Khulasotul Ushul Karya Syaikh Abdulloh Al Fauzan [Usul Fiqih Untuk Pemula] bag. 1

خلاصة الأصول

Pengantar Ilmu Usul Fqih

(Edisi Terjemahan Bagian 1)

Abdulloh bin Shalih Al Fauzan

Pengajar di Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Al Islamiyah

*****************************************************

MUQODDIMAH

MENERANGKAN DEFINISI

DAN PERINSIP DASAR USHUL FIQIH

Definisi Usul Fiqih :

Ushul Fiqih memiliki dua pengertian :

Pertama : Ditinjau dari masing-masing katanya :

Al-Ushul jamak dari ashlun, ia secara bahasa : Segala sesuatu yang adanya sesuatu itu bersandar kepadanya.

Dan secara istilah digunakan pada beberapa penggunaan, diantaranya dalil, inilah yang dimaksudkan disini. Maka ushul fiqih itu adalah : dalil-dalilnya.

Fiqih secara bahasa : Al-fahmu

Secara istilah : Mengetahui hukum-hukum syar’i amaliyah dengan dalil-dalilnya yang terperinci

Pengertian yang kedua : Ditinjau dari suatu ilmu yang tersendiri, maka  ia memiliki pengertian : Dalil-dalil fiqih yang ijmaliyah/gelobal, dan tata cara mengambil faidah dari dalil-dalil tersebut dan tentang keadaan al-mustafidz.

Hasilnya : Kemampuan untuk mengambil kesimpulan hukum as-syar’iyyah diatas pijakan/asas-asas yang selamat. (Dan) mengetahui bahwa asy’syari’ah itu sesuai bagi seluruh waktu dan tempat. Hal demikian karena kemampuannya untuk ‘menelurkan’ hukum-hukum tatkala didapatkannya kejadian-kejadian yang berlalu sepanjang masa.

Kaitannya dengan ilmu yang lainnya : Kedudukannya dari ilmu-ilmu yang lainnya; Ia merupakan bagian dari ilmu-ilmu syar’iyah. Ilmu ini bagi ilmu fiqih seperti ‘ulumul hadits (mutholah al-hadits) bagi hadits dan seprti ushul an-nahwi bagi nahwu.

Keutamannya : Seluruh dalil yang telah otentik tentang anjuran untuk komitmen di dalam agama Alloh Ta’ala, maka terhenti atas ushulul fiqh. Telah tetap baginya keutamaan yang dimiliki oleh ilmu fiqih, karena ia merupakan sarana yang menghantarkan padanya.

Pencetusnya : Imam Syafi’I -rihimahulloh-, demikian itu dengan menulis kitab (Ar-Risalah), ia merupakan kitab yang membahas ushul.

Sandarannya : Maksudnya adalah sumber-sumbernya yang dibangun diatasnya kaidah-kaidah-nya :

1. Penelitian terhadap nas-nas dari Al-Kitab dan As-Sunnah

2. Atsar yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi’in

3. Bahasa Arab

4. Kesepakatan as-Salaf as-Shalih

5. ijtihad ahli ilmu dan istimbath mereka sesuai dengan batasan-batasan syari’at.

Hukumnya : Fardu kifayah, kecuali bagi orang-orang yang hendak berijtihad maka baginya fardu ‘ain.

Masalah-masalahnya : Ia adalah meliputi pembahasan yang dengannya seorang mujtahid bisa mengambil faidah dan kesimpulan hukum-hukum syar’iyah.

Kemuliannya : Ia adalah ilmu yang mulia dikarenakan kemuliaan pembahasannya, ia adalah suatu ilmu yang dengannya diketahui tentang hukum-hukum Alloh Ta’ala yang  mewariskan keberhasilan dan kebahagian di dua negeri.

Bab Pertama : Tentang Adillah al-Ahkam Asyar’iyah

Al-adillah jamak dari dalil, ia secara bahasa : Sesuatu yang menunjukkan pada yang dicari.

Secara istilah : Sesuatu yang diambil faidah darinya hukum-hukum syar’i yang ‘ilmiyah, dengan cara koth’i atau-pun dzon.

Al-Adillah : Ia adalah Al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’, dan qiyas. Ini merupakan dalil-dalil yang disepakati kebanyakan (jumhur) muslimin. Adapun al-Istihab, madzhab sahabat, syari’at orang-orang sebelum kita, masholih mursalah, ‘urf (kebiasaan), syadu adzari’ah maka merupakan suatu yang diperselisihkan; ia menurut orang yang menyatakannya merupakan dalil-dalil atas hukum Alloh Ta’ala.

Al-adillah seluruhnya kembali kepada kitab Alloh, ia merupakan asal. As-sunnah yang mengkhabarkan tentang hukum Alloh, yang menerangkan Al-Qur’an. Adapun ijma’ dan qias keduanya bersandar kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Seluruh dalil tidaklah dilirik andaikan tidak bersandar kepada al-Kitab dan as-Sunnh.

1. Al-Kitab

Ia merupakan perkataan Alloh Ta’ala yang diturunkan atas Rosul-Nya Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam , yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-nas.

Diantara Kekhususannya :

  1. Ia merupakan perkataan Alloh Ta’ala; Lafadz dan maknanya, seluruhnya.
  2. Ia diturunkan dengan lisan arob yang jelas.
  3. Membacanya merupakan ibadah, di dalam sholat dan pada seliannya.
  4. Ia dituliskan di dalam mushaf-mushaf.
  5. Ia di hafal di dalam dada-dada (manusia).
  6. Ia dijaga dari perubahan, penggantian, penambahan dan dari pengurangan.

Ia merupakan qot’iyu at-tsubut , karena ia dinukil dengan mutawatir. Adapun al-qiro’ah (bacaan) yang tidak mutawatir maka tidak dinamakan qur’an. Adapun penunjukannya atas hukum-hukum maka kadang-kadang qoth’i dan kadang pula dzoniyah; dan begitulah kebanyakannya.

Sungguh, Al-Qur’an ini telah mengandung segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seluruh manusia. Ia terdiri dari tiga macam (kandungan) :

  1. Hukum-hukum i’tiqodiyah
  2. Hukum-hukum akhlaqiyah shulukiyah.
  3. Hukum-hukum amaliyah, ia berkaitan dengan perbuatan al-mukalafin. Hukum-hukum ‘amaliyah ini ada dua :
  • Ibadah
  • Mu’amalah, dan penamaannya dengan hal tersebut hanyalah penamaan istilah belaka.

2. As-Sunnah

Ia adalah perkataan nabi sholaoohu ‘alaihi wassallam, perbuatan dan persetujuannya.

Adapun perkataannya sholallohu ‘alaihi wassallam; Jika perkataan yang shorih maka ia marfu’ secara hakikat atau di dalamnya terdapat makna al-qaul, seperti qoul (perkataan) sahabat : “Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam telah memerintahkan demikian atau perkataan : Beliau melarang dari demikian.

Ia merupakan hujjah yang memutuskan (tidak ada celah untuk menolaknya) bagi orang yang telah mendengarnya. Jika sunnah tersebut dikutifl kepada yang lain maka menurut pendapat jumhur bisa mutawatir atau ahad.

Mutawatir secara bahasa adalah yang saling susul menyusul; Adapun secara istilah adalah : Hadits yang dinukil oleh jama’ah yang banyak, yang secara kebiasaan mustahil terjadinya pemufakatan untuk dusta, dan mereka menyandarkannya pada sesuatu yang dapat diindra.

Hadits mutawatir ini memberikan faidah ilmu, ia merupakan suatu ketetapan yang pasti bila (telah) sahih penisbatannya kepada orang yang telah dikutif tentangnya. Dan juga memberikan faidah beramal dengan sesuatu yang telah ditunjukannya dengan cara membenarkannya jika hadits tersebut merupakan khobar\berita dan dengan mempraktekannya jika hadits tersebut merupakan tuntutan (atas suatu perbuatan –pen).

Ahad secara bahasa : Jamak dari (Ahad) yang bermakna wahid (satu\tunggal).

Adapun secara istilah adalah : Selain hadits mutawatir.

Hadits-hadits ahad merupakan hujjah secara mutlak, baik di dalam masalah aqidah ataupun masalah ahkam. Karena hadits ahad itu berfaidah memberikan dzon yang rojih (kuat) bila telah sahih penisbatannya kepada Rosululloh saw . Jika telah terpenuhi didalam hadits tersebut syarat-syarat (hadits) sahih atau yang dibawah syarat hadits sahih tersebut, dialah hadits yang hasan. Dan kadang hadits ahad ini memberikan faidah ilmu yang pasti jika dengannya ada tanda-tanda atau umat telah menerimanya. Hal yang demikian secara khusus diketahui oleh ahli hadits dan selain mereka mengikuti mereka (ahli hadits).

Adapun perbuatan-perbuatan sholallohu ‘alaihi wassallam maka pada asalnya adalah mencontoh dengannya. Tidaklah boleh menghukumi suatu perbuatan bahwa ia merupalan khususiyah kecuali dengan dalil. Kemudian sesuatu yang telah dilakukannya sebagai bentuk ibadah maka yang benar hukumnya adalah istihbab. Suatu perbuatan yang merupakan penjelasan bagi yang mujmal maka ia merupakan pensyari’atan bagi umatnya; ada yang wajib dan ada pula yang mandzub/sunnah.

Dan suatu perbuatan yang dilakukan beliau sholallohu ‘alaihi wassallam, yang ia merupakan tuntutan adat\kebiasaan maka tidak ada hukum baginya di dalam dzat perbuatan tersebut; Dan bukan bagian dari tasyri’, kecuali jika baginya sifat yang dituntut.

Adapun suatu perbuatan yang tidak nampak sisi taqorubnya maka ada kemungkinan sebagai adat\kebiasaan atau sebagai ibadah. Paling rendah keadaannya adalah ibahah.

Kebalikan perbuatan-perbuatan adalah at-turuk (meninggalkan), ia ada tiga jenis:

  1. Meninggalkan perbuatan karena tidak adanya tuntutan untuk melakukan perbuatan tersebut, maka meninggalkannya tidak menjadi sunnah.
  2. Meninggalkan suatu perbuatan bersama adanya tuntutan untuk melakukan perbuatan tersebut, (tidak-lah dilakukan karena –pen) adanya sebab yang menghalanginya. Maka meninggalkan perbuatan tersebut tidaklah menjadi sunnah, kecuali jika telah hilang penghalangnya maka mengerjakan sesuatu yang beliau meninggalkannya itu disyari’atkan, tidak menyelisihi sunnahnya sholallohu ‘alaihi wa sallam.
  3. Meninggalkan suatu perbuatan bersama adanya tuntutan untuk melakukan perbuatan tersebut dan tidak ada yang menghalanginya, meninggalkannya merupakan sunnah.

Jenis sunnah ini merupakan ushul yang agung dan kaidah yang mulia, dengannya dijaga hukum-hukum syar’i, dan dengannya ditutup pintu ibtida’ di dalam agama.

Jika perkataan sholallohu ‘alaihi wa sallam bertentangan dengan perbuatannya : (Kemungkinan pertama –pen) perbuatan tersebut merupakan pengkhususan bagi perkataan, (kemungkinan kedua –pen) atau dibawa sebagai penjelasan tentang kebolehannya, (kemungkinan ketiga –pen) atau sebagai nasikh begi perkataannya, atau yang selainnya; Dari sesuatu yang akan sempurna pengetahuannya dengan meneliti ‘tempat-tempat’ pertentangannya, (dan) dengan melihat pada dalil-dalil dan qorinah-qorinah, (yang) diambil faidah darinya di dalam penentuan\pembatasan yang dimaksud.

Adapun tqrir sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah tidak mengingari suatu perkataan atau perbuatan; Atau meridlhinya, atau bergembiranya dengannya atau menyatakan baik terhadapnya. Ia merupakan dalil atas bolehnya (seseuatu tersebut) sesuai dengan sisi\bentuk yang beliau telah mengikrarkannya. Disyaratkan dari hal itu, hendaknya beliau mengetahui terjadinya perbuatan atau perkataan tersebut, seperti terjadi di hadapannya atau terjadi tidak dihadapannya, kemudian sampai kepadanya atau yang seperti itu. Andaikan beliau tidak tahu maka ia pun hujjah, karena ikror Alloh atasnya.

Kedudukan as-Sunnah ada pada tingkatan kedua setelah al-Qur’an. Adapun di dalam ihtijaj/berdalil dan kewajiban itiba’/mengikuti maka keduanya sama. As-sunnah seperti al-Qur’an, kadang-kadang penunjukannya atas suatu hukum itu dengan qot’i atau dengan dzonni.

Hukum-hukum yang ditetapkan di dalam as-Sunnah ada tiga jenis:

  1. Hukum yang berkesesuaian dengan hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Qur’an; sebagai mu’akid ‘penguat’ baginya (al Qur’an).
  2. Hukum yang menjelaskan hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Qur’an; Bisa di dalam menjelaskan yang mujmal, atau mengkhususkan yang umum atau membatasi yang gelobal.
  3. Hukum yang permulaan, al-Qur’an mendiamkannya. Datanglah as-Sunnah dengan hukum tersebut.

3. Ijma

Ia adalah kesepakatan para ahli ijtihad setelah wafatnya sholallohu ‘alaihi wa sallam di suatu zaman dari zaman-zaman, atas suatu hukum syar’i.

Ia terbagi ditinjau dari dzatnya kepada : (1) qauliyun dan (2) sukutiyun. Al-qauliy : Setiap masing-masing mujtahid (ahli ijtihad) mengungkapkan pendapatnya di dalam suatu masalah. Ini jika memang didapatkan maka ia hujjah yang pasti tanpa perselisihan.

Adapun as-sukuti : Sebagian mujtahid mengungkapkan suatu pendapat, (dan) yang selainnya tetap (tidak ditemukan yang mengingkarinya –pen). Maka ia bukanlah hujjah menurut pendapat yang terpilih.

Ijma jika ditinjau dari kuat dan lemahnya terbagi pada : qot’iy; Ia adalah sesuatu yang diketahui terjadinya dari umat dengan dhorury. Maka ini hujjah yang pasti, tidak halal bagi seseorang untuk menyelisihinya.

Dzhony : Ia adalah sesuatu yang diketahui dengan penelitian dan penela’ahan, ia tidaklah mungkin kecuali di zaman para sahabat rodhiyallohu ‘anhum. Adapun setelah mereka maka suatu yang tidak mungkin secara umum, karena banyaknya perselisihan dan terpencar-pencarnya umat.

Ijma bukanlah dalil yang berdiri sendiri, tatkala tidak ditemukannya suatu masalah yang telah disepakati kecuali di dalam masalah tersebut ada dalil syar’i. Mengetahuinya –walaupun– sebagian mujtahid.

4. Qias

Ia adalah menyertakan cabang kepada asal (pokok), karena alasan yang menyatukan antara keduanya.

Ia merupakan cara ijtihad yang berdiri di atas nas-nas al-Kitab dan as-Sunnah. Tidaklah berpaling kepada qias (baca : tidaklah menggunakan kias) kecuali jika tidak didapatkan nas. Tidak ada nilai bagi qias yang ‘menghantam’ nas atau ijma’.

Tata cara qias : Hendaknya syari’ menyebutkan atas suatu hukum di dalam suatu masalah. Baginya sifat yang disebutkan secara tegas atau (sifat) yang disimpulkan, kemudian sifat tersebut didapatkan di dalam masalah yang lain yang syari’ tidak menyebutkan (hukumnya) atas dzat masalah tesebut, akan tetapi masalah tesebut sama dengan yang telah disebutkan atasnya, maka wajib menyertakan dengan maslah tersebut di dalam hukumnya; karena syari’ yang Maha Bijaksana tidaklah membedakan antara sesuatu yang sama di dalam sifat-sifatnya dan tidaklah mengumpulkan antara sesuatu yang berbeda (di dalam kesamaan hukumnya–pen).

Rukun-rukun qias ada empat :

  1. Ashlun : Dinamakan al-maqis ‘alaihi. Ia adalah sesuatu yang telah warid nas tentang hukumnya.
  2. Hukumul ashl. Ia adalah hukum syar’i yang tetap dengannya nas di dalam ashl. Dan dimaksudkan ta’diyahnya (peletakan hukum asal tersebut) kepada cabang.
  3. Al-Far’u. Dinamakan al-maqis, ia adalah maslah yang tidak warid nas tentang hukumnya.
  4. Al-‘Illah. Ia adalah makna yang bersekutu antara ashl dan cabang, (yang) dibangun di atasnya hukum asyar’i. Ia merupakan rukun kias yang paling penting.

Syarat-syarat qias, hukum ashl memiliki dua syarat :

  1. Hendaknya hukum ashl tetap dengan nas atau ijma’.
  2. Hendaknya hukum ashl bisa ‘dicerna’ makna(nya); supaya bisa memalingkan hukum ashl kepada furu’\cabang.

Al-Faru’ memiliki dua syarat :

  1. Hendaknya ‘illah dipastikan keberadaannya seperti adanya pada ashl. Ini merupakan kias aula dan al-musawah. Atau ‘illah tersebut besar prasangka tentang adanya.
  2. Hendaknya hukum al-faru’ tidak ditetapkan dengan ketetapan yang menyelisihi hukum ashl.

‘Illah memiliki empat syarat :

  1. Hendaknya ‘illah tersebut merupakan sifat yang jelas lagi mundhobith.
  2. Hendaknya ‘illah tersebut merupakan sifat yang sesuai untuk diterapkan hukum kepadanya, diketahui dari kaidah-kaidah syar’i. Jika ‘illah tersebut thordiyan tidak ada kesesuaian di dalamnya maka tidak sahih ta’lil dengannya.
  3. Hendaknya ‘illah tersebut merupakan sifat yang muta’addy , jika ‘illah tersebut terbatas pada hukum asal maka terlarang mengkiaskan dengannya; karena tidak ada ta’diyah kepada furu’.
  4. Hendaknya ‘illah tersebut ditetapkan dengan cara dari beberapa cara penetapan berikut :
  • An-naql; Nas dan Ijma.
  • Ijma’
  • Istinbath dengan cara sabr dan taqsim.

*****

Bersambung …

خلاصة الأصول

Pengantar Ilmu Usul Fqih

(Edisi Terjemahan Bagian 1)

Abdulloh bin Shalih Al Fauzan

Pengajar di Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Al Islamiyah

MUQODDIMAH

MENERANGKAN DEFINISI

DAN PERINSIP DASAR USHUL FIQIH

Definisi Usul Fiqih :

Ushul Fiqih memiliki dua pengertian :

Pertama : Ditinjau dari masing-masing katanya :

Al-Ushul jamak dari ashlun, ia secara bahasa : Segala sesuatu yang adanya sesuatu itu bersandar kepadanya.

Dan secara istilah digunakan pada beberapa penggunaan, diantaranya dalil, inilah yang dimaksudkan disini. Maka ushul fiqih itu adalah : dalil-dalilnya.

Fiqih secara bahasa : Al-fahmu

Secara istilah : Mengetahui hukum-hukum syar’i amaliyah dengan dalil-dalilnya yang terperinci

Pengertian yang kedua : Ditinjau dari suatu ilmu yang tersendiri, maka  ia memiliki pengertian : Dalil-dalil fiqih yang ijmaliyah/gelobal, dan tata cara mengambil faidah dari dalil-dalil tersebut dan tentang keadaan al-mustafidz.

Hasilnya : Kemampuan untuk mengambil kesimpulan hukum as-syar’iyyah diatas pijakan/asas-asas yang selamat. (Dan) mengetahui bahwa asy’syari’ah itu sesuai bagi seluruh waktu dan tempat. Hal demikian karena kemampuannya untuk ‘menelurkan’ hukum-hukum tatkala didapatkannya kejadian-kejadian yang berlalu sepanjang masa.

Kaitannya dengan ilmu yang lainnya : Kedudukannya dari ilmu-ilmu yang lainnya; Ia merupakan bagian dari ilmu-ilmu syar’iyah. Ilmu ini bagi ilmu fiqih seperti ‘ulumul hadits (mutholah al-hadits) bagi hadits dan seprti ushul an-nahwi bagi nahwu.

Keutamannya : Seluruh dalil yang telah otentik tentang anjuran untuk komitmen di dalam agama Alloh Ta’ala, maka terhenti atas ushulul fiqh. Telah tetap baginya keutamaan yang dimiliki oleh ilmu fiqih, karena ia merupakan sarana yang menghantarkan padanya.

Pencetusnya : Imam Syafi’I rihimahulloh-, demikian itu dengan menulis kitab (Ar-Risalah), ia merupakan kitab yang membahas ushul.

Sandarannya : Maksudnya adalah sumber-sumbernya yang dibangun diatasnya kaidah-kaidah-nya :

1. Penelitian terhadap nas-nas dari Al-Kitab dan As-Sunnah

2. Atsar yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi’in

3. Bahasa Arab

4. Kesepakatan as-Salaf as-Shalih

5. ijtihad ahli ilmu dan istimbath mereka sesuai dengan batasan-batasan syari’at.

Hukumnya : Fardu kifayah, kecuali bagi orang-orang yang hendak berijtihad maka baginya fardu ‘ain.

Masalah-masalahnya : Ia adalah meliputi pembahasan yang dengannya seorang mujtahid bisa mengambil faidah dan kesimpulan hukum-hukum syar’iyah.

Kemuliannya : Ia adalah ilmu yang mulia dikarenakan kemuliaan pembahasannya, ia adalah suatu ilmu yang dengannya diketahui tentang hukum-hukum Alloh Ta’ala yang  mewariskan keberhasilan dan kebahagian di dua negeri.

Bab Pertama : Tentang Adillah al-Ahkam Asyar’iyah

Al-adillah jamak dari dalil, ia secara bahasa : Sesuatu yang menunjukkan pada yang dicari.

Secara istilah : Sesuatu yang diambil faidah darinya hukum-hukum syar’i yang ‘ilmiyah, dengan cara koth’i atau-pun dzon.

Al-Adillah : Ia adalah Al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’, dan qiyas. Ini merupakan dalil-dalil yang disepakati kebanyakan (jumhur) muslimin. Adapun al-Istihab, madzhab sahabat, syari’at orang-orang sebelum kita, masholih mursalah, ‘urf (kebiasaan), syadu adzari’ah maka merupakan suatu yang diperselisihkan; ia menurut orang yang menyatakannya merupakan dalil-dalil atas hukum Alloh Ta’ala.

Al-adillah seluruhnya kembali kepada kitab Alloh, ia merupakan asal. As-sunnah yang mengkhabarkan tentang hukum Alloh, yang menerangkan Al-Qur’an. Adapun ijma’ dan qias keduanya bersandar kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Seluruh dalil tidaklah dilirik andaikan tidak bersandar kepada al-Kitab dan as-Sunnh.

1. Al-Kitab

Ia merupakan perkataan Alloh Ta’ala yang diturunkan atas Rosul-Nya Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam , yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-nas.

Diantara Kekhususannya :

1. Ia merupakan perkataan Alloh Ta’ala; Lafadz dan maknanya, seluruhnya.

2. Ia diturunkan dengan lisan arob yang jelas.

3. Membacanya merupakan ibadah, di dalam sholat dan pada seliannya.

4. Ia dituliskan di dalam mushaf-mushaf.

5. Ia di hafal di dalam dada-dada (manusia).

6. Ia dijaga dari perubahan, penggantian, penambahan dan dari pengurangan.

Ia merupakan qot’iyu at-tsubut , karena ia dinukil dengan mutawatir. Adapun al-qiro’ah (bacaan) yang tidak mutawatir maka tidak dinamakan qur’an. Adapun penunjukannya atas hukum-hukum maka kadang-kadang qoth’i dan kadang pula dzoniyah; dan begitulah kebanyakannya.

Sungguh, Al-Qur’an ini telah mengandung segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seluruh manusia. Ia terdiri dari tiga macam (kandungan) :

1. Hukum-hukum i’tiqodiyah

2. Hukum-hukum akhlaqiyah shulukiyah.

3. Hukum-hukum amaliyah, ia berkaitan dengan perbuatan al-mukalafin. Hukum-hukum ‘amaliyah ini ada dua :

· Ibadah

· Mu’amalah, dan penamaannya dengan hal tersebut hanyalah penamaan istilah belaka.

2. As-Sunnah

Ia adalah perkataan nabi r, perbuatan dan persetujuannya.

Adapun perkataannya sholallohu ‘alaihi wassallam; Jika perkataan yang shorih maka ia marfu’ secara hakikat atau di dalamnya terdapat makna al-qaul, seperti qoul (perkataan) sahabat : “Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam telah memerintahkan demikian atau perkataan : Beliau melarang dari demikian.

Ia merupakan hujjah yang memutuskan (tidak ada celah untuk menolaknya) bagi orang yang telah mendengarnya. Jika sunnah tersebut dikutifl kepada yang lain maka menurut pendapat jumhur bisa mutawatir atau ahad.

Mutawatir secara bahasa adalah yang saling susul menyusul; Adapun secara istilah adalah : Hadits yang dinukil oleh jama’ah yang banyak, yang secara kebiasaan mustahil terjadinya pemufakatan untuk dusta, dan mereka menyandarkannya pada sesuatu yang dapat diindra.

Hadits mutawatir ini memberikan faidah ilmu, ia merupakan suatu ketetapan yang pasti bila (telah) sahih penisbatannya kepada orang yang telah dikutif tentangnya. Dan juga memberikan faidah beramal dengan sesuatu yang telah ditunjukannya dengan cara membenarkannya jika hadits tersebut merupakan khobar\berita dan dengan mempraktekannya jika hadits tersebut merupakan tuntutan (atas suatu perbuatan –pen).

Ahad secara bahasa : Jamak dari (Ahad) yang bermakna wahid (satu\tunggal).

Adapun secara istilah adalah : Selain hadits mutawatir.

Hadits-hadits ahad merupakan hujjah secara mutlak, baik di dalam masalah aqidah ataupun masalah ahkam. Karena hadits ahad itu berfaidah memberikan dzon yang rojih (kuat) bila telah sahih penisbatannya kepada Rosululloh saw . Jika telah terpenuhi didalam hadits tersebut syarat-syarat (hadits) sahih atau yang dibawah syarat hadits sahih tersebut, dialah hadits yang hasan. Dan kadang hadits ahad ini memberikan faidah ilmu yang pasti jika dengannya ada tanda-tanda atau umat telah menerimanya. Hal yang demikian secara khusus diketahui oleh ahli hadits dan selain mereka mengikuti mereka (ahli hadits).

Adapun perbuatan-perbuatan sholallohu ‘alaihi wassallam maka pada asalnya adalah mencontoh dengannya. Tidaklah boleh menghukumi suatu perbuatan bahwa ia merupalan khususiyah kecuali dengan dalil. Kemudian sesuatu yang telah dilakukannya sebagai bentuk ibadah maka yang benar hukumnya adalah istihbab. Suatu perbuatan yang merupakan penjelasan bagi yang mujmal maka ia merupakan pensyari’atan bagi umatnya; ada yang wajib dan ada pula yang mandzub/sunnah.

Dan suatu perbuatan yang dilakukan beliau sholallohu ‘alaihi wassallam, yang ia merupakan tuntutan adat\kebiasaan maka tidak ada hukum baginya di dalam dzat perbuatan tersebut; Dan bukan bagian dari tasyri’, kecuali jika baginya sifat yang dituntut.

Adapun suatu perbuatan yang tidak nampak sisi taqorubnya maka ada kemungkinan sebagai adat\kebiasaan atau sebagai ibadah. Paling rendah keadaannya adalah ibahah.

Kebalikan perbuatan-perbuatan adalah at-turuk (meninggalkan), ia ada tiga jenis:

1. Meninggalkan perbuatan karena tidak adanya tuntutan untuk melakukan perbuatan tersebut, maka meninggalkannya tidak menjadi sunnah.

2. Meninggalkan suatu perbuatan bersama adanya tuntutan untuk melakukan perbuatan tersebut, (tidak-lah dilakukan karena –pen) adanya sebab yang menghalanginya. Maka meninggalkan perbuatan tersebut tidaklah menjadi sunnah, kecuali jika telah hilang penghalangnya maka mengerjakan sesuatu yang beliau meninggalkannya itu disyari’atkan, tidak menyelisihi sunnahnya sholallohu ‘alaihi wa sallam.

3. Meninggalkan suatu perbuatan bersama adanya tuntutan untuk melakukan perbuatan tersebut dan tidak ada yang menghalanginya, meninggalkannya merupakan sunnah.

Jenis sunnah ini merupakan ushul yang agung dan kaidah yang mulia, dengannya dijaga hukum-hukum syar’i, dan dengannya ditutup pintu ibtida’ di dalam agama.

Jika perkataan sholallohu ‘alaihi wa sallam bertentangan dengan perbuatannya : (Kemungkinan pertama –pen) perbuatan tersebut merupakan pengkhususan bagi perkataan, (kemungkinan kedua –pen) atau dibawa sebagai penjelasan tentang kebolehannya, (kemungkinan ketiga –pen) atau sebagai nasikh begi perkataannya, atau yang selainnya; Dari sesuatu yang akan sempurna pengetahuannya dengan meneliti ‘tempat-tempat’ pertentangannya, (dan) dengan melihat pada dalil-dalil dan qorinah-qorinah, (yang) diambil faidah darinya di dalam penentuan\pembatasan yang dimaksud.

Adapun tqrir sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah tidak mengingari suatu perkataan atau perbuatan; Atau meridlhinya, atau bergembiranya dengannya atau menyatakan baik terhadapnya. Ia merupakan dalil atas bolehnya (seseuatu tersebut) sesuai dengan sisi\bentuk yang beliau telah mengikrarkannya. Disyaratkan dari hal itu, hendaknya beliau mengetahui terjadinya perbuatan atau perkataan tersebut, seperti terjadi di hadapannya atau terjadi tidak dihadapannya, kemudian sampai kepadanya atau yang seperti itu. Andaikan beliau tidak tahu maka ia pun hujjah, karena ikror Alloh atasnya.

Kedudukan as-Sunnah ada pada tingkatan kedua setelah al-Qur’an. Adapun di dalam ihtijaj/berdalil dan kewajiban itiba’/mengikuti maka keduanya sama. As-sunnah seperti al-Qur’an, kadang-kadang penunjukannya atas suatu hukum itu dengan qot’i atau dengan dzonni.

Hukum-hukum yang ditetapkan di dalam as-Sunnah ada tiga jenis :

1. Hukum yang berkesesuaian dengan hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Qur’an; sebagai mu’akid ‘penguat’ baginya (al Qur’an).

2. Hukum yang menjelaskan hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Qur’an; Bisa di dalam menjelaskan yang mujmal, atau mengkhususkan yang umum atau membatasi yang gelobal.

3. Hukum yang permulaan, al-Qur’an mendiamkannya. Datanglah as-Sunnah dengan hukum tersebut.

3. Ijma

Ia adalah kesepakatan para ahli ijtihad setelah wafatnya sholallohu ‘alaihi wa sallam di suatu zaman dari zaman-zaman, atas suatu hukum syar’i.

Ia terbagi ditinjau dari dzatnya kepada : (1) qauliyun dan (2) sukutiyun. Al-qauliy : Setiap masing-masing mujtahid (ahli ijtihad) mengungkapkan pendapatnya di dalam suatu masalah. Ini jika memang didapatkan maka ia hujjah yang pasti tanpa perselisihan.

Adapun as-sukuti : Sebagian mujtahid mengungkapkan suatu pendapat, (dan) yang selainnya tetap (tidak ditemukan yang mengingkarinya –pen). Maka ia bukanlah hujjah menurut pendapat yang terpilih.

Ijma jika ditinjau dari kuat dan lemahnya terbagi pada : qot’iy; Ia adalah sesuatu yang diketahui terjadinya dari umat dengan dhorury. Maka ini hujjah yang pasti, tidak halal bagi seseorang untuk menyelisihinya.

Dzhony : Ia adalah sesuatu yang diketahui dengan penelitian dan penela’ahan, ia tidaklah mungkin kecuali di zaman para sahabat rodhiyallohu ‘anhum. Adapun setelah mereka maka suatu yang tidak mungkin secara umum, karena banyaknya perselisihan dan terpencar-pencarnya umat.

Ijma bukanlah dalil yang berdiri sendiri, tatkala tidak ditemukannya suatu masalah yang telah disepakati kecuali di dalam masalah tersebut ada dalil syar’i. Mengetahuinya –walaupun– sebagian mujtahid.

4. Qias

Ia adalah menyertakan cabang kepada asal (pokok), karena alasan yang menyatukan antara keduanya.

Ia merupakan cara ijtihad yang berdiri di atas nas-nas al-Kitab dan as-Sunnah. Tidaklah berpaling kepada qias (baca : tidaklah menggunakan kias) kecuali jika tidak didapatkan nas. Tidak ada nilai bagi qias yang ‘menghantam’ nas atau ijma’.

Tata cara qias : Hendaknya syari’ menyebutkan atas suatu hukum di dalam suatu masalah. Baginya sifat yang disebutkan secara tegas atau (sifat) yang disimpulkan, kemudian sifat tersebut didapatkan di dalam masalah yang lain yang syari’ tidak menyebutkan (hukumnya) atas dzat masalah tesebut, akan tetapi masalah tesebut sama dengan yang telah disebutkan atasnya, maka wajib menyertakan dengan maslah tersebut di dalam hukumnya; karena syari’ yang Maha Bijaksana tidaklah membedakan antara sesuatu yang sama di dalam sifat-sifatnya dan tidaklah mengumpulkan antara sesuatu yang berbeda (di dalam kesamaan hukumnya–pen).

Rukun-rukun qias ada empat :

  1. Ashlun : Dinamakan al-maqis ‘alaihi. Ia adalah sesuatu yang telah warid nas tentang hukumnya.
  2. Hukumul ashl. Ia adalah hukum syar’i yang tetap dengannya nas di dalam ashl. Dan dimaksudkan ta’diyahnya (peletakan hukum asal tersebut) kepada cabang.
  3. Al-Far’u. Dinamakan al-maqis, ia adalah maslah yang tidak warid nas tentang hukumnya.
  4. Al-‘Illah. Ia adalah makna yang bersekutu antara ashl dan cabang, (yang) dibangun di atasnya hukum asyar’i. Ia merupakan rukun kias yang paling penting.

Syarat-syarat qias, hukum ashl memiliki dua syarat :

1. Hendaknya hukum ashl tetap dengan nas atau ijma’.

2. Hendaknya hukum ashl bisa ‘dicerna’ makna(nya); supaya bisa memalingkan hukum ashl kepada furu’\cabang.

Al-Faru’ memiliki dua syarat :

1. Hendaknya ‘illah dipastikan keberadaannya seperti adanya pada ashl. Ini merupakan kias aula dan al-musawah. Atau ‘illah tersebut besar prasangka tentang adanya.

2. Hendaknya hukum al-faru’ tidak ditetapkan dengan ketetapan yang menyelisihi hukum ashl.

‘Illah memiliki empat syarat :

1. Hendaknya ‘illah tersebut merupakan sifat yang jelas lagi mundhobith.

2. Hendaknya ‘illah tersebut merupakan sifat yang sesuai untuk diterapkan hukum kepadanya, diketahui dari kaidah-kaidah syar’i. Jika ‘illah tersebut thordiyan tidak ada kesesuaian di dalamnya maka tidak sahih ta’lil dengannya.

3. Hendaknya ‘illah tersebut merupakan sifat yang muta’addy , jika ‘illah tersebut terbatas pada hukum asal maka terlarang mengkiaskan dengannya; karena tidak ada ta’diyah kepada furu’.

4. Hendaknya ‘illah tersebut ditetapkan dengan cara dari beberapa cara penetapan berikut :

v An-naql; Nas dan Ijma.

v Ijma’

v Istinbath dengan cara sabr dan taqsim.

*****

Bersambung …

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: