Khulashotul Ushul Karya Syaikh Abdulloh Al Fauzan [Ushul Fiqih Untuk Pemula] bag. 2

Adapun dalil-dalil yang diperselisihkan sebagai berikut :

1. Madzhab Sahabat

Sahabat adalah orang-orang yang berkumpul dengan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan mu’min dan meninggal dalam keadaan demikian.

Yang dimaksud dengan madzhabnya adalah : Perkataan dan pendapatnya, di dalam masalah-masalah yang tidak ada nas dari al-Kitab atau as-Sunnah. Perbuatan dan persetujuan (mereka) termasuk pada madzhab sahabat, baginya tiga bentuk :

  1. Bentuk pertama : Jika masalah tersebut terkenal dan tidak ada yang mengingkari. Maka ia merupakan hujjah menurut pendapat kebanyakan para ulama. Sebagian mereka menganggapnya sebagai ijma’ sukuti. Telah terdahulu bahwa (anggapan seperti ini) lemah.
  2. Bentuk kedua : Jika masalah tersebut tidak terkenal dan tidak ada seorang pun yang menyelisihinya. Keadaan ini diperdebatkan (para ulama), yang nampak – Allohu ‘Alam – ia diambil tatkala tidak ada dalil dari al-Kitab, as-Sunnah, ijma atau yang lainnya dari sesuatu yang mu’tabar. Mengambil pendapat yang merupakan hasil ijtihad sahabat adalah lebih utama daripada mengambil pendapat\ijtihad orang yang datang setelah mereka. Akan tetapi bukan hujjah yang lazim seperti nas al-Kitab dan as-Sunnah. Madzhab sahabat rodiyallohu ‘anhum yang paling kuat adalah pendapat khulafa ar-rosidin yang empat, kemudian orang-orang yang terkenal sebagai ahli fiqih dan fatwa dari sahabat.
  3. Bentuk ketiga : Jika pendapat tersebut diselisihi oleh sahabat yang lainnya, maka ini bukanlah hujjah menurut seluruh fuqoha. Jika didapatkan sandaran pendapatnya atau pendapat yang lainnya maka amal dengan dalil tidak dengan perndapat\perkataan sahabat.

Dikecualikan dari itu penafsiran mereka terhadap nas-nas dari al-Kitab dan as-Sunnah, ia merupakan hujjah dan didahulukan dari penafsiran orang-orang yang sesudah mereka; karena mereka ahli lisan dan telah menyaksikan turunnya wahyu, maka pemahaman mereka lebih sempurna, dan lebih mengetahui yang diinginkan oleh pembuat syari’at, yang tidak dimiliki oleh selain mereka.

2. Al-Istishab

Secara bahasa\etimologi : Meminta teman dan kelangsungannya.

Secara istilah\terminologi : Membiarkan suatu penetapan selama hal tersebut tetap atau membiarkan penafian sesuatu selama hal tersebut dinafikan.

Ia memiliki tiga bentuk, seluruhnya hujjah :

  1. Istishab baroatul ashliyah (tetapnya hukum asal) sehingga ada sesuatu yang memindahkan dari hukum asalnya. Inilah yang dimaksud dengan isthishab tatkala dimutlakan.
  2. Istishab dalil syar’i sehingga datang yang memalingkannya.
  3. Istishab sifat yang menetapkan hukum syar’i sehingga adanya yang menyelisihinya.

Isthishab dengan ketiga macamnya tidaklah menetapkan suatu hukum yang baru. Ia hanya menunjukkan keberlangsungan hukum terdahulu, yang  tetap dengan dalil yang dianggap.

Oleh karenanya, ia bukanlah dalil yang berdiri sendiri yang diambil faidah hukum. Tapi ia merupakan salah satu cara melaksanakan\menjalankan dalil. Tidaklah berpaling padanya kecuali tatkala tidak adanya dalil khusus di dalam masalah tersebut.

Ia merupakan langkah terakhir dalam sandaran fatwa, jika seorang mujtahid telah mencurahkan kemampuan di dalam pembahasannya pada dalil-dalil namun tidak mendapatkannya; maka dia kembali pada isthishab. Adapun isthishab dijadikan sebagi suatu hukum ijma di dalam menyelesaikan masalah maka bukanlah hujjah menurut pendapat yang terpilih.

Di dalam isthishab ini terdapat beberapa kaidah fiqhiyah : diantaranya :

  1. Keyakinan tidaklah hilang dengan keragu-raguan.
  2. Asal segala sesuatu adalah boleh kecuali jika ada dalil yang menunjukkan keharamannya.
  3. Asal segala sesutau suci kecuali jika ada dalil yang menunjukkan tentang najisnya.
  4. Asal di dalam ‘adah (kebiasaan) adalah boleh kecuali jika ada larangannya dari syar’i.
  5. Asalnya lepas tanggung jawab sehingga adanya dalil yang menyelisihinya.
  6. Asal dari sesuatu yang menjadi tanggung jawab\kewajibannya adalah tetap adanya kewajiban tersebut sampai adanya keyakinan bahwa ia telah terlaksana.

3. Syari’at sebelum kita :

Yang dimaksud dengannya adalah : Hukum-hukum yang Alloh Ta’ala telah mensyari’atkannya kepada umat yang terdahulu, melalui lisan para rosul-Nya kepada mereka. Sesuatu yang termaktub di dalam taurot, injil dan selain keduanya. Ia ada empat macam :

Pertama : Hukum-hukum yang telah disyari’atkan kepada umat-umat sebelum kita, kemudian al-Kitab dan as-Sunnah menjadikannya syari’at bagi umat ini. Maka ia hujjah tanpa keraguan.

Kedua : Hukum-hukum yang disyari’atkan bagi umat-umat sebelum kita, kemudian al-kitab dan as-Sunnah datang menghapuskannya, ia bukanlah syari’at bagi umat ini. Maka ia bukanlah syari’at bagi kita tanpa perbedaan.

Ketiga : Hukum-hukum yang tidak ada penyebutannya di dalam al-Kitab dan as-Sunnah, seperti yang diambil dari isroiliyat, maka ia bukanlah syariat bagi kita secara ijma’.

Keempat : Hukum-hukum yang datang penyebutannya di dalam al-Kitab atau as-Sunnah, akan tetapi tidak ada yang menunjukkan pensyariatannya atau yang menyatakan bahwa ia bukanlah syari’at kita. Ini merupakan masalah yang terjadi perselisihan antara ahli ilmu. Apakah ia dihitung sebagai dalil tasyri’ ataukah tidak ?. Yang kuat adalah syari’at bagi kita, ini merupakan pendapat kebanyakan para ulama.

Bersambung …

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: