PETIKAN SYARAH MANDZUMAH BAIQUNIYAH, SYAIKH ABUL HASAN, Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيم

المقدمة

1- أبْدَأُ بالحمدِ مصليّاًً على

محمدٍ خيرِ نبيٍّ أرْسِلا

Nadzim rohimahulloh berkata:

1. Aku mulai dengan pujian dalam keadaanku bersholawat atas Muhammad sebaik-baik nabi yang diutus.

Sebelum kita memulai penjelasan tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan bait ini, maka sebagian ulama merasa heran tatkala nadzim rohimahulloh tidak memulai dengan bismilah. Mereka berkata : Pencantuman bismilah yang didapatkan pada sebagian naskah merupakan perbuatan sebagian pensyarah, kecuali sebagian dari mereka pun menetapkannya dari perbuatan nadzim. Jika melandasi diri pada perkataan (yang kedua) maka memualai dengan hamdalah pada perkataannya (أبدأ بالحمد) merupakan permulaan yang idzofi lagi nisbi, sedangkan memulai dengan bismillah merupakan permulaan yang mutlaq.

Peringatan : Merupakan kebiasaan dari kebanyakan orang-orang yang beriman, mereka memulai kitab-kitab mereka dengan bismillah, diantara mereka pun ada yang memulainya dengan hamdalah atau dengan dzikrulloh. Kebanyakan mereka bersandar pada hadits yang diriwayatkan dari nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Setiap urusan penting yang tidak dimulai denan bismillah – dalam riwayat – : ‘dengan hamdalah’ – dalam riwayat yang lain – ‘dengan dzikrulloh – maka terputus atau ajdzam”, yakni tidak berkah. Walau pun dzohirnya sempurna namun hakikat hadits ini tidaklah sahih. Syaikh kami al-Albani telah menjelaskannya pada kitab al-Irwa.

Dalam bait ini ada beberapa masalah :

Masalah Pertama : Pengertian ‘Al-Hamdu’ : Ia adalah pensifatan yang dipuji dengan kesempurnan; Disertai dengan kecintaan dan pengagungan. Jika pensipatan tersebut tidak disertai kecintaan maka disebut madh, bukan hamdu.

Pensifatan dengan kesempurnaan yang mutlaq tidaklah terjadi kecuali bagi Alloh subhanahu. Dia subhanahu dipuji pada keesaan-Nya, asma dan sifatnya, perbuatan-Nya, nikmat-nikmat-Nya dan taqdirnya. Maka Dia-lah Alloh subhanahu yang dipuji dengan pujian yang mutlaq pada setiap keadaannya.

Masalah Kedua : Perkataannya ‘musholiyan’ :

Ia dibaca nashob sebagi hal (menunjukan keadaan), yakni: Aku awali dengan pujian tatkala aku bersholawat. Ulama lughoh menamakannya dengan hal muntadziroh. Jadi tempat as-sholawat  – yaitu lisan – sibuk dengan hamd. As-sholawat dan hamd tidak akan pernah bersatu  pada satu waktu secara berbarengan. Susunan yang diungkapkan oleh penulis mengisyaratkan pada tingginya keinginan. Demikian itu tatkala seseorang mengumpulkan berbagai kebaikan; Baik yang dzohir dan bathin dan dia menyempurnakan seluruhnya.

As-sholawat jika dari hamba; Adalah : Permintaan sanjungan (kepada Alloh) atas nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam di tempat yang tinggi. Sebagimana dalam firman-Nya Ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, bersholawat dan salam lah kepadanya”. Jika sholawat tersebut dari Alloh atas nabinya; Maka ia bermakna sanjungan. Sebagimana dalam firman-Nya Ta’ala : “Sesungguhnya Alloh dan Malaikat-Nya bersholawat atas nabi”. Jika dari Malaikat maka bermakna istighfar .

Masalah Ketiga : Perkataannya “Muhammad”.

Ia merupakan nama diantara nama-nama nabi r, beliau memiliki banyak nama; Banyaknya nama menunjukan pada banyaknya sifat dan makna. Ibnu Utsaimin rohimahulloh dalam syarah mandzumahnya menyebutkan : ‘Bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla tidak menyebutkannya di dalam al-Qur’an kecuali dengan nama Muhammad dan Ahmad. Makna ‘Muhammad’ : Bahwa perbuatan – yakni pujian – terjadi dari manusia, yaitu : Manusia memujinya. Makna ‘Ahmad’ : Kerterpujian terdapat pada dirinya; atau : Beliau merupakan manusia yang paling banyak memuji kepada Alloh Ta’ala. Selesai dengan diringkas.

Masalah Keempat : “Khoir”.

Ia merupakan af’alut tafdil, akan tetapi hamzahnya dibuang, metode seperti ini ada di dalam bahasa arab. Mereka membuang hamzah dari afalut tafdil. Seperti bahasa dari orang-orang yang berkata (وحَبُّ شيء إلى الإنسان ما مُنعا), yakni (وأحب شيء).

Maka (خير) tidak boleh dibaca tanwin.

Dengan demikian maknanya adalah : Beliau r merupakan rosul yang paling utama/baik yang di utus oleh Alloh ‘Azza wa Jalla. Bahkan Rosululloh  telah bersabda :

“أنا سيد ولد آدم ولا فخر”

“Aku merupakan penghulu bani Adam, namun (aku) tidaklah sombong”.

***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: