MUTIARA BERSERAK PELAJARAN KITAB TSALATSATUL USHUL [2]

Penulis rohimahulloh berkata :

بسم الله الرحمن الرحيم ، اعلم ـ رحمك الله ـ أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل ، الأولى :العلم وهو معرفة الله ، ومعرفة نبيه ، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة .    الثانية : العمل به . الثالثة  : الدعوة إليه .  الرابعة  : الصبر على الأذى فيه ، والدليل قوله تعالى : بسم الله الرحمن الرحيم ] والعصر * إن الإنسان لفي خسر * إلا الذين أمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

قال الشافعي رحمه الله تعالى : لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم . وقال البخاري رحمه الله تعالى  : باب العلم قبل القول العمل  ، والدليل قوله تعالى : فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك ، فبدأ بالعلم قبل القول والعمل

[Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Ketahuilah – semoga Alloh mengampuni dan memberikan taufiq kepadamu – !, Wajib bagi kita mengetahui empat masalah. Pertama: Ilmu; Yaitu mengetahui tentang Alloh, Nabi-Nya dan mengetahui agama Islam dengan dalil-dalil. Kedua :Beramal dengannya. Ketiga : Berdakwah kepadanya. Keempat : Bersabar dengan rintangan yang ada padanya. Dalilnya Firman-Nya Ta’ala : Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. [Demi Masa. Sesungguhnya manusia benar-benar ada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati pula untuk tetap bersabar].

Asyafi’i rohimahulloh berkata : “Andaikan Alloh tidak menurunkan hujjah pada makhluknya kecuali hanya surat ini saja, maka telah cukup bagi mereka”. Bukhori rohimahulloh berkata : “Bab ilmu sebelum berkata dan berbuat”. Dalilnya Firman (Alloh) Ta’ala : [Ilmuilah lailahailalloh dan memohon ampunlah dari dosa-dosamu ….]. Maka Alloh memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.

  1. Tentang Bismillah

Penulis rohimahulloh berkata :

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

­­­

Penulis rohimahulloh memualai risalah yang berkah ini dengan bismillah. Karena beberapa alasan :

  1. Mengikuti kitabulloh; tatkala ia merupakan ayat yang pertama menurut sebagian ahli ilmu. Para sahabat rodiyallohu’anhum memulai mushaf utsmani dengannya. Kemudian seluruh manusia di seluruh negri yang menulis mushaf mengikutinya.
  2. Mengikuti petunjuk nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam tatkala menulis surat. Seperti surat beliau kepada Hiroql pembesar negeri Romawi, sebagimana datang penyebutannya di dalam hadits Abi Sufyan rodiyallohu’anhu di awal kitab Sahih Bukhori (No. 7).
  3. Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Merupakan kebiasaan para imam yang menulis kitab untuk memulai kitab ilmu dengan bismillah, demikian pula untuk sebagian besar kitab rosail.

Peringhatan :

Adapun hadits “Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan بسمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ maka terputus”. Dikeluarkan oleh Al-Khotib Al-Baghdadi  di dalam (Al-Jami’ li Adabi Ar-Rowi wa As-Sama’ 2\128), Ibnu Sam’ani di dalam (Adabul Imla 1\283), Abdul Qodir Ar-Ruhawi di dalam (Al-Arba’in), As-Subky di dalam (Thobaqot As-Syafi’iyyah 1\6).

Ia merupakan hadits yang dlho’if wahin. Oleh karenanya lebih dari seorang ulama yang telah memastikan tentang kelemahannya, diantaranya : Al-Hafidz Ibnu Hajar, As-Syakhowi, dan yang lainnya.

Kesepakatan Ulama

  1. Para ulama telah sepakat bahwa bismillah merupakan bagian dari surat  An- Naml ayat : 30.
  2. Mereka sepakat pula untuk tidak mencantumkannya pada awal surat baro-ah, karena surat baro-ah dengan surat Al anfal dianggap\seakan-akan dijadikan satu surat.

Ikhtilaf Ulama Tentang Bismillah

Ulama berbeda pendapat Tentang bismillah; apakah ia merupakan ayat dari setiap surat yang surat-surat tersebut dibuka dengannya ? atau ayat tersendiri yang diturunkan untuk memisahkan antara surat-surat dan tabarruk memulai dengannya ?. Pendapat yang terpilih pendapat yang kedua.

Apakah Bismillah Merupakan Bagian Dari Surat Fatihah?

Dalam masalah ini telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama; Pendapat pertama : Ia merupakan ayat pertama dari surat Fatihah dan dibaca dengan keras tatkala dalam sholat jahriyyah. Selain itu merekapun berpendapat tidak sah-nya sholat kecuali dengan membaca bismillah. Pendapat kedua : Mereka yang berpendapat bahwa ia bukanlah termasuk ayat dari surat Al Fatihah, akan tetapi merupakan ayat yang terpisah dari kitab Alloh.

Apakah Bismillah Merupakan Kalimat Yang Sempurna ?

Bismillah merupakan kalimat yang sempurna : Bisa jumlah fi’liyyah menurut pendapat yang paling kuat atau-pun jumlah ismiyyah.

Ahli nahwu dan ahli bahasa telah berbeda pendapat dalam menentukan sesuatu yang berkaitan dengan bismillah. Huruf ‘ba’ dalam bismillah li-isti’anah dan ia berkaitan dengan sesuatu yang mahdzuf, sebagian mereka menentukan bahwa taqdir-nya adalah fi’il (kata kerja) dan sebagian yang lain menentukan taqdir-nya adalah isim (kata benda); Dua pendapat ini berdekatan karena semua itu ada dalam Al Qur’an; Alloh Ta’ala  berfirman : ( اقرباسم ربك ) “Dengan menyebut nama Robb-mu” (Surat Al‘alaq) dan Alloh ‘Azza wa Jalla -pun berfirman : (بسم الله مجريها) “Dengan menyebut nama Alloh ketika berlayar” (Surat Hud : 41).

Pendapat yang paling benar dalam masalah ini : Huruf  ‘ba’ dalam bismilah berkaitan dengan fi’il (kata kerja) yang dibuang dan diakhirkan sesuai dengan keperluan; Sebagai contoh, apabila engkau hendak makan maka taqdir-nya : بسم الله آكل “Dengan menyebut nama Alloh aku makan”; apabila engkau akan membaca maka taqdir-nya : بسم الله أقرأ  “Dengan nama Alloh aku akan membaca”.

Sedangkan alasan kita mentaqdirkannya muta-ahiron (diakhirkan) untuk dua faidah :

1.  Al Hasr, karena mendahulukan ma’mul berfaidah Al Hasr (yakni membatasi), maka jadilah بسم الله أقرأ itu menempati kedudukan : لا أقرأ إلا باسم الله  maknanya : “Tidaklah aku membaca kecuali dengan nama Alloh”.

2.  Memulai dengan nama Alloh merupakan bentuk tabarruk.

Alasan kita mentaqdirkannya khusus; Karena kata kerja yang khusus itu lebih menunjukkan pada maksud daripada kata kerja umum; walaupun dari suatu yang memungkinkan bagi  kita untuk mentaqdirkannya بسم الله أبتدئDengan nama Alloh aku memulai”, tetapi بسم الله أبتدئ tidaklah menunjukkan pada tertentunya maksud/tujuan; sedangkan  بسم الله أقرأ khusus; yakni lebih menunjukkan pada makna daripada kata kerja yang masih umum.

Arti Isim

Isim secara bahasa adalah : Sesuatu yang menunjukkan pada yang dinamai, adapun menurut para ahli nahwu adalah : Suatu kata yang menunjukkan pada makna dengan sendirinya tanpa berkaitan dengan zaman (masa). Dikatakan pula bahwa isim adalah suatu kata yang memberitahukan tentang yang dinamai, fi’il suatu kata yang memberitahukan tentang gerak dari sesuatu yang dinamai dan huruf adalah sesuatu yang memberitahukan makna yang bukan isim atau pun fi’il.

Isim jalalah (Yakni nama الله)

Ada yang berpendapat bahwa (lafadz الله) merupakan isim jamid, yakni bukanlah mustaq, yang benar mustaq.

Ibnul Qoyyim membicarakannya di dalam “Nuniyah” tentang lafdzul jalalah (Alloh), apakah ia jamid ataukah musytaq ? Beliau berkata : Yang benar ia mustaq, ini merupakan madzhab ahlu sunnah wal jama’ah mengenai lafdzul jalalah dan yang lainnya dari nama-nama Alloh.

Demikian sebagaimana firman Alloh Ta’ala : ((  وهو الله في السمواة و في الأرض يعلم سركم وجهركم)) [surat Al An ‘am : 3]; Maka sesungguhnya ((قي السمواة )) berkaitan dengan lafadz jalalah, maknanya : “Dia-lah (Alloh)  yang diibadahi dilangit dan dibumi”.

Adapun ahli bid’ah mereka berpendapat bahwa Ismul jalalah (Alloh) jamid dan sababul qaul, sehingga mereka tidak memustaqkan sifat darinya.

Ulama berbeda pendapat permulaan mustaq­nya;

  1. Dikatakan : أله – يأله – ألوهة وإلاهة و ألوهية  yang maknanya : عبد – عبادة .
  2. Dikatakan pula : أله – بكسر الام – يأله – بفتحها – ألها  ini jika bingung, kacau pikirannya.

Yang benar dari dua pendapat di atas adalah yang pertama yaitu إله  yang bermakna : مألوه  yaitu معبود  (yang disembah); Oleh karenanya Ibnu Abbas rodiyallohu ‘anhuma berkata: “Alloh adalah pemilik ketuhanan dan peribadahan atas seluruh hamba-hambanya”.

Faidah : Lafadz “Alloh” tidaklah dimutlakan kecuali pada pencipta langit dan bumi, berbeda dengan lafadz “illah”, karena lafadz “ilah” dimutlakan penyebutanya kepada yang diibadahi dengan benar dan juga kepada kepada sesuatu yang diibadahi dengan bathil. Oleh karenanya perkataan “Lailahailalloh” adalah laa ma’buda bi haqqin illalloh (tidak ada yang diiabadahi dengan benar selain Alloh). Jadi lafadz “illah” dimutlakan atas seluruh yang disembah, baik hak atau pun bathil.

Tentang  الرحمن الرحيم

” الرحمن الرحيم”Ibnu Abbas berkata : “Ar Rohman dan Ar Rohim merupakan dua nama yang sangat lembut, salah satu dari keduanya lebih lembut dari selainnya; yakni lebih banyak/luas rohmahnya”.

Abdulloh bin Mubarok berkata : “Ar Rohman jika dimintai maka memberi. Ar Rohim yang jika tidak dimintai maka marah”.

Keduanya menunjukkan pada sifat ar rohmah, ia merupakan sifat yang hakiki bagi Alloh Ta’ala; sesuai dengan kemaha mulian-Nya.

Peringatan !, tidak boleh mengatakan bahwa yang dimaksud dengan rohmah itu adalah lawazimnya (keharusannya) seperti kehendak untuk ihsan (berbuat baik) ataupun yang semisal dengannya; sebagaimana dikatakan oleh mu’athilah.

“الرحمن” maknanya : Pemilik rahmat yang luas, karena ia mengikuti wajan (timbangan) فعلان , sedangkan timbangan tersebut dalam bahasa arab menunjukkan pada luas dan penuh; Sebagaimana dikatakan : رجل غضبان jika keadaan marahnya itu berada pada puncaknya.

الرحيم” nama yang menunjukan kepada perbuatan, karena ia fa’iil bermakna faa’il ia adalah yang menunjukan kepada perbuatan.

2.  Muqoddimah Pertama

Penulis rohimahulloh berkata :

اعلم ـ رحمك الله ـ أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل ، (الأولى) :العلم وهو معرفة الله ، ومعرفة نبيه ، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة .   ( الثانية ) : العمل به . (الثالثة ) : الدعوة إليه . (الرابعة ) : الصبر على الأذى فيه ، والدليل قوله تعالى : بسم الله الرحمن الرحيم ] والعصر * إن الإنسان لفي خسر * إلا الذين أمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

قال الشافعي رحمه الله تعالى😦 لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم . وقال البخاري رحمه الله تعالى  : ( باب العلم قبل القول العمل ) ، والدليل قوله تعالى : فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك …  ، فبدأ بالعلم قبل القول والعمل

Ketahuilah – semoga Alloh mengampuni dan memberikan taufiq kepadamu – !, Wajib bagi kita mengetahui empat masalah. Pertama: Ilmu; Yaitu mengetahui tentang Alloh, Nabi-Nya dan mengetahui agama Islam dengan dalil-dalil. Kedua :Beramal dengannya. Ketiga : Berdakwah kepadanya. Keempat : Bersabar dengan rintangan yang ada padanya. Dalilnya Firman-Nya Ta’ala : Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. [Demi Masa. Sesungguhnya manusia benar-benar ada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati pula untuk tetap bersabar].

Asyafi’i rohimahulloh berkata : “Andaikan Alloh tidak menurunkan hujjah pada makhluknya kecuali hanya surat ini saja, maka telah cukup bagi mereka”. Bukhori rohimahulloh[Ilmuilah lailahailalloh dan memohon ampunlah dari dosa-dosamu ….]. Maka Alloh memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. berkata : “Bab ilmu sebelum berkata dan berbuat”.

Uraian Global.

Ini merupakan muqoddimah yang pertama, dalam muqoddimah ini penulis hendak menjelaskan empat masalah yang wajib diketahui oleh setiap Muslim. Karena ilmu terbagi dua :

  1. Ilmu ‘ainiy, setiap orang wajib mengetahuinya. Dlhobith untuk menetapkan ilmu tersebut merupakan ilmu ‘ainiy adalah sesuatu yang tidak akan benar atau tegak agama seseorang kecuali dengannya, baik dalam masalah i’tiqod, perbuatan atau pun ucapan.
  2. Ilmu kifa’iy, ia merupakan ilmu yang dituntut dari kaum muslimin, tidak dituntut dari setiap kaum muslimin. Sperti mempelajari ilmu mustholah hadits, ushul fiq dan yang semisalnya.

Penjelasan Kosa Kata dan Rincian.

1. (اعلم) ia merupakan fi’il amr dari ‘ilmu’, ilmu adalah mengetahui sesuatu secara pasti dan sesuai dengan kemestiannya.

Perkataan kita ‘mengetahui’, maka mengeluarkan makna jahl bashith. Jahl basith adalah tidak mengetahui sesuatu secara keseluruhan.

Perkataan kita ‘secara pasti’, maka mengeluarkan makna dzon, syak dan wahm. Dzon adalah pengetahuan terhadap sesuatu dengan dimungkinkan adanya kebalikan yang lebih lemah. Syak adalah pengetahuan terhadap sesuatu dengan adanya kemungkinan kebalikan yang lainnya secara seimbang. Wahm adalah pengatahuan terhadap sesuatu dengan adanya kemungkinan kebalikannya yang lebih kuat.

Perkataan kita ‘sesuai kemestiannya’, maka mengeluarkan makna jahl murokkab. Jahl murokkab adalah pengetahuan terhadap sesuatu yang bertentangan dengan kemestiannya.

Faidah :

Ungkapan seperti (ketahuilah !), memberikan beberapa faidah :

a.  Pendengar dan pembaca akan menjadi perhatian.

b.  Sesuatu yang akan dibaca atau disampaikan setelahnya merupakan perkara yang penting.

Tidaklah diragukan, bahwa yang akan disampaikan setelah kata i’lam ‘ketahuilah !’ pada risalah ini merupakan perkara yang sangat penting. Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab dalam sebagian risalahnya berkata : “Dalam risalah al ushul ats tsalatsah aku membahas tauhid uluhiyah, rububiyah dan al wala wal baro. Semuanya merupakan ushuluddin”.

2. (رحمك الله). Kaidah : “Jika rohmah disebutkan secara menyendiri maka bermakna ‘Semoga Alloh mengampuni dosamu yang telah lalu dan memberikan penjagaan serta taufiq di masa yang akan datang’. Jika disertakan kata maghfiroh maka maghfiroh untuk yang telah lalu dari dosa sedangkan rohmah untuk yang akan datang dari taufiq dan penjagaan”.

Faidah :

a. Tercermin adanya kehendak baik. Penulis tidaklah menginginkan dari pembaca dan pendengar selain kebaikan. Demikianlah sifat para pembimbing dan pengarah kepada kebenaran.

b. Kelembutan dan kasih sayang penulis kepada pencari ilmu. Ketahuilah !, ilmu di bangun diatas kelembutan dan kasih sayang pada pencari ilmu. Demikianlah para ulama tatkala meriwayatkan hadits kepada para pencari ijazah hadits, pertama hadits yang mereka sampaikan adalah hadits :

الراحمون يرحمهم الرحمان

“Para penyayang disayang ar Rohman”.

Para ulama berkata: “Sebabnya adalah : ‘Pondasi ilmu rohmah, hasilnya di dunia rohmah, puncaknya pun rohmah di akhirat’”.

c. Menumbuhkan jalinan kasih sayang antara pengajar dengan pelajar dan antara juru dakwah dengan umat. Terlebih pada zama tersebarnya kebodohan terhadap agama, seperti di zaman ini.

d. Bolehnya mendo’akan yang hidup dengan ucapan rohimahulloh, rohimakalloh dan seterusnya. Do’a ini tidak dikhususkan bagi yang telah meninggal saja.

3. (أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل) ‘wajib bagi kita untuk mempelajari empat masalah’.

Perkataannya (يجب)‘wajib, sebagimana telah lalu bahwa kewajiban mempelajari empat hal ini merupakan kewajiban setiap muslim; yakni wajib ‘ain.

Pengertian wajib.

Secara bahasa :As Saqith ‘Yang jatuh’ dan Al Lazim ‘yang menetap’.

Secara istilah :Suatu perbuatan yang di tuntut syari’at dengan tuntutan yang pasti.

Hukumnya.

Pelakunya diberikan pahala; jika melakukannya sesuai perintah, dan berhak mendapatkan siksa jika meninggalkannya. Fardu dan wajib bermakna sama bagi jumhur ulama. Hanafiyah memandang bahwa wajib lebih rendah daripada fardu.

Adapun maksud penulis rohimahulloh adalah wajib yang sama dengan istilah fardu.

Pembagian Wajib.

Ditinjau dari perbuatan atau dzatnya terbagi dua :

  1. Mu’ayan, ia adalah kewajiban yang selainnya tidak bisa menggantikan kedudukannya. Penentu syari’at telah menuntut dan menentukannya; tidak ada pilihan antara satu dengan yang lainnya. Seperti sholat lima waktu, puasa ramadlhon zakat dan yang lainnya. Kewjiban seperti ini merupakan jenis kewajiban yang paling dominan.
  2. Mubham atau mukhoyar, ia adalah kewajiban yang syari’at menuntutnya tidak berdasar kepada jenis tertentu saja, bahkan bisa memilih dari sekian banyak pilihan yang telah ditentukan. Seperti kafaroh yamin ‘sumpah’.

Ditinjau dari waktu terbagi dua :

  1. Mudoyaq, ia adalah jenis kewajiban yang telah tertentu waktunya dan tidak bisa mengerjakan yang lain yang semisalnya pada waktu yang bersamaan. Contoh puasa Ramaldon.
  2. Muwasa’, ia adalah jenis kewajiban yang tertentu waktunya namun memungkinkan untuk mengerjakan yang lain yang semisalnya pada waktu tersebut. Seperti sholat yang lima waktu.

Faidah : Kewajiban yang muwasa’ terkadang bisa menjadi mudoyaq dengan beberapa ketentuan. Untuk pembahasannya bisa di lihat pada kitab-kitab ushulul fiq.

Ditinjau dari pelaku terbagi dua :

  1. Wajib ‘ainiy, ia adalah kewajiban yang dituntut syar’a dari setiap mukallaf. Seperti tauhid, tata cara bersuci, sholat dan yang lainnya.

Kewjiban jenis inilah yang dimaksudkan penulis rohimahulloh tatkala berkata ‘wajib bagi kita untuk …’.

  1. Wajib kifaiy, ia adalah kewajiban yang syara’ menuntutnya dari jama’ah mukalafin. Jika telah ada yang mengrjakannya maka yang lainnya terbebas dari kewajiban dan dosa. Wajib kifaiy bisa menjadi wajib ‘ain jika tidak ada yang bisa selain orang tersebut yang mampu mengerjakan atau mempelajarinya.

Pertanyaan dan jawaban.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa membahas masalah ushul fiq dalam risalah ini, apa faidahnya?.

Jawab : Kita katakan dengan beberapa poin :

1. Ushul fiqih merupakan bidang ilmu yang digunakan dalam ilmu fiqih atau pun aqidah, tafsir atau pun hadits. Titik ini pula yang membedakan antara ilmu ushul fiqih dengan qowa’id fiqhiyah.

Oleh karena itu Syaikh Usamah al Qusiy dalam salah satu pelajarannya memberikan tanbih tentang masalah ini, karena sebagian manusia mengingkari penggunaan ilmu ushul fiqih dalam masalah aqidah. Seperti : Jika kita katakan : Hukum bertauhid adalah wajib, karena Alloh berfirman : Ibadahlah ! kepada Alloh”, kaidah ushul menyatakan al ashlu fil amri lil wujub ‘asal bagi suatu perintah menunjukan pada wajib’. Maka sebagian mereka berkata : Itu kan kaidah ushul fiqih, ia tidak digunakan dalam masalah aqidah. Maka pernyataan seperti ini merupakan perkataan yang keliru.

2. Risalah ini diperuntukan bagi pemula dan orang awam, maka terkadang mereka bertanya : Apa itu wajib ? Bagimana hukumnya ? dan seterusnya. Maka dengan disebutkannya pengantar ini bisa menjawab pertanyaan tersebut. Allohu ‘alam.

Perkataannya (علينا)’bagi kita’, dlhomir ‘kata ganti’ pada perkataanya (علينا) yakni (نا) kembali pada mukalaf. Jika demikian maka makna perkataan penulis adalah : Wajib bagi mukalaf; yakni setiap yang berakal dan baligh, baik laki-laki atau pun perempuan, dari jenis manusia dan jin untuk mempelajari emat masalah.

Hukum wajib bagi yang akan dikatakan penulis dengan dua penujukan[1] :

1. Nas wahyu.

Diantaranya surat al ‘Ashr yang akan disebutkan penulis. Akan datang sisi pendalilannya, insya Alloh.

Hadits yang dikeluarkan Ibnu Majah di dalam Sunan dan selain beliau, hadits Abu Hurairoh, Nabi sholallohu’alaihi wa sallam bersabda :

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim”. Disahihkan oleh sekelompok hufadzul hadits, diantaranya Imam Al Mizi, As Suyuthi dan Asakhowi dalam kitab maqoshid.

2. Ijma.

Kaum muslimin sepakat dalam menentukan perkara yang akan disebutkan penulis; tentang ilmu, amal, dakwah dan sabar. Ia merupakan hakikat yang ada dalam agama Islam. Telah menghikayatkan ijma banyak ulama, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa dan yang lainnya.

5. Perkataannya (أربع مسائل) ‘empat masalah’. Pembatasan masalah kepada empat dengan dua dalalah :

  1. Al Khobar, ia adalah dalil yang akan disebutkan penulis rohimahulloh.
  2. Ijma’, kaum muslimin sepakat bahwa ia merupakan kewajiban yang pasti secara tertentu kepada setiap mukallaf. Dan yang dimaksudkan disini adalah perkara-perkara yang mujmal.

6. Perkataannya (الأولى) :العلم وهو معرفة الله ، ومعرفة نبيه ، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة), ‘Pertama: Ilmu; Yaitu mengetahui tentang Alloh, Nabi-Nya dan mengetahui agama Islam dengan dalil-dalil’.

Penulis rohimahulloh menafsirkan ilmu dengan ma’rifah, dalilnya firman Alloh Ta’ala :

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan Sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka Mengetahui”. (QS. Al Baqoroh : 146).

Kemudian ketahuilah, para ulama berbeda pendapat pada dua madzhab : Apakah ilmu sinonim ma’rifah atau bukan?.

Pertama : Kelompok ulama yang menyatakan bahwa ma’rifah bermakna ilmu, mereka berkata : ma’rifatu syai hua al ilmu bihi ‘mengetahui sesuatu adalah mengilmuinya’, maka mari’fatun nabi hua al ilmu bihi ‘mengatahui nabi berarti mengilmuinya’. Mereka berdalil dengan ayat di atas. Ini merupakan pendapat penulis dan kebanyakan ahli bahasa.

Kedua : Membedakan antara ilmu dengan ma’rifah. Dan mereka pun berbeda pendapat dalam membedakannya, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa ilmu lebih rendah martabatnya daripada ma’rifah.

Pada kesimpulannya penulis menyamakan makna ilmu dengan ma’rifah.

Tanbih : Tatkala sebagian ulama menyamakan makna ilmu dengan ma’rifah maka yang dimaksudkan dengannya adalah pada hak makhluk. Adapun Alloh tidak disifati dengan ma’rifah, Alloh hanya disifati dengan ilmu. Karena ma’rifah lebih umum daripada ilmu. Ilmu khusus dengan yang tidak didahului dengan kebodohan, maka digunakan untuk hak Alloh Ta’ala. Berbeda dengan ma’rifah, karena ma’rifah didahului dengan kebodohan, yakni pengetahuan yang muktasab ‘diusahakan’, maka tidak digunakan dalam hak Alloh Ta’ala.

7. Perkataannya (العلم) ‘al Ilmu’, alif dan lam untuk menunjukan ikhtishos ‘sesuatu yang khusus’, penulis tidak memaksudkan seluruh ilmu, oleh karena itu penulis mendefinisikannya dengan mengetahui tentang Alloh, nabi-Nya … . Jadi yang dimaksudkan oleh penulis adalah ilmu syar’i.

8. Perkataannya (معرفة الله) ‘Mengatahui tentang Alloh’.

Ia adalah mengetahui Alloh dengan nama-nama dan sifatNya, mengetahui Alloh dengan nikmat-nikmatNya dan  ayat-ayatNya; ayat matluah dan kauniyah. Pengetahuan yang menimbulkan kecintaan, khusu, mengagungkanNya dan menggagungkan perintah dan syari’atNya. Pengtahuan yang menjadikan tergeraknya hati untuk senantiasa mendekatkan diri, khusu dan puncaknya mencintaiNya Ta’ala. Karena kecintaan merupakan ruh keimanan, iman seseorang jika kosong dari kecintaan kepadaNya bagaikan jasad yang mati.

Makna mengetahui tentang Alloh bukanlah dakwaan dan bualan semata, bahkan pengetahuan dengan makna-makna di atas dan makna tauhid rububiyah, uluhiyah dan tauhid asma dan sifat. Demikian pula termasuk pada makna mengetahui tentang Alloh adalah membenarkan berita-berita yang Alloh kabarkan dari perkara yang ghoib, seperti surga dan neraka.

Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam al Fawaid berkata : “Ma’rifatulloh terbagi dua :

1.  Ma’rifatu iqrorin; Ia adalah pengetahuan yang di dalamnya bersekutu antara manusia yang baik dan fajir, dan antara yang ta’at dan pelaku maksiat.

2.  Ma’rifat yang mewajibkan malu dari Nya, cinta kepadaNya, terkaitnya hati dengan Nya, rindu ingin berjumpa dengan Nya, takut dari Nya dan taubat kepada Nya.

Ma’rifatulloh, ia merupakan landasan pertama yang menjadi inti pembahasan dalam kitab ini.

9. Perkataannya (معرفة نبيه) ‘Mengetahui tentang nabiNya’.

Pengetahuan yang mendorongmu untuk membenarkan segala sesuatu yang dikabarkannya, pengetahuan yang memberikan konsekwensi ta’at dan ittiba’ ‘menjadikan satu-satunya ikutan’ serta tidak menentang perkataannya sholallohu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan selainnya.

Barangsiapa membantah perkataannya sholallohu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan seseorang selainnya, maka pengetahuannya tentang Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam tidak akan mendekatkannya kepada Alloh Ta’ala.

Marifatun nabi r, merupakan landasan ketiga yang menjadi inti pembahasan dalam kitab ini.

10. Perkataannya (معرفة دين الإسلام بالأدلة) ‘mengetahui agama Islam dengan dalil-dalil’.

Pengetahuan yang memberikan konsekwensi pasrah dan berserah diri kepada Alloh dengan tauhid, serta tunduk kepadaNya dengan melakukan keta’atan. Demikianlah hakikat Islam. Namun ketahuilah !, kepasrahan dan ketundukan tidak akan bermanfa’at bila tidak di ambil dari cahaya kenabian. Oleh karena itu, setiap amal yang tidak didasari dengan tuntunan Rosululloh r dengan pemahaman para shohabat maka secara hakikatnya tidak dinamakan Islam, walau pun diumumkan bahwa ia bagian dari Islam.

Perkataan penulis rohimahulloh ‘dengan dalil-dalil’, ia sebagai bantahan bagi setiap orang yang berkeyakinan, berucap dan beramal tanpa landasan dalil. Setiap ilmu tanpa dalil maka hanya dakwaan belaka, sedangkan dakwaan memerlukan bayyinah ‘bukti’, bayyinahnya dalil. Dalil adalah sesutau yang telah difirmankan Alloh, disabdakan Rosululloh r dan ijma’ shohabat.

Ma’rifatul Islam dengan dalil-dalil merupakan landasan kedua yang menjdi inti pembahasan dalam kitab ini.

Perkataan penulis (بالأدلة). Apakah kembali pada ketiga hal yang telah berlalu atau hanya kembali pada perkataan ‘mengetahui agama Islam dengan dalil-dalil’?. Jawab : Ia memiliki dua kemungkinan; kedua kemungkinan tersebut dikehendaki, ia adalah :

a. Huruf (ب) ‘ba’ pada perkataan penulis merupakan sababiyah, maka maknanya : Disebabkan dalil tercapailah pengetahuan. Bila demikian maka : Wajib bagimu wahai para mukallaf; baik lelaki atau perempuan, merdeka maupun hamba sahaya untuk mengetahui ketiga perkara yang terdahulu; akan tetapi pengetahuanmu terhadap ketiga ma’rifat ini harus disebabkan dalil. Yakni dalil Syam’iyah; al Kitab, as Sunnah dan atsar serta ijma’, karena dalil terbagi dua syam’iyah dan aqliyah.

b. Kemungkinan kedua : Perkataan penulis ‘dengan dalil’dalil’ kembali pada ‘mengetahui agama Islam dengan dalil-dalil’ saja.

Kemungkinan kedua merupakan kemungkinan yang dikuatkan oleh Syaikh Abdurrohman bin Qoshim dalam hasyiyahnya.

Perkataan (wajib mengatahui dienul Isalam dengan dalil-dalilnya), ia pun memiliki dua tinjuan :

1) Mengetahui ushulud dien; yang berkaitan dengan tauhid dan iman kepada Alloh, Malaikat, kiatb-kitabNya, Rosul-rosulNya, hari akhir, qodlho dan qodar dan yang lain-lainnya. Maka ia memiliki dua tinjauan :

Pertama : Jika yang dimaksudkan dengan usul ad dien adalah yang dengannya sah keislaman dan hilangnya kekafiran, maka telah berpendapat dengannya; yakni wajib, sekelompok ahli ilmu. Sebagimana disebutkan Syaikhul Islam dalam al Muswaddah, demikian pula isyarat Syaikh Shalih alu Syaikh dalam Syarh Tsalatsatul Ushul.

Kedua : Jika yang dimaksudkan dengan ushul ad dien adalah seluruh pokok-pokok agama, maka tidak ada yang berpendapat dengannya kecuali mukholif; Pendapat Mu’tazilah dan kebanyakan Al Asya’iroh. Sebagimana disebutkan oleh badruddin Az Zarkasiy dalam Bahrul Muhith, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa.

Tentang wajibnya mengetahui usul ad dien dengan dalil-dalilnya, merupakan permasalahan yang diperselisihkan. Jumhur manusia sebagaimana disebutkan dan dipilih oleh Syaikhul Islam, tidak wajib bagi mukallaf muslimin dan muslimat untuk mengetahui seluruh masalah aqidah atau dalam ushul dien dengan dalil-dalilnya. Ia merupakan perkara yang jaiz dan tidak wajib.

Sahnya pendapat jumhur manusia dan pilihan Syiakhul Islam adalah :

1. Dalil khobar. Diantaranya firman Alloh Ta’ala : “Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui. Dengan al bayinat dan az zubur”. Ibnu Abbas menafsirkan (بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ) dengan al hujaj wad dalail ‘hujjah dan dalil’, maka maknaya : Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu tidak mengetahui dalil-dalil, hujjah dan burhan dari suatu masalah agama – masuk kepadanya ushulud dien dan furu’, masuk kedalamnya sesuatu yang tetap dengan dalil qoth’i atau dengan hujjah dzoniyah maka tanyalah ahli ilmu yang dipercayai agama dan ilmu mereka.

Maka dalam ayat ini Alloh tidak mewajibkan untuk mengetahui dalilnya, bahkan mencukupkan dengan bertanya kepada ahli ilmu.

2. Dalil ijma ‘amaly, sejak zaman sahabat Nabi r; generasi yang utama, diantara mereka ada fuqoha dan ‘awam. Tidaklah dikatakan kepada ‘arobiy yang tinggal dipedalaman : ‘Tidak sah keislamanmu sehingga kamu mengetahui setiap masalah aqidah dan ushulud dien dengan dalilnya; dari al Kitab dan as Sunnah. Para sahabat tidak melakukan ini, maka ia sebagi ijma’ ‘amali. Andaikan mereka melakukannya pasti akan dikutif dan sampai kepada kita.

3. Pandangan yang benar, karena mengetahui setiap masalah dengan dalilnya bukan kemampuan setiap orang; karena diantara manusia ada yang kuat akalnya untuk menghapal dan memehaminya dan ada pula yang sebaliknya. Andaikan diwajibkan pada setiap mukallaf untuk mengetahui dalil maka bertentangan dan banyak ayat dan hadits serta maqoshidus syari’ah.

Dengan penjelasan di atas maka jelaslah maksud penulis, ia memaksudkan dengannya adalah perkara ushuludien yang dengannya tetap keislaman dan hilang kekafiran; Bukan setiap perkara ushuluddien. Demikianlah semestinya, jika mendapatkan beberapa kemungkinan dari perkataan  Imam ahlus sunnah dan du’atnya, maka harus memaknainya dengan makna yang benar. Demikianlah diantara manhaj ahlus sunnah wal jama’ah; manhaj al Qur’an dan as Sunnah.

2) Mengetahui seluruh syari’at; baik tentang fiqhul akbar atau pun fiqhul asghor dengan dalil-dalilnya. Maka maksud seperti ini tidak pernah diungkapkan oleh seorang pun, kecuali ungkapan masyhur yang disandarkan pada dzohiriyah. Namun pada kenyataannya penyandaran tersebut tidak memeliki bukti yang mu’tabar. Allohu Ta’ala wa A’la A’lam.

  1. Perkataan penulis (( الثانية ) : العمل به) ‘Kedua : Beramal dengannya’.

Yitu beramal dengan ilmu yang telah diketahui. Akan datang rinciannya pada perkataan penulis tentang tsalatsatul ushul. Insya Alloh.

Maksud perkataan penulis ‘beramal dengannya’ adalah setiap amal yang telah diwajibkan oleh Alloh dan Rosululloh r. Karena amal yang berkaitan dengan agama terbagi dua jenis :

  1. Amal yang wajib dilakukan oleh seluruh mukallaf dan mukallafah.
  2. Amal yang tidak wajib, akan tetapi mustahab ‘sunnah’.

Jenis yang pertama adalah yang dimaksudkan oleh penulis rohimahulloh. Karena ia merupakan masalah-masalah yang wajib dikerjakan. Adapun masalah-masalah yang mustahab tidak wajib dikerjakan.

Kewajiban ini diisyaratkan oleh penulis dengan membawakan firman Alloh Ta’ala; yakni surat al ‘Ashr. Diantara yang menguatkanya pula sabda Rosululloh r yang dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya – demikian pula selainnya –, Nabi r bersabda :

لا تتجاوز قدما العبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع وذكر منها عن علمه ماذا عمل به

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara – beliau menyebutkab diantaranya – tentang ilmu, bagaimana dia beramal dengannya”. Menurut sebagian pendapat : Ia adalah dalam perkara-perkara yang wajib.

11. Perkataan penulis ((الثالثة ) : الدعوة إليه) ‘Ketiga : Dakwah kepadanya’.

Yaitu menyeru manusia kepada Alloh dan pada Islam. Dakwah dilakukan setelah engkau mengetahui dan beramal dengan ilmu. Dakwah wajib bagi setiap muslim yang telah mengetahui Robb-nya, nabiNya dan telah mengetahui agama Islam.

Dakwah terbagi dua :

  1. Dakwah tasis : Ia adalah dakwah yang diserukan kepada selain muslimin. Maka dakwahilah mereka dengan semampumu.
  2. Dakwah tashih : Ia adalah dakwah yang ditujukan kepada kaum muslimin yang melakukan penyimpangan atau tidak mengetahui tentang ibadah yang benar, atau pada kaum muslimin yang terkontaminasi kesyirikan dan kebid’ahan.

Syarat-syarat berdakwah :

  1. Ikhlas karena Alloh Ta’ala.
  2. Mengilmui yang akan disampaikan.
  3. Mengetahui keadaan mad’u ‘yang akan didakwahi’.
  4. Mengetahui wasail dakwah.

12. Perkataannya ((الرابعة ) : الصبر على الأذى فيه) ‘keempat : bersabar dengan cobaan yang ada di dalamnya’.

Alloh Ta’ala memuliakan orang-orang yang sabar, kesabaran merupakan ciri khas orang-orang shalih dan para nabi yang memiliki keteguhan, bagi mereka salam para Malaikat. Bahkan tidak akan dicapai keimamahan di dalam agama kecuali dengan keyakinan dan kesabaran.

Sabar secara bahasa adalah menahan dan mencegah. Adapun secara istilah adalah menahan jiwa dari mengeluh dan menggerutu, menahan lisan dari mengadu kecuali kepada Alloh dan menahan anggota badan dari berbuat maksiat.

Barangsiapa menyeru manusia untuk kembali kepada tauhid dan aqidah yang benar serta kepada sunnah nabawiyah dengan pemahaman salaful ummat, maka suatu kemestian untuk mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan; dari kesempitan dan permsuhan. Akan tetapi Alloh Maha Lembut dengan para hambanya, Dia tidak menguji seorang hamba kecuali dengan seukuran kuat dan lemahnya keimanan. Oleh karena itu, manusia yang paling besar cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang selainnya yang semisal dengan mereka.

Lihatlah kepada orang-orang sebelum kita dari para du’at yang menyeru kepada kebaikan; dimulai dari para nabi, kemudian lihat keadaan kita !!. Alloh menguji mereka dengan berbagi kesulitan dan kesusahan, karena Alloh mengetahui kekuatan iman yang menghujam di dada-dada mereka. Sungguh Alloh telah berbuat lembut dan menyayangi kita, Dia Ta’ala meringankan ujian dan cobaannya kepada kita, tatkala mengetahui lemah dan lembeknya keimanan kita. Sesungguhnya Alloh Maha Lembut dan Maha Mengetahui tentang para hambanya.

Kesabaran terbagi tiga :

a. Sabar dalam melaksanakan keta’atan.

b. Sabar dalam meninggalkan maksiat.

c. Sabar dalam menghadapi ujian dan taqdir.

Ketiga jenis kesabaran ini terkumpul dalam firman Alloh Ta’ala surat Luqman ayat 17, Alloh Ta’ala berfirman :

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

Bersabar dalam keta’atan terdapat dalam firman-Nya:

Hai anaku, dirikanlah shalat dan serulah manusia mengerjakan yang baik”.

Bersabar dalam meninggalkan maksiat dalam firman-Nya:

“dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar”. Dan yang pertama dilarang adalah dirinya sendiri.

Bersabar dalam taqdir dalam firman-Nya :

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu”.

13. Perkataannya rohimahulloh :

والدليل قوله تعالى : بسم الله الرحمن الرحيم ] والعصر * إن الإنسان لفي خسر * إلا الذين أمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

“Dalilnya Firman-Nya Ta’ala : Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. [Demi Masa. Sesungguhnya manusia benar-benar ada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati pula untuk tetap bersabar]”.

Dalil adalah sesuatu yang menunjukan pada yang di cari. Penulis rohimahulloh membawakan surat al ‘Ashr sebagi dalil bagi empat masalah yang telah lalu penyebutannya.

Dalam surat ini Alloh Ta’ala benar-benar memberitakan kepastian dengan beberapa penekanan :

Pertama :Qosam ‘sumpah’. Yakni dengan huruf qosam.

Kedua : Huruf (إن) ‘Sesungguhnya’.

Ketiga :Huruf (ل)‘lam’; lam taukid.

Lafadz (الإنسان) al Insan ’manusia’, huruf ‘al’ pada ayat di atas menunjukan lil jinsi ‘jenis manusia’, maka maknanya : Seluruh jenis manusia berada dalam kerugian; baik laki-laki atau pun perempuan. Dikecualikan dari jenis manusia ini para nabi; orang-orang yang ma’shum. Kemudian Alloh mensifati yang terlepas dari kerugian tersebut dengan empat sifat :

a.  (الذين أمنوا) ‘Kecuali orang-orang yang beriman’, beriman kepada Alloh, Malaikat, kitab-kitab, para rosul, hari akhir dan iman kepada taqdir; yang baik atau pun yang buruk.

Iman merupakan kepercayaan yang pasti tanpa keraguan tentang hal tersebut. Kepastian seperti itu tidak mungkin terwujud dengan benar kecuali dengan ilmu yang mendahuluinya.

Dari penggalan ayat ini penulis berdalil bagi wajibnya masalah pertama; yakni al Ilmu. Mengatahui tentang Alloh, nabi-Nya dan agama Islam.

b.  (وعملوا الصالحات) ‘Dan beramal shalih’. Secara muthobaqoh penulis berdalil bagi masalah yang kedua; yakni beramal dengan ilmu yang wajib diketahui tersebut.

c.  (وتواصوا بالحق) ‘Saling menasihati dalam kebenaran’. Dakwah merupakan media untuk menyampaikan nasihat, memberitahu orang yang belum tahu, meluruskan yang salah dan mengingatkan orang-orang yang lalai. Penggalan ayat ini sebagi dalil bagi masalah yang ketiga; yakni dakwah kepada ilmu dan amal.

d.  (وتواصوا بالصبر) ‘Saling memberikan nasihat untuk senantiasa bersabar’. Secara muthobaqoh menjadi dalil bagi masalah yang ke empat.

Faidah : Tentang kata (الإنسان) ‘al Insan’ dalam surat di atas memiliki dua penafsiran.

–         (الإنسان) : (الكافر) ‘orang-orang kafir’.  Jika maknanya (الكافر) maka huruf (إلا) munqothi’an,; karena firmanNya (إلا الذين أمنوا) “Kecuali orang-orang yang beriman” hanya berkaitan dengan orang-orang yang beriman. Makna istitsna munqhothi : Al Mustatsna bukan bagian dari al mustatsna minhu.

–         (الإنسان) : (جنس الإنسان) ‘jenis manusia’. Jika demikian maka huruf (إلا) bukanlah istitsna munqhothi’.

14. Perkataan rohimahulloh :

قال الشافعي رحمه الله تعالى😦 لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

“Asyafi’i rohimahulloh berkata : “Andaikan Alloh tidak menurunkan hujjah pada makhluknya kecuali hanya surat ini saja, maka telah cukup bagi mereka”.

Dikatakan : Penulis rohimahulloh mengutif perkataan Imam as Syaf’iy secara makna; yakni bukan dengan redaksi aslinya. Allohu ‘alam.

Imam Ibnu Katsir As Syafi’iy berkata : Imam Syafi’i rohimahulloh berkata : “Andaikan manusia mentadaburi surat ini niscaya mencukupi mereka”.

Perkataan ini menunjukan kecerdasan, kejernihan dan keluasan pemahaman Imam Syafi’i. Rosululloh r bersabda : “Barangsiapa yang Alloh kehendaki baik, maka Allooh fahamkan dia pada Agama”.

Makna perkataan penulis (لكفتهم) ‘Nicaya mencukupi mereka’ memiliki dua kemungkinan :

1.  (لكفتهم) ‘mencukupi mereka’ dalam perkara-perkara yang Alloh wajibkan kepada mereka; dari perkara-perkara yang umum lagi wajib. Makna inilah yang dikehendaki oleh Imam Syafi’i rohimahulloh.

2.  (لكفتهم) ‘mencukupi mereka’, yakni : Dalam mengetahui masalah-masalah agama. Ini bukan yang dimaksud. Karena surat al ‘Ashr tidak meliputi seluruh perkara agama, hukum dan syari’at.

Alasan dikuatkannya pendapat pertama :

  1. Hissi; makna tersebut kita rasakan dari surat ini. Bahwa kemungkinan yang pertama merupakan kemungkinannya; tidak yang kedua.
  2. Ijma ahli tafir dan yang lainnya.

15. Perkataan penulis rohimahulloh :

وقال البخاري رحمه الله تعالى  : ( باب العلم قبل القول العمل ) ، والدليل قوله تعالى : ] فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك …  ، فبدأ بالعلم قبل القول والعمل

“Bukhori rohimahulloh berkata : Penjelasan bahwa ilmu sebelum berkata dan beramal, dalilnya firman Alloh Ta’ala : “Ketahuilah !, tidak ada sesembahan yang benar selain Alloh dan beristighfarlah !”. Maka Alloh memulai dengan ilmu sebelim perkataan dan perbuatan.

Alasan penulis mengutif perkataan Imam Bukhori :

  1. Untuk menerangkan pentingnya ilmu, kemuliaan dan ketinggiannya.

Alasan pertama ini jelas dengan dua perkara :

  • Perkataan Bukhori (Penjelasan bahwa ilmu sebelum berkata dan beramal), beliau mendahulukan ilmu dari amal.
  • Perkataan rohimahulloh : Maka Alloh memulai dengan ilmu.

2.  Suatu kemestian untuk mendahulukan ilmu daripada amal. Maka tidak boleh beribadah berkeyakinan (aqidah), mengatakan dan berbuat kecuali dengan ilmu.

b. Pembagian manusia dalam ilmu dan amal :

  • Manusia yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya. Mereka adalah orang-orang Yahudi.
  • Manusia yang rajin beramal namun tidak berlandaskan kepada ilmu, merekalah orang-orang Nashroni.
  • Manusia yang memiliki ilmu dan mengamalkannya, merekalah muslim sejati.

Tiga pembagian ini diisyaratkan dalam surat al Fatihah.

Faidah :Syaikh Muhammad Aman Al Jami rohimahulloh berkata : “Demikianlah ahli ilmu, menetapkan suatu masalah atau menetapkan suatu hukum, kemudian menjelaskan hal tersebut dengan dalil dari al Kitab dan as Sunnah serta membatasi perkataan mereka dengan perkataan as salaf – ridwanullohi ‘alaihim -, untuk menjelaskan bahwa mereka memahami sebagimana difahami as salaf”.

***


[1] Lihat Miftahul Wushul, h. 12-13.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: