatan akal maka demi Alloh tidaklah mungkin didapatkan ta’arudh dan tanaqud.

Kenyataan telah membuktikan, bahwa seluruh orang yang mendakwakan adanya pertentangan antara nas dan akal hanyalah ahlu bid’ah dan ahli kesesatan.

Kita tidaklah menemukan satu bentuk pertentangan dari ikhtilaf tadlhod[2] di dalam masalah aqidah antara salaful ummah; Hal demikian karena telah terpenuhinya dua syarat ini, sahnya nas dan selamatnya akal dari penyakit-penyakit ad-dakhiliyah.

Alloh Ta’ala telah memerintahkan untuk mentadaburi kitab-Nya di dalam banyak tempat, maka andaikan kita mengatakan adanya kemungkinan pertentangan antara keduanya maka apa faidahnya perintah Alloh tersebut ?[3]. Maha Suci Alloh dari Perkataan yang sia-sia tanpa faidah dan hikmah.

Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat penting di dalam madzhab ahli sunnah wal jama’ah; sehingga  Syaikhul Islam menyendirikan pembahasan ini di dalam kitabnya yang besar dan sangat berfaidah, yakni kitab “Dar’u Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql”.

Kaidah ini pun merupakan pembeda antara ahli haq dengan ahli kesesatan; dari orang-orang yang mepertuhankan akal (mu’tazilah dan ahli kalam[4]) dan orang-orang yang mematikan akal (ghulat shufiyah dan pengekor syi’ah rofidlhoh[5]).

Maka di sisi ahlu sunnah ada dua pokok yang sangat penting yang harus dipahami :

  1. An-Naql merupakan pokok dan akal merupakan sarana untuk memahaminya.
  2. Tidak mungkin terjadi pertentangan antara nas yang telah tetap keshahihannya dengan akal yang telah tetap kemurniannya.

****


[1] Maksudnya jika nas tersebut merupakan hadits, adapun jika nas tersebut berupa al-Qur’an maka tidaklah memerlukan pembahasan tentang shahih dan tidaknya, karena al-Qur’an seluruhnya mutawatir.

[2] Ikhtilaf ada dua bentuk; Tanawu’ (pariatif)  dan tadlhod (kontradiksi). Jika ikhtilafnya tanawau, maka pada hakikatnya bukanlah perbedaan pendapat, seperti para ahli tafsir ketika menafsirkan firman Alloh (yang artinya) : “Jalan yang lurus” di dalam surat al-Fatihah. Sedangkan ihktilaf tadlhod adalah perbedaan yang tidak mungkin saling bersatu atau berkolaborasi.

[3] Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa (Aqidah Ahli Sunnah beserta syarahnya, h. 205) : Barangsiapa memandang adanya tanaqud di dalam kitabulloh, atau di dalam Sunnah sholallohu ‘alaihi wa sallam atau diantara keduanya, maka itu terjadi disebabkan sedikitnya ilmu atau kurangnya di dalam tadabbur.

[4] Mereka menjadikan akal sebagai sandaran sedangkan nas tabi’ (mengikuti) akal, jika sesuai dengan akal maka mereka menerima nas tersebut, jika tidak maka mereka menolak atau menta’wilnya.

Padahal Alloh Ta’ala berfirman :

((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ)) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

[5] Orang-orang sufi dihadapan guru mereka bagikan mayat yang sedang dimandikan, apapun yang dikatakan oleh guru mereka maka mereka terima secara bulat-bulat (walaupun perkataan tersebut tanpa dalil yang melandasinya); Adapun orang-orang Syi’ah mereka memiliki keyakinan bahwa Al-Qur’an bukanlah hujjah jika tidak diucapkan oleh imam-imam mereka.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: