Mutiara Hukum Kitab Umdatul Ahkam 1/-

December 10, 2009

Mutiara Hukum
Kitab Umdatul Ahkam

Disusun :
Abul Barjas At Tâsîkiy

Fâtihatul Kitâb :
Pujian dan sanjungan hanya milik dan hak Alloh Ta’ala, kami memuji, memohon pertolongan, meminta ampunan dan tambahan hidayah serta memohon perlindiungan hanya kepadaNya .
Sholawat dan salam bagi pemilik as sunnah as sahihah; Kholilulloh Muhammad bin Abdillah, juga atas keluarga, para sahabat dan orang-orang yang ta’at setia kepadanya. Amin.
Al Hafidz Abdul Ghoni al Maqdisiy – rohimahulloh – merupakan ulama terkemuka di zamannya, beliau lahir pada tahun 531 H dan wafat pada tahun 600 H.
Kitab yang akan kita paparkan merupakan salah satu karya monumental beliau rohimahulloh. Kitab ‘Umdatul ‘Ahkam merupakan kumpulan hadits-hadits hukum yang beliau ambil dari kitab ‘Sahihain’; Bukhori dan Muslim.
Alloh Ta’ala telah menjadikan kitab ini sebagai salah satu kitab ‘karya tulis’ yang diterima oleh ahli ilmu dan penuntutnya dari seluruh madzhab.
Para ulama sepeninggal beliau sangat memperhatikan kitab ini dengan menjelaskan dan mengajarkannya, diantara syarah yang kami ketahui [sekaligus yang kami banyak ambil faidah darinya] adalah :
1. Ihkamul Ahkam, karya Ibnu Daqiqil ‘Ied As Syafi’i al Malikiy.
2. Al ‘Uddah Hasyiyah al ‘Alamah As Sayyid Muhammad bin Sulaiman Al Amir As Shon’ani ‘ala Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.
3. Al ‘Uddah fi Syarhi Al ‘Umdah fi Ahaditsil Ahkam, karya ‘Alaauddin bin Daud As Syafi’iy.
4. Al I’laam bi Fawaidi Umdatil Ahkam, karya Ibnu Mulaqqin.
5. Al Ilmam bi Syarhi ‘Umdatil Ahkam, karya Isma’il Al Anshori.
6. Khulasotul Kalam ‘ala ‘Umdatil Ahkam, Karya Nashir bin Abdul Aziz Al Mubaarok.
7. Taisir ‘Alam Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Syaikh Abdulloh Al Bassâm.
8. Tanbihul Afham Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
9. Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Sa’ad bin Nashir bin Abdul Aziz.
10. Zubdatul Afham bi Fawaaidi ‘Umdatil Ahkam, karya Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilalli.
Semoga Alloh Ta’ala merahmati para ulama yang telah meninggal dunia dan memberkahi yang masih hidup. Amin.
Rosululloh  bersabda : “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”.
***

Muqoddimah penulis; Al Imam Al Hafidz Abdul Ghoni Al Maqdisiy rohimahulloh :
Seluruh pujian bagi Alloh, al Malikul Jabbar, al Wahidul Qohhaar. Aku besaksi bahwa tidak ada yang diibadahi dengan benar selain Alloh semata, tiada sekutu bagiNya. Pemilik langit dan bumi serta yang ada diantara keduanya; Dial ah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad merupakan hamba dan utusanNya yang dipilih. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepadanya, para pengikutnya dan para sahabatnya yang suci lagi pilihan.
Amma ba’du :
Sebagian saudara-saudaraku memintaku untuk merangkumkan hadits-hadits hukum yang telah disepakati keabsahannya oleh dua Imam : Abu Abdillah bin Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim al Bukhori, dan Muslim bin Hajaaj ibnu Muslim Al Qusyairy An Naisaburiy . Maka aku sangat berkeinginan untuk mewujudkan permintaannya, dengan harapan bisa bermanfa’at.
Aku memohon kepada Alloh supaya Dia Ta’ala memberikan kemanfa’atnya kepada kami, dan orang yang menulisnya, atau yang mendengarnya, yang membacanya, yang menghapalkannya atau yang menela’ahnya. Dan semoga Dia Ta’ala menjadikannya semata-mata ikhlas karena wajahNya yang Maha Mulia. Sehingga bisa menjadi sebab didapatkannya keberuntungan dari sisiNya, di surgaNya yang penuh kenikmatan. Dia Ta’ala sebaik-baik yang mencukupi kita dan sebaik-baik yang dijadikan sandaran pengharapan.
***

KITAB THOHAROH

Kata kitab dan thoharoh merupakan masdar, ia (kitab thoharoh) merupakan kata majemuk yang dijadikan istilah serta nama bagi salah satu masalah dari ragam masalah fiqih .
Ibnu Mulaqqin rohimahulloh Berkata: ”Yang dimaksud dengan kitab (adalah) sesuatu yang mengumpulkan beberapa bab yang semuanya kembali pada satu pokok (pembahasan)” .

Thoharoh secara bahasa\etimologi adalah:
“Berbersih dan bersuci dari kotoran-kotoran hissi (sesuatu yang bisa di indra) dan maknawi”.
Dari pengertian secara bahasa di atas kita katakan : Thoharoh\bersuci di dalam pengertian syar’i terbagi dua; Pokok (ushul) dan cabang (furu’).
1. Pokok. Ia adalah membersihkan batin dari najis kesirikan, kekufuran dan maksiat; Hal demikian dengan tauhid dan amal yang shalih. Inilah thoharoh maknawiyah.
Thoharoh ini lebih utama daripada thoharoh badan. Bahkan tidaklah mungkin terwujud kesucian badan bila ada najis kesyirikan.
Alloh Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”. (QS. At-Tubah : 28).
Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman tidaklah najis”
Maka wajib atas setiap yang telah terbebani taklif untuk:
– Mensucikan hatinya dari najis kesyirikan dan keraguan, demikian itu dengan ikhlas, tauhid dan yakin.
– Mensucikan hatinya dari bid’ah, demikian itu dengan mengikuti Rosululloh .
– Mensucikan hatinya dari kekotoran maksiat, hasad, dengki, sombong, ujub, riya dan sum’ah. Hal demikian dengan taubat yang jujur dari dosa dan maksiat.
Thoharoh dari perkara di atas merupakan setengah dari iman. Sedangkan setengah yang keduanya adalah thoharoh yang merupakan furu, ia adalah thoharoh hisiyyah.
Jenis yang pertama ini dibahas di dalam pembahasan aqidah. Sedangkan jenis yang berikutnya (furu’) dibicarakan oleh fuqoha.
2. Furu’. Ia adalah :
Mengerjakan suatu perbuatan yang dengannya menjadi diperbolehkannya melaksanakan sholat. Ibnu Mulaqqin rohimahulloh berkata : Ia merupakan sebaik-baik dan seringkas-ringkas pengertian .
Demikian itu dengan mewujudkan dua hal :
– Thoharoh haqiqiyah; Ia adalah bersuci dari najis yang ada di badan, baju dan tempat. Mensucikan najasah bias dengan air ataupun yang lainnya, kaidahnya : Dzat tersebut bias menghilangkan najis tersebut.
– Thoharoh hukmiyah; Ia adalah bersuci dari hadats. Ia dikhususkan pada badan saja. Bersuci dari hadats hanya bias dicapai dengan menggunakan air, baik mandi ataupun wudlhu, jika air itu ada.
Thoharoh hukmiyah ada tiga macam :
a. Thoharoh hukmiyah kubro (besar); Ia dicapai dengan mandi.
b. Thoharoh hukmiyah sughro (kecil); Ia dicapai dengan berwudlhu.
c. Thoharoh hukmiyah sebagai pengganti dari keduanya (a dan b); Ia dicapai dengan bertayamum. Yakni jika tidak ada air atau dihukumi dengan tidak adanya air.
***

Hadits Pertama (1)

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول : إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Dari ‘Umar bin Khottob rodiyallohu ‘anhu, di berkata : Aku mendengar Rosululloh  bersabda : “Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niat, dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang dia inginkan, atau kepada wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya dia berhijrah .”

Biografi Rawi :
Beliau adalah Umar bin Khottob bin Nufail bin Abdil ‘Uzza. Masuk Islam tahun ke 6 dari bi’tsah (diutusnya nabi Muhammad ), beliau menggantikan kepemimpinan Abu Bakar As Siddiq , kekhilafahannya selama 10 tahun 6 bulan 3 hari. Beliau terbunuh sebagai syahid pada bukan Dzul Hijjah tahin 23 H pada usia 63 tahun.
Al Imam ‘Alauddin Ali bin Daud bin Al ‘Atthor As Syafi’i rohimahulloh Read the rest of this entry »


Penjelasan Silsilah Aqidah Al Wasithiyah 3/-

December 2, 2009

Penulis rohimahulloh berkata :

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيد

(Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rosul-Nya dengan huda dan dien al-haq untuk memenangkannya atas semua agama seluruhnya, serta cukuplah Alloh sebagai saksi).

Pertama : Al Hamdu (الحمد )

Syaikhul Islam berkata : الحمد : adalah mengabarkan kebaikan-kebaikan yang dipuji dengan didasari kecintaan kepadanya[1].

( ال ) Alif dan lam” dalam kata الحمد adalah lil-istighroq; (yakni) mencakup semua satuan-satuan pujian yang al muhaqoqoh dan al muqodaroh[2]. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa ال tersebut liljinsi, maknanya : Bahwa seluruh (jenis) pujian yang sempurna adalah bagi Alloh; Jika demikian, maka mengandung konsekwensi tetapnya segala yang dipuji dari sifat-sifat yang sempurna nan Maha Indah bagi Alloh U.

Dimanakah Alloh dipuji ?. Imam As Syanqhity rohimahulloh ketika menafsirkan surat Al Fatihah[3] berkata : “Dalam hamd (pujian) di sini tidak disebutkan dzorof  zaman atau pun dzorof makan. Telah disebutkan dalam surat Ar Rum bahwa dzhorof makan-nya adalah langit dan bumi : “Baginyalah  pujian di langit dan di bumi”; Disebutkan pula dalam surat Al Qhosos bahwa dzhorof-nya adalah dzhorof zaman, yakni di dunia dan di akhirat, Dia U berfirman : “Dan Dia-lah Alloh yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia, bagi-Nya lah pujian di dunia dan di akhirat.

Alloh Ta’ala dipuji karena kesempurnaan-Nya dan ni’mat-ni’mat-Nya U; Oleh karena itu kita memuji Alloh U, karena Dia Ta’ala sempurna sifat-sifat-Nya, ni’mat-ni’mat dan kebaikan-kebaikan-Nya. Alloh berfirman :وما بكم من نعمة فمن الله ثم إذا مسكم الضر فإليه تجأرون)) ))  Artinya : “Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Alloh-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa kemadlhorotan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”. (An Nahl : 53). Diantara ni’mat yang paling besar yang Alloh karuniakan kepada makhuk-Nya adalah ni’mat diutusnya para rosul, yang mengemban tugas memberikan hidayah (penjelasan) kepada makhluk(Nya). Oleh karenanya penulis rohimahulloh berkata :  الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق (Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rosul-Nya dengan huda dan dien al-haq).

Dan perkataannya di sisni (لله ) “lillah”, maka untuk istihqoq (menyatakan keberhakan). Oleh karenanya, jika sesuatu yang sebelum huruf “lam” itu merupakan makna bukan dzat, maka memberikan faidah lilistihqoq. Dan kadang-kadang bersama dengan istihqoq itu  lil milki (menyatakan kepemilikan). Maka seluruh pujian hanyalah milik Alloh Ta’ala yang Dia berhak dengannya, dan Dia pula jalla wa ‘alla yang memuliki pujian tersebut. Bagi-Nya lah seluruh pujian secara  keberhakan dan kepemilikan.

Macam-macam pujian itu terkumpul dalam lima hal :

  1. Alloh jalla wa ‘ala terpuji dalam kemandirian dalam rububiyahNya yang tiada sekutu baginya; dan terpuji pula dalam jejak-jejak rububiyahNya pada seluruh makhluknya.
  2. Alloh jalla wa ‘ala terpuji dalam uluhiyyahNya (hak-hak ketuhanan) dari seluruh makhlukNya; Dan Alloh-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tanpa sekutu di dalamya.
  3. Read the rest of this entry »


Penjelasan Silsilah Aqidah Al Wasithiyah 2/-

November 21, 2009

قال المصنف : بسم الله الرحمن الرحيم

Penulis berkata : Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang“.

Pertama : Mengapa Diawali Dengan Bismilah ?

Penulis rohimahulloh memualai risalah yang berkah ini dengan bismillah sebagaimana tulisan-tulisan ahli ilmu. Demikian itu disebabkan beberapa alasan :

  1. Mengikuti kitabulloh; Karena ayat  pertama yang kita dapatkan dalam al Qur’an adalah ayat (بسم الله الرحمن الرحيم)
  2. Mengikuti petunjuk nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam di dalam tulisan dan suratnya. Seperti surat beliau kepada Hiroql pembesar negri Romawi, sebagimana datang penyebutannya di dalam hadits Abi Sufyan rodiyallohu’anhu di awal kitab Sahih Bukhori (No. 7).
  3. Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Merupakan kebiasaa para Imam yang menulis kitab memulai kitab-kitab ilmu dengan bismillah, demikian pula untuk sebagian besar kitab-kitab rosai“l.
  4. Bertabarruk dengannya.

Peringatan :

Adapun haditas “Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan ببسمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ maka terputus”. Dikeluarkan oleh Al-Khotib Al-Baghdadi  di dalam (Al-Jami’ li Adabi Ar-Rowi wa As-Sima’ 2\128), Ibnu Sam’ani di dalam (Adabul Imla 1\283), Abdul Qodir Ar-Ruhawi di dalam (Al-Arba’in), As-Subky di dalam (Thobaqot As-Syafi’iyyah 1\6).

Ia merupakan hadits yang dlho’if wahin. Oleh karenanya lebih dari seorang ulama yang telah memastikan tentang kelemahannya, diantaranya : Al-Hafidz Ibnu Hajar, As-Syakhowi, dan yang lainnya [1].

Kedua : Kesepakatan Ulama

  1. Para ulama sepakat bahwa bismillah merupakan bagian dari surat  An- Naml ayat : 30.
  2. Mereka sepakat pula untuk tidak mencantumkannya pada awal surat baro-ah, karena surat baro-ah dengan surat Al anfal dianggap\seakan-akan dijadikan satu surat.

Ketiga : Ikhtilaf Ulama Tentang Bismillah

Ulama berbeda pendapat Tentang bismillah; apakah ia merupakan ayat dari setiap surat yang surat-surat tersebut dibuka dengannya ? atau ayat tersendiri yang diturunkan untuk memisahkan antara surat-surat dan tabarruk memulai dengannya ?. Dari pendapat-pendapat tersebut yang terpilih adalah pendapat yang kedua[2].

Keempat : Apakah Bismillah Merupakan Bagian Dari Surat Fatihah?

Dalam masalah ini telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama; Pendapat pertama : Ia merupakan ayat pertama dari surat Fatihah dan dibaca dengan keras tatkala dalam sholat jahriyyah. Selain itu merekapun berpendapat tidak sah-nya (sholat –pen) kecuali dengan membaca bismillah. Pendapat kedua : Mereka yang berpendapat bahwa ia bukanlah termasuk ayat dari surat Al Fatihah, akan tetapi merupakan ayat yang terpisah dari kitab Alloh.

Kelima : Apakah Read the rest of this entry »


TIDAK MENGHERANKAN !

November 17, 2009

Sumber : Sahab.net
19062009
22:44:31
Editor : Abdulloh bin Zaid Al Kholidiy.

 

Tidak Mengherankan !

(Al ‘Alamah Doktor Shalih bin Fauzan al Fauzan)

الحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ؛ وبعد : قرأت كلامًا لبعض المشائخ في (جريدة الوطن) يتعجب فيه من افتراق المسلمين فيما بينهم مع أن كلا منهم يقول : ربي الله ، ونبيي محمد ، وديني الإسلام !
وأقول : لا عجب في ذلك لأنه لا يكفي مجرد القول بدون الالتزام بمدلوله ، فلا يكفي أن يقول الإنسان : ربي الله حتى يستقيم على هذه الكلمة بتحقيق مدلولها ؛ وهو عبادة الله وحده لا شريك له ، قال تعالى : ﴿ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ ، وقال النبي – صلى الله عليه وسلم – لما طلب منه سفيان بن عبد الله – رضي الله عنه – أن يقول له قولاً في الإسلام لا يسأل عنه غيره ؛ قال له النبي – صلى الله عليه وسلم – : ( قل آمنت بالله ثم استقم )؛

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam bagi Rosululloh, dan kemudian : “Saya membaca ungkapan sebagian Syaikh pada suatu surat kabar ‘yang menggambarkan keheranannya dari perpecahan kaum muslimin, padahal mereka semuanya menyatakan : Robb ku Alloh, Nabi ku Muhammad dan Islam sebagai agamaku !.

Aku katakan : Sebenarnya keadaan seperti itu tidaklah mengherankan, karena tidaklah cukup hanya mengatakannya saja tanpa berpegang teguh dengan konsekwensinya. Tidaklah cukup seseorang mengatakan :  Robb ku Alloh, sehingga dia istiqomah di atas kalimat ini; yakni dengan merealisasikan tuntutannya, ia adalah beribadah kepada Alloh semata serta tidak menyekutukanNya. Alloh Ta’ala berfirman : “Sesunguhnya (bagi) orang-orang yang mengatakan Robb kami Alloh, kemudian istiqomah, maka bagi mereka tidak ada rasa takut dan tidak pula bersedih hati”. (QS. Al Ahqoof : 13).  Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda – tatkala Sufyan bin Abdillah rodiyallohu ‘anhu meminta untuk mengatakan suatu perkataan yang dia tidak akan bertanya kepada selainnya r — : “Katakanlah  : ‘Aku beriman kepada Alloh !, Read the rest of this entry »


MOTIVASI UNTUK MENIKAH

November 15, 2009

NIKAH 1/1-Motivasi_Menikah

Motivasi Untuk Menikah

Sekapur Sirih

Seluruh pujian hanya hak dan milik Alloh Ta’ala; Robb semesta alam, sholawat dan salam baginya, keluarganya, para sahabatnya dan para pengikutnya yang setia pada sunnahnya.

Syari’at Islam merupakan syari’at yang sempurna, syari’at yang mewujudkan maslahat bagi manusia, baik dengan mendatangkan manfa’at atau dengan menolak marabahaya.

Diantara tujuan syari’at adalah menjaga keturunan, dalam meralisasikan tujuannya disyari’atkanlah pernikahan dan diharamkannya zina.

Tentang disyari’atkannya nikah Alloh U berfirman : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisaa`: 3) .

Adapun tentang diharamkannya zina Alloh Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa : 32].

Di zaman ini, zaman tersebarnya syahwat; menjangkitnya penyakit yang dibawa perempuan yang berpakaian namun telanjang (baik di jalanan, video dan photo), maka aku wasiatkan pada pemuda kaum muslimin untuk membentengi dirinya dengan iman dan taqwa. Kemudian ketahuilah rohimakumulloh !, diantara perantara atau sebab yang paling mujarab untuk menjaga kesucian diri, digapainya keimanan dan taqwa adalah dengan menikah.

Riak Kecil Dari Lautan Ilmu

Pada kesempatan kali ini, sebagai usaha ikut serta dalam berdakwah maka akan akan dipaparkan secara ringkas tentang Motivasi Untuk Menikah.

1. Alloh Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sesungguhnya Kami Telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”. (QS. Ar Ro’du : 38).

Imam Al Qurthubiy rohimahulloh (w. 671 H) berkata : “… Ayat ini memberikan motivasi  dan dorongan untuk menikah, serta larangan dari membujang (tidak menikah). Menikah merupakan sunnahnya para Rosul, sebagimana disebutkan dalam ayat ini … “.

Read the rest of this entry »


Silsilah Penjelasan Al Aqidah Al Washithiyah 1/-

November 9, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ، ونستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ آل عمران:102

Tulisan berikut merupakan usha sederhana untuk ikut serta berdakwah kepada Alloh Ta’ala, catatan ini telah dimulai sejak 2 tahun yang lampau, dengan memohon pertolongan Alloh kami sajikan pada anda :

Rujukan Utama Tulisan :

  1. Al-Washithiyah, Syaikh Abdurrohman Nashir As-Sa’di rohimahulloh. (Dar Al-Bashiroh).
  2. Syarhu Al-Washithiyah, Syaikh Muhammad Kholil Haros rohimahulloh. (Dar Al-Bashiroh). Takhrij Syaikh Alwi bin Abdil Qodir Asyaqof (Sahab.org).
  3. Al-Kawasyiful Jaliyyah ‘alal Ma‘ani Al-Washithiyyah. Abdul Aziz bin Muhammad Sulaiman. Rohimahulloh. (Dar Al-Bashiroh).
  4. Syarhu Al-Washithiyah, Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahulloh. (Dar Al-Bashiroh).
  5. Syarhu Al-Washithiyah, Muhammad bin As-Shalih Al-‘Utsaimin rohimahulloh. (Dar Al-Bashiroh).
  6. Syarhu Al-Washithiyah, Shalih bin Abdul Aziz Al-Fauzan hafidzohulloh. (Dar Al-Bashiroh).
  7. Syarhu Al-Washithiyah, Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzohulloh. (Rekaman dan tulisan dari Sahab.org).
  8. Syarhu At-Thohawiyah, Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzohulloh. (Dar Ibnul Jauzi dan Rekamannya).
  9. Syarhu Al-Washithiyah, Andurrohman Nashir Al-Barrok. (Rekaman dan tulisan dari Maktabah Syamilah).
  10. At-Ta’liqot As-Saniyah ‘alal Aqidah Al-Washithiyah, Syaikh Faishol  bin Abdul Aziz Al-Barrok rohimahulloh.
  11. Syahu Al-Washithiyah, Kholid Al-Mushlih hafidzohulloh. (Dar Ibnul Jauzy).
  12. Al-Masail Al-Mardhiyah ‘alal Aqidah Al-Washithiyah. Ali Khudair hafidzohulloh.
  13. Mulhaq Al-Aqidah Al-Washithiyah, Syaikh Alwi bin Abdil Qodir Asyaqof hafidzohulloh. (Sahab.org).
  14. Syarhu Al-Aqidah Al-Washithiyah, Syaikh Ibrohim Ar-Ruhaili hafidzohulloh. (Rekaman)
  15. At-Ta’liqot Az Zakiyah ‘alal Aqidah al Washithiyah, Syaikh Jibrin rohimahulloh, Darul Wathon Linasyr.
  16. التنبيهات السنية على العقيدة الواسطية, Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar Rosyid.
  17. Ar Raudoh An Nadiyah Syarh al Aqidah al Washithiyah, Zaid bin Abdul Aziz, Darul Wathon.
  18. Ar-Rosail Al-Jami’ah fil Aqidah Juz 1. (Kumpulan permasalahan Aqidah yang kami kumpulkan dari berbagai kitab). Koleksi Maktabah Keluarga Abu Abdussalam Al-Maktabah Asy-Syakilah

Muqoddimah

I. Biografi Singkat Penulis Aqidah Al-Washithiyah :

1. Nama, Gelar Dan Tempat Tanggal Lahir

  • Nama beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam Ibnu Taimiyah Al Harrani kemudian Dimasqi.
  • Gelar Beliau adalah syaikhul Islam Taqiyuddin.
  • Lahir pada hari Senin tanggal 10 atau 12 Robi’ul Awwal tahun 661 H. di Kota Harran, yaitu kota yang terletak di Timur Laut negeri Syam di Jazirah Ibnu Amru. Antara sungai Tigris dan Eufrat. Pada tahun 667 H beliau pindah bersama kedua orang tuanya ke Damaskus.

2. Keluarga Beliau


Larangan Sholat Di Masjid Yang Di Dalamnya Terdapat Kuburan

September 2, 2009

Fatwa As Syaikh Al Muhadits Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy dalam Kitab Tuhfatul Mujib.

Pertanyaan Para Pelajar Indonesia

Seluruh pujian hanya bagi Alloh Robb alam semesta, sholawat dan salam atas Nabi dan Rosul termulia. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang diibadahi dengan benar selain Alloh semata; tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusanNya.

Amma ba’du : Ini merupakan rangkaian soal jawab saudara muslim kami dari Negara Indonesia kepada Syaikh kami Abi Abdirrohman Muqbil bin Hadi al Wadi’iy hafizdohulloh.

Pertanyaan ke 65 : Bagaimanakah hukum sholat di Masjid yang di depannya ada kuburan ?.

Jawaban : Seluruh pujian hanya bagi Alloh, sholawat dan salam atas Rosululloh, keluarganya, para sahabanya dan seluruh yang loyal kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang diibadahi dengan benar selain Alloh; tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad merupakan hamba dan utusanNya.

Amma ba’du : Sholat di dalam Masjid yang di depannya ada kuburan di luar tembok Masjid adalah sahih/sah. Karena larangan itu tentang sholat di Masjid yang di dalamnya ada kuburan. Sebagimana dalam hadits Abi Sa’id Al Khudriy rodiyallohu ‘anhu, dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Seluruh bumi merupakan Masjid, kecuali kuburan dan WC”.

Dan dalam Sahih Muslim, hadits Jundab dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Ketahuilah !, orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid-masjid, maka perhatikanlah !, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagi masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan tersebut”.

Dan hadits Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah sholat menghadap kubur dan jangan duduk di atasnya”. Ini jika sholat menghadapnya tanpa penghalang/pemisah atau tembok, yakni di luar Masjid; maka sholatnya sahih, insya Alloh.

Nas/Teks Fatwa (Yurisprudensi) :

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

أما بعد: فهذه أسئلة وردت من إخواننا في دولة إندونيسيا المسلمة إلى شيخنا أبي عبدالرحمن مقبل بن هادي الوادعي حفظه الله.

السؤال65: ما حكم الصلاة في المسجد الذي أمامه مقبرة؟

الجواب: الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

أما بعد: فالصلاة في المسجد الذي أمامه مقبرة خارج جدار المسجد صحيحة، لأن النهي عن الصلاة في المسجد الذي فيه مقبرة، كما جاء عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- أنه قال: «الأرض كلها مسجد، إلا المقبرة والحمام».

وفي «صحيح مسلم» من حديث جندب عن النبي -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- قال: «ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد، إني أنهاكم عن ذلك».

وحديث: أن النبي -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- قال: «لا تصلوا إلى القبور، ولا تجلسوا عليها».

فهذا إذا كانت الصلاة إليها بدون حائط أو جدار. أما إذا وجد الجدار أو الحائط وهي خارج المسجد، فالصلاة صحيحة إن شاء الله.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.