Mutiara Hukum Kitab Umdatul Ahkam 1/-

December 10, 2009

Mutiara Hukum
Kitab Umdatul Ahkam

Disusun :
Abul Barjas At Tâsîkiy

Fâtihatul Kitâb :
Pujian dan sanjungan hanya milik dan hak Alloh Ta’ala, kami memuji, memohon pertolongan, meminta ampunan dan tambahan hidayah serta memohon perlindiungan hanya kepadaNya .
Sholawat dan salam bagi pemilik as sunnah as sahihah; Kholilulloh Muhammad bin Abdillah, juga atas keluarga, para sahabat dan orang-orang yang ta’at setia kepadanya. Amin.
Al Hafidz Abdul Ghoni al Maqdisiy – rohimahulloh – merupakan ulama terkemuka di zamannya, beliau lahir pada tahun 531 H dan wafat pada tahun 600 H.
Kitab yang akan kita paparkan merupakan salah satu karya monumental beliau rohimahulloh. Kitab ‘Umdatul ‘Ahkam merupakan kumpulan hadits-hadits hukum yang beliau ambil dari kitab ‘Sahihain’; Bukhori dan Muslim.
Alloh Ta’ala telah menjadikan kitab ini sebagai salah satu kitab ‘karya tulis’ yang diterima oleh ahli ilmu dan penuntutnya dari seluruh madzhab.
Para ulama sepeninggal beliau sangat memperhatikan kitab ini dengan menjelaskan dan mengajarkannya, diantara syarah yang kami ketahui [sekaligus yang kami banyak ambil faidah darinya] adalah :
1. Ihkamul Ahkam, karya Ibnu Daqiqil ‘Ied As Syafi’i al Malikiy.
2. Al ‘Uddah Hasyiyah al ‘Alamah As Sayyid Muhammad bin Sulaiman Al Amir As Shon’ani ‘ala Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.
3. Al ‘Uddah fi Syarhi Al ‘Umdah fi Ahaditsil Ahkam, karya ‘Alaauddin bin Daud As Syafi’iy.
4. Al I’laam bi Fawaidi Umdatil Ahkam, karya Ibnu Mulaqqin.
5. Al Ilmam bi Syarhi ‘Umdatil Ahkam, karya Isma’il Al Anshori.
6. Khulasotul Kalam ‘ala ‘Umdatil Ahkam, Karya Nashir bin Abdul Aziz Al Mubaarok.
7. Taisir ‘Alam Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Syaikh Abdulloh Al Bassâm.
8. Tanbihul Afham Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
9. Syarh ‘Umdatil Ahkam, karya Sa’ad bin Nashir bin Abdul Aziz.
10. Zubdatul Afham bi Fawaaidi ‘Umdatil Ahkam, karya Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilalli.
Semoga Alloh Ta’ala merahmati para ulama yang telah meninggal dunia dan memberkahi yang masih hidup. Amin.
Rosululloh  bersabda : “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”.
***

Muqoddimah penulis; Al Imam Al Hafidz Abdul Ghoni Al Maqdisiy rohimahulloh :
Seluruh pujian bagi Alloh, al Malikul Jabbar, al Wahidul Qohhaar. Aku besaksi bahwa tidak ada yang diibadahi dengan benar selain Alloh semata, tiada sekutu bagiNya. Pemilik langit dan bumi serta yang ada diantara keduanya; Dial ah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad merupakan hamba dan utusanNya yang dipilih. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepadanya, para pengikutnya dan para sahabatnya yang suci lagi pilihan.
Amma ba’du :
Sebagian saudara-saudaraku memintaku untuk merangkumkan hadits-hadits hukum yang telah disepakati keabsahannya oleh dua Imam : Abu Abdillah bin Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim al Bukhori, dan Muslim bin Hajaaj ibnu Muslim Al Qusyairy An Naisaburiy . Maka aku sangat berkeinginan untuk mewujudkan permintaannya, dengan harapan bisa bermanfa’at.
Aku memohon kepada Alloh supaya Dia Ta’ala memberikan kemanfa’atnya kepada kami, dan orang yang menulisnya, atau yang mendengarnya, yang membacanya, yang menghapalkannya atau yang menela’ahnya. Dan semoga Dia Ta’ala menjadikannya semata-mata ikhlas karena wajahNya yang Maha Mulia. Sehingga bisa menjadi sebab didapatkannya keberuntungan dari sisiNya, di surgaNya yang penuh kenikmatan. Dia Ta’ala sebaik-baik yang mencukupi kita dan sebaik-baik yang dijadikan sandaran pengharapan.
***

KITAB THOHAROH

Kata kitab dan thoharoh merupakan masdar, ia (kitab thoharoh) merupakan kata majemuk yang dijadikan istilah serta nama bagi salah satu masalah dari ragam masalah fiqih .
Ibnu Mulaqqin rohimahulloh Berkata: ”Yang dimaksud dengan kitab (adalah) sesuatu yang mengumpulkan beberapa bab yang semuanya kembali pada satu pokok (pembahasan)” .

Thoharoh secara bahasa\etimologi adalah:
“Berbersih dan bersuci dari kotoran-kotoran hissi (sesuatu yang bisa di indra) dan maknawi”.
Dari pengertian secara bahasa di atas kita katakan : Thoharoh\bersuci di dalam pengertian syar’i terbagi dua; Pokok (ushul) dan cabang (furu’).
1. Pokok. Ia adalah membersihkan batin dari najis kesirikan, kekufuran dan maksiat; Hal demikian dengan tauhid dan amal yang shalih. Inilah thoharoh maknawiyah.
Thoharoh ini lebih utama daripada thoharoh badan. Bahkan tidaklah mungkin terwujud kesucian badan bila ada najis kesyirikan.
Alloh Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”. (QS. At-Tubah : 28).
Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman tidaklah najis”
Maka wajib atas setiap yang telah terbebani taklif untuk:
- Mensucikan hatinya dari najis kesyirikan dan keraguan, demikian itu dengan ikhlas, tauhid dan yakin.
- Mensucikan hatinya dari bid’ah, demikian itu dengan mengikuti Rosululloh .
- Mensucikan hatinya dari kekotoran maksiat, hasad, dengki, sombong, ujub, riya dan sum’ah. Hal demikian dengan taubat yang jujur dari dosa dan maksiat.
Thoharoh dari perkara di atas merupakan setengah dari iman. Sedangkan setengah yang keduanya adalah thoharoh yang merupakan furu, ia adalah thoharoh hisiyyah.
Jenis yang pertama ini dibahas di dalam pembahasan aqidah. Sedangkan jenis yang berikutnya (furu’) dibicarakan oleh fuqoha.
2. Furu’. Ia adalah :
Mengerjakan suatu perbuatan yang dengannya menjadi diperbolehkannya melaksanakan sholat. Ibnu Mulaqqin rohimahulloh berkata : Ia merupakan sebaik-baik dan seringkas-ringkas pengertian .
Demikian itu dengan mewujudkan dua hal :
- Thoharoh haqiqiyah; Ia adalah bersuci dari najis yang ada di badan, baju dan tempat. Mensucikan najasah bias dengan air ataupun yang lainnya, kaidahnya : Dzat tersebut bias menghilangkan najis tersebut.
- Thoharoh hukmiyah; Ia adalah bersuci dari hadats. Ia dikhususkan pada badan saja. Bersuci dari hadats hanya bias dicapai dengan menggunakan air, baik mandi ataupun wudlhu, jika air itu ada.
Thoharoh hukmiyah ada tiga macam :
a. Thoharoh hukmiyah kubro (besar); Ia dicapai dengan mandi.
b. Thoharoh hukmiyah sughro (kecil); Ia dicapai dengan berwudlhu.
c. Thoharoh hukmiyah sebagai pengganti dari keduanya (a dan b); Ia dicapai dengan bertayamum. Yakni jika tidak ada air atau dihukumi dengan tidak adanya air.
***

Hadits Pertama (1)

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول : إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Dari ‘Umar bin Khottob rodiyallohu ‘anhu, di berkata : Aku mendengar Rosululloh  bersabda : “Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niat, dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang dia inginkan, atau kepada wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya dia berhijrah .”

Biografi Rawi :
Beliau adalah Umar bin Khottob bin Nufail bin Abdil ‘Uzza. Masuk Islam tahun ke 6 dari bi’tsah (diutusnya nabi Muhammad ), beliau menggantikan kepemimpinan Abu Bakar As Siddiq , kekhilafahannya selama 10 tahun 6 bulan 3 hari. Beliau terbunuh sebagai syahid pada bukan Dzul Hijjah tahin 23 H pada usia 63 tahun.
Al Imam ‘Alauddin Ali bin Daud bin Al ‘Atthor As Syafi’i rohimahulloh Read the rest of this entry »


Penjelasan Silsilah Aqidah Al Wasithiyah 3/-

December 2, 2009

Penulis rohimahulloh berkata :

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيد

(Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rosul-Nya dengan huda dan dien al-haq untuk memenangkannya atas semua agama seluruhnya, serta cukuplah Alloh sebagai saksi).

Pertama : Al Hamdu (الحمد )

Syaikhul Islam berkata : الحمد : adalah mengabarkan kebaikan-kebaikan yang dipuji dengan didasari kecintaan kepadanya[1].

( ال ) Alif dan lam” dalam kata الحمد adalah lil-istighroq; (yakni) mencakup semua satuan-satuan pujian yang al muhaqoqoh dan al muqodaroh[2]. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa ال tersebut liljinsi, maknanya : Bahwa seluruh (jenis) pujian yang sempurna adalah bagi Alloh; Jika demikian, maka mengandung konsekwensi tetapnya segala yang dipuji dari sifat-sifat yang sempurna nan Maha Indah bagi Alloh U.

Dimanakah Alloh dipuji ?. Imam As Syanqhity rohimahulloh ketika menafsirkan surat Al Fatihah[3] berkata : “Dalam hamd (pujian) di sini tidak disebutkan dzorof  zaman atau pun dzorof makan. Telah disebutkan dalam surat Ar Rum bahwa dzhorof makan-nya adalah langit dan bumi : “Baginyalah  pujian di langit dan di bumi”; Disebutkan pula dalam surat Al Qhosos bahwa dzhorof-nya adalah dzhorof zaman, yakni di dunia dan di akhirat, Dia U berfirman : “Dan Dia-lah Alloh yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia, bagi-Nya lah pujian di dunia dan di akhirat.

Alloh Ta’ala dipuji karena kesempurnaan-Nya dan ni’mat-ni’mat-Nya U; Oleh karena itu kita memuji Alloh U, karena Dia Ta’ala sempurna sifat-sifat-Nya, ni’mat-ni’mat dan kebaikan-kebaikan-Nya. Alloh berfirman :وما بكم من نعمة فمن الله ثم إذا مسكم الضر فإليه تجأرون)) ))  Artinya : “Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Alloh-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa kemadlhorotan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”. (An Nahl : 53). Diantara ni’mat yang paling besar yang Alloh karuniakan kepada makhuk-Nya adalah ni’mat diutusnya para rosul, yang mengemban tugas memberikan hidayah (penjelasan) kepada makhluk(Nya). Oleh karenanya penulis rohimahulloh berkata :  الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق (Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rosul-Nya dengan huda dan dien al-haq).

Dan perkataannya di sisni (لله ) “lillah”, maka untuk istihqoq (menyatakan keberhakan). Oleh karenanya, jika sesuatu yang sebelum huruf “lam” itu merupakan makna bukan dzat, maka memberikan faidah lilistihqoq. Dan kadang-kadang bersama dengan istihqoq itu  lil milki (menyatakan kepemilikan). Maka seluruh pujian hanyalah milik Alloh Ta’ala yang Dia berhak dengannya, dan Dia pula jalla wa ‘alla yang memuliki pujian tersebut. Bagi-Nya lah seluruh pujian secara  keberhakan dan kepemilikan.

Macam-macam pujian itu terkumpul dalam lima hal :

  1. Alloh jalla wa ‘ala terpuji dalam kemandirian dalam rububiyahNya yang tiada sekutu baginya; dan terpuji pula dalam jejak-jejak rububiyahNya pada seluruh makhluknya.
  2. Alloh jalla wa ‘ala terpuji dalam uluhiyyahNya (hak-hak ketuhanan) dari seluruh makhlukNya; Dan Alloh-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tanpa sekutu di dalamya.
  3. Read the rest of this entry »


Penjelasan Silsilah Aqidah Al Wasithiyah 2/-

November 21, 2009

قال المصنف : بسم الله الرحمن الرحيم

Penulis berkata : Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang“.

Pertama : Mengapa Diawali Dengan Bismilah ?

Penulis rohimahulloh memualai risalah yang berkah ini dengan bismillah sebagaimana tulisan-tulisan ahli ilmu. Demikian itu disebabkan beberapa alasan :

  1. Mengikuti kitabulloh; Karena ayat  pertama yang kita dapatkan dalam al Qur’an adalah ayat (بسم الله الرحمن الرحيم)
  2. Mengikuti petunjuk nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam di dalam tulisan dan suratnya. Seperti surat beliau kepada Hiroql pembesar negri Romawi, sebagimana datang penyebutannya di dalam hadits Abi Sufyan rodiyallohu’anhu di awal kitab Sahih Bukhori (No. 7).
  3. Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Merupakan kebiasaa para Imam yang menulis kitab memulai kitab-kitab ilmu dengan bismillah, demikian pula untuk sebagian besar kitab-kitab rosai“l.
  4. Bertabarruk dengannya.

Peringatan :

Adapun haditas “Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan ببسمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ maka terputus”. Dikeluarkan oleh Al-Khotib Al-Baghdadi  di dalam (Al-Jami’ li Adabi Ar-Rowi wa As-Sima’ 2\128), Ibnu Sam’ani di dalam (Adabul Imla 1\283), Abdul Qodir Ar-Ruhawi di dalam (Al-Arba’in), As-Subky di dalam (Thobaqot As-Syafi’iyyah 1\6).

Ia merupakan hadits yang dlho’if wahin. Oleh karenanya lebih dari seorang ulama yang telah memastikan tentang kelemahannya, diantaranya : Al-Hafidz Ibnu Hajar, As-Syakhowi, dan yang lainnya [1].

Kedua : Kesepakatan Ulama

  1. Para ulama sepakat bahwa bismillah merupakan bagian dari surat  An- Naml ayat : 30.
  2. Mereka sepakat pula untuk tidak mencantumkannya pada awal surat baro-ah, karena surat baro-ah dengan surat Al anfal dianggap\seakan-akan dijadikan satu surat.

Ketiga : Ikhtilaf Ulama Tentang Bismillah

Ulama berbeda pendapat Tentang bismillah; apakah ia merupakan ayat dari setiap surat yang surat-surat tersebut dibuka dengannya ? atau ayat tersendiri yang diturunkan untuk memisahkan antara surat-surat dan tabarruk memulai dengannya ?. Dari pendapat-pendapat tersebut yang terpilih adalah pendapat yang kedua[2].

Keempat : Apakah Bismillah Merupakan Bagian Dari Surat Fatihah?

Dalam masalah ini telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama; Pendapat pertama : Ia merupakan ayat pertama dari surat Fatihah dan dibaca dengan keras tatkala dalam sholat jahriyyah. Selain itu merekapun berpendapat tidak sah-nya (sholat –pen) kecuali dengan membaca bismillah. Pendapat kedua : Mereka yang berpendapat bahwa ia bukanlah termasuk ayat dari surat Al Fatihah, akan tetapi merupakan ayat yang terpisah dari kitab Alloh.

Kelima : Apakah Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.