PENJELASAN KITAB MANHAJUS SALIKIN (2)

Matan :

م / فَهَذَا كِتَابٌ مُخْتَصَرٌ فِي اَلْفِقْهِ, جَمَعْتُ فِيهِ بَيْنَ اَلْمَسَائِلِ وَالدَّلَائِلِ; وَاقْتَصَرْتُ فِيهِ عَلَى أَهُمِّ اَلْأُمُورِ, وَأَعْظَمِهَا نَفْعًا, لِشِدَّةِ اَلضَّرُورَةِ إِلَى هَذَا اَلْمَوْضُوعِ, وَكَثِيرًا مَا أَقْتَصِرُ عَلَى اَلنَّصِّ إِذَا كَانَ اَلْحُكْمُ فِيهِ وَاضِحًا; لِسُهُولَةِ حِفْظِهِ وَفَهْمِهِ عَلَى اَلْمُبْتَدِئِين لِأَنَّ اَلْعِلْمَ: مَعْرِفَةُ اَلْحَقِّ بِدَلِيلِهِ

وَالْفِقْهَ: مَعْرِفَةُ اَلْأَحْكَامِ اَلشَّرْعِيَّةِ اَلْفَرْعِيَّةِ بِأَدِلَّتِهَا مِنْ اَلْكِتَابِ, وَالسُّنَّةِ, وَالْإِجْمَاعِ, وَالْقِيَاسِ اَلصَّحِيحِ. وَأَقْتَصِرُ عَلَى اَلْأَدِلَّةِ اَلْمَشْهُورَةِ; خَوْفًا مِنْ اَلتَّطْوِيلِ, وَإِذَا كَانَتِ اَلْمَسْأَلَةُ خِلَافِيَّةً, اِقْتَصَرْتُ عَلَى اَلْقَوْلِ اَلَّذِي تَرْجَّحَ عِنْدِي, تَبَعًا لِلْأَدِلَّةِ اَلشَّرْعِيَّة

Ini merupakan kitab yang ringkas dalam disiplin ilmu fiqih, di dalamnya aku kumpulakan antara masalah dan dalil. Di dalamnya aku cukupkan dengan menyebutkan masalah-masalah yang paling penting dan paling besar manfa’atnya; dikarenakan sangat mendesaknya pembahasan ini. Pada kebanyakannya aku cukupkan dengan menyebutkan nas, jika hukum dalam permasalahan tersebut telah jelas; Untuk mudah dihafal dan difahami oleh para pemula, karena ilmu itu mengetahui kebenaran dengan dalil-dalilnya.

Fiqih adalah mengetahui hukum syari’ah far’iyah ‘cabang’ dengan dalil-dalilnya; dari al Kitab, as Sunnah, Ijma dan qias yang sahih. Aku cukupkan pula dengan menyebutkan dalil-dalil yang terkenal; karena merasa takut menjadi meluas. Jika masalah tersebut merupakan masalah khilafiyah/yang diperselisihkan, maka aku cukupkan dengan menyebutkan pendapat yang  paling kuat disisiku; demikian itu karena mengikuti dalil-dalil syar’iyah.

**************************************************

Syarah Syaikh Sulaiman hafidzohulloh :

(فهذا كتاب مختصر في الفقه) ‘Ini merupakan kitab yang ringkas dalam disiplin ilmu fiqih”. Makna ‘Mukhtashor’ adalah paerkataan yang sedikit lafadznya namun banyak maknanya.

(والفقه) ‘Fiqih’. Fiqih secara bahasa ‘al Fahmu’/pemahaman. Diantara pendukungnya firman Alloh Ta’ala :

يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Supaya mereka mengerti perkataanku”. (QS. Thaha : 28). Akan datang pengertiannya.

(جَمَعْتُ فِيهِ بَيْنَ اَلْمَسَائِلِ وَالدَّلَائِلِ) ‘di dalamnya aku kumpulakan antara masalah dan dalil’. Al-Masail merupakan bentuk jamak dari masalah, ia adalah sesuatu yang memerlukan penjelasan/dalil. Ad-Dalail jamak dari dalil, dalil ini disisi para ulama mencakup dalil naqli dan ‘aqli.

(وَاقْتَصَرْتُ فِيهِ عَلَى أَهُمِّ اَلْأُمُورِ, وَأَعْظَمِهَا نَفْعًا, لِشِدَّةِ اَلضَّرُورَةِ إِلَى هَذَا اَلْمَوْضُوعِ) ‘Di dalamnya aku cukupkan dengan menyebutkan masalah-masalah yang paling penting dan paling besar manfa’atnya; dikarenakan sangat mendesaknya pembahasan ini.Yakni : Beliau tidak membahas seluruh masalah dan hukum, beliau hanya membatasi pada permasalahan yang paling penting; Beliau hanya memilih masalah-masalah yang paling besar manfa’atnya, karena sangat diperlukan. Karena kitab ini beliau tulis untuk para pemula di dalam ilmu.

(وَكَثِيرًا مَا أَقْتَصِرُ عَلَى اَلنَّصِّ إِذَا كَانَ اَلْحُكْمُ فِيهِ وَاضِحًا; لِسُهُولَةِ حِفْظِهِ وَفَهْمِهِ عَلَى اَلْمُبْتَدِئِين) ‘Pada kebanyakannya aku cukupkan dengan menyebutkan nas, jika hukum dalam permasalahan tersebut telah jelas; Untuk mudah dihafal dan difahami oleh para pemula’, Ini merupakan metode yang sangat indah lagi bermanfa’at, yaitu menyebutkan nas, yang ia merupakan hukum dan masalah, ia memberikan dua faidah :

Pertama : Mengetahui hukum syar’i,

Kedua : Mengetahui dalil. 

(لأن العلم معرفة الحق بدليلة)Karena ilmu itu mengetahui kebenaran dengan dalil-dalilnya’, Mengetahui dalil  sangat penting bagi pencari ilmu.

  • Faidah mengetahui hukum dengan dalil-dalinya bagi pencari ilmu :

Pertama : Merasa tenang pada hukum syar’i.

Kedua : Memiliki hujjah dari Alloh Ta’ala.

Ketiga : Melahirkan kemampuan untuk memuaskan/meyakinkan orang lain.

Keempat : Dia beribadah kepada Alloh di atas ilmu dan keterangan/dalil.

(معرفة) ‘Mengetahui’, Ia meliputi ilmu dan dzon, karena mengetahui hukum syar’iyah terkadang ilmiy dan sebagian yang lainnya adalah dzoniy.

Mengetahui (wajibnya) sholat yang lima waktu ilmu, sedangkan mengetahui sunah nya shalat witir menurut pendapat kebanyakan para ulama ‘jumhur’ dzoniy.

(الأحكام الشرعية) ‘Hukum-hukum syar’iyah’, Maksudnya hukum yang di ambil dari syara. Maka tidak termasuk hukum aqli; seperti mengetahui bahwa keseluruhan lebih besar daripada sebagian, mengetahui bahwa satu merupakan setengah dari dua. Juga tidak termasuk hukum hissi; seperti pengetahuan bahwa api panas. Demikian pula tidak termasuk hukum ‘adiy; seperti pengetahuan hujan turun setelah guntur dan kilat.

(الفرعية) ‘cabang’, seperti sholat, haji, perniagaan/jual beli … dan seterusnya. Maka tidak termasuk masalah-masalah ‘ilmiyah seperti tauhid.

(بأدلتها التفصيلية) ‘’, Ia sebagai pembeda dari ilmu ushul fiqih. Karena pembahasan ushul fiqih berkisar pada dalil-dalil fiqih yang global ‘ijamaliyah’.  Contoh adilah ta tafshiliyah :

  1. Untuk sahnya wudkhu disyaratkan niat, berdasarkan hadits : ‘Amal ditentukan dengan niat …’.
  2. Membaca af faihah merupakan salah satu rukun sholat, berdasarkan hadits : ‘Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca …’.

Adapun contoh ushul fiqih sebagai berikut :

  1. Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang kurang syaratnya maka bathil [ini ushul fiqih].
  2. Perintah memberikan konsekwensi wajib; demikian pula larangan, naskh – mansukh.

Maka fiqih membahas dalil tafshiliyah juziyah, untuk mengkonklusikan hukum tertentu dari dalil tersebut; dengan berpijak pada dalil-dalil ijmaliyah.

  • Maka maksud kata fiqih yang dikehendaki penulis adalah fiqih secara istilah.

(وأقتصر على الأدلة المشهورة خوفاً من التطويل) ‘’. Yakni : Beliau akan membatasi pada dalil-dalil yang dikenal lagi terkenal, tidak akan menyebutkan dalil-dalil yang tidak dikenal; yakni dalil yang hanya diketahui oleh penuntut ilmu. Karena kitab ini merupakan mukhtashor.

(وإذا كانت المسألة خلافية، اقتصرت على القول الذي ترجح عندي، تبعاً للأدلة الشرعية) ‘Jika masalah tersebut merupakan masalah khilafiyah/yang diperselisihkan, maka aku cukupkan dengan menyebutkan pendapat yang  paling kuat disisiku; demikian itu karena mengikuti dalil-dalil syar’iyah’. Yakni : Jika permasalahan tersebut merupakan permasalahan yang diperselisihkan pada beberapa pendapat, maka beliau akan menyebutkan satu pendapat saja, dan pendapat tersebut merupakan pendapat yang kuat di sisinya; yang beliau menguatkannya dengan dalil. Beliau bukan seseorang yang taqlid pada madzhab atau ‘alim tertentu, beliau hanya mengikuti dalil.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: